The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 96 - Tak Ada Lagi Hari Tenang


__ADS_3

Clara, Kaisar dan Jean menatap sekumpulan orang yang mengantar kepulangan mereka. Beberapa hari di Agapanthus ternyata membuat Clara lebih kenal dengan James dan Valentina. Bahkan dengan figuran seperti Raģe sekalipun.


"Rara! Jangan lupa singgah ke Ranunculus juga. Tak peduli aku harus menunggu dalam waktu yang lama. Aku akan menunggumu."


Hellen menggenggam kedua tangan Clara. Padahal baru sebentar bertemu dan kini mereka harus kembali berpisah. Hellen tahu betul jika kakaknya tidak mau mengucapkan salam perpisahan atau apapun, jadi Hellen akan menggantikannya.


Clara tersenyum menanggapi Hellen. Dia tidak tahu kapan hari itu akan tiba. Walaupun rumor buruk tentangnya sudah mulai tidak disinggung di Ranunculus. Namun kalau dirinya berani mengambil resiko kembali. Maka Ranunculus akan membahas lagi rumor tersebut. Dan dia pasti ditangkap lagi.


Membunuh Raja Ranunculus sebelumnya. Menurut perkataan Frederick ketika di istana, pembunuhnya adalah Raja Willem. Namun karena tidak ada satupun ingatan Clara Scoleths berbekas dalam ingatannya, agak sulit bagi Clara membenarkannya.


Aku ingin kembali pada masa sebelum rumor menyebar. Sampai saat ini, aku tidak tahu siapa penyebar rumor. Apakah selama ini dia ada di sekitarku?


Clara menaiki kereta kuda dibantu Jean. Kemudian Kaisar yang naik. Jean sendiri bertindak sebagai kusir sekarang. Ketika kereta kuda berjalan, Hellen serta Valentina melambai dari belakang.


Raja Agapanthus, Duke Wayne dan Raģe segera kembali ke istana untuk mengurus berbagai hal. Valentina mengekor dibelakang mereka dengan James. Lalu Hellen bersama Rovers. Hingga tinggalah George dan Edmond.


Edmond tidak bisa mengatakan apapun lagi kepada sahabatnya itu. Setelah mendengar pernyataan Kaisar. Edmond tidak mengerti mengapa Kaisar tak bisa melakukannya.


Edmond tahu jika Kaisar bukanlah lelaki buaya seperti dirinya yang dulu. Ia hanya bisa berharap Kaisar tidak semakin menyia - nyiakan Clara. Walaupun Edmond sendiri belum tahu alasan Kaisar tak mampu.


"Seharusnya aku berhenti memikirkan mereka." Gumam Edmond.


George masih memandang kereta kuda yang terlihat semakin mengecil. Dadanya terasa sesak karena kembali ditinggalkan oleh Clara. Padahal mereka baru sebentarseb bertemu. Namun apalah dayanya, George masih tinggal di Vinca.


Di lain tempat, tepatnya di ruangan dimana pengadilan tinggi dilakukan untuk mengadili para penjahat. Ruangan itu hening. Tidak ada yang mau berbicara sedikitpun. Bahkan Raja Agapanthus menjadi resah sendiri melihat keponakannya dengan Duke Wayne.


Bukannya Raja tidak tahu, ini lebih kepada dirinya tidak mau ikut campur saja. Selama ini, Raja memperhatikan bagaimana Raģe bertingkah setelah kedatangan Clara tempo hari.


Saat Raģe memandang kearah jendela. Raja jadi penasaran dengan apa yang dilihat olehnya. Tapi disana hanya ada gerbang kosong nan sepi. Mungkin Raģe sedikit menyesal tidak berbuat apapun untuk kembalinya Clara ke Hortensia. Apa lagi Raģe tidak tahu kapan Clara akan pulang ke Ranunculus.


"Sepertinya saya akan kembali besok."


Raja kemudian menatap Duke Wayne yang perhatiannya masih tertuju pada kertas - kertas lecek penuh tulisan dan sesekali menuliskan namanya diatas kertas sebagai tanda persetujuan.


"Ah, begitu. Cepat sekali anda menyelesaikan masalah ini. Anda sangat cekatan." Pandangan Raja berubah nanar dan mengingat betapa rusuhnya meja makan pagi ini. "Dalam waktu sekejap mata kalian datang dan pergi. Tidak menghiraukan apa yang akan terjadi pada diri sendiri selanjutnya."


Raģe dan Duke Wayne seketika menatap Raja. Mendadak istana Agapanthus yang kedatangan banyak tamu, mulai pergi satu persatu. Berharap mereka tinggal lebih lama juga tidak mungkin.


Spontan Raģe membuang muka. Dia masih dipusingkan dengan Jean yang agak aneh menurut penglihatan dan pendengarannya. Padahal untuk indera pengecapnya, Raģe rasa tidak ada kejanggalan.


Dan saat sarapan pagi ini, itulah kali pertama Raģe bertemu dengan Kaisar Hortensia secara langsung.


Raģe menautkan alisnya.


Kaisar itu pun terlihat aneh bagiku. Apakah orang - orang di Hortensia memang begitu?


BOM!

__ADS_1


Terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga. Membuat Raja Agapanthus dan Raģe spontan berdiri. Sedangkan Duke Wayne masih duduk dengan tenang, namun tatapannya menjadi liar menatap kesana kemari.


"Bau ini..." Ujar Raģe sambil menghirup dalam - dalam udara disekitarnya.


"Aroma kebakaran." Timpal Duke Wayne.


"Berita gawat Yang Mulia!"


Seseorang yang sekiranya adalah prajurit memasuki ruangan. Dia nampak tergesa - gesa dan napasnya memburu. Duke Wayne merasa keadaan ini pernah dia temui. Ketika rumor buruk menerpa Clara Scoleths yang entah siapa yang memulainya.


"Ada apa?"


"Hu-hutan bagian selatan terbakar. Dan ada sesuatu yang menjadi penyebab ledakan barusan. Membuat api meluas semakin cepat. Kebakaran itu nyaris mendekati pemukiman warga!"


Raja Agapanthus terkulai lemah mendengarnya. Dia tidak boleh membiarkan rakyatnya terluka akibat konflik dua wilayah lainnya. Koalisi diantara Agapanthus dan Ranunculus membuat wilayah Timur menjadi terancam.


Raja menatap Duke Wayne yang masih tenang duduk di sofa. Walaupun dia memegang kertas dokumen, pandangan Duke Wayne tertuju pada prajurit yang membawakan berita.


"Huft... waktu kembali harus dimajukan. Saya akan kembali sekarang juga, Yang Mulia Raja Agapanthus."


...❀...


"Suara apa itu?!"


Clara yang berada di kereta kuda, dimana dirinya baru keluar dari perbatasan utama. Mendadak mendengar suara ledakan besar dari arah belakang mereka. Membuat Jean menghentikan laju kereta kudanya. Disaat seperti ini, Kaisar masih bisa duduk tenang.


Tidak mungkin!


Setelah melihatnya dengan seksama. Clara yang merasa tidak percaya, mengerjapkan matanya berulang kali. Dengan mulut menganga, Clara menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Padahal mereka baru pergi darisana belum lama.


"Wilayah Agapanthus terbakar..."


Tangan Clara gemetar dan keringat dingin sudah menjalar di seluruh tubuhnya. Mengingat George dan Edmond yang belum ke Vinca. Atau Hellen dan Duke Wayne yang menunda kepulangannya hingga esok hari.


"Merekaー"


"Sepertinya terjadi kebakaran di hutan bagian selatan wilayah Agapanthus." Jean muncul di belakang Clara lalu memberikan pendapatnya. "Itu adalah hutan yang paling dekat dengan pemukiman warga. Kalau anginnya sangat kencang, bisa - bisa apinya..."


Jean ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Melihat Clara yang cukup ketakutan melihat asap hitam yang timbul mengikuti arah angin. Dirinya juga sempat melihat percikan api yang terbang karena ulah angin. Jika perkataan Jean benar, maka apinya bisa mencapai kerajaan juga dalam waktu yang tidak lama.


Tubuh Clara terhuyung, untung ada Jean dibelakangnya yang langsung menahan tubuh Clara supaya tidak terjatuh ke tanah. Dia merasa prihatin dengan kondisi nonanya yang mendadak tumbang.


"Nona. Jangan khawatir. Mereka semua akan baik - baik saja."


"Bagaimana jika mereka malah meninggalkanku seperti yang Avrim lakukan?" Lirih Clara, suaranya yang parau terdengar gemetaran.


"Nona..."

__ADS_1


Didalam kereta kuda sendiri, Kaisar bersidekap sambil memandang kearah luar. Dimana asap sudah memenuhi langit yang menjadi naungan Agapanthus. Kaisar menghela napasnya dengan lelah, melipat wajahnya hingga timbul kerutan di keningnya.


"Freesia."


...❀...


Dari dalam hutan perbatasan, seseorang dengan jubah putih panjangnya, terlihat sedang mengasah pisau miliknya. Dia bersenandung kecil, seolah tak memedulikan ledakan besar barusan.


Dia malah tertawa cekikikan melihat betapa malangnya nasib Agapanthus karena telah bergabung dalam kubu Ranunculus. Sebab Freesia bukanlah wilayah yang mudah mereka taklukan. Pertahanan mereka semakin kuat setelah melakukan perjanjian kecil dengan Vinca.


"Kau memang luar biasa, Willem Northern. Mungkin dalam waktu dekat kita akan bertemu kembali. Reuni kecil - kecilan akan kubuat untukmu dan untuk orang itu. Kuharap kita takkan memperebutkan hal yang aneh lagi."


Orang itu menatap gulungan kertas yang rencananya akan dia masukkan kedalam kobaran api saat angin sudah membawanya sampai kemari.


Kertas yang tergulung itu ia temukan dari merpati yang membawanya terbang dari Hortensia menuju Ranunculus. Ia harap ada informasi penting, namun sayangnya kertas itu hanyalah surat biasa. Jadi dia bermaksud membakarnya karena tidak berguna.


"Aku rasa memang salah membuat masalah dengannya. Willem itu mengerikan sekali. Tapi..."


Orang itu menatap kearah Barat. Jauh disana terletak sebuah negara yang sangat makmur. Jarang terjadi konflik internal dalam negerinya. Membuat wilayah lain selalu iri dengan kesejahteraan mereka.


Seringai licik timbul di wajah orang itu, "Lebih mengerikan lagi harus berurusan dengan wilayah Barat itu. Hortensia memang paling mengerikan, apalagi Kaisar yang memimpinnya."


"Kenapa wilayah itu sangat sejahtera walaupun sihir hitam sudah merajalela? Aku tidak akan lupa jika wilayah Barat menyimpan begitu besar sihir hitam dari wilayah lainnya. Hehe... jangan - jangan mereka menimbunnya?"


Orang itu kembali tertawa kecil, terus bermonolog. "Kira - kira kenapa, ya?"


...❀...


"Sebentar lagi jadwalku bertemu dengannya, yah? Dia itu cerewet dan menyebalkan bagiku. Mengapa anak itu masih mempertahankannya di sisinya?"


Grein tiduran diatas rumput, menikmati terpaan angin yang dibuat - buat. Memutar setangkai mawar putih yang menjadi sumber dilemanya saat ini. Dia ingin sekali pergi, namun Grein belum mengembalikan mawar putih ini kepada pemilik aslinya.


Si tukang obral janji yang akhirnya mati.


Grein sendiri setelah harus menerima kenyataan adiknya mati dieksekusi. Malah harus merelakan kekasih tercintanya menyusul adiknya dengan cara yang menyedihkan. Bisa dibilang Grein sekarang sudah diambang batas kewarasannya, kalau Clara ada dia akan mengatakan jika orang ini sudah sinting jiwa dan raganya.


"Huft..."


Grein mendudukkan dirinya diatas hamparan rumput hasil imajinasinya dengan Kaisar pendiam dari Hortensia. Grein hanya menatap kosong pada hamparan rumput.


"Akankah 'dia' juga kembali?"


TBC


Jangan lupa letakkan like dan komen.


So, see you in the next chapter~

__ADS_1


__ADS_2