Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat

Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat
Episode 98. Tertangkap


__ADS_3

"Kembalilah ke sisiku, dan berikan darahmu! Jika kau berhasil menyelamatkanku, maka bayarannya juga pasti setimpal!" ucap Yustaf dengan senyum liciknya.


Zelvia tidak menghiraukan Yustaf, ia pura-pura menunduk tidak tahu.


"Ayolah, cepat pergi!" batin Zelvia.


Yustaf melirik Zelvia sekilas, namun ia tidak mendekat pada Zelvia. Yustaf menarik lengan seseorang di sebelah Zelvia yang ternyata rambutnya juga dikuncir dan di kesampingkan ke depan.


"Woah, keajaiban apa ini?" gumam Zelvia.


"Syukurlah, aku selamat!!" batinnya.


Yustaf memeluk wanita itu, sampai-sampai jantung si wanita berdetak hebat, "Tu-tuan.. ada apa?" tanya wanita itu dengan wajah merah merona.


"Ikutlah denganku, nona cantik!" ucap Yustaf tersenyum.


"A..apa? ikut kemana? e-eh.." ucap wanita itu berbicara terbata-bata karena tidak sanggup melihat wajah tampan Yustaf.


"Astaga, mereka malah mesra-mesraan! Kakiku keram, apa aku kabur saja ya?" batin Zelvia kesal


"Menurutmu kemana? Ke hatiku, hem?" goda Yustaf yang membuat wanita itu lagi-lagi tersipu malu.


"Tuan, saya hanya rakyat biasa!" ucap si wanita.


Yustaf memegang pundak wanita itu, "Coba dongakkan kepalamu!" pintanya.


Wanita itu menurut, ia mendongakkan kepalanya. Haaa...apa dia itu pangeran surga? tampan sekali!


Di saat wanita itu dan Yustaf sedang bermesraan, Zelvia dan Clez memanfaatkan hal tersebut untuk pergi dari sana diam-diam.


Yustaf menoleh ke arah Zelvia dan Clez, ia memiringkan kepalanya.


"Eh, kedua nona ini ingin pergi kemana?" tanya Yustaf.


Zelvia menghentikan langkahnya, "Maaf tuan, kami harus pergi karena ada urusan. Sepertinya anda sudah menemukan orang yang anda cari!" ucap Zelvia pamit.


Ada tatapan aneh oleh Yustaf pada Zelvia, namun Zelvia memilih berpikir positif dan pergi bersama Clez keluar.


"Leganya~" kata Clez lega.


"Ayo kita pulang nona!" ajaknya.


Zelvia mengangguk, mereka mencari kereta kuda untuk menuju pulang ke penginapan.


*******


Penginapan Wers...


"Nona, apa kita masih boleh masuk? Pemerintah kan sudah menolak permintaan anda!" tanya Clez sedih.


"Tidak apa, percayalah padaku, ayo masuk!" jawab Zelvia.


Zelvia masuk ke dalam Penginapan Wers, di depan penginapan sudah banyak pengawal yang membungkuk hormat pada Zelvia.

__ADS_1


"Selamat datang, nona!" ucap para pengawal itu kompak.


"Sepertinya anak itu bertindak cepat!"


"Riel, semoga kau tidak mengecewakan ku!" gumam Zelvia, sementara Clez masih bingung.


"Ada apa ini? Kenapa mereka membungkuk hormat dan menyambut nona?" batin Clez heran.


Setelah sampai di dalam, Clez diperintahkan Zelvia untuk kembali ke kamarnya, sementara ia pergi ke ruangan pusat untuk bertemu Riel.


#Flashback on#


Flashback saat di kantor pemerintahan..


Zelvia menampakkan raut wajah sedih, ia kecewa karena permintaannya untuk pengalihan posisi pemilik penginapan tidak bisa berubah, dan itu juga salahnya sendiri yang tidak memperhitungkan sesuatu dengan matang.


"Huhh" Zelvia menghembuskan nafas panjang dan terasa berat itu.


"Hanya ini cara satu-satunya! Kuharap Lessen bisa menerima ini!" batin Zelvia.


"Baiklah, kalau begitu memang keputusan dari pemerintah, aku sudah tidak bisa berkata!" ucap Zelvia pada Lessen.


"Saya pamit undur diri," Zelvia tersenyum tipis dan pergi berlalu. Namun, sebenarnya ia mempunyai rencana lain.


*****


Beberapa hari lalu, saat Zelvia hendak pulang ke penginapan setelah perjalanan lamanya, ia akhirnya pulang juga setelah mendapat arahan dari kakek yang ia temui di gang kecil untuk kembali ke penginapan.


Namun, tidak seperti biasanya. Jalan itu menunjuk pada pintu belakang penginapan.


"Hiks..lepas..hiks!" tangis seorang gadis kecil terdengar jelas di telinga Zelvia.


"Suara siapa itu?" batin Zelvia.


"Hiks..hiks... tolong lepaskan aku, paman!" tangis gadis itu semakin menjadi-jadi.


Selain suara seorang gadis, ada juga suara pria yang menyahuti setiap kalimat di gadis.


Pria itu berkata, "Diamlah, kau begitu banyak bicara!"


"Suara apa itu? Sepertinya disini tidak ada rumah lain selain penginapan, dan juga.. tidak ada tempat persembunyian kan?" ujar Zelvia dalam hatinya dengan perasaan yang terheran-heran.


Karena Zelvia tidak tahu sumber suara tersebut, ia memilih untuk masuk ke dalam penginapan dan kembali ke kamarnya saja.


Tetapi, suatu hal yang tidak terduga dilihatnya.


"Huu..huu...." tangis seorang gadis dalam sebuah kamar dengan baju yang sudah robek-robek, dan lelaki di sampingnya yang memeluk gadis itu dengan paksa.


Zelvia menutup mulutnya dengan kedua tangan, "A-apa apaan ini?" tanyanya bergumam.


Pria itu menarik rok gadis itu, untung saja gadis itu masih memakai celana selutut di dalamnya.


"Hiks, lepas..lepaskan aku.." tangis gadis itu lirih dengan wajah yang sendu dan tubuh yang sudah pasrah tidak berdaya.

__ADS_1


"Jangan-jangan.."


"Dasar pria breng**k!" ucap Zelvia berdecak kesal.


Zelvia melangkah pelan memasuki kamar yang pintunya tidak terkunci itu, ia mematikan lampu pelan.


"Siapa disana?" tanya pria itu sedikit berteriak.


Zelvia berlari menjauhi kamar itu, "Ayolah nona kecil, pergi dari tempat itu!" batin Zelvia cemas.


Benar saja, gadis itu diam-diam pergi dari kamar itu menuju pintu luar. Ia memakai jas hitam si pria untuk menutupi tubuhnya yang sedikit terbuka.


"Huhh, syukurlah! Semoga kamu baik-baik saja!" tutur Zelvia.


"Tapi siapa dia? suaranya mirip dengan...." batin Zelvia dan kembali ke kamarnya.


#Flashback off#


Tok..tok..tok... Zelvia mengetuk pintu ruangan pusat itu.


Seketika, ada yang membukakan pintu ruangan tersebut. Krekkk ..


"Nona, akhirnya anda kembali!" Riel menyambut Zelvia dengan ramah, ia tersenyum manis.


Zelvia tidak memperhatikan Riel, matanya tertuju pada seorang pria yang tangannya sedang dirantai besi.


Zelvia tersenyum sinis dan menghampiri pria tersebut, "Hai..!" sapanya.


"Ka-kamu..be-berani beraninya kamu mengkhianati ku!" pria itu berucap serak, meneteskan air mata perlahan.


"Maaf, aku tidak ada maksud mengkhianati mu! Tapi kejahatan mu tidak pantas dimaafkan!" jawab Zelvia.


"Kenapa? Ini semua tidak ada hubungannya denganmu! Toh, jika kamu mau aset kekayaanku, tempat tinggal, kau bisa memintanya! Mengapa kamu seperti ini?" pria itu menunduk, ia menggigit bibirnya dengan gigi serinya.


"Sudah aku katakan, aku tidak butuh semua kekayaanmu! Apa kau tahu, perbuatanmu telah meninggalkan bekas pada gadis-gadis itu! Kau telah membuat para gadis itu depresi!" ujar Zelvia sedikit berteriak.


"Tapi.." belum menyelesaikan omongannya, Zelvia menyela pembicaraannya.


"Tuan Hans, bisakah kau hitung berapa banyak orang yang telah kau rebut kebahagiaannya?" tanya Zelvia sinis.


Hans terdiam, ia mengingat semua tindak kejahatannya.


"Kau merebut usaha seseorang, demi membuat derajatmu lebih tinggi dari yang lain! Kau merebut kesucian dan kebahagiaan para wanita diluar sana! Kau juga...kau juga merebut anak tanpa orang tua bukan?" Zelvia tersenyum tipis.


"Aku..aku.." Hans sudah tidak bisa berkata lagi, ia tahu bahwa tindakannya memang salah dan tidak pantas dimaafkan.


"Dulu, sebelum aku bereinkarnasi nasibku juga sama seperti korban-korban itu kan? Sungguh malang nasib kalian, semoga kedepannya Hans tidak akan mengulangi hal yang merugikan lagi" batin Zelvia.


Zelvia mendekati Hans, "Jangan mengulanginya, lakukanlah perbuatan baik!" nasehat Zelvia.


Hans mengangguk, "Terima kasih nona! Aku akan berusaha mengubah sikapku!" ucapnya yang kemudian dibawa beberapa pengawal untuk pergi menjadi tahanan atas perilaku jahatnya.


Hans mengepal tangannya, dan kembali melirik Zelvia sekilas. "Zelvia ya.." gumamnya lirih.

__ADS_1


Sementara, di belakang Ztaqelvia Riel sudah menatap Zelvia dengan wajah yang penuh pertanyaan.


Zelvia menoleh ke arah Riel. "Bagaimana anda bisa melakukan ini?" akhirnya ucapan itu terlontar dari mulut Riel.


__ADS_2