The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 57 - Mekarnya Anggrek & Layunya Mawar Biru


__ADS_3

Seorang gadis bersurai biru muda dengan netra merah muda memandang bayangannya di cermin besar. Dia sudah mencoba banyak gaun yang bagus digunakan ketika di swalayan.


Benar, Cattleya Nielsen akan pergi ke swalayan bersama ayahnya dan kaisar bukan untuk sekedar memantau keadaan disana saja. Ayahnya memang ada tugas di wilayah tersebut, entah apa Cattleya tak mengetahuinya.


Dan entah karena angin apa, Kaisar tiba - tiba memutuskan ikut. Raut wajahnya saat meminta izin ikut sangatlah menyeramkan. Bahkan Duke Nielsen dan Cattleya merasakan hawa tak enak dari kaisar. Benar - benar membuat jantung berolahraga saja.


"Apakah ini akan baik - baik saja? Kuharap iya."


Pilihan Cattleya jatuh kepada sebuah gaun sederhana yang lebih condong ke pakaian para penduduk sipil. Dia memilihnya supaya tak sulit untuk berjalan di keramaian.


Cattleya keluar dari kamarnya, disana ayahnya sudah menunggu sejak tadi. Mereka pun pergi ke swalayan menggunakan kereta kuda. Cattleya celingak - celinguk, membuat sang ayah paham apa yang dia cari.


"Nampaknya Yang Mulia akan berada di pintu utama. Tenang saja, dia memang akan kesana bersama kita." Ujar sang ayah.


Ketahuan akan niatnya, Cattleya justru menjadi salah tingkah. Itu sangat memalukan ketika pikiranmu bisa terbaca bahkan oleh ayahmu sendiri.


"Be-begitu..."


Setelahnya Cattleya malah bungkam, mungkin agar tidak terlihat lagi bagaimana antusiasme dirinya yang ingin bersama kaisar. Duke Nielsen menggeleng pelan memaklumi anaknya. Karena itu adalah hal normal di usia Cattleta untuk kasmaran.


Yang beliau khawatirkan adalah harapan Cattleya yang akan dikhianati. Karena meskipun kaisar - kaisar terdahulu memiliki pendamping bangsawan. Tidak ada kemugkinan kalau Meiger akan mengambil permaisuri dari yang bukan bangsawan. Mengingat kalau tidak ada peraturan tertulis mengenai asal muasal istri kaisar harus dari kalangan bangsawan.


Ditambah saat kunjungan Kaisar tempo hari ke Kediaman Nielsen. Dia tidak sendirian. Melainkan ada sosok seorang gadis dengan jubah besar yang menutupi dirinya.


Tatapan Duke Nielsen masih terpaku pada anaknya. Cattleya memiliki paras yang cantik, akan tetapi secantik apapun seorang wanita tidak ada jaminan kebahagiaan karenanya.


"Cattleya..?"


"Iya Ayah?"


"Ayah ingin kau bahagia, karena itu carilah kebahagiaanmu itu dengan senyuman, bukan dengan air mata." Dengan bijak ayahnya memberi nasihat.


Sampai saat ini Cattleya belum pernah mendengar ayahnya membicarakan ini. Baru kali ini Duke Nielsen membicarakan tentang cinta dan pasangan, ini agak tidak biasa. Mungkin hal ini dipicu karena ketertarikan Cattleya pada lawan jenisnya baru - baru ini.


Cattleya termangu sejenak, dia tahu persaingan untuk mendapatkan hati kaisar memang sulit. Tapi sebisa mungkin dirinya berusaha untuk itu. Cattleya tidak mau menyesal karena tidak berbuat apa - apa.


"Ayah tenang saja."


Cattleya menggenggam tangan Duke Nielsen dan mengusapnya dengan lembut. Memberikan senyuman terbaik miliknya pada sang ayah.


"Aku akan bahagia dengan caraku. Ayah juga jangan takut kalau aku gagal. Karena aku masih mempunyai Ayah, Ayah lebih spesial dari siapapun."


Duke Nielsen nampak tak merespon, dan ketika kereta kuda berhenti di depan swalayan. Itu artinya mereka sudah sampai, Duke Nielsen bisa melihat penampakan kaisar disana. Sejujurnya ini agak lancang karena membuat seorang kaisar menunggu.


"Ayah, kita telat, apakah ini akan baik - baik saja?"

__ADS_1


"Jangan khawatir."


""Salam sejahtera untuk Kaisar Hortensia.""


Keduanya memberi salam penghormatan.


Kaisar hanya berdehem pelan. Duke Nielsen merasa agak aneh sebab tidak ada orang berjubah ataupun pengawal pribadi Yang Mulia, Jean yang berkeliaran di sekitar kaisar. Cattleya pun merasakan hal yang sama dengan ayahnya.


Apalagi kalau dilihat lebih jeli, Meiger hari ini memiliki suasana hati yang cukup buruk. Duke Nielsen dan Cattleya semakin canggung dalam menghadapi kaisar muda ini.


Mereka bertiga memasuki swalayan, banyak orang yang melewati mereka kemudian memberi salam penghormatan. Cattleya sudah tahu ini akan terjadi, dia melihat kearah punggung kedua lelaki di depannya.


Ayahnya cenderung ramah, dia menyapa orang - orang di pasar ini. Sedangkan Meiger tak urung seperti saat dirinya berada di dalam istana kekaisaran. Inilah yang membuat Cattleya jadi heran, kemana perginya sikap ramah Meiger?


Yah, memang kalau itu adalah Clara dan antek - anteknya maka mereka takkan keheranan. Namun berbeda lagi dengan Cattleya, baru kali ini dirinya melihat kaisar yang lebih pendiam dibandingkan biasanya. Bahkan pria itu tampak tidak mau meladeni massa. Pikirannya seolah melalang buana, sehingga Cattleya berfikir kalau kaisar sedang melamun.


"Yang Mulia, tampaknya itu adalah pembawa pesannya." Duke Nielsen menyeletuk pelan.


Meiger juga memandang kearah yang sama dengan Duke Nielsen. "Kalau begitu ambillah pesan darinya."


"Baik, Yang Mulia."


Duke Nielsen pergi menghampiri sang pembawa pesan yang sembunyi - sembunyi. Selagi menunggu Duke Nielsen kembali, tinggallah Meiger dan Cattleya berdua. Ini membuat Cattleya semakin canggung, tak tahu apa yang harus dibicarakan.


"Um... hamba dengar kalau Yang Mulia tengah mencari seorang gadis untuk dijadikan permaisuri, apakah itu benar?"


Kaisar yang mendengar itu menjawab singkat. "Itu tidak salah."


"Apakah Yang Mulia sudah menemukan orang yang cocok?"


"Mungkin iya, mungkin juga tidak."


Percakapan mereka menjadi buntu, Cattleya tak bisa melanjutkannya lagi. Karena setelah kalimat kaisar barusan, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, kaisar sudah menemukan seseorang yang ia cintai akan tetapi ada kata mustahil untuk mendapatkannya.


Atau yang kedua, kaisar belum menemukannya secara pasti alias masih ragu akan pilihannya jatuh kepada siapa.


Cattleya berharap jika kemungkinan kedua itu yang benar.


Hm?


Pandangan Cattleya terpaku pada dua sosok yang berjalan menjauhi dirinya dan kaisar. Itu adalah seorang gadis bersurai putih dan pelayan yang sudah tua. Cattleya yakin kalau tidak ada gadis bangsawan di Hortensia yang memiliki fisik semacam itu.


Namun Cattleya tahu jika dia pernah bertemu dengan gadis itu. Rupa yang mencolok darinya sulit untuk dilupakan.


Aku yakin pada ingatanku, tapi dimana aku pernah bertemu dengannya yah?

__ADS_1


"Dia ada disini rupanya."


Cattleya sedikit melirik pada Meiger ketika telinganya menangkap suara gumaman tersebut. Cattleya juga sadar kalau tatapan kaisar tertuju pada gadis bersurai putih barusan.


He... apakah Yang Mulia mengenali gadis itu?


...❀...


BRUK


Clara membuka pintu istana kekaisaran dengan kasar. Avrim enggan menegur, para prajurit juga tidak mau berurusan dengannya.


Mengingat kalau kaisar tampak panik sekali ketika gadis ini nyaris punah tempo hari. Itu saja sudah membuktikan betapa berharganya gadis ini bagi kaisar pendiam itu. Bahkan saat itu tabib juga takut salah dalam memeriksa Clara.


Dialah gadis perusuh yang tidak boleh punah.


Tapi entah kenapa kaisar selalu mendepak gadis ini untuk menemui masalah atau paling buruk sampai menemui ajalnya. Memang manusia yang satu itu terlanjur sadis. Avrim sendiri merasa kalau Clara adalah seorang masokis karena betah tinggal di sebelah kaisar.


Avrim berimajinasi mengenai kedua orang itu apabila mereka berjodoh. Ia berharap jika takkan ada adegan berdarah - darah, mengingat Clara adalah seorang senjata yang tak pernah tumpul dan Meiger sendiri lebih mengerikan dari sang senjata itu sendiri.


Clara berjalan dengan cepat diikuti Avrim di belakangnya. Avrim sadar jika arah yang mereka tuju bukanlah kamar Clara.


"Nona, kita mau kemana?"


"Jean." Clara menjawab singkat.


"Heh?"


BRUK


Lagi, Clara mendobrak pintu di depannya. Jean yang ada di dalam pun mendadak panik, mana lagi dia masih mengeringkan rambutnya setelah mandi.


"E-eh? Bibi? Nona? Kalian pulangnya cepat sekali."


Clara mengacuhkan pertanyaan Jean, menghampiri pengawal pribadi Meiger itu. Kemudian Clara menarik kerah baju Jean dengan kuat.


"Jean..."


"I..iya Nona?"


"Ayo berduel denganku!"


"Huh?!"


TBC

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ^-^


So, see you in the next chapter~


__ADS_2