Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat

Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat
Episode 72. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya ( flashback )


__ADS_3

Para pelayan menutup mulut mereka dengan ketakutan. Di pikiran mereka saat ini hanya satu, "Jika saja yang ada disana itu mereka, bagaimana nasibnya?"


"Nyo-Nyonya...Apa ada yang bisa saya bantu?" Ucap Venisya dengan beraninya.


"Huh, rupanya kau masih kuat ya?" Tanya Cyela.


Cyela membalikkan badannya ke belakang. Ia mengambil sebuah sulaman bergambar bunga sakura yang ia jahit dengan penuh hati-hati.


"Lihat aku!" Kata Cyela seraya mendongakkan kepala Venisya.


Venisya yang hanya bisa menurut mendongakkan kepala nya walau dengan mata terpejam.


"Ini ulah mu kan?" Tanya Cyela kesal.


Venisya membuka matanya, di depan matanya ia melihat hasil sulaman Cyela yang sudah sedikit berlubang di bagian pojok.


"JAWAB AKU!" teriak Cyela.


Venisya menatap mata Cyela dengan derasan air mata. Kenapa? Ya... dialah yang telah membuat kain sulaman itu sedikit berlubang dengan tidak sengaja saat ia diam-diam memegang dan melihat sulaman Cyela. Ia menangis tersedu-sedu atas kesalahannya itu.


"Dasar tidak berguna! Bodoh! Kau tak pantas menjadi pelayan ku!" Marah Cyela berteriak.


"Ya Tuhan...aku tahu, status ku hanya pelayan biasa! Tapi, hanya dengan jahitan berlubang sedikit yang bisa ditambal memakai kain putih apa perlu ia sampai marah seperti itu?" Batin Venisya.


Nuriel yang saat itu pulang setelah menghabiskan waktunya di taman segera berlari ke arah kamar Cyela sebab mendengar teriakan ibunya itu.

__ADS_1


BRAKKK... Nuriel mendobrak pintu kamar Cyela.


"Ada apa sebenarnya Bu?" Tanya Nuriel khawatir.


Cyela berlari ke arah putrinya, ia menangis sembari memeluk tubuh putrinya itu.


"Sayang, lihatlah pelayan rendahan ini! Dia telah menghancurkan rencana kita!" Jelas Cyela sambil menunjuk ke arah Venisya.


Venisya menunduk tak bisa berkata apa-apa. Karena ia tahu, di kediaman ini.. kediaman yang telah ditugaskan sang raja agar dirinya menjadi pelayan disana dan membuat kedua wanita itu bahagia, sebenarnya adalah neraka para pelayan yang tak diketahui siapapun selama ini!


Baik Cyela sebagai seorang ibu, maupun Nuriel sebagai seorang anak, mereka selalu memperlakukan pelayan dengan kejam dan tanpa rasa kemanusiaan.


"Hiks...bagaimana aku akan memberikan ini untuk raja? Sulaman ku hancur..." Sedih Cyela yang disamping itu ada rasa emosi yang menggebu-gebu.


Sorot mata pelayan tertuju pada Cyela, mereka kaget karena kalimat yang didengar mereka barusan terdapat kata "Raja" dan sudah pasti intinya sulaman itu untuk sang raja.


Cyela yang tadinya sedang melihat kain sulamannya dengan rasa sedih, sontak melihat Venisya yang memanggilnya.


"Pelayan murahan!" Pungkas Cyela.


"Nyonya, sa-saya bisa membetulkannya!" Ujar Venisya yakin.


Cyela menatap Venisya tajam, "Apa kau yakin?" tanya Cyela.


"Te-tentu saja yakin, Nyonya!" Jawab Venisya.

__ADS_1


Cyela dan Nuriel saling memandang. Mereka tersenyum sinis pada pelayan itu.


"Baiklah! Aku akan memberikan mu kesempatan kali ini!" Ujar Cyela.


Venisya tersenyum dan menghampiri Cyela serta Nuriel. Ia bersujud di hadapan kedua tuan nya itu dengan perasaan senang dan lega.


"Eitsss...tapi tidak semudah itu!" Sela Nuriel.


Deggg....Jantung Venisya kembali berdetak kencang. Ia tahu, tak semudah itu ia bisa bahagia di tangan kedua orang licik itu.


"Sayang, ambilkan ibu jarum!" pinta Cyela.


"Siap Bu.." Jawab Nuriel mengangguk.


Nuriel berlari menuju kaca rias dan memberikan jarum jahit yang ia temukan di meja kaca rias pada ibunya, Cyela.


Cyela tersenyum sinis dan berjongkok di depan Venisya.


"Serahkan tanganmu!"


"Tapi nyonya..."


"Kubilang serahkan tanganmu!" Teriak Cyela.


Venisya memberanikan diri memberikan tangannya pada Cyela. Tapi...

__ADS_1


Cressss.....


Dengan tatapan sinis nan licik, kedua anak dan ibu itu tertawa terbahak-bahak. Apa yang telah dilakukan Cyela tak lebih dari sifat psikopat. Nuriel tang kelihatannya baik di depan, juga sebenarnya tidak jauh seperti orang yang menyanjung dirinya sendiri dan menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain, begitulah anak dan ibu. Seperti kata pepatah...buah jatuh tak jauh dari pohonnya!


__ADS_2