
Tok...tok...tok...
"Ini aku, Firex" ucap Rero dari luar.
Tidak kunjung mendapat jawaban, Rero akhirnya terpaksa harus masuk ke dalam. Ia juga ingin melihat keadaan Zelvia.
Krekk..
Ketika ia membuka pintu, ia melihat Clez yang sedang duduk bersimpuh sambil menangis. Rambutnya kusut karena ia terus saja mengacak-acak rambutnya.
"Haaah" Rero menghela nafas.
Dengan langkah pelan, Rero melihat Zelvia. "Ze.." batinnya sedih.
Setelah memastikan keadaan Zelvia selama beberapa menit, Rero menghampiri Clez. Ia duduk berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan Clez.
"Apa kau tidak lelah terus seperti ini?" tanya Rero.
Clez terdiam, ia melihat Rero. Tangisnya kembali pecah. "Tolong biarkan aku sendiri," ujarnya pelan.
Rero lantas menggeleng, ia lalu memegang pundak Clez. "Jika kau terus seperti ini, bagaimana nona bisa sembuh. Kau harusnya menguatkan nona" jelas Rero menasehati.
"Tapi.." Rero memotong ucapan Clez. "Ingat kata nona, tidak ada yang tidak mungkin! Kita harus berusaha dan percaya bahwa nona masih ada kesempatan hidup" potong Rero.
Mendengar ucapan Rero, Clez terdiam dan merenung. Ia menyeka air matanya. "Terima kasih," ucapnya sambil tersenyum pahit.
"Baguslah kalau begitu. Berhenti menangis, dan percayalah bahwa nona masih hidup" ujar Rero.
Rero kemudian melangkah ke arah pintu. Ia keluar dan meninggalkan Clez dan Zelvia.
Sementara Clez, ia menghampiri Zelvia. Mengingat nasehat dari Rero, membuatnya tersadar akan sesuatu.
"Nona selalu mempercayai ku. Namun, apa yang kulakukan? Aku bahkan telah mengkhianati kepercayaan nona. Aku sudah banyak merahasiakan segala hal dari nona. Apakah.. aku pantas menjadi pelayannya?" batin Clez.
"Mungkin, ini memang sudah saatnya aku memberitahukan semua ini pada nona. Niat bagaimanapun, nona adalah keluarga Nyonya. Ia harus tahu mengenai ibunya." Clez melanjutkan ucapannya dalam hati.
Clez menatap sendu Zelvia, ia lalu mengelus lembut kepala Zelvia. "Mulai hari ini dan seterusnya, aku berjanji tidak akan mengkhianati kepercayaan nona" ucap Clez.
🍂🍂🍂
Hari-hari berlalu, Zelvia masih setia di atas tempat tidurnya, tidak sadarkan diri.
Hingga suatu hari, seperti biasanya Clez menghampiri nonanya yang masih belum sadarkan diri.
"Nona, aku rindu nona" lirih Clez.
Bulir air mata menetes di pipi Clez. Bagaimanapun, dengan apapun, dan sampai kapanpun ia mencoba, ia tidak bisa berhenti menangis melihat keadaan nonanya.
Tubuh Zelvia yang sudah memucat, membuatnya kembali menangis. Ia harap, masih ada kesempatan hidup bagi Zelvia.
Srekk...srekk...
__ADS_1
Suara dari selimut membuat konsentrasi Clez terpecah. Dilihatnya tangan Zelvia yang mulai bergerak, dan kelopak matanya yang juga mulai bergerak seperti ingin membuka mata.
Clez segera menyeka air matanya, "No-nona" panggilnya tersenyum.
Zelvia membuka kedua matanya perlahan. "Clez?" ucap Zelvia.
"Iya nona, ini aku" jawab Clez lembut.
"Nona bangun? Ini sungguhan kan?" batin Clez sambil menangis haru.
Clez memeluk Zelvia. "Aku tidak sedang bermimpi kan? Ini nona kan?" tanya Clez senang.
Zelvia tersenyum tipis. "Ya, ini aku" jawabnya.
Clez segera bangun, ia akan memberitahukan kabar bahagia ini pada Riel dan Rero.
"Tunggu aku, nona! aku akan memberi tahu Tuan Firex dan Tuan Riel atas kabar bahagia ini" ucap Clez.
"Ja..jangan.." ujar Zelvia putus-putus. Dirinya masih terlalu lemah untuk bisa berbicara saat ini.
"Tapi nona.." Clez menyela.
"Jangan" ujar Zelvia.
Zelvia mengangkat tangannya pelan, tanda bahwa ia ingin Clez berada di sisinya saat ini.
"Nona, apa nona butuh sesuatu, hm? Nona mau makan?" tanya Clez lembut sambil menghampiri Zelvia dan duduk di pinggir tempat tidur.
"Ya nona?" sahut Clez.
"Maaf, aku sempat memarahimu" ucap Zelvia.
Clez menggeleng pelan
"Jangan berkata seperti itu nona, justru.. akulah yang tidak ingin terbuka pada anda. Seharusnya, aku memberi tahukan hal itu dari awal. Maka dari itu, aku janji akan memberitahukan tentang keluarga anda! Tapi, itu jika anda sudah sembuh total!" ujar Clez tersenyum.
Zelvia tersenyum, tubuhnya masih terlalu lemah untuk bergerak saat ini.
"Nona tunggu disini ya, jangan kemana-mana! Saya akan memanggil Tuan Riel dan Tuan Firex" ucap Clez.
Selang beberapa menit kemudian, Riel dan Rero datang karena panggilan dari Clez.
"Nona!" panggil mereka berdua kompak.
Zelvia hanya bisa menyahut dengan tersenyum. Sementara, Riel dan Rero mendekati Zelvia.
"Nona, akhirnya anda sadar juga! Saya sangat merindukan anda, nona!" ucap Riel.
Rero ikut tersenyum. "Aku tahu, nona itu kuat, dia tidak mungkin mati begitu cepat" batinnya.
"PELAYAN!" teriak Riel.
__ADS_1
Salah satu pelayan datang, kebetulan ia juga sedang bersih-bersih penginapan.
"Iya tuan, apa ada yang dibutuhkan?" tanya pelayan itu.
"Tolong beri tahukan pada kepala pelayan untuk memanggil dokter kemari, nona sudah sadar!" jelas Riel.
Pelayan itu lantas tersenyum bahagia, "Benarkah? Ini sungguh kabar bahagia" senangnya. Ia lalu segera mengikuti perintah yang diberikan Riel padanya.
10 menit kemudian.
"Permisi," ucap seseorang dari luar, yang tak lain adalah dokter.
Riel tersenyum dan menyambut kedatangan dokter itu. Ia membungkuk hormat.
"Wah, Nona sudah sadar? Ini berita yang baik" ucap sang dokter sambil tersenyum senang.
Beberapa hari terakhir, Dokter Louz banyak membantu Zelvia. Kesadaran Zelvia saat ini juga termasuk jerih payahnya sebagai seorang dokter.
"Te..terima kasih," ucap Zelvia sambil tersenyum ke arah Dokter Louz.
"Haha, tidak usah berterima kasih! Sudah tugasku sebagai dokter untuk berusaha merawat pasiennya." ucap Dokter Louz.
Zelvia tersenyum tipis, ia masih belum bisa banyak bicara.
"Dokter, tolong cek keadaan Nona Zelvia, sepertinya dia sudah mulai pulih" ucap Riel.
Dokter Louz mengangguk, ia lalu membawa beberapa peralatan yang dibutuhkan, seperti alat pengecek detak jantung, pernapasan, dan lain sebagainya.
***
Beberapa saat kemudian, pemeriksaan telah selesai. Dokter Louz mengatakan bahwa Zelvia sudah mulai pulih. Ia hanya perlu istirahat sekitar satu Minggu lagi agar benar-benar pulih dan bisa beraktivitas seperti biasanya.
"Sekali lagi, terima kasih ya dok" ucap Clez.
Dokter Louz mengangguk, "Sama-sama," jawabnya.
"Kalau begitu, saya tidak ingin mengganggu nona lagi, saya pamit undur diri ya, nona! Semoga cepat pulih" tutur Riel.
"Aku akan berjaga di depan, nona banyak-banyak istirahatlah ya" ucap Rero.
Zelvia lantas menggeleng, "Aku sudah mulai pulih. Kau istirahatlah," ujar Zelvia.
"Tapi.." belum selesai berbicara, Rero melihat Zelvia mengangkat jari telunjuknya. Ia lalu menghela nafas, "Haaah, baiklah, saya pamit dulu" ujar Rero.
Di kamar, hanya tersisa Clez yang setia menjaga Zelvia.
"Apa kau tidak ingin istirahat? Aku tahu, kau pasti lelah merawatku selama ini. Terima kasih ya" ucap Zelvia.
Clez menggeleng, "Tidak, nona! Lagipula, saya juga sudah istirahat cukup." ucap Clez tersenyum.
Zelvia lalu menghela nafasnya panjang. "Haaah.. kalau begitu, aku ingin tidur dulu ya, kepalaku pusing." ujar Zelvia.
__ADS_1
Clez mengangguk, "Tidurlah, nona. Semoga anda cepat sembuh" ucap Clez tulus.