
"Kabut tebal ini memperpendek jarak penglihatanku."
Hendrick mendengus kesal sembari menebas udara kosong, sebenarnya yang ingin dia tebas adalah kabutnya supaya tidak menghalangi. Sayangnya perlu beberapa waktu hingga Hendrick sadar apa yang dilakukannya adalah sia - sia.
Belum lagi kemunculan kembali Raja Lraight. Rovers seakan kehilangan jiwanya, dia sendiri tak sanggup untuk memberitakan ini kepada ayahnya. Rovers masih tahu diri, sekarang bukan saatnya reuni.
Sementara Rovers memerhatikan Lraight. Pria yang sudah menjadi kakek itu memandang ribuan pasukan beserta senjatanya yang begitu tenang meski kabut semakin menebal.
"Pangeran! Duke Wayne!"
Hendrick dan Rovers sontak berbalik menatap arah suara. Dialah Count Cheltics yang datang bersama Grand Duke Harold. Kedua bangsawan itu tampak terkejut melihat sosok yang ada di hadapan mereka.
"Jangan sekarang kagetnya, paman. Situasinya sama sekali tidak mendukung." Hendrick mengingatkan.
Count Cheltics tersentak, dia menyadarkan dirinya dari lamunan. Dia mengusap kedua matanya berkali - kali dan sosok tersebut tetaplah sama.
"Bagaimana bisa...? Dia hidup kembali?" Grand Duke Harold menutup mulutnya tak percaya.
"Sejak awal dia tidak mati. Sepertinya ayahku salah lihat dan mengira Raja Lraight telah dibunuh Raja Willem. Padahal Raja Lraight berhasil kabur dari Freesia. Aku benar?"
Lraight mengangguk membenarkan. Meski ada beberapa hal yang kurang, namun Lraigt tak punya niatan melengkapinya. Karena secara garis besar dia telah menceritakannya pada ketiga anak muda itu.
"Tuan, mereka memulai pergerakan."
Rovers disadarkan kembali setelah Vester berbisik padanya. Matanya mengernyit, masih merasa semua yang barusan terjadi padanya adalah mustahil.
"Malam yang takkan berakhir, kini diselimuti kabut tebal. Dia mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna." Lraight berkata lagi.
Rovers kembali menatap pasukan diluar istana yang tak bergerak sedikitpun seolah mereka hanyalah patung bernyawa. Rovers yakin, meski mereka kalah jumlah, mereka takkan dikalahkan semudah itu. Sebab semua prajurit Ranunculus sudah hapal di luar kepala denah istana hingga ke sudutnya. Kabut tebal ini tak bisa menghalangi mereka.
"Duke Wayne?"
Hendrick mendelik kesal. Lagi - lagi dia yang harus terjun, mungkin karena dia keturunan Wayne makanya punya tanggung jawab sama dengan para leluhurnya.
Entah kenapa aku malah kesal pada para bangka tua yang sudah mati itu.
"...!"
Hendrick mempercepat langkahnya ketika para prajurit musuh mulai bergerak menyudutkan istana. Krisan putih yang digenggamnya sudah terbang entah kemana digantikan oleh pedangnya.
"Sial, dengan jarak pandang yang memendek. Ini benar - benar sial." Umpat Hendrick.
Mata Rovers terbelalak ketika mendapati Hendrick yang malah berniat bunuh diri. Pria itu sudah terjun ke lokasi dimana pasukan musuh berkumpul. Parahnya lagi, Hendrick hanya membawa sebilah pedang dan tiga pisau kesana.
"Bukankah dia agak meremehkan musuh?" Geram Rovers.
"Kau salah."
Rovers melirik kakeknya yang tetap awet muda itu. Pria itu dengan serius memandang ke kejauhan dimana Hendrick sibuk menebas leher - leher musuhnya.
"Karena jarak pandangnya yang mengurang, dia harus melakukan pertarungan jarak dekat supaya lebih efektif. Jika dia menggunakan panahan, akan sulit menemukan target yang bergerak di tengah kabut."
Lraight menatap Rovers penuh ambisi.
"Hey cucu, kau harus lebih cerdik dan kritis darinya jika ingin memimpin negara ini."
__ADS_1
...****...
"Lama tak berjumpa, Nona muda."
Clara memicingkan matanya demi bisa melihat sosok yang berdiri cukup jauh darinya. Kabut sialan inilah yang telah membuatnya nyaris tak bisa melihat apapun dengan jarak jauh.
Apa dia Crater yang dibicarakan Claire? Tidak, bukan! Diaー
Napas Clara mendadak tercekat saat dirinya melangkahkan kakinya semakin dekat dengan sosok itu. Kini dia bisa melihat jelas sosok yang memanggilnya.
"Duke Nielsen?! Bagaimana bisa anda...!"
Clara menggeram kesal. Rasanya seperti sebuah pengkhianatan meskipun Clara belum tahu alasan mengapa Duke Nielsen ada disini. Bukankah hal mustahil ketika salah satu petinggi dari Hortensia terlibat peperangan di Ranunculus. Padahal Kaisar mereka sendiri tidak turun tangan.
"Kenapa anda ada disini? Yang Mulia takkan mengirimkan seseorang kemari sebelum benar - benar terlibat ke dalamnya."
Dia lebih mengandalkan dirinya sendiri. Sebab berharap pada orang lain hanya akan menimbulkan kekecewaan diakhir menurutnya.
Tidak menjawab semua pertanyaan Clara, Duke Nielsen menarik pedangnya dan langsung berlari untuk menyerang Clara. Clara berdecak kesal, Duke Nielsen sama sekali mengabaikan ucapannya.
TRANG
Suara pedang yang beradu memenuhi udara. Clara unggul disini karena lawannya hanyalah Duke Nielsen yang usianya dua kali lipat darinya. Dari segi stamina saja, Duke Nielsen sudah kalah telak.
Namun yang membuat Clara sulit menghadapinya ialah Clara harus menahan diri untuk tidak membunuhnya. Duke Nielsen adalah bangsawan Hortensia, apalagi dia punya anak gadis yang masih dalam pengawasannya. Dia masih membutuhkan sosok ayah.
Berbeda dengan Clara yang bahkan tidak tahu siapa ayahnya di dunia ini. Di dunia sebelumnya, dia merasa tidak sudi dilahirkan dari orang tua semacam mereka. Hanya karena simpatik saja, Clara masih mengurus mereka sampai jiwanya memasuki tubuh Clara Scoleths.
Karena jarak wajah mereka yang dekat, Clara melihat sesuatu yang luar biasa. Kedua mata Duke Nielsen tampak hitam pekat, sama seperti ketika ia menggunakan sihir hitam untuk menciptakan matanya walau hanya sesaat.
Sejenak Clara mempertanyakan darimana Duke Nielsen bisa mendapatkan semua sihir hitam itu. Namun dalam sedetik dia bisa menjawabnya sendiri. Banyak kebun mawar biru disana, maknanya sihir hitam yang terkandung di tanah Hortensia lebih banyak daripada perkiraannya.
Claire? Apakah kau masih bisa bertahan? Hanya sedikit lagi saja...
[Master bercanda? Tapi, baiklah.]
Terima kasih banyak!
[Lagipula Master sudah memberiku nama yang bagus dan indah. Tidak sepertiku yang kelam dan gelap, Claire artinya cerah dan jelas, kan? Sejak awal Master payah dalam memberi nama. Pada dasarnya nama kita itu sama...]
"Huh?"
Clara termenung, nyaris saja dia lupa bahwa sekarang dirinya tengah dalam pertarungan. Meski itu hanya Duke Nielsen, Clara tetap tak bisa meremehkannya.
Dia tidak mengerti mengapa Claire menyebut bahwa Clara dan Claire sama. Mungkin mereka punya makna sama, makanya Claire berkata begitu. Akan tetapi, Clara telah mengatakannya berkali - kali.
Kau adalah kau, aku adalah aku. Hanya arti nama kita saja yang sama.
...****...
BRUK!
Clara menghela napas dengan lega. Dia bisa menyingkirkan sihir hitam dalam tubuh Duke Nielsen tanpa membunuhnya, seperti yang ia lakukan pada Raja Willem.
Clara menghindari membunuhnya. Sebab Duke Nielsen tidak sepertinya, dia masih mempunyai Cattleya sebagai keluarganya. Alasan mengapa dia tetap bertahan hingga saat ini.
__ADS_1
"Cattleya beruntung sekali, mempunyai ayah sepertimu. Ayah yang selalu ada untuknya. Memberikan pujian, nasihat serta sanksi atas setiap tindakan anaknya."
Clara memandang teduh Duke Nielsen. Dia harap dia punya ayah sepertinya. Tapi yah, Tuhan itu adil terhadap setiap makhluknya. Semua yang Clara miliki sekarang ini, dia bersyukur atas segalanya. Meski dia masih suka merasa kesal terhadap kesialan yang terus dan terus mengusik hidupnya.
"Tenang memang tidak ada dalam kamus hidupku. Nah, kalau badai sih iya."
Clara meregangkan tubuhnya sembari memandangi keadaan sekitar. Hanya pohon - pohon tinggi yang bisa dia lihat. Perlu waktu yang lama baginya untuk kembali ke tempat dimana dirinya meninggalkan James dan Valentina. Itupun jika mereka memutuskan untuk tetap menunggunya. Karena James bukanlah orang bodoh yang akan tetap menunggu kedatangannya walau itu membunuhnya.
Karena merasa terlalu senyap, Clara terus berceloteh terhadap dirinya sendiri. Dia juga sedang memikirkan bagaimana caranya agar bisa mengirim Duke Nielsen kembali ke wilayah Hortensia. Jika dengan sihir hitam, Clara tak tahu cara menggunakan sihir hitam untuk teleportasi.
"Tapi jika Duke Nielsen saja bisa kemari dalam waktu singkat. Bukankah ada cara terselubung?"
Tanpa Clara sadari, kabut putih yang berada di setiap sudut itu lama - kelamaan berubah warnanya menjadi hitam. Clara terkejut bukan main, ini semakin mempersulitnya jika ada musuh. Apalagi kalau musuh itu di bawah kendali sihir hitam.
Claire, maksudmu 'kembali pada pemiliknya' itu barusan... apakah sampai hari ini dia masih hidup?
[Entahlah Master. Mungkin dia tetap hidup. Mungkin juga dia bereinkarnasi. Jika bukan bereinkarnasi, dia mentransfer ingatannya pada orang yang menguntungkannya.]
BURST!
"Ugh!"
Clara menebas sihir hitam yang berbentuk seperti ular. Karena ular itu yang mendekati tubuh tergeletak Duke Nielsen. Padahal dia belum mengetahui caranya melakukan teleport dengan sihir hitam. Ditambah jarak pandangnya yang makin menurun sebab kabut putihnya berubah hitam.
"Aku tidak boleh berlama - lama disini."
DEG!
Sial! Di saat seperti ini, kenapa harus sekarang?
Dengan erat Clara mencengkeram dadanya yang mendadak sesak. Itu berarti tubuhnya sedang dalam upaya menyerap sihir hitam tanpa disalurkan lagi menuju Claire, tubuhnya sendirilah yang akan menyimpan semua sihir hitam tersebut.
Tubuh Clara jatuh dan tergeletak tidak jauh dari Duke Nielsen. Gadis itu terus mengiris kesakitan sambil menghirup oksigen dalam - dalam supaya tak merasa tercekik lagi. Sayang sekali Clara adalah salah satu makhluk yang dijauhi keberuntungan, usahanya menghirup oksigen malah gagal. Kabut hitam itulah yang malah menggantikan oksigen.
"Ini... menyakitkan!"
Clara mulai berkeringat dingin. Dalam sekejap terdapat tangan yang terulur memeluknya dari belakang dan menyentuh kedua tangannya yang masih mencengkeram dadanya. Terasa hangat dan begitu menenangkan.
"Tenang saja..."
"Ugh...!"
"Selamanya, saya akan terus berada di samping Nona."
Mendengar suara lembut itu, rasa sesak dan sakit yang hebat yang diderita Clara berangsur - angsur berkurang. Kedua matanya nampak berkunang - kunang.
Luka yang ia dapat dari pertarungan dengan Raja Willem semakin parah karena tidak terobati. Bahkan mata kirinya yang terkoyak juga tidak bisa ia rasakan lagi. Meski darahnya sudah mengering, Clara yakin seratus persen lukanya akan terinfeksi karena tidak ditutup.
Sebelum mata kanannya terpejam sempurna, dia menggumamkan nama seseorang.
"Terima kasih... Avrim..."
TBC
Like + Komen, kalau ada typo juga komen aja biar diperbaiki. So, see you in the next chapter~
__ADS_1