
Siang Hari
~Ruang Makan.
"Salam Ayah....." Hormat Zelvia.
"Hmp...kau terlambat 20 detik!" Kesal Ester yang sudah berada di ruang makan 20 detik sebelum kedatangan Zelvia.
"Emmm ya? Ka...kalau begitu mari kita segera makan, makanan ini pasti sudah disiapkan dari tadi kan? Ayo makan, nanti makanan nya keburu dingin!" Ramah Zelvia dengan senyum tipis.
"Heh...aku tahu kau tidak sebodoh itu! Bicaralah....kau pasti mengetahui aku mengajakmu kesini bukan hanya untuk makan siang bersama kan?" Tanya Ester datar.
"Haha...begitukah? Jadi apa yang ingin ayah bicarakan?"
"Makanlah dulu, setelah itu aku akan memberitahu apa yang ingin ku bicarakan" Suruh Ester.
"Nih orang ya, masa gak ada basa basi nya sedikit apa? Hah....masa bodo lah yang penting bisa makan enak" Kata Zelvia dalam hatinya.
Ester dan Zelvia mengambil beberapa makanan yang sudah di hidangkan di meja makan. Mereka juga memakan buah dan dessert sebagai penutup.
"Jadi apa yang ingin ayah bicarakan?" Tanya Zelvia sambil mengelap mulutnya.
"Tak banyak.... Aku hanya ingin kau menjadi pendamping pangeran mahkota untuk perayaan suci penerus asli Keluarga kerajaan" Pinta Ester.
Barkkkk
__ADS_1
"Apa maksudmu? Kau menyuruhku menjadi pendamping lelaki biadab itu?" Kesal Zelvia mendobrak meja.
"Apa salahnya kau menjadi pendampingnya? Bukankah ini yang kau sangat-sangat impikan?" Tanya Ester balik.
"Ayah, ayah tidak bisa mengerti perasaan ku! Apa ayah kira aku orang yang sudah dicampakkan oleh lelaki itu bisa dengan mudah memaafkannya? Dia juga sudah mempunyai wanita yang ia sukai, dan itu bukan aku! Kenapa tidak dia saja yang menjadi pendamping pangeran mahkota?" Marah Zelvia.
"Tapi wanita itu hanya berasal dari Baronet Tildherd, jika penyihir suci mengetahui itu maka posisi pangeran mahkota sebagai penerus tahta akan di hentikan" Jelas Ester.
"Hah...hah....ayah benar-benar seorang ayah yang baik ya! Saking baiknya, ia tidak memikirkan perasaan putri kandung nya. Dulu saat pangeran mahkota membatalkan pertunangan nya denganku, ayah menyetujuinya dan tidak memedulikan ku yang sedang terduduk lemas sembari menangis karena kejadian itu. Sekarang....sekarang kau malah ingin aku menjadi pendamping orang yang sudah membuat air mataku berderai dengan derasnya? Apa ayah masih punya hati nurani?" Tanya Zelvia dengan amarah sekaligus kesedihan yang membuat dadanya sakit.
"Maaf ayah, aku bukanlah wanita murahan!" Tegas nya lagi.
"Tu...tunggu, bukan itu maksudku! Aku hanya..."
Zelvia pergi ke ruang belajarnya dan menutup pintu dengan keras.
Brak.....
"Dasar tidak tahu malu! Dia kira aku ini boneka yang bisa ia manfaatkan?" Kesal Zelvia.
"Tapi....kenapa aku ikut sedih ya? padahal aku ini 'Cho Yin' bukan Zelvia" Gumam Zelvia.
"Hmp dia membuatku marah saja. Terserahlah dia mau ngapain aku gak peduli" Kesalnya lagi.
"Kita kesampingkan masalah ini, untuk sekarang aku harus memikirkan cara menemui Kek Jon, walau hubunganku tidak dekat tapi mungkin saja ia bisa membantu" pikir Zelvia.
__ADS_1
Tok tok tok....
"Nona, bukalah pintunya ya nona!" Pinta Clez mengetuk pintu
"Ah ya, sebentar" Sahut Zelvia.
Krekk
"Masuklah Clez"
"Iya nona terimakasih!" Jawab Clez.
"Nona tadi saya lihat anda pergi terburu-buru kesini, apa ada masalah nona?" Tanya Clez khawatir.
"Ng...nggak ada kok"
Clez menghela nafas nya,
"Syukurlah kalau begitu nona" Kata Clez.
"Clez bisakah kau membantuku nanti malam?" Tanya Zelvia.
"Boleh, apa itu nona?"
"Jadi....."
__ADS_1