Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat

Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat
Episode 31 ~> Legenda Pahlawan dan elang 3


__ADS_3

"Hoammm.... bagaimana kabar manusia itu ya di sana?" Kata Moon ( burung elang )


"Eh...disana ada tongkat? atau pohon? tinggi sekali !" Ujarnya.


Moon menghampiri tongkat itu dan melihat sebilah kain dengan sulaman bergambar elang yang sangat besar menjulang tinggi ke atas. Di kertas itu tampak setetes darah manusia. Moon awalnya ragu untuk melihat nya, tapi saat melihat lambang elang itu, ia penasaran dan segera kesana.


"Wow....apa ada manusia yang menyulam ini?" Kata Moon kagum.


"Tunggu, kok ada darahnya? Ini....ini persis seperti darah manusia yang dibawa Peipei ( nama elang kecil yang pertama kali bertemu Pahlawan ) " Ucapnya.


"Aku harus pergi dan memberi tahu kan kabar ini pada ketua elang!"


Ia terbang dan pergi ke rumah nya lalu menghampiri ketua elang yang sedang berlatih itu.


"Ketuaaa !!!" Teriaknya.


"Aduh kenapa teriak-teriak begitu?" Sahut ketua itu.


"Ketua, aku melihat ada tongkat yang terbuat dari batang pohon. Diatas pohon itu ada kain yang diikat. Kain itu adalah sulaman bergambar elang yang sa~ngat besar. Disitu juga ada darah yang persis seperti darah manusia yang dibawa Peipei waktu itu" Panik Moon.


"Moon, darah manusia kan sama semua. Kenapa kau panik begitu, siapa tahu itu bukan manusia yang waktu itu" Jawab ketua elang


"Tapi ketua, aku mohon....itu manusia waktu itu ataupun bukan, tapi kan ketua sendiri yang bilang kita harus membalas jasa manusia dengan melindunginya. Saya mohon ketua !!! Selama manusia itu di rumah kita, ia selalu melindungi kita dari ancaman binatang buas kan?" Tegas Moon.


"Ya sudah... arahkan pasukan dan bawa beberapa perlengkapan diri. Kita akan segera berangkat !!!!" Tegas ketua elang.


Di luar hutan.


"Siap semuanya!!! kita pergi sekarang!" Ucap ketua.


"Baik ketua" Jawab semua elang.


Para elang berbondong-bondong terbang ke luar hutan. Mereka kaget saat tahu bahwa para rakyat sudah tergeletak meninggal di jalanan. Kobaran api terlihat dimana-mana. Perumahan hangus terbakar


"Ketua.... bagaimana ini ? apa manusia itu baik-baik saja?" Tanya Moon khawatir.


"Tenang lah....dia dulu adalah Pahlawan. Walaupun dia terluka, aku yakin dia masih hidup!!!" Tegas ketua.


"Peipei....kau pergi temui elang yang tersisa di rumah. Suruh mereka membawa beberapa air dari danau dan bawa kesini untuk meredakan kobaran api ini!" Tegas ketua.


"Baik" Jawab Peipei.

__ADS_1


Peipei segera pulang ke rumah dan membawa elang yang tersisa dengan air yang dicengkeram nya.


"Ayoo" Tegas ketua elang.


Sebagian elang menyerang Istana, sebagian lainnya menyirami air di kobaran api. Sementara itu, Moon dan Peipei mencari Sang Pahlawan.


Setelah ditemukan kurang lebih sekitar 2 jam. Moon dan Peipei berhasil menemukan Pahlawan itu.


"Hei manusia!" pungkasnya.


"Siapa kau? Eh....kau kan, Moon? Peipei? Apa kalian sudah melihat kain sulaman itu?" Ujar pahlawan.


"Syuuuttt.... kemarilah!" Ajak Moon.


"Baik" Bisik Pahlawan itu.


Mereka segera meninggalkan rumah itu dan mengobati luka Sang Pahlawan dengan beberapa daun obat yang sudah ditumbuk.


Para pengawal istana berhasil dikalahkan. Tapi karena kejadian itu, banyak sekali elang yang mati saat bertarung membuat kabar buruk bagi seluruh elang juga Sang Pahlawan.


"Maaf...maaf kan aku, ini semua karena aku yang tidak berguna!" Tangis Sang Pahlawan pada ketua elang.


"Sudahlah....kami melakukan ini dengan bahagia dan sangat terhormat. Karena manusia juga sudah menyelamatkan ku!" Sahut ketua elang.


"Hah...panjang ceritanya. Dulu, ada manusia masih kecil, manusia itu sangat suka berkeliaran di hutan. Dia juga suka duduk di dekat air terjun dan menangis. Saat itu, aku juga masih kecil. Aku yang kasihan pada nya ingin sekali menghibur dirinya yang menangis itu. Tapi...karena dulu aku takut pada manusia, jadi aku kembali ke rumahku. Tapi diperjalanan, ada seekor binatang buas yang ingin memangsaku. Dengan cepat, anak kecil itu datang dan melindungi ku dari bahaya itu. Semenjak itu, aku sangat ingin berterima kasih padanya. Tapi karena manusia tidak bisa mengerti bahasa hewan, aku merasa sedih. Tapi aku teringat, bahwa nenek moyang ku memberiku sebuah kalung. Ia bilang, jika kau bertemu manusia yang baik, berilah kalung ini. Jadi aku mencopot salah satu buluku dan memasangnya di kalung ini. Setelah itu, aku memberi kalung ini pada orang itu. Bertahun-tahun ku tunggu, manusia itu tak kunjung datang. Aku jadi putus asa dan sedih" Cerita Ketua elang.


"Lalu? Apakah dia sudah ketemu?" Tanya Sang pahlawan penasaran.


"Hah....belum. Tapi Aku bersyukur sekali bisa bertemu cucu manusia itu sebelum ajal menjemput ku" Ucap ketua elang sambil meneteskan air matanya.


"Ketua? kenapa anda menangis" Tanya Sang Pahlawan beserta Moon dan Peipei.


"Terimakasih... bisa menjaga kalian adalah kebahagiaan dalam hidupku" Katanya menangis.


Ketua elang terbang ke arah istana dengan berani.


"Tunggu....di dalam istana gak ada siapa-siapa kan?" Tanya Sang Pahlawan.


"Nggak tahu. Coba tanya ke elang lain" Jawab Moon.


Sang Pahlawan mencari elang lain dan menanyakan tentang istana yang masih ada orang atau tidak.

__ADS_1


"Maaf permisi, saya ingin bertanya apa di dalam istana masih ada orang" Tanya Sang Pahlawan.


"Disana mas--" Belum selesai berbicara... tiba-tiba ada suara tembakan yang sangat keras.


Dorrrr..... Seketika, semua melihat ke arah istana dan betapa mengejutkan nya bahwa keluar bulu-bulu burung elang yang merupakan ketua Elang mereka yang telah terbentur jauh ke luar istana.


"Ketuaaa!!!" Teriak para elang termasuk Sang Pahlawan.


Sang Pahlawan berlari dengan air mata penyesalan menuju ketua elang.


"Ketua!!! bangunlah....jangan tinggalkan aku !" Pungkasnya.


"Nak.... janganlah bersedih. Bisa membantu mu adalah kebahagiaan dalam hidup ku. Bersemangatlah !" Ujar ketua elang.


"Tapi....jika aku tidak lemah, mungkin saja anda masih hidup" Tangis Sang Pahlawan.


"Nak... berhentilah menangis. Kakek percaya kau pasti bisa mengalahkan nya. Semangat lah cucuku!!!" Sahut ketua elang sembari meletakkan tangannya di jantung Sang Pahlawan.


"Kakek? Jadi....manusia yang memiliki kalung itu...kakekku? Berarti yang anda temui di danau adalah kakekku?!"


"Iya nak...sayangnya, kakek mu sudah meninggal...uhuk...uhuk. Karena itu, apa kakek boleh minta sesuatu sebelum kakek mati?"


"***Iya.... katakanlah!"


"Panggil aku kakek ya....makasih sudah menemui kakek sebelum kakek meninggal"


"Tidak!!!! ketu--- Kakek!!! bangunlah kek***, Kakek!! kumohon bangunlah. Jangan tinggalkan aku sendiri! " Tangis Sang Pahlawan.


"Kakek bangunlah....aku tidak punya siapa-siapa selain kakek. Hiks...hiks...huwaaaa" Tangis Peipei yang merupakan cucu kandung ketua elang.


"Biadab!!! berani-beraninya kau membunuh kakek elang ku!!! Tidak akan kuampuni kau!!" Ucap Sang Pahlawan sambil menunjuk Pangeran pertama.


"MATILAH KAU!!!" teriak sang Pahlawan dengan sayap elang yang ada di punggung nya.



Sang pahlawan mengeluarkan kekuatannya dan hampir mengenai pangeran pertama.


"Heh...ingin membunuhku? Lihatlah ini!" Ucap pangeran pertama sambil mengeluarkan bom meriam.


"Meledak!!!!" *Teriak pangeran pertama.

__ADS_1


Bom itu meledak tepat di depan Sang Pahlawan, tapi sayangnya... kekuatan Sang Pahlawan lebih besar dari pada bom itu. Saat Sang Pahlawan mengeluarkan kekuatannya, seketika..... pangeran pertama meninggal menjadi abu.


Setelah itu, Sang Pahlawan pingsan dan dibawa oleh beberapa elang yang tersisa ke rumah elang. Semenjak kejadian itu, Sang Pahlawan berhutang budi pada para elang dan akhirnya memutuskan untuk menjaga mereka sampai ajal menjemput*.


__ADS_2