
"Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa makan daging ayam segar!" Seru Rero.
"Sudahlah cepat dimakan! Jika ada orang yang melihat, mereka akan mengejek mu memakan daging mentahan seperti itu!" Tutur Zelvia.
"Aku masih ada urusan, jadi kau sendiri dulu ya! Jika membutuhkan bantuan ku, panggil aku lewat pikiran, ok?" Tambahnya.
Rero hanya mengangguk karena ia sedang sibuk melahap ayam mentah tadi.
Zelvia menggelengkan kepalanya, ia lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Rero dan pergi ke taman.
*****
Sementara disisi lain, tepatnya di istana Pangeran Hard dan calon istri nya, Nuriel.
Lalu, apa yang mereka lakukan? Ya..mereka sudah pasti sedang kebingungan serta pusing atas penolakan putri Duke Calliorest ( Zelvia ) untuk menjadi pendamping putra mahkota ( Pangeran Hard ).
Berita mengenai penolakan itu pun juga hampir tersebar di kalangan bangsawan. Tapi Hard beserta anggota istana berusaha menutupi kabar itu sebaik mungkin.
"Hard, apa....apa kau tidak akan menjadi putra mahkota kalau tidak di dampingi Nona Calliorest?" Tanya Nuriel cemas.
Cemas yang tampak di wajah mulus Nuriel itu bukan karena cemas akan keadaan Hard yang kepusingan, tapi Nuriel takut jika Pangeran Hard tidak akan jadi putra mahkota, maka perjuangan untuk mendekati Hard selama ini sia-sia!
"Huh bagaimana ini? Kalau Hard gagal menjadi putra mahkota, bagaimana denganku? Usahaku selama ini akan menjadi sia-sia saja dong! Ishh" Batin Nuriel kesal.
__ADS_1
Nuriel terus saja memikirkan hal itu, sedangkan Pangeran Hard yang "bodoh" itu malah terharu dan menganggap Nuriel menghawatirkan dirinya.
"Sayang...aku pasti bisa menjadi putra mahkota! Biarpun tahun ini belum dilantik, tapi tahun depan aku janji akan menjadi putra mahkota yang akan melindungi mu!" Ucap Hard seraya mengecup kening Nuriel.
"Tapi bagaimana?" Sahut Nuriel dengan suara agak meninggi.
"Aku adalah anak kesayangan ayah! Ayah pasti akan membantuku bukan? Lagipula, di antara anak lainnya, akulah yang paling berbakat!" Tutur Hard percaya diri.
"Oh iya, hampir saja aku lupa! Heh... Zelvia Yederina Calliorest, lihat saja...kau pasti akan kalah!" Batin Nuriel dengan senyum sinis.
"Kau tunggu disini, aku akan bertemu ayah" Tegas Hard dan berlalu.
Nuriel menghentikan senyum palsunya. Ia menghela nafas panjang.
☘️☘️☘️
Di taman dekat kamarnya, Zelvia berbaring di atas rerumputan halus seraya memandang langit cerah di atas nya
"Hidup begitu sulit ya!" Keluh Zelvia.
"Jika saja ada yang mengerti aku....jika saja ada yang bisa mendengar ceritaku!" Gumam Zelvia.
Ting....tepat di bagian jantung Zelvia bersinar, mata Zelvia pun juga terpejam dengan sendirinya.
__ADS_1
"Dimana aku?" Batin Zelvia kebingungan.
"Putriku..." Ucap wanita dengan pakaian putih serta rambut hitam panjang dan wajah yang bersinar tapi tidak terlihat jelas.
"Siapa kau?!" Ucap Zelvia.
"Jadi...kau sudah melupakan ku ya? Padahal kita pernah bertemu loh" Elak wanita itu.
"Memangnya kau siapa?" Tanya Zelvia.
"Seperti familiar, tapi..." Batin Zelvia kurang yakin.
wanita itu mendekati Zelvia perlahan. Ia langsung memeluk tubuh Zelvia dengan erat.
"Suatu hari nanti, kita pasti akan bertemu... anakku!" Tutur wanita itu seraya melepaskan pelukannya.
Seketika...pikiran Zelvia tergerakkan, ia mengingat bahwa ia pernah mendengar ucapan itu di mimpinya! Tapi sampai sekarang pun...ia bahkan tidak tahu siapa wanita itu.
"Tunggu...siapa namamu?" Tanya Zelvia.
"Aluera! Itu namaku..." Balas wanita itu yang perlahan menghilang dengan sendirinya.
"Nona....nona...bangunlah nona!"
__ADS_1