
"Nona, apa kita benar - benar perlu melakukan ini?" Jean berbisik, dia tak mau ada yang tahu keberadaan mereka.
"Ya! Jadilah manusiawi, Jean. Dan jangan pilih - pilih kalau mau membantu orang."
"Saya tidak pilih - pilih kok..."
Saat ini Clara dan Jean akan melakukan penculikan. Misi gagal yang didaur ulang oleh Clara. Alasannya karena dia tak tega melihat George dipaksa membunuh oleh ayahnya.
Rencana mereka adalah memancing semua prajurit yang ada disana untuk lebih menjauh dari George, Jean yang akan mengalihkan mereka. Sementara itu, Clara akan membawa George, mencuri kuda dan kabur ke Hortensia.
Kali ini Clara tidak akan membutuhkan izin atau anggukan George lagi, karena ia yakin jika George akan menolaknya. Jadi, ini adalah misi penculikan yang sebenarnya, baru melarikan diri dari musuh.
Sejujurnya, karena Hortensia adalah wilayah netral, jadi Freesia bersikap biasa saja pada wilayah Barat. Berbeda sekali dengan Ranunculus yang memang adalah musuh bebuyutan mereka.
Kalau Clara ketahuan menculik George, sebenarnya yang akan terkena imbasnya adalah Ranunculus. Karena yang Raja Willem ketahui Clara berasal dari sana. Hanya George yang tahu darimana Clara berasal.
Clara mengintip lagi pada sekumpulan prajurit itu. Dimana ada sekitar 19 prajurit terkecuali George. Itu angka yang tebilang berani untuk menyerang musuh meski hanya diam - diam.
Meski begitu, Clara sadar jika mereka semua adalah prajurit elit. Sebab itulah dia lumayan mengkhawatirkan Jean yang posisinya sebagai pemancing, tidak ada kemungkinan kalau Jean takkan tergores oleh mereka.
Pasukan elit seperti mereka... bisakah kami mengecoh mereka dan menculik George tanpa menumpahkan darah?
Hal yang mustahil untuk terjadi.
"Nona, saya sudah siap. Bagaimana dengan Nona?" Tanya Jean, dia telah mempersiapkan mentalnya untuk menjadi buron pasukan elit tersebut.
"Aku sudah siap dari tadi. Kau lama sekali sih, jadi aku kelamaan menunggu." Ucap Clara masih terus memperhatikan pergerakan musuh.
"Maaf Nona, ini semua 'kan terjadi karena Nona memaksa saya menjadi umpan. Kalau saya terjadi apa - apa, Nona harus tanggung jawab."
"Iya - iya! Cerewet sekali... seharusnya kau kalem seperti Yang Mulia. Tidak! Sebelumnya kau memang kalem 'kan?" Spontan Clara menoleh pada Jean di belakangnya.
"Maksud Nona?"
"Saat pertama kali kita bertemu dan di awal - awal aku datang loh...! Saat itu kau bahkan terkesan dingin dan dewasa di hadapanku. Tapi kenapa kau sekarang jadi cerewet begini...?"
Jean mendengus gusar, "Semua salah Nona."
"Haa? Aku sama sekali tak paham ucapanmu."
"Bagus jika Nona tidak paham."
"Huh! Sudahlah. Mari kita lancarkan aksi penculikan ini." Putus Clara.
"Baiklah, saya akan ke bukit."
"Ya."
Sebenarnya formasi ini sudah dipakai ketika mereka pertama kali menginjakkan kaki di tanah Freesia, disana ada banyak prajurit dan semua berakhir dengan negosiasi Clara dengan kelompok yang baru datang.
Perbedaannya ada pada dirinya. Saat ini Clara takkan menyerang, yang perlu dilakukannya hanya membawa George.
Di sisi lain, Jean sudah ada diatas bukit siap untuk melepaskan serangan. Dia melihat ke bawah untuk memastikan kode dari Clara. Kemudian Clara memberikan jempolnya, tanda bahwa waktunya sudah dimulai.
Jean menghela nafasnya pasrah.
Oke, dia sangatlah menghormati gadis antik istana kekaisaran Hortensia ini. Ditambah ada kemungkinan jika dia akan menjadi permaisuri kaisar Hortensia. Tapi Jean cukup kesal dengan tindakan mendadak Clara ini, karena resikonya tak main - main.
Jean mengangkat busurnya, siap melepaskan anak panah pada kepala salah satu prajurit elit di bawah sana. Sedangkan di bawah, Clara menunggu para prajurit pergi ke bukit untuk bisa membawa George dengan tenang.
Rencana ini memang begitu terlihat siapa yang ditumbalkan. Yang mana yang diuntungkan dan yang mana yang dirugikan. Untung Jean sabar sehingga dia tak menjerumuskan Clara dalam kepungan musuh.
STAK
Anak panah telah dilesatkan.
__ADS_1
STAB
Seorang prajurit mendadak jatuh tersungkur dengan anak panah yang tertancap di otaknya. 18 prajurit sisanya yang menyadari ada musuh langsung mengambil sikap siaga.
Salah satu dari mereka langsung tahu dari mana arah datangnya anak panah tersebut. Belum sempat dia memberi tahu rekan - rekan nya. Anak panah lain telah dilepaskan dan dia yang terkena serangan itu. Dengan menyedihkan prajurit bertubuh besar itu tumbang.
"Sialan! Siapa yang berani menyerang?!"
"Dua dari kita sudah tumbang, berarti kita hanya tinggal 17 lagi."
"Hei, bocah senjata! Buatlah dirimu berguna!"
George yang mendadak ditunjuk jadi terkejut. Dia tampak enggan menatap seluruh pasang mata di depannya. Sampai sebuah suara membuat telinganya berdengung, serangan lain mendatangi mereka.
Refleks George menatap ke depannya. "Serangan lain..."
"Apa?"
Anak panah lainnya berdatangan. Kali ini para prajurit takkan lengah. Mereka berhasil menangkis anak panah tersebut dengan pedang mereka, bahkan anak panah dari kayu itu langsung terbelah menjadi dua.
Seluruh prajurit sadar jika arah serangan berasal dari dataran tinggi, pandangan mereka langsung tertuju pada bukit di arah barat. Seorang pemanah yang awalnya berdiri disana, menjauh dari tepi bukit dengan berlari
Sebagian besar prajurit tanpa babibu mengejar si pemanah keatas bukit.
Di semak - semak, Clara senang karena rencana mereka berjalan lancar.
Bagus! Aku harus menghampiri George sekarang.
...❀...
Di tempat Jean, dia sudah berlari menjauhi tepi bukit. Jean juga menyadari jika para prajurit sudah terpancing untuk mengejarnya. Di sela - sela pelarian itu, Jean meraba pinggangnya.
"Heh? Inikan..."
Jean langsung bersembunyi di balik pohon, sementara musuh - musuhnya masih jauh.
"Sial! Yang mengejarku hanya 9! Itu berarti 8 dari mereka masih ada disana bersama target dan Nona. Gawat. Aku belum memberikan pedang ini kepada Nona."
Jean kembali melarikan diri lagi sambil terus menggenggam pedang dengan ukiran indah berbentuk mawar.
"Semoga Nona baik - baik saja."
...❀...
Clara mengendap - endap menuju posisi George saat ini. Dia melihat George yang sendirian tanpa ada siapapun di sampingnya. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk menculik target.
TAP
George tersentak ketika ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya, saat dia menoleh ada seseorang berjubah hitam disana.
"Siapa kau?" Tanya George curiga.
Clara hanya perlu mendongakkan kepalanya menghadap George, dan kini George bisa melihat wajah Clara sepenuhnya.
"Kenapa kau ada disini? Kau sudah kabur seharusnya! Aku sengaja memperlambat penyerangan menuju Ranunculus agar kau bisa ke Hortensia dengan selamat." Napas George memburu, dia lagi - lagi dibuat kesal oleh gadis ini. Suka sekali membuatnya khawatir.
"Apa? Kau sengaja ternyata? Pokoknya kau harus ikut bersamaku. Kini aku menolak adanya penolakan darimu!"
"Kau sudah gila."
"Sudah kubilang seharusnya kau tidak menahan perasaanmu! Kenapa sekarang kau mau - mau saja diperintahkan melakukan sesuatu yang tak ingin kau lakukan? Aku khawatir padamu!"
Hati George berdesir mendengarnya. Tadinya dia mau marah pada Clara, tapi tidak jadi sebab Clara yang lagi - lagi mengatakan hal aneh ini padanya.
"Seharusnya kau berhenti membuatku begini..." Lirih George.
__ADS_1
"Ayo kabur denganku!"
"Tapi-!"
STAB
Sebuah pedang menancap di perut Clara dari belakang. Seorang prajurit dengan kejamnya menarik kembali pedangnya dan membuat perut Clara berlubang karenanya.
Clara langsung mencengkeram perutnya untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan oleh luka itu. Namun nihil, rasa sakitnya terlalu parah, Clara sudah tak bisa menahannya lagi.
Aku lengah, ternyata mereka telah menemukan rencana kami. Sial...!
Tubuh Clara terhuyung, dia tak mampu mempertahankan kesadarannya lebih lama lagi. Sebelum Clara menyesali keadaannya ini, dia membuat permintaan kecil pada orang itu.
Kumohon Claire... keluarlah dan tolong kami.
BRUK
"Clara!"
...❀...
PRANK!
Gelas yang awalnya dipegang malah terjatuh ke bawah dan pecah berkeping - keping. Hendrick berinisiatif untuk membersihkannya sendiri, sayangnya dia kurang berhati - hati sehingga jarinya tergores.
Pria itu mendengus kesal.
Meski jarinya telah berdarah, Hendrick tetap membersihkan pecahan gelas yang berserakan di kamarnya. Setelah beres, Hendrick mengambil seutas tali pendek dan mengikatnya pada jarinya yang terluka.
Walaupun begitu, ekspresi Hendrick tak terlihat begitu berubah. Dia tetaplah pria bermulut pedas yang pandai menyinggung orang lain.
Pandangannya beralih pada langit malam. Rupanya malam ini langit dihiasi oleh bintang yang berkerlap - kerlip, dan jangan lupakan rembulan malam yang bentuknya bulat sempurna.
Ini membuat suasana hatinya sedikit membaik. Sebab sejak dirinya diangkat menjadi Duke, semua masalah di wilayah Wayne dialah yang menyelesaikannya. Ini jauh lebih banyak dari yang dia dapatkan saat sebelum menjadi Duke.
Hendrick mengutuk ayahnya sendiri karena telah pensiun muda. Jelas ini tak menguntungkan bagi Hendrick dari sisi manapun.
Lalu terdengar gumaman samar dari Hendrick.
"Clara... apa kau baik - baik saja disana?"
...❀...
Tubuh penuh darah Clara terjatuh ke tanah, namun sebelum mencapai tanah. George menangkap tubuhnya terlebih dahulu. Dia menggoyangkan tubuh Clara pelan, berharap gadis itu membuka matanya.
"Clara. Kumohon bangun untukku, Clara. Tidak akan kumaafkan jika kau tak sadar - sadar. Kau harus bertanggung jawab karena sudah memaksaku ikut bersamamu."
Setetes air mata jatuh di pipi George. Dia memeluk tubuh dingin Clara dengan erat.
"Takkan kumaafkan kalian..."
George meletakkan tubuh Clara dengan baik di sampingnya. Dia mengepalkan kuat tangannya, berdiri dengan tegap menghadap kedelapan prajurit elit di hadapannya.
George yang awalnya menunduk, kini menatap mereka berdelapan penuh amarah. Sorot matanya menjadi tajam, penuh aura hitam akan kemarahan. George menyeringai memandang mereka.
SRING
Pedang George yang selalu ada di dalam sarungnya kini dikeluarkan. Dia berani melakukannya hanya untuk gadis yang sedang berbaring itu.
"Kemarilah... akan kuperlihatkan kepada kalian kemampuan seorang mesin pembunuh itu."
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~