
Hap!
Satu pelukan mendarat di tubuh Zelvia dari arah belakang. Dengan cepat, Zelvia mendorong dan menepis kasar tubuh pria yang memeluknya itu.
"Jangan sentuh aku!" ucapnya pada pria itu.
"Sudah kuduga!" batin Zelvia.
"Tu-tuan Hans, ke..kenapa anda?" tanya Zelvia ragu, dan memasang ekspresi pura-pura panik.
"Kenapa? Kau tidak suka, hm?" tanya Hans sambil tersenyum tipis.
"Ke..kenapa Tuan Hans ada disini? Dan, surat itu.. Apakah juga ditulis oleh Tuan Hans sendiri?" tanya Zelvia.
"Tentu saja, lagipula, kau menyukaiku, kan?" ucap Hans dengan percaya dirinya.
"Ha..ha...ha.. dia terlalu percaya diri!" batin Zelvia jijik.
"Apa maksud tuan? Saya bahkan tidak terlalu mengenal anda," jawab Zelvia menggeleng.
Hans menggigit bibir bawahnya kesal, "Jelas-jelas, tadi di toilet kau bilang bahwa aku tampan, dan iri dengan Xie Ra!" ucap Hans.
"Jadi benar, saat itu ada yang mengikutiku di toilet? Haha, Hans terlalu naif, padahal aku sengaja mengatakan itu agar ia terpancing, dan benar saja.. rencanaku berjalan!" batin Zelvia puas.
Hans tersenyum tipis, ia lalu memegang erat dagu Zelvia. "Tapi, dibanding Xie Ra, kau juga lebih cantik. Jika saja pak tua itu memperbolehkan aku mempunyai selir, akan kuangkat kau menjadi selir!" ucap Hans.
Ini saatnya!!!
Plakkk....
Satu tamparan keras mendarat di wajah Hans, dengan wajah penuh amarah, Zelvia menatap tajam pria di hadapannya itu. "DASAR PRIA MENJIJIKAN! MENJAUH DARIKU! DASAR BRENG**K!" teriak Zelvia keras.
Hans yang marah menatap Zelvia dengan tatapan membunuh. Ia lalu mencengkram erat bahu Zelvia, "Jangan jual mahal! Kau tahu, aku adalah calon pemilik serikat perdagangan terkaya nantinya! Jangan berani-berani kau lancang di hadapanku!" ucap Hans marah.
"Apa?! Tidak boleh! Nona Xie Ra tidak pantas memiliki suami bajing*n sepertimu! Memangnya, kau pikir hubungan terlarang mu dengan salah seorang pelayan tidak ada yang tahu?" ucap Zelvia lantang.
"Hahaha! Kau tidak akan bisa mengungkap hal itu, karena aku mempunyai banyak bukti palsu di sekitarku!" jawab Hans sambil tertawa renyah.
Zelvia mengepal tangannya, "Aku turut kasihan pada Nona Xie Ra, dia tulus mencintaimu, tapi ini balasan yang kau berikan! Memang pada dasarnya seorang penjahat tetaplah penjahat!" ujar Zelvia.
"Mau apa kau? Jangan-jangan.. kau cemburu, iya?!" tanya Hans.
Hans kembali mencengkram erat lengan Zelvia, namun kali ini lebih kasar sehingga Zelvia merintih kesakitan.
"Akh, Nona Xie Ra, tolong aku!" ucap Zelvia.
Deg! Seketika, jantung Hans berdebar kencang begitu mendengar kalimat Zelvia. Ia melepas cengkramannya dari Zelvia, dan membalik badan.
"Ra.. Xie Ra?" tanya Hans tergencang.
Dengan penuh amarah, Xie Ra berjalan cepat mendekati Hans.
__ADS_1
PLAK! PLAK! PLAK!
Tiga tamparan keras mendarat di pipi Hans. "Hans, a-apa yang dikatakan Nona Zelene benar?" tanya Xie Ra terbata-bata.
"Bu-bukan begitu, itu tidak benar, Rara!" ucap Hans lirih.
"JANGAN PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN SEPERTI ITU! MENJIJIKAN!" ucap Xie Ra lantang, berbeda dengan pandangannya selama ini, Xie Ra seperti melihat kotoran hewan di depannya, bahkan lebih buruk!
Entah karena kelembutan hati Xie Ra, atau karena kecewa cintanya dikhianati, tanpa sadar air mata mengalir deras di pipi Xie Ra. Xie Ra terduduk lemah di atas tanah, dengan pandangan kosong ke depan.
"Nona Xie Ra!" ucap Zelvia. Zelvia memeluk erat tubuh Xie Ra, dan mengelus lembut kepalanya.
"Tenanglah, Nona Xie Ra! sekarang kau sudah tahu akan hal itu, jadi kau tidak perlu menderita karena pria sepertinya di masa depan!" ucap Zelvia.
"Hiks...hiks... DASAR PRIA BRENG**K!" teriak Xie Ra mencurahkan isi hatinya.
"Xie Ra, percayalah padaku, aku adalah pria yang sudah lama mengenalmu, tidak sepertinya!" ucap Hans menjelaskan.
Xie Ra mengepal tangannya erat, "Bisakah aku mempercayaimu setelah semua hal yang kau lakukan, Hans?" tanya Xie Ra.
Deg! Hans terdiam seribu bahasa, ia tahu, semua hal yang dilakukan pasti tidak bisa membuat Xie Ra memberinya kesempatan lagi.
"Dasar wanita tidak tahu malu! Beraninya kau lancang dan memfitnahku!" ucap Hans sambil menunjuk-nunjuk Zelvia.
Zelvia tersenyum dingin, "Aku punya bukti lain!" ucap Zelvia.
Zelvia terdiam sejenak, "Xie Ra, apa.. tidak apa?" tanya Zelvia. Ia takut hati Xie Ra akan lebih sakit saat mengetahui bukti 'sebenarnya'.
Tap...tap...tap...
Seorang pelayan datang, dengan memegang perutnya dan menangis, "Hiks...hiks... Tuan Hans.. aku.. aku mengandung anakmu!" ucap pelayan wanita tersebut, dan tentu saja membuat terkejut semua bangsawan, termasuk Xie Ra sendiri.
"A-apa? apa kau gila?" tanya Hans tergencang.
"Sial! Kenapa pelayan rendahan itu bisa kesini?" tanya Hans dalam batinnya.
Beberapa menit lalu, setelah Zelvia keluar dari kamar mandi.
"Ah, segarnya~ ini lebih baik dibanding memakai banyak perhiasan!" ucap Zelvia dengan perhiasan kepala yang sudah ia lepas, dan kini rambutnya terurai panjang.
"Eh.. dia kan.." tanpa sengaja, mata Zelvia menangkap seorang pelayan yang sedang berjalan disana. Dan tentu saja ia sangat mengenalnya.
"Tunggu!" ucap Zelvia pada pelayan tersebut.
Pelayan itu segera menoleh, ia lalu menghampiri Zelvia, "I-iya ada apa, Nona?" tanyanya ragu.
"Biarkan aku bicara denganmu sebentar!"
***
Beberapa menit setelah perbincangan singkat antara Zelvia dan pelayan itu..
__ADS_1
"Bicaralah dengan jujur, dan tidak ada paksaan apapun! Aku janji, akan memberikan beberapa kebutuhan untuk bayimu nanti!" ucap Zelvia tegas.
Begitulah kejadian sebelumnya, dan sebab mengapa pelayan tersebut berani mengungkap kebenaran tentang kehamilan yang selama ini ia sembunyikan.
"APA KAU BILANG? Apa.. kau tidak menginginkan bayi dalam kandunganku ini?!" ucap pelayan itu histeris, ia terus mengalirkan air matanya deras.
"Maafkan aku tuan, tapi ini demi bayi dalam kandunganku.. demi anak kita!" ucap pelayan tersebut.
Semakin banyak orang yang berdatangan kesana, dan semakin banyak orang yang mengetahui seberapa bejat seorang tunangan pemilik serikat perdagangan.
"Permisi, permisi!" Minhao yang penasaran mulai mengikuti kerumunan itu. Karena ia adalah bangsawan tinggi, mau tidak mau ia diberikan jalan untuk melihat kejadian itu.
"No..nona Zelvia? Dan.. Nona Xie Ra?" Minhao membuka matanya lebar, saat melihat Zelvia adalah dalang dari kerumunan itu.
"Saya! SAYA JUGA!" terdengar teriakan dari arah samping. Seorang pelayan berlari ke arah Zelvia, Hans, dan Xie Ra.
"Aku.. aku juga harus berani mengungkapnya! Aku tidak mau anak itu tidak mempunyai ayah!" batin pelayan tersebut.
"Aku.. aku juga mengandung anakmu, Tuan Hans!" ucapnya lirih, disertai tangis di wajahnya.
"Apa lagi ini?! Kau sengaja kan, memanfaatkan kejadian ini? Dasar pelayan rendahan!" ucap Hans kesal.
Sialan! Sial!
"Tuan, anda jangan pura-pura tidak tahu! jelas-jelas.. malam itu... hiks hiks," dengan derai air mata, ia menangis sejadi-jadinya di hadapan Hans.
"AKU JUGA!"
"PRIA BEJAT, JANGAN LUPAKAN ANAK DALAM KANDUNGAN KU!"
"AKU SUDAH TIDAK INGIN MERAHASIAKANNYA LAGI, AKU MENGANDUNG ANAKMU!"
"AKU JUGA!"
Semakin lama, semakin banyak pelayan yang menunjuk dirinya mengandung anak dari Hans. Sementara Xie Ra, ia berusaha menutup telinganya, kepalanya pusing, tidak ada tenaga dalam dirinya.
"AKHH!" pekik Xie Ra kencang.
"Nona, tenanglah.. apa.. kau mau pindah ke tempat lain? Kita tidak perlu mengurusi pria bejat sepertinya!" ucap Zelvia.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tiba-tiba saja, Xie Hong, ayah Xie Ra sekaligus pemilik serikat perdagangan datang kesana.
"Hormat kepada pemilik serikat perdagangan!" semua bangsawan menunduk hormat di hadapan Xie Hong, termasuk Zelvia yang juga ada disana.
"Ayah!" Xie Ra berlari ke arah ayahnya, dan memeluknya erat.
"Ayah...hiks hiks, ayah... aku... aku tidak ingin menikahinya!" ucap Xie Ra.
Deg!
"Apa?!"
__ADS_1