The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 78 - Pertanyaan Untuk Clara


__ADS_3

"Jika kalian penasaran, mengapa malah ikut denganku. Berlagak keren memberikan mereka ruang, nyatanya..."


Meiger menatap datar kedua orang di depannya. Jean dan Edmond tadi sudah mengikuti dirinya keluar dari ruang makan. Sayangnya, rasa penasaran mereka terlalu tinggi, sehingga mereka memilih mengintip percakapan Clara dan George.


Edmond mendelik, "Kau jugas seharusnya penasaran 'kan? Apa yang akan dibicarakan oleh dua senjata ketika mereka bersama."


"Tidak juga."


"Kalau begitu pergilah sana!" Usir Edmond.


Berani sekali dia mengusir seorang kaisar.


Tapi Meiger tidak bergeming ketika Edmond mengusirnya. Dia mendengus samar, lalu meninggalkan duo penguping yang bersandar di dinding istana. Seharusnya dia tidak perlu khawatir dengan Clara sampai datang kesini pula.


Pekerjaannya di Hortensia lebih penting, bahkan sudah menggunung di ruangannya.


Meiger menatap pedang yang ia pegang, pedang mawar milik senjata bernama Clara Scoleths. Alisnya menyatu, sebuah kalimat terlontar dari mulutnya.


"Akan kuberikan ini nanti."


...❀...


George menundukkan kepalanya, membuat Clara tidak bisa melihat jelas bagaimana ekspresinya saat ini. Pria itu sejak tadi hanya diam setelah mendengar permintaan maaf Clara.


"Untuk apa?"


Lama sekali, George akhirnya mengucapkan sesuatu.


"Membuatmu terlibat denganku, dan kau malah menjadi senjata juga sama sepertiku. Harusnya aku menjauh dari dirimu saat setelah kita berdebat keras waktu itu. Aku hanyalah seorang pengga-"


"Itu tidak benar!" Sela George.


"Bagiku, kau bukanlah pengganggu. Aku senang saat kau bersamaku. Aku mulai marah karena kau sendiri yang selalu saja membawa topik tidak menyenangkan, itu sangat membuatku kesal. Jadi, kau bukan pengganggu, kau adalah seseorang yang berharga dalam hidupku." George mengatakannya tanpa sadar.


Mendengar kalimat panjang George, Clara tersenyum senang. "Jadi aku adalah orang yang berharga bagimu, hm?"


Senyum lembut terpatri di bibir George. "Ya, hanya kau."


Woah... dari tipe ngegas sekarang dia jadi onii-san yang lembut dan baik hati. Dia berkembang dengan baik, maaf membuatmu kesusahan selama ini. Oh ya, haruskah aku menulis suratnya sekarang?


George mengelus kepala Clara perlahan. Dia gemas sendiri dengan seniornya dalam menjadi senjata ini. George merasa bahagia dengan kehadiran Clara disampingnya, mungkin pilihannya untuk tidak menahan perasaannya kali ini adalah benar.


"Jika begitu, kau mau pulang bersamaku ke Hortensia?" Clara memangku dagunya, sambil nyengir kuda.


"Hmm... tentu."


Clara tertekeh pelan, sangat senang dengan keputusan George. Meski dia sendiri masih belum terlalu ingin bertanya bagaimana George bisa membantai habis seluruh pasukan elit dalam waktu singkat.


Clara sendiri tak tahu kapan dia akan menanyakannya. Saat ini dia perlu memberikan George rasa lega di hatinya.


"Pilihanmu kali ini... aku juga tak bisa menjamin kau akan tersenyum untuk setiap harinya." Lirih Clara, dia membuang pandangan ke bawah kakinya.


George kembali tersenyum, akhir - akhir ini dia agak sedikit berbeda. Dia mulai sering tersenyum dan bersikap ramah kepada setiap orang. Apalagi sekarang Clara telah bangun dari tidur panjangnya...


George tersentak, senyumannya langsung lenyap. Dia menyentuh tangan Clara mengaitkan setiap jarinya pada jari Clara. Membuat gadis itu memandangnya aneh.


"Kenapa?" Tanya Clara.


"Lain kali jangan membuatku khawatir lagi, oke? Aku sangat panik dan gelisah, ketika kau terbaring dengan dilumuri darah. Itu membuat diriku takut. Kau harus bertanggung jawab karena sudah menjadikanku seperti ini. Jadi, jangan buat aku kesepian karenamu!"


George mengatakannya terbaru - buru, napasnya memburu karena dia hanya mengambil satu napas. Melihatnya, Clara tersenyum pilu. Melepaskan kaitan jari mereka dan menepuk kedua pundak George.


"Tenang saja! Aku takkan membuatmu kembali sendirian di dunia ini. Yang Mulia dan Jean akan menerimamu, pasti!"

__ADS_1


George terdiam, kemudian mengangkat sudut bibirnya. "Itu lebih dari cukup untukku. Terima kasih banyak, Clara."


...❀...


"Jean! Siapa dia?"


Clara mendekati Jean, lalu berbisik padanya. Clara merasa penasaran dengan seseorang yang bersama dengan Jean. Namun paras ini, agak familiar untuk Clara sendiri.


"Dia adalah pewaris tahta Kekaisaran Vinca, Nona."


Jean berusaha bersikap formal pada Clara, meski dia jadi jijik sendiri karena menyebut buaya darat ini sebagai pewaris tahta. Jujur, Jean tak pernah memanggil pria aneh yang menyebalkan ini sebagai seorang pangeran.


Awalnya Jean biasa saja dengan Edmond. Namun karena berkali - kali Edmond menyusup ke ruang kerja Meiger serta merusuh di istana kekaisaran. Jean mulai merasa muak dengan pria itu. Jika Edmond bukanlah pangeran, Jean pasti sudah membunuhnya dengan alasan yang tidak jelas.


Clara mengangguk paham saat mendapatkan jawaban dari Jean. George yang berada di belakang Clara kembali diam, dia menjadi pasif lagi setelah perbincangannya dengan Clara barusan.


Dan Meiger. Edmond sendiri bahkan tak tahu apakah Meiger sudah pulang ke Hortensia atau belum. Tapi Edmond yakin, Meiger takkan pulang begitu saja tanpa membawa gadis kesayangannya ini.


Kalau Clara masih disini, pasti Meiger juga iya.


"Perkenalkan Nona Clara, namaku Edmond Southbayern." Ujar Edmond, mengedipkan sebelah matanya.


Clara mendadak merinding geli, ditatap begitu oleh buaya darat cap kadal ini membuat Clara takkan bisa tidur malam. Buntung sekali dirinya yang ditolong oleh penebar cinta veteran ini.


"Um... Jean?"


"Iya, Nona?"


"Jangan katakan padaku bahwa Yang Mulia juga kesini?" Clara bertanya sambil berbisik, dia takut ada yang mendengarnya selain dirinya dan Jean.


"Yang Mulia ada Nona. Tapi sekarang entah kemana." Jawab Jean jujur.


"Oh... baguslah."


"Aku takut didepak dari istana Hortensia karena nyaris gagal dalam misi. Kau tidak lupa 'kan Jean? Aku terluka sedikit saja, Yang Mulia pangsung mengancamku. Aku tak mau dilempar ke istana dingin dan dicampakkan oleh kalian berdua." Clara merenggut pelan.


"Hahaha... Yang Mulia tak akan melakukannya." Jean terkekeh kecil.


"Kenapa kau begitu yakin?" Raut wajah Clara berubah serius.


Jean yang tak tahu mau menjawab, hanya cengengesan sambil menggaruk pelan pipinya. "Ya... begitulah..."


...❀...


Salju turun hari ini, gumpalan salju berwarna putih memenuhi jalanan. Awan - awan nampak mendung, cuaca hari ini sama sekali tidak mendukung Clara untuk bermain diluar.


Rencananya Clara mau keluar ditemani Jean, dia mau mencari jajanan yang hangat - hangat. Meski di istana Vinca bisa langsung pesan, tapi Clara mau yang lebih menantang. Lah, asalnya dia memang sangat pemaksa.


George dan Meiger ternyata sedang berdiskusi dan Clara sangat dilarang mencampuri urusan mereka. Untuk Jean, tentunya dia sedang bersama Clara saat ini. Sebab mereka berada di Vinca, Meiger yang rawan Clara lecet memerintahkan Jean untuk selalu bersamanya.


Di hari yang tidak mendukung ini, Clara hanya memandangi alam sekitar sambil menghela nafasnya, merasa bosan setengah mati.


Edmond tiba - tiba muncul di belakang Clara, membuat Jean nyaris menendangnya karena geram. Kenapa pula buaya darat ini ada dimana - mana? Yang lebih terasa menyebalkannya lagi, buaya ini selalu bisa menemukan keberadaan mereka.


Memuakkan sekali.


"Nona Clara."


Clara menengok ke belakang, ketika mendengar namanya dipanggil. Dia melihat Edmond yang melambaikan tangan kepadanya diiringi dengan senyum semanis madu.


Clara tahu tabiat Edmond dari novel, buaya ini sangat suka mengatakan 'suka' dan 'cantik' kepada banyak wanita. Jadi, Clara takkan mempan jika pria ini melakukan hal yang sama juga padanya. Perisainya sudah sangat tebal, yaitu kaisar.


Dengan malas Clara mengalihkan lagi pandangannya kepada latar putih yang menutupi keindahan Vinca. Ini mengevewekan, padahal Clara sudah sangat senang ketika mengetahui dirinya ada di tanah Vinca.

__ADS_1


Edmond agak terkejut dengan sikap Clara yang acuh tak acuh padanya. Ini mengingatkan dirinya kepada seorang gadis bangsawan yang juga memiliki sikap yang sama seperti Clara. Meski Clara menarik, Edmond masih tetap setia pada cinta tak terbalasnya itu.


Saat melihat Clara, Edmond diingatkan pada pertanyaan yang ingin dia tanyakan jika saja dia bertemu Clara. Saat itu, Meiger mengatakan kalau mustahil Clara tahu dimana suratnya.


"Nona Clara." Panggil Edmond lagi, kini dia melangkah menghampiri Clara dan berdiri di sampingnya. Dia mengacuhkan tatapan jengkel dari Jean, Edmond sudah sering mendapatkannya dan kini dia telah kebal.


"Hm?" Clara mendengung pelan.


"Aku mempunyai sebuah pertanyaan untukmu, Nona Clara. Jika Nona berkenan, aku sangat berharap mendapat jawaban yang memuaskan dari Nona sendiri." Ujar Edmond, masih dengan senyum sejuta maknanya.


"Oh, apa itu?" Clara menaikkan sebelah alisnya, sedikit tertarik.


"Apakah Nona Clara pernah menemukan sebuah surat yang ditunjukkan untuk Nona Cinta?"


...❀...


"Jadi, bagaimana kondisimu sekarang?"


Meiger tanpa basa - basi langsung bertanya pada George yang ada di hadapannya. Pasalnya, kondisi khusus anak ini perlu dipertanyakan. Memang tidak begitu spesial seperti milik Clara, tapi ini juga sangat perlu diluruskan oleh kedua pihak.


George menundukkan kepalanya, "Baik. Hanya saja, sejak pembantaian itu, ada sesuatu yang bergejolak dalam dadaku. Meronta meminta kebebasan."


Meiger mengerutkan alisnya, tanda bahwa dia dalam mode serius. Dia sedikit melirik pada jendela di samping kanannya, salju turun dengan lebat diluar sana.


"Apa kau pernah mendengar suara - suara tertentu?" Tanya Meiger lagi, interogasi ini diperlukan untuknya.


"Suara tertentu?" George menautkan alisnya, heran.


"Ya. Meronta meminta kebebasan." Ujar Meiger lagi, seolah memberikan petunjuk untuk menuntaskan rasa heran George.


George terdiam sejenak, kemudian dia menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak ada yang seperti, sejauh ini."


"Begitu."


Suasana hening pun tercipta. George kini agak ragu untuk membangun dinding di sekitarnya, Clara telah mengatakan kepadanya untuk berhenti menahan diri. Dia juga belajar dari Jean (selama Clara tertidur) cara untuk mengontrol emosinya yang sering meledak - ledak.


George menatap Meiger, seorang kaisar yang masih berusia muda. Bahkan George sendiri dibuat terkejut dengan fakta jika Meiger menjabat jadi kaisar ketika umurnya baru menginjak 15 tahun.


Pria di depannya ini sangat berani untuk mengambil resiko. Dia mengambil tahta milik ayahnya dan terjun dalam dunia politik dan ekonomi. Meski dia berkabung atas kematian figur yang paling ia hormati itu, Meiger tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai pewaris tahta.


Dia belajar dalam 5 tahun ini untuk menjadi seorang kaisar yang melebihi ayahnya sendiri. Hasil dari kerja kerasnya selama 5 tahun menjabat juga terlihat jelas.


Hanya satu yang membuat George janggal pada pria hebat ini.


Kemana hilangnya mata safir yang seharusnya pria itu miliki? Mengapa berganti menjadi dua ruby yang indah? Penyimpangan ini semakin terlihat di mata George, tapi Meiger bukanlah dirinya. Kaisar ini murni terlahir dari keluarga Westhley bukan anak haram sepertinya.


Tapi tetap saja, George merasa ini terlalu aneh bila diulik lebih dalam. Logikanya, Meiger harusnya punya dua pernik safir seperti para pendahulunya. Lantas, ada apa dengan perubahan kontras ini?


Anehnya lagi, rakyat Hortensia tak pernah mempertanyakan penyimpangan ini. Mereka hidup nyaman dan damai di Hortensia tanpa kerusuhan apapun. Seolah masalah ini bukanlah hal yang perlu dipikirkan oleh mereka.


Asalkan hidup dan negeri mereka makmur, itu sudah cukup.


Juga, mengapa pria ini bertanya seolah dia sudah tahu gejala - gejala yang aku alami saat ini? Atau mungkin dia mengetahuinya dari Clara? Kenapa pria ini mencurigakan sekali, sih?


Meiger bangkit berdiri, menghampiri jendela yang hampir dipenuhi oleh bongkahan es. Darisini, dia bisa melihat tiga orang yang sedang mengobrol bersama. Yang satu senyum tak jelas, yang satu berwajah datar, dan yang satunya lagi terlihat sangat jengkel.


Namun, fokus Meiger hanya ada pada salah seorang diantara mereka. Dia menggumam samar, "Aku masih mengawasimu."


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^


So, see you in the next chapter~

__ADS_1


__ADS_2