
Tembus 15 like dan 5 komentar, author double up
*****
"Aku yakin, Daisy!" jawab Zelvia mantap.
Daisy tersenyum, "Semoga anda baik-baik saja ya, nona! Letaknya seperti yang kujelaskan tadi," jelas Daisy.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih," ujar Zelvia.
Zelvia berpamitan dan melambaikan tangannya, ia lalu berjalan menjauh dari para wanita tersebut.
"Daisy, apa kau yakin? Disana sangat berbahaya, mana mungkin gadis kecil sepertinya pergi begitu saja dengan tangan kosong seperti itu? Ditambah, disana ada sekelompok geng terkenal yang dikenal karena kejahatannya." ucap teman Daisy yang bernama Lili.
"Huhh, aku kan sudah memperingatkan nya, tapi karena ia begitu nekat, ya sudah terserah dia, aku tidak mau ikut-ikutan!" ujar Daisy sinis.
"Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa, Daisy? Sungguh, aku khawatir padanya!" ucap Lili agak takut.
Daisy memutar bola matanya malas, "Aku tidak peduli dengannya, dia sudah menanggung resiko itu, sok sekali!" sahut Daisy.
Daisy mengepal tangannya, berapa lama kemudian ada sekelompok orang berbaju seragam pengawal lengkap dengan senjata yang dibawa mereka.
"Nona-nona!" panggil salah satu pengawal pada Daisy dan teman-temannya.
"Ehem, iya?" tanya Daisy.
"Oh ya ampun, dia datang lagi!" Daisy membatin dengan wajah yang merah merona, dan jantungnya dan berdebar kencang.
"Bisakah kalian menjawab pertanyaanku, hm?" tanya pengawal itu.
"Ya," jawab Daisy dengan cepat.
🍂🍂🍂
Disisi lain, Zelvia masih berjalan dengan langkah hati-hati agar tidak ada orang yang curiga dengan dirinya.
"Makin kesini, makin sunyi." batin Zelvia pelan.
"Haish, aku sangat bosan!" suara terdengar dari arah depan Zelvia, diikuti dengan derap langkah kaki beberapa orang. Zelvia yang menyadarinya segera menyembunyikan dirinya di baling dinding yang berada di sampingnya.
"Kenapa aku sedikit familiar dengan suaranya ya?" batin Zelvia.
Brakk.... sebuah benda jatuh ke tanah dan mengeluarkan bunyi dentuman yang cukup keras. Sialnya, benda itu berada di samping Zelvia, dan Zelvia lah yang tidak sengaja menjatuhkan benda tersebut.
"Oh ya ampun, sial!" umpat Zelvia dalam hatinya.
Saat Zelvia ingin berusaha kabur dari sana, ia sudah lebih dulu terciduk oleh sekelompok pria yang tadi sedang berbincang.
"Ehem.. haha," Zelvia tertawa kaku sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"A-aku tidak ada maksud apa-apa," ucap Zelvia pelan.
Salah satu pria bertubuh kekar dan besar mendekati Zelvia, "Apa kau menguping pembicaraan kami?" tanyanya pada Zelvia.
__ADS_1
"Ehm.." Zelvia terdiam sesaat, ia lalu mendongakkan kepalanya. " Apa boleh buat, aku harus berbohong untuk sementara!" batin Zelvia.
"Eh.." Zelvia tersentak saat melihat wajah pria di hadapannya. Wajah yang tidak asing baginya.
"Min.. Minhao?" tanya Zelvia pada pria itu.
Pria itu pun sama-sama tersentak saat Zelvia menyebut namanya. Kenapa ia bisa mengenalnya? Mengenal nama yang selama ini dirahasiakan? pikirnya saat ini.
Pria itu mengepal tangannya, ia lalu memegang dagu Zelvia dengan kasar.
"Auh.." pekik Zelvia.
"Darimana kau tahu namaku, gadis kecil? Jawab!" tegas Minhao dengan nada tinggi.
Zelvia yang terlanjur kesal mendorong tubuh Minhao kasar. "Kau tidak perlu tahu! Jangan halangi jalanku!" ujar Zelvia tegas.
Dengan acuh tak acuh, Zelvia berjalan pergi meninggalkan Minhao dan sekelompok geng nya.
Minhao juga sama, ia menjadi kesal karena perilaku Zelvia yang dianggapnya tidak takut dan hormat pada dirinya yang mempunyai kedudukan tinggi di kota Tersevane ini.
Minhao mengejar Zelvia dan mengikuti langkahnya, saat langkah mereka sejajar, Minhao segera menarik jubah Zelvia guna melihat wajahnya.
"Tuan!"
"Boss!"
Panggil bawahan Minhao pada tuannya itu.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Zelvia kesal.
"Ma-maaf nona, saya tidak tahu kalau anda adalah.." Minhao bersujud dengan perasaan ketakutan.
"Sa-saya benar-benar tidak mengenal anda tadi," jelas Minhao.
Zelvia awalnya tidak ingin meladeni Minhao, tapi, berhubung ia ingin melawan Hans, sepertinya kekuatan Minhao tidak buruk juga.
"Hem.." Zelvia berdehem, ia lalu tersenyum tipis.
"Minhao, bangunlah dulu!" pinta Zelvia.
"Ya?" Minhao menatap bingung ke arah Zelvia. Ia menurut dan bangkit.
"Nona, maaf.." ucapnya pelan.
"Aku akan memaafkanmu, tapi.. bisakah kau menolongku kali ini?" tanya Zelvia.
Minhao agak heran dengan permintaan Zelvia. Baginya, kekuatan Zelvia jauh dibandingkan dirinya.
"Tentu saja, tapi.. kenapa anda mau meminta bantuan saya?" tanya Minhao.
Zelvia menoleh ke segala arah, ia lalu berucap pelan pada Minhao.
"Ini.. mengenai serikat perdagangan Mue Wan," ucap Zelvia pelan.
__ADS_1
"Kenapa perasaanku tidak enak, ya? Seperti.. ada yang mengintaiku," batin Zelvia.
Minhao yang sadar akan perilaku Zelvia, segera mengajak Zelvia untuk pergi dari sana.
"Nona, kita bicara di lain tempat! Ikuti aku!" ajak Minhao.
Zelvia mengangguk, ia mengikuti langkah Minhao.
Tidak lupa, Minhao juga mengajak sebagian para bawahannya untuk mengikuti dirinya. Dan sebagian lagi berjaga disana.
Tak..tak..tak.. Minhao menghentikan langkahnya, tepat di depan dinding besar di hadapannya, yang terdapat di dekat tempat pembuangan sampah dekat sana.
"Apa disini sudah cukup aman, nona?" tanya Minhao.
"Kau tahu juga?" tanya Zelvia balik.
"Ya, melihat tingkahmu, sepertinya kau sedang berjaga-jaga dari seseorang!" jawab Minhao.
Zelvia menoleh ke belakang, "Sepertinya sudah cukup aman" jawab Zelvia.
Kretek... dinding itu terbelah menjadi dua karena Minhao telah menempelkan sebuah kartu berwarna hitam di tangannya.
"Silakan masuk nona!" sambut Minhao pada Zelvia.
Drap..drap..drap.. Zelvia dan Minhao berjalan berdampingan memasuki ruangan itu lebih dulu, diikuti para bawahan Minhao dari belakang.
"Apa ini tempat rahasiamu?" tanya Zelvia.
"Ya," jawab Minhao singkat.
Minhao mengajak Zelvia ke sebuah ruangan. Ia lalu menutup pintu ruangan itu rapat-rapat dan mempersilakan Zelvia duduk di kursi.
"Apa nona merasa kurang nyaman? Jika iya, bilang saja pada saya" tanya Minhao.
"Tidak, ini tempat yang bagus," jawab Zelvia.
"Benarkah? Saya sungguh tersanjung bisa dipuji nona," ucap Minhao tersenyum senang.
"Saya juga tidak menyangka bisa bertemu untuk kedua kalinya dengan anda." tambah Minhao sambil terkekeh pelan.
"Ya, aku juga." jawab Zelvia.
"Baiklah, bagaimana kalau kita langsung ke intinya saja?" ujar Zelvia. "Ya," jawab Minhao.
"Jadi, apa yang anda inginkan nona?" tanya Minhao.
"Aku ingin menyelinap masuk ke dalam serikat perdagangan Mue Wan, tapi.. aku tidak mempunyai pendukung yang cukup untuk masuk ke dalam sana, maka dari itu, aku membutuhkan bantuanmu!" ujar Zelvia.
"Hahaha, tenang saja nona! Aku akan mengalihkan perhatian mereka, nona masuklah" ujar Minhao menyahut.
"Lalu, aku ingin bertanya beberapa hal," ucap Zelvia melanjutkan perkataannya tadi.
"Apa itu, nona?" tanya Minhao penasaran.
__ADS_1
"Tentang putri dari pemilik serikat perdagangan Mue Wan, yang mempunyai tunangan bernama Hans, mantan pemilik Penginapan Wers." ucap Zelvia.
" Aku tidak tahu bagaimana watak wanita itu, sebaiknya, aku cari tahu informasi nya lebih dalam terlebih dahulu. Takut terjadi hal yang tidak memungkinkan nantinya " batin Zelvia.