
Berhubung perasaannya yang juga tidak enak, Zelvia mengurungkan niatnya untuk pergi mencari orang itu.
Zelvia pergi ke kamar mandi untuk menemui Clez, karena sudah sedari tadi Clez tidak keluar dari kamar mandi dan menemui Zelvia.
"Apa Clez tidak tahu dimana aku ya?" batin Zelvia.
Setelah sampai di kamar mandi umum, Zelvia memanggil Clez berulang kali, namun nihil. Clez tidak bisa ditemukan di setiap sudut ruangan, bahkan Rero pun mengiyakan perkataan Zelvia bahwa ia juga sedari tadi tidak melihat keberadaan Clez.
"Rero, kau cari di arah sana, aku akan pergi di arah berlawanan!" ucap Zelvia. Rero mengangguk, mereka berpencar arah mencari Clez.
"Cleznia Irene, dimana kamu hah?!" teriak Rero yang sudah diambang keputusasaan karena tidak bisa menemui Clez satu jam lamanya.
"Apa aku harus menunggu sampai festival ini tutup?" gumam Rero.
Zelvia yang juga belum menemukan keberadaan Clez kembali menghampiri Rero.
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan Clez?" tanya Zelvia.
"Belum.." jawab Rero lesu.
Tetapi, suatu petunjuk membuat Zelvia mengetahui dimana keberadaan Clez.
"Lambang ini.." gumam Zelvia sambil memungut sebuah lencana di tanah.
Zelvia duduk bersimpuh, ia mencari suatu petunjuk di tanah, "Jalan.. Jalan Ameer?" ucapnya membaca kertas yang ditemukannya.
"Rero, ikuti aku!" ajak Zelvia dengan wajah serius.
"Nona mau mengajakku kemana? Tapi, sepertinya ini serius!" batin Rero penasaran.
Zelvia dan Rero pergi ke tempat pemberhentian kereta kuda, mereka lalu menaiki salah satu dari lima kereta kuda disana.
"Pergi ke Jalan Ameer ya pak!" ucap Zelvia terburu-buru.
"Baik," jawab pak kusir mengangguk.
"Nona, ada apa?" tanya Rero khawatir.
"Lihat nanti saja ya!" ucap Zelvia tersenyum sekilas.
*******
Jalan Ameer...
"Ini ya Pak.." ujar Zelvia sambil menyerahkan sebuah emas.
"Nak, ini.. ini terlalu banyak!" ucap kusir itu terkejut.
"Tidak apa pak, ambil saja ya!" ucap Zelvia yang kemudian pamit pergi.
Zelvia menyusuri Jalan Ameer itu, jalan itu sepi dan sunyi, tidak ada yang lalu lalang disana. Bahkan, hanya ada beberapa rumah, itupun juga tidak berpenghuni.
Pohon-pohon tumbang dan daun daunan berserakan karena tidak terawat.
Sungguh mengerikan!
__ADS_1
"Nona, tempat ini sangat gelap, apa perlu aku bantu anda memberikan cahaya dari sihir?" tanya Rero
"Jangan! Kalau perlu jangan tunjukkan atau perlihatkan sihirmu!" ujar Zelvia.
"Ada yang aneh dengan sikap nona.."
Zelvia menoleh ke arah samping kanan dan samping kiri, "Clez dimana kau?" gumamnya cemas.
Rero yang sudah sangat penasaran, menarik lengan Zelvia, "Katakan apa yang sebenarnya terjadi, Ze!!" Ucap Rero sambil menatap tajam nona sekaligus pemiliknya itu.
"Cleznia, dia dicu--" belum menyelesaikan omongannya, seorang pria bertubuh kekar dan wajah tampannya tersenyum sinis pada Zelvia, di sampingnya terdapat seorang pria tua dengan tubuh dan gemetar ketakutan.
Zelvia dan Rero menoleh kompak, mata Zelvia membulat sempurna saat melihat pria kekar itu di hadapannya.
"Kamu.." Zelvia terdiam, matanya tertuju pada wanita yang sedang diikat tali tambang dan tubuhnya lemah tidak bertenaga.
"Clez!" gumam Zelvia cemas.
"No-na.. per..pergi no..nona!" ucap Clez terbata-bata.
"Tidak.. Clez!" ucap Zelvia.
"Oh jadi nama wanita ini Clez ya?" pria itu mengangkat tubuh Clez dengan satu tangannya, ia mendongakkan kepala Clez yang sedang lemah itu secara paksa.
"Lepaskan dia!" tegas Zelvia dengan tatapan tajam.
Pria itu menyunggingkan senyuman, "Tidak semudah itu!" ucapnya.
Rero menatap lekat pria itu, "Kenapa aku seperti mengenalnya? Wajahnya.. sangat familiar!" batin Rero.
"Bangsa iblis akan menguasai seluruh ras, kami adalah bangsa tertinggi diantara semua ras! Kalian.. dan para manusia itu cepat atau lambat akan tertunduk lemah di hadapanku.. hahaha!"
Tawa khas itu, dengan wajah membunuh yang tertampak jelas di wajahnya, beberapa garis hitam yang terukir di tubuh tanpa baju, dengan api yang membara di tangannya. "Aku mengingatnya!"
"Raja iblis!" ucap Rero.
"Hoho, siapa ini? Kenapa bisa mengenaliku?" tanya Yustaf, sang raja iblis.
Rero mengepalkan tangannya, ia menatap Yustaf seperti ingin menerkamnya.
"Dia yang sudah membuat ayah meninggal, dia membuat ayah meninggal!" batin Rero dengan perasaan sedih bercampur marah.
Zelvia melihat Rero, ia tahu sepertinya Rero juga memiliki masalah dengan raja iblis, namun ia memilih untuk tidak ikut campur karena ia tidak tahu pasti kebenarannya.
"Serahkan Clez padaku!" tegas Zelvia dengan wajah dingin.
"Semudah itu? Aku kan sudah bilang, tidak semudah itu!" ucap Yustaf tertawa.
"Apa kau mempunyai persyaratan?" tanya Zelvia.
"Nona, jangan!" Rero menggeleng, ia tidak mau nonanya termakan hasutan Yustaf.
"Kau bisa mempercayai ku, Rero!" suara itu terdengar di pikiran Rero, sepertinya Zelvia sedang menghubungkan komunikasi pikiran di antara keduanya.
"Kau yakin akan menyetujui apapun syaratku?" tanya Yustaf.
__ADS_1
"Tidak pasti, tapi beritahukanlah syarat apa itu, jika aku bisa melakukannya, maka akan kulakukan!" ucap Zelvia mantap.
"Syaratnya mudah, jadilah.. istriku! Berikan seluruh darahmu sampai ajal menjemput! Eh, sebelum itu, berikan keturunan untukku, dia akan berguna haha..." ucap Yustaf tertawa tanpa ada rasa malu ataupun rasa bersalah di wajahnya
"Anda bercanda?" sahut Zelvia terkejut.
"Mana mungkin saya bercanda, apa di wajah saya tertera ekspresi bercanda, hm?" jelas Yustaf.
"Aku tidak mungkin menjadi istrimu, lagipula kenapa aku harus menjadi istrimu? Banyak wanita di luaran sana yang lebih sempurna dariku!" ucap Zelvia tegas.
"Karena kau berbeda, My lady!" ujar Yustaf.
Yustaf mendekati Zelvia, ia menggenggam tangan Zelvia dan hendak mencium punggung tangan Zelvia.
Dengan segera, Zelvia menepis jauh-jauh tangan Yustaf, ia lalu melangkah mundur menjauhi tubuh Yustaf.
"Kenapa kau mundur? Apa kau takut denganku?" tanya Yustaf sambil terus melangkah maju menghampiri Zelvia.
"Tidak bisa terus seperti ini!" gumam Zelvia.
BUGGHH...
"Aghh.." pekik Yustaf yang perutnya dipukul oleh Zelvia.
"Rero, tolong bawa Clez! Kita kabur dari sini!" ucap Zelvia.
Rero mengangguk, dengan cepat ia menggendong Clez dan membawanya untuk kabur bersama Zelvia.
"Kalian..kalian tidak bisa lari dariku!" Yustaf tersenyum sinis, ia berlari mendekati Zelvia dan kedua kepercayaan Zelvia.
Zelvia dan Rero terus pergi sampai gerbang depan dengan berlari cepat.
Tapi tiba-tiba..
Wushh...wushhh...
Tubuh Clez terangkat oleh sebuah sihir yang keluar dari tangan Yustaf. "Kalian tidak akan bisa lari dariku" gumam Yustaf.
Kedua bola mata Clez terbuka lebar, tubuhnya terangkat keatas. Ia berteriak karena merasakan sakit yang amat dalam di tubuhnya.
"Akhh...Akhh...to..tolong...a..hh" lirih Clez dengan air mata yang menetes perlahan.
"Clez, Clez!" Zelvia mencoba menolong Clez, namun hasilnya nihil, Clez sudah lemah tak berdaya dan tubuhnya dipenuhi dengan darah yang terus saja mengalir.
"Ja-ngan pe-du-li-kan sa..saya nona! Se..selam..selamatkan diri anda!" ucap Clez lirih dengan raut wajah sedih namun ia tetap tersenyum untuk menyemangati nonanya.
Brukk... tubuhnya tersungkur ke tanah dengan air matanya yang berubah menjadi merah darah, Zelvia dan Rero segera berlari menghampiri Clez.
"Biar saya cek!" ucap Rero yang menawarkan dirinya untuk mengecek keadaan Clez apakah masih hidup atau sebaliknya.
"Nona..dia..dia sudah.." Rero terdiam, ia meneteskan air matanya.
"Kenapa? Ada apa dengan Clez?" tanya Zelvia cemas.
"Dia telah.."
__ADS_1