
..."Bumi yang berputar mengartikan bagaimana jalannya perasaan itu. Ketika kau merasa itu luar biasa, lama - lama kau menganggapnya biasa. Namun ketika kau menganggap rasa itu biasa, ada secuil pikiran dan batin yang mengubahnya menjadi luar biasa."...
...~Frederick Wayne...
...----------------...
[10 Tahun Kemudian]
"Fred, bagaimana hubunganmu dengan Eleanor?"
Tanpa menggunakan embel - embel 'tuan putri'. Gerald dengan berani menyebut langsung nama tuan putri kesayangan Freesia. Karena semenjak pertemuan mereka sepuluh tahun lalu, dia dan Frederick memulai hubungan pertemanan dengan Eleanor dan sekarang mereka semakin akrab.
"Baik." Jawab Frederick singkat, padat dan jelas.
Gerald berdecak geram. Bukan jawaban seperti ini yang diinginkannya. Tetapi lebih seperti, sudahkah mereka menyadari perasaan masing - masing atau segala macam progres mengenai urusan cinta diantara mereka.
Gerald tahu bahwa Frederick mencintai Eleanor. Dan dia juga sudah tahu kalau cintanya Frederick itu dibalas oleh Eleanor. Intinya, pertemanan diantara mereka bertiga sangat memperlihatkan hama yang sebenarnya.
Karena lambatnya Frederick, Gerald bahkan nyaris menendangnya dengan sekuat tenaga tepat di bagian perut. Beruntung ada Raja Lraight yang melerai mereka.
"Omong - omong, Fred. Sudahkah kau mendengar berita dari Hortensia? Katanya Pangeran mereka, Siegward akan dinobatkan menjadi kaisar dalam waktu dekat." Gerald mulai mengganti topik.
"Tahu."
"Kau tahu alasannya?"
"Kaisar Hortensia yang sekarang sakit keras. Makanya peralihan kekuasan harus disegerakan agar tak timbul konflik internal. Sebab bagaimanapun sebuah negara butuh pemimpin sebagai induk mereka."
"Pemerintahan dan bangsawan, semuanya sama - sama memusingkan. Aku malas kalau ingat namaku sudah tercantum menjadi pewaris Count Cheltics berikutnya." Kata Gerald dengan gusar.
Namun mendadak Gerald semangat kembali, tangannya menepuk meja dengan kencang hingga menimbulkan suara bising. Frederick menutup kedua telinganya menggunakan tangannya.
"Aku ingat sesuatu! Eleanor mengatakan sesuatu tentang dirinya yang akan menikah dengan Pangeran dari benua tetangga. Sebuah pernikahan politik..." Ucal Gerald agak ragu, dia belum memastikannya dengan bertanya langsung jadi tak yakin apakah akurat atau tidak.
Bola mata Frederick membulat sempurna. Sebuah berita yang tidak diketahuinya secara langsung dari Eleanor. Gadis itu cuma memberi info pada Gerald saja. Dadanya mendadak panas.
"Kau yakin?"
Gerald mengangguk ragu, "Tapi kau bisa bertanya langsung padanya untuk mengonfirmasi. Malu bertanya membuatmu sesat di jalan."
"Pantas saja dia sudah menghilang selama dua minggu lamanya. Biasanya dia akan memberi kabar kalau ada sesuatu." Kini raut wajah Frederick berubah cemas.
Gerald mencebikkan bibirnya mengejek. Karena kini Frederick kehilangan ketenangannya, topik yang dibawanya berhasil.
"Fred, kurasa kau benar - benar harus menemui Eleanor. Dia berhutang penjelasan kepada kita berdua." Tutur Gerald, ini adalah kesempatan emas bagi Gerald melihat seberapa besar cinta diantara mereka berdua.
Gerald bukanlah pria yang puitis dan mengerti tentang perasaan yang kadangkala memuncul kan rasa campur aduk sekaligus. Namun kata pujangga yang sering dia datangi untuk kemulusan perjuangan cintanya, pertemanan antara perempuan dan laki - laki terkadang menimbulkan setitik rasa lain pada salah satu dari mereka.
Bukan hanya perasaan untuk melindungi, akan tetapi menjaga dia sepenuh hati dari jangkauan tangan yang menurut kita kotor dan tak pantas. Tak sedikit para sahabat mengubah status mereka menjadi kekasih bahkan sampai suami istri.
"Mungkin... apa yang kau katakan itu benar." Ujar Frederick sedikit bimbang.
__ADS_1
Gerald menarik sudut bibirnya. Akan ada perubahan signifikan diantara kedua orang dengan label 'sahabat' ini. Dia tidak sabar dengan berita yang dibawakan Frederick besok.
...❀...
Di sebuah kamar mewah yang dominan diisi dengan hal - hal feminin. Seorang gadis tengah meringkuk di bawah lantai, memeluk kedua lututnya. Wajahnya dia tenggelamkan ke dalam pelukan tangannya, menyisakan helai rambut keperakan yang jatuh dengan malas di sekitar pundaknya.
TOK TOK TOK
Terdengar suara jendela diketuk dengan keras. Gadis itu sedikit bergerak. Mendongakkan pandangannya pada jendela, mata emerald itu tampak mengkilat dengan butiran air mata menyisa.
Dengan langkah gontai dan pandangan yang gamang, gadis itu menghampiri jendela dan menyingkap gorden perlahan - lahan. Matanya membulat sempurna ketika melihat seseorang yang mendatanginya di tengah malam seperti ini.
"Eleanor?"
Gadis itu, Eleanor tersentak mendengar panggilan Frederick yang masih bertengger di luar jendela dengan jubah hitam menutupi seluruh badan dan tubuhnya. Namun hanya dengan mendengar suaranya, Eleanor tahu bahwa itu adalah Frederick.
"Edrick?"
Eleanor kini berani membuka jendela dan membiarkan Frederick masuk. Sebenarnya ini adalah tindakan yang kurang sopan dan cukup ditentang. Karena membiarkan tamu masuk dari jendela, terlebih itu lelaki dan sekarang sudah masuk tengah malam. Eleanor harus hati - hati membukakan jendela tanpa membuat suara.
Ketika Frederick sudah menapaki kakinya ke kamar Eleanor yang temaram, dia menelan salivanya berat. Ini adalah kali pertama dia berani melakukan hal selancang ini. Sepasang kekasih saja dilarang melakukannya, apalagi yang tak punya hubungan spesial.
"Ada apa kemari?" Tanya Eleanor.
Frederick jadi salah tingkah, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Matanya menatap liar ke arah lain hanya supaya pandangannya tidak bersinggungan dengan Eleanor. Sungguh, demi apapun ini adalah hal menakutkan kedua bagi Frederick dalam hidupnya.
"Ano... Gerald mengatakan sesuatu kepadaku. Tentang dirimu..." Ucap Frederick kaku, dia hampir lupa cara bernafas saking gugupnya.
"Pernikahan politik dengan benua tetangga."
Fredericm berhasil menyelesaikan kalimatnya. Walau dia dalam keadaan gugup sekalipun, dia takkan melupakan idealisnya tentang dilarang bertele - tele dalam hal apapun. Makanya lidahnya secara spontan mengatakannya.
Eleanor tersentak, bahunya sedikit terangkat. Namun raut di wajahnya tetap tenang. Senyum lembut yang selalu membuat orang lain terpana itu kembali muncul di wajah pucatnya.
Tanpa Eleanor beritahu sekalipun, Frederick akan tahu.
Eleanor baru saja menangis.
Tapi, apa yang dia tangisi?
"Aku menyetujuinya, kok." Ucap Eleanor, senyum yang sama masih tersungging di wajahnya.
Kening Frederick mengernyit. Ini bukan masalah setuju atau tidaknya Eleanor terhadap pernikahan ini. Melainkan perasaan yang ia miliki. Apakah Eleanor mencintai pria itu, itu yang dipermasalahkan.
"Kenapa kau setuju? Karena keluargamu memintamu begitu?" Frederick akhirnya bertanya.
Rupanya tidak enak menahan perasaan kesal yang dirasakannya kali ini. Dia merasa sangat kalut setelah mendengar berita pernikahan Eleanor tadi siang. Hatinya tidak terima pada keputusan ini.
Mulut Eleanor mengatup sempurna, dia terlanjur tidak mampu untuk menjawabnya. Dia pikir yang Frederick akan tanyakan adalah apakah Eleanor mencintainya ataukah tidak. Sehingga Eleanor hanya perlu menjawab bahwa cinta akan datang seiring waktu berjalan. Karena tak jarang rasa yang tak biasa berawal dari kebiasaan. Pikirnya, dia hanya perlu terbiasa mencintai orang yang tak dicintainya.
Sayangnya, Frederick malah menanyakan hal lain. Sebenarnya tak salah kalau Frederick berfikir keluarganya memaksa ia turun dalam pernikahan tanpa cinta ini. Ayah dan ibunya memang terus memaksakan keinginan mereka tanpa mendengar protes dari Eleanor. Saat Eleanor meminta pendapat dari adiknya yang sudah bertemu dengan calon suaminya. Willem malah mendukung pernikahan ini agar terus berjalan. Terpaksa Eleanor menyetujuinya.
__ADS_1
"Eleanor, tolong jawab aku."
Eleanor mencengkeram gaunnya dengan erat. Menggertakkan giginya. Matanya yang merah karena sembap, kini telah mengeluarkan bulir - bulir air mata. Tentu saja Frederick terkejut, dia rasa tidak ada yang salah dengan pertanyaannya.
"Elea--"
"Kalau begitu, mengapa tidak kau saja yang menikahiku?! Kita bisa bahagia hidup bersama. Dan membangun keluarga sendiri!!!" Ucap Eleanor setengah berteriak, dia sedikit terisak dan nafasnya tersengal setelah mengatakan kalimat terakhir.
"Aku tidak..." Frederick sedikit gugup. Ia tidak menyangka Eleanor akan mengatakan sesuatu seperti itu padanya.
Eleanor membuang wajahnya kesal, "Sudahlah. Bukankah sudah kubilang bahwa aku setuju atas pernikahan ini?"
Frederick seakan tak mampu berkata - kata lagi. Dia juga membuang pandangan ke arah lain. Membalikkan badannya dan melangkah ke jendela, tanpa salam perpisahan apapun dia turun dari jendela kamar Eleanor. Meninggalkan gadis itu dalam linangan air matanya.
...❀...
TAP
Frederick lompat dari jendela kamar Eleanor dengan mulus. Dia menatap seseorang yang sedang menyandarkan diri di pohon besar. Orang ini memang ikut dengannya dalam perjalanan ke Freesia, karena mustahil bagi Frederick ke Freesia sendirian.
"Gerald, ayo pulang."
Gerald setengah berlari menghampiri Frederick. Rasa penasaran telah menghantui dirinya setelah Frederick memanjat dan memasuki kamar gadis itu dengan mulus.
"Apa kata, Eleanor?"
"Dia setuju." Jawab Frederick dengan datar. Dia melangkah ke tempat dimana kuda - kuda berada. Kini mereka sudah dewasa, kaki mereka sudah sampai untuk menunggangi kuda.
Mendengar jawaban singkat dari sahabatnya ini. Gerald mengerucutkan bibirnya, informasi ini sama sekali bukan berita bagus.
"Kau tidak menahannya? Apakah kau baik - baik saja dengan ini? Kau mencintai Eleanor, bukan?" Tanya Gerald, manik matanya menatap lekat punggung berjubah hitam.
Langkah Frederick terhenti, tetapi dia tampak tak bergeming. Gerald juga menghentikan langkahnya, semeter di belakang Frederick. Gerald tahu bahwa Frederick butuh sendiri, dia harus menjaga jarak.
"Gerald."
"Ya?"
"Bisakah kau membantuku untuk mengacau sebuah pesta pernikahan?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Frederick membuat mata Gerald bersinar terang. Seolah mengatakan bahwa temannya telah menemukan hidayah cinta.
Gerald menganggukkan kepalanya dengan semangat membara, "Aku akan membantumu mengacaukannya sampai mereka dendam padamu."
"Tolong bantu aku."
TBC
Tolong deh para pembaca. Like+komen jangan dilupa. Aku heran dengan pembaca yang selalu ratusan tapi tak pernah meninggalkan setetes pun jejak. Setidaknya jempol kalian gunakanlah untuk nge-like cerita ini.
So, see you in the next chapter~
__ADS_1