
Hai readers...terimakasih yang sudah setia menunggu novel ini. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu ya! Author mengucapkan terimakasih atas dukungan kalian semua, karena biar bagaimanapun juga author bisa seperti sekarang juga karena dukungan dari kalian🥰
Happy reading all...
❤️❤️❤️
"Ke...kenapa reaksinya malah seperti ini!" Batin Zelvia terkejut.
"Ayah....aku tidak tahu kenapa kau marah, tapi.. bisakah kau hargai pilihan ku?!" Ucap Zelvia.
"Ya tuhan... alurnya bahkan tidak sesuai ekspektasi! Semoga saja rencana ku berjalan mulus!" Batin Zelvia.
Ester menundukkan kepalanya. Ia meraih bangku dan duduk di bangku itu.
"A..ayah?" Tanya Zelvia berusaha mengikuti alur nya.
"Kenapa kau berubah?" Tanya Ester pelan.
"Maksud ayah?" Tanya Zelvia tidak mengerti.
"Dulu... padahal dulu kau selalu menuruti permintaan ayah! Kau...kau juga yang ingin sekali menjadi putri mahkota.." Jawab Ester.
Zelvia sangat terkejut di hatinya. Ia tidak menyangka ayahnya yang sangat tegas dan pemarah itu bisa duduk sambil menunduk seperti itu.
"Ayah...aku..aku sudah besar!" Balas Zelvia.
Ester mendongakkan kepalanya cepat.
"A-apa maksudmu?!" Tanya Ester kaget.
__ADS_1
"Iya ayah, aku bukanlah anak kecil lagi" Jawab Zelvia menjelaskan.
"Bagaimana mungkin... jelas-jelas...kau masih kecil!" Bantah Ester perlahan.
Zelvia lagi-lagi terkejut dibuatnya. Ia bingung apa yang dialaminya saat ini adalah rasa perhatian seorang ayah atau rasa keinginan ayahnya yang tidak bisa terpenuhi.
"Ayah...maaf" Ucap Zelvia.
Ester meneteskan air mata nya. Ia bangkit dan memeluk tubuh anak perempuan nya itu.
"Kenapa kau meminta maaf, nak?" Tanya Ester sedih.
Zelvia hanya terdiam. Ia sangat tidak tahu apa yang harus dilakukan nya saat ini.
"Nak...harusnya...ayahlah yang meminta maaf padamu!" Lirih Ester.
Zelvia melepaskan pelukannya.
"Sedari dulu..ayah sangat egois dan tidak memikirkan perasaanmu! Ayah hanya ingin kau bahagia...hanya itu!" Sahut Ester.
Zelvia menggeleng kepala cepat.
"Tidak ayah! Semua hal yang ayah lakukan adalah hal terbaik bagiku!" Balas Zelvia.
"Apa dia benar ayahku? Tapi... sifatnya sangat berbeda" Batin Zelvia.
Ester menghela nafas panjang.
"Baiklah...mulai hari ini, saat ini, keputusan mu adalah kehidupan mu! Kau boleh lakukan apapun yang kau mau! Ayah akan selalu mendukung setiap keputusan mu dan tidak akan menekan mu mulai sekarang!" Tegas Ester.
__ADS_1
Greppp.... Zelvia memeluk ayahnya senang.
"Aku sayang ayah!" Ucapnya.
Ester ikut senang mendengar hal itu. Ia mengangguk dan menangis haru.
"Nak...mengenai kesatria pribadi mu, ayah akan izinkan. Tapi, apa kau yakin dia bisa terpercaya?" tanya Ester ragu.
Zelvia mengangguk yakin, "iya ayah..." Sahut Zelvia.
"Dimana dia? ayah akan menemui nya!" Pinta Ester.
Zelvia membawa ayahnya menuju kamar Rero yang cukup jauh dari sana. Mereka ditemani beberapa pengawal untuk berjaga.
Sementara di kamar Rero...
"Hah hidup manusia sangat memusingkan! Dulu saat aku menjadi hewan, aku tidak perlu susah payah memakai pakaian. Sedangkan jika aku berubah menjadi manusia...Akh!!!" Kesal Rero.
Tok...tok...tok....
"Siapa?" Tanya Rero pada orang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Tolong dibuka..." Sahut orang itu.
"Ya tunggu sebentar!" Balas Rero.
Rero segera terburu-buru memakai pakaian nya. Ia merapikan rambutnya dan bersiap membuka pintu kamar nya tersebut.
"Ya ada apa?" Tanya Rero bingung.
__ADS_1
Srettt....
"Aghh" Lirih Rero