
"Pena, pena. Dimana benda itu berada...?"
Clara mengelilingi sudut - sudut kamarnya demi menemukan pena. Dia sudah mendapatkan selembar kertas (ia mencurinya dari Nero). Dan sekarang tinggal pena saja.
"Jean juga tidak ada!"
Ia menggerutu pelan, perasaannya semakin campur aduk ketika Clara mengingat kembali apa yang dilakukan Meiger padanya pagi ini.
"Seharusnya kan dia datang siang ini! Kenapa tadi pagi udah nongol aja sih...! Heran banget."
Karena tak juga menemukan pena, Clara harus pasrah dan melakukan 'pencurian' lagi agar dia bisa menulis surat untuk Hellen dan Hendrick.
Clara keluar dari kamarnya tanpa penutup apapun. Membiarkan matanya menyelidiki penuh dimana saja tempat yang biasanya disinggahi pena.
"Mungkin saja Nero mempunyai pena juga. Kemungkinannya sangat besar, hm.. hm.." Clara mengangguk pelan sebelum ia memutuskan kembali lagi ke dapur.
TOK TOK
"Nero! Ini aku, Clara Scoleths." Clara memanggil Nero dengan setengah berteriak.
Lalu pintu dapur terbuka, memperlihatkan beberapa koki yang sedang memasak termasuk Nero. Sebab itulah yang membuka pintunya adalah koki lain.
"Nona Scoleths, ada yang bisa kami bantu?"
"Ya! Aku mau meminjam Nero sebentar, boleh tidak?"
"Begitu. Baiklah, saya akan memanggil Nero dulu untuk Nona Scoleths."
"Mohon bantuannya."
Koki itu memasuki dapur dan menghampiri Nero yang sedang memotong sayuran. Mereka sempat terlibat percakapan sebentar, lalu setelah itu Clara bisa melihat bahwa Nero berjalan menuju dirinya.
"Apakah ada sesuatu, Nona Scoleths?"
"Ya, sebenarnya aku membutuhkan pena. Aku tidak tahu dimana Jean sekarang dan aku juga tidak begitu berani mendekati ruangan Yang Mulia hanya demi sebuah pena. Jadi... begitulah."
"Ah, begitu. Saya punya beberapa. Akan tetapi Nona, saya pikir di kamar Nona seharusnya setidaknya ada satu pena." Ujar Nero sambil mengambil pena dari sakunya.
"Benarkah?"
Nero mengangguk pelan.
Saat Nero menyerahkan pena tersebut, Clara menerimanya dengan senang hati. "Tetapi aku tidak melihatnya di kamarku sama sekali. Yang ada hanyalah kuas lukis, cat warna serta kanvas saja."
"Begitu. Ini agak aneh, apa Nona Scoleths memiliki kebiasaan untuk menulis karya sastra?"
"Maaf? Apa yang coba kau bicarakan?" Clara memiringkan kepalanya merasa bingung, sebab Nero mengatakan hal tersebut.
"Hm? Bukankah Nona Scoleths berencana untuk membuat karya sastra. Karena itulah Nona juga membutuhkan kertas yang hasil curian dari milik saya."
Gah...! Dia menyadarinya! Padahal hanya selembar kertas saja...
"Tidak kok, Nero. Aku memerlukan pena dan kertas untuk menulis surat." Ujar Clara, meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
"Eh, jadi untuk surat yah." Nero mengangguk - anggukkan kepalanya. "Nona Scoleths menulis surat untuk siapa?"
Dengan senyuman lebar Clara menjawabnya.
"Untuk Tuan Hendrick!"
.
.
.
Sepi sekali.
Begitulah keadaan setelah Clara berkata dengan lantang kalau ia menulis surat untuk Hendrick. Karenanya Clara memandang heran pada Nero, yang anehnya saat ini Nero jadi canggung dan kaku. Namun dia tidak melihat kearah Clara, melainkan tepat di belakang gadis itu.
Merasa penasaran dengan apa yang dilihat Nero, Clara membalikkan tubuhnya kearah belakang. Dan dalam beberapa detik setelahnya, Clara jadi canggung juga sama seperti Nero. Semua kamus kata - kata mendadak lenyap dari pikirannya.
Ia memandang kaku pria di depannya. Clara tidak tahu kenapa tapi yang pasti aura hitam yang dikeluarkan orang itu adalah bentuk dari kemarahan serta kejengkelannya.
Are? Salahku apa disini...?
Terlalu lama Clara memandang wajah Meiger, tatapannya menyorot pada bibir pria itu.
DEG
Mendadak Clara kembali menghadap Nero, menundukkan kepalanya dalam serta merapalkan banyak sekali mantra. Keringat dingin mengalir deras di wajahnya, telinga Clara bahkan sudah berwarna merah padam.
"Kelihatanya hubunganmu dengannya baik sekali hingga kau mengiriminya surat secara pribadi."
Suara Meiger akhirnya terdengar, nada dingin yang kelam sangat mengintimidasi Nero dan Clara. Bahkan koki lain di dalam dapur juga bisa merasakan amarah terpendam dari pemimpin mereka saat ini.
__ADS_1
Walaupun sudah mengumpulkan tekadnya, Clara masih tidak punya nyali yang cukup untuk berhadapan langsung dengan Meiger. Tetapi pada akhirnya Clara balik menatap kaisar lagi.
Wajahnya yang penuh keringat sudah mengisyaratkan dengan jelas kalau Clara sangat ketakutan. Semenjak dia datang ke Hortensia, dia selalu resah kalau - kalau salah mengucap. Sebab nama 'Scoleths' ini saja begitu dibenci oleh orang nomor satu di Hortensia ini.
Seharusnya aku membaca buku tentang Scoleths itu dulu daripada menulis surat... Lagipula, apa yang membuatnya begitu marah?
Sudah terlambat baginya untuk menyesal, Clara hanya bisa meratapi nasib sialnya. Ia sudah mengatur raut wajahnya sebaik mungkin, karena jika dia terlihat terpesona pada Meiger pasti ujung - ujungnya ia akan dikembalikan ke Freesia.
Sambil memainkan pena di jarinya Clara berkata, "Bukan begitu Yang Mulia, ini sudah lebih beberapa hari setelah Hamba datang kesini. Hamba hanya mau memberi informasi kepadanya bahwa Hamba baik - baik saja disini..."
"Baiklah, ikuti aku."
Dalam sekali kalimatnya, Clara yang merasa diperintah untuk kematiannya sendiri mengikuti Meiger dengan pasrah. Dia tidak bisa membawa Nero jadi hanya ada sebatang pena yang menemaninya saja.
Aku masih sedikit takut padanya, juga... mengapa dia bisa begitu santai setelah kejadian 'itu'?!
Meiger berjalan memimpin, dan setelah beberapa lama Clara menyadari kalau tujuan mereka saat ini adalah ruang kerja Meiger. Sebuah ruangan yang khusus dibuat untuk Meiger dalam menyelesaikan semua tanggung jawabnya sebagai kaisar.
Clara memandang penasaran pada punggung Meiger. Selama ini ia mengetahui semua tentang Meiger dari novelnya saja. Tapi setelah Clara memasuki dunia novel ini, dia tersadarkan akan banyak hal. Termasuk bagaimana sikap dan sifat Meiger yang terbagi menjadi dua.
Clara tak tahu apa tujuannya, tapi Meiger pernah mengatakan bahwa itu juga demi mereka. Tentu saja maksud Meiger saat itu adalah untuk kesejahteraan rakyatnya. Meiger nyaris mengabaikan kehidupannya, begitulah yang bisa Clara ambil setelah mengamatinya selama seminggu penuh.
Beban di pundaknya... seberat itukah...?
"Apa yang sedang kau pikirkan? Masuklah cepat!"
"Ah! Baiklah!"
Karena melamun terus, Clara jadi tidak sadar kalau mereka sudah sampai di ruang kerja Meiger. Ini adalah kedua kalinya Clara mampir ke tempat ini. Dan itu adalah memori mencekam baginya hingga Clara tak mau mengingatnya lagi.
BRAK
Pintu tertutup dengan keras, sehingga Clara cukup terkejut dengan suara keras yang timbul. Meiger sudah duduk di kursinya, sedangkan Clara memilih untuk tetap berdiri. Dia terlalu sungkan untuk bertingkah seenaknya di depan seorang kaisar.
"Duduklah, kau bisa menulis suratmu disini."
"Heh? Tapi Yang Mulia, kertas untuk menulis surat milik Hamba tertinggal di kamar."
SREK
"Kalau begitu ambillah."
Meiger memberikan selembar kertas pada Clara tanpa menatap gadis itu. Clara yang berniat mengambil kesempatan untuk kabur malah tak bisa melakukannya.
"Ahaha... terima kasih Yang Mulia..."
Clara mengambil kertas diatas meja Meiger dan membawanya ke tempat ia duduk. Clara mulai menggores pena berisi tinta hitam keatas kertas tersebut. Menuangkan segala keluh kesahnya dalam tulisannya.
...~❁~...
...Tuan Hendrick, saya dengar jika anda akan menjadi Duke di awal musim dingin nanti. Maaf kalau saya tidak bisa berada disana saat itu, karena anda tahu sendiri bagaimana keadaan Ranunculus apabila saya muncul....
...Apakah anda akan baik - baik saja tanpa saya?...
...Juga, tentang Allen. Sampaikan kepadanya kalau saya sehat - sehat saja disini. Hortensia memang berbeda dari kediaman Wayne, akan tetapi saya juga merasa beruntung karena masih bisa tertawa disini....
...Saya pastikan bahwa saya akan kembali, suatu hari nanti, pasti!...
...Tunggu saya...>_<...
^^^Clara Scoleths^^^
...~❁~...
Tanpa disadari, Clara menarik sudut bibirnya.
Ternyata Meiger bisa menangkap ekspresi itu. "Aku tidak tahu kalau kau seakrab itu dengannya."
"Hamba juga tidak tahu..." Masih dengan senyum lembutnya Clara berujar pelan.
Clara menggulung kertas itu. "Hm, lalu dimana Hamba bisa mengirim suratnya?" Tanyanya pada Meiger.
Meiger memandang Clara aneh, "Dimana? Kau bisa mengirimnya sendiri, kau tahu?"
"Eh? Oh, benarkah..."
Aku kira ada kantor pos atau semacamnya...
TUK TUK
"Hng?"
Clara mengalihkan perhatiannya pada seekor merpati yang hinggap di jendela.
Aku paham sekarang, mereka semua bukannya menggunakan kantor pos melainkan burung merpati.
__ADS_1
"Jadi..."
"Kau tinggal mengikatkan pesanmu pada kakinya. Dan katakan kemana pesanmu tertuju maka dia akan mengantarkannya." Sahut Meiger yang masih fokus pada lembaran dokumen di tangannya.
"Semudah itu rupanya."
Clara bangkit dan menghampiri merpati tersebut. Dengan sebuah pita, Clara mengikatkan surat tersebut di kaki burung.
"Tunggu dulu, memangnya merpati ini mengerti apa yang Hamba katakan?" Tanya Clara, ia hanya khawatir jikalau Meiger mencoba mempermainkannya.
"Kenapa kau tidak mencobanya?"
"Mencoba bicara dengan merpati, bodoh sekali."
Meski begitu, Clara tetap berbicara dengan merpati itu. Mungkin saja memang bisa sampai ke tujuannya. "Apa kau bisa mengantar ini kepada Tuan Hendrick di kediaman Wayne?"
Di detik berikutnya, merpati itu mulai mengepakkan sayapnya dan terbang menuju arah timur.
"Apa dia benar - benar paham...?"
"Haish... kau selalu mempertanyakan itu. Kenapa tidak tunggu saja surat balasan dari orang itu saja? Kalau dibalas berarti suratnya sampai."
"Baik - baik..."
Sebelum sempat berbalik kembali ke tempat duduknya, pandangan Clara tertuju pada sebuah bangunan kecil yang familiar baginya melalui jendela. "Um... Yang Mulia." Panggil Clara dengan berbisik.
"Ya?" Tanpa mengalihkan fokusnya, Meiger menjawab panggilan Clara.
"Apakah kuil itu masih dipakai untuk berdoa?"
Meiger terdiam sesaat, dia meletakkan lembar dokumen yang ia baca. "Mungkin iya oleh beberapa orang seperti Nero. Tapi aku sudah tidak mengunjungi kuil itu sejak lama."
"Bolehkah saya berdoa kesana?"
"Tentu, pergi saja."
"Tapi Yang Mulia..."
"Hm?"
"Hamba tidak tahu rute menuju kuil."
...❀...
"Kuil ini memang kelihatannya masih dipakai, soalnya sangat bersih."
Clara menatap kuil kecil di hadapannya teliti. Karena ia tidak mengetahui jalan kemari, itu berakhir dengan Meiger yang mengantarnya. Sampai saat ini Clara mengagumi dirinya sendiri yang bisa membuat seorang kaisar meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mengantar ia ke tempat ini.
"Jadi, kau mau berdoa?"
"Ya." Jawab Clara singkat.
SRET
Tidak diduga Clara menjulurkan tangannya dengan gaya seolah meminta. "Yang Mulia, Hamba tidak membawa apa - apa. Apakah Hamba bisa meminjam beberapa keping koin?"
"Huh?" Walaupun merasa heran, Meiger tidak berkomentar lebih jauh dan merogoh sakunya untuk mendapatkan kepingan koin. Kemudian memberikannya kepada Clara.
"Terima kasih!" Dengan senyum cemerlang Clara berterima kasih pada Meiger.
Selanjutnya ia mendekati kuil tersebut dan menaruh koinnya disana. Dia menempelkan kedua tangannya, posisi berdoa.
Aku berharap aku bisa pulang, aku bisa pulang, aku bisa pulang...
Melihat itu, Meiger mengangkat sebelah alisnya. "Seharusnya yang kau persembahkan adalah tanaman atau buah."
Setelah selesai berdoa, Clara menanggapi komentar Meiger. "Hamba tadi sudah bilang bukan kalau tidak membawa apapun? Jadi Hamba meminjam koin milik Yang Mulia. Yang terpenting adalah ketulusan dalam berdoa."
"Terserah kau saja." Meiger berbalik, melangkah kembali menuju ruang kerjanya.
"Heh? Apakah Yang Mulia benar - benar tak mau berdoa? Sudah lama sekali bukan sejak Yang Mulia kemari?"
"Tidak perlu. Bagiku tidak ada gunanya berharap pada sesuatu yang tak terlihat. Yang dilihat saja tidak berguna, apalagi yang tidak."
"....."
TBC
Yep, disini author akan memberikan backstory Meiger secara singkat sebab tidak akan diceritakan dalam main story nya.
Dulu saat Meiger masih kecil dia sering berdoa ke kuil dan dia semakin rajin datang kesana bahkan hampir setiap hari. Hal itu disebabkan karena dia ingin ibunya sembuh dari sakit keras, makanya ia berdoa terus menerus. Tapi sakit ibunya semakin parah (meski banyak tabib sudah berusaha menyembuhkan ibunya). Dia mulai jarang mengunjungi kuil. Dan dia berhenti berdoa di kuil setelah ibunya meninggal akibat sakit keras yang dideritanya. Sejak saat itu, Meiger tidak mempercayai lagi dengan keberadaan tuhan.
Jadi itulah alasan Meiger tak pernah mau lagi berdoa ke kuil tersebut.
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~