
Di depan Clara saat ini, pangeran dari Ranunculus nampak begitu cerah bahkan di bawah sinar bulan sekalipun.
Clara diam - diam berdecak sebal.
Dari sekian banyak manusia, mengapa harus dia?
Yah, meskipun ketika pertemuan malam itu mereka sempat berbincang serta nampak seperti sudah berbaikan. Sebenarnya Clara masih kesal, walau itu bukan benci lagi.
"Mengapa anda berada disini?" Tanya Clara tak tanggung - tanggung, akan tetapi dia tetap memperhatikan cara bicaranya.
"Maafkan aku, Nona Scoleths. Tapi aku hanya melakukan ini agar Hellen tidak khawatir lagi. Aku pikir, pagi setelah kepulanganku sesuatu terjadi di kediaman Wayne. Kemudian aku mendengar rumor tentangmu dan berakhir di bicarakan di aula pengadilan."
"Lalu, mengapa anda bisa tahu bahwa Alleー maksud saya Hellen khawatir?"
"Itu mudah saja. Ketika dia khawatir dia selalu menjadi kacau dan melupakan setiap kegiatan bahkan pelajaran tata krama dan bahasa."
"Lalu...?"
"Dia tidak mengirimiku surat pagi ini jadi aku yakin itulah yang terjadi padanya."
"Surat?"
"Em... kami sering bertukar surat, sebenarnya..." Rovers menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Clara yang mendengar itu langsung membuka mulutnya dengan lebar. Dia menatap aneh sang pangeran mahkota dengan wajah rupawan itu.
Jadi dia menyelamatkanku agar kebucinannya tetap tersalurkan ya? Rasanya aku dimanfaatkan disini.
"Oh... saya paham." Clara berucap datar.
"Sepertinya setelah rumor itu muncul. Kau semakin dikenali banyak orang, meskipun hanya sedikit yang mengetahui namamu apalagi wajahmu."
Clara tak kunjung merespon setelah itu. Dia memilih untuk tetap diam, itu adalah keberuntungannya karena rumor yang disebar adalah tentang dia yang membunuh Raja.
Itu akan menjadi lebih merepotkan jika saja rumor tersebut mengatakan bahwa Clara Scoleths ialah senjata milik Freesia.
Mereka pasti membakarku hidup - hidup, apalagi pihak bangsawan. Dan lagi... meski Raja tahu, apakah Grand Duke Harold juga mengetahuinya? Jika aku adalah senjata Freesia?
"Ah...!" Clara memekik keras.
"Hm? Ada apa Nona Scoleths?"
"Sa..saya harus segera mencari Avrim! Saya pergi duluー"
TAP
Rovers memegang pergelangan tangan Clara demi mencegahnya untuk mencari Avrim. Dia tahu betul, jika Clara dibiarkan usaha penculikan tadi akan sia - sia belaka.
"Itu tidak perlu." Tegas Rovers.
"Mengapa? Saya harus mencarinya sekarang juga...! Avrim adalah orang paling penting bagi saya!"
"Aku tahu."
"Lalu? Mengapa anda menahan saya untuk pergi?!"
"Tenang saja. Aku tahu kau peduli terhadap bibi itu. Jadi aku memberikan perintah kepada Vester untuk membawanya supaya luka tebasan Raģe bisa disembuhkan. Itu luka yang besar, kau tidak akan mampu menanganinya."
__ADS_1
Ekspresi Clara melunak. Rovers pun melepaskan cengkeramannya karena Clara yang sudah tidak memberontak lagi.
"Siapa itu... Vester? Saya baru mendengarnya."
"Pemberi luka dan obat."
Rovers melangkah maju untuk keluar dari perbatasan utama. Dia sengaja lewat jalur hutan agar keberadaan Clara Scoleths tetap tersembunyi. Karena itu dia selalu memangkas setiap semak belukar yang mengganggu.
Sambil memegang tali kekang kuda dia juga rutin memeriksa keadaan Clara walau dengan lirikan saja.
Clara pun mengikutinya dari belakang. Dia sudah tidak terlalu merasa kesal dengan orang di depannya sehingga membiarkan wajahnya disinari cahaya rembulan secara langsung, tanpa terhalang jubah apapun.
"Apa maksudnya itu?" Wajah Clara jadi bingung setelah ucapan Rovers barusan.
"Apa kau tahu istilah 'membunuh satu orang dan menyelematkan satu orang lainnya'?"
"Huh? Maaf, tapi saya baru mendengar istilah itu dari anda."
"Haha, Vester yang menciptakan istilah itu. Aku tak paham mengapa dia membunuh dan menyembuhkan di saat bersamaan tapi... kemampuan berpedang dan mengendap - endap miliknya tak buruk juga. Aku menjadikannya pengawal pribadi karena hal itu."
"Apa anda tak bisa menjaga diri sendiri?"
"Meskipun kalah jumlah bukan berarti kalah dalam pertarungan, tapi dua orang lebih baik dari pada satu."
Ah, aku paham. Dia mungkin akan membawa si Vester ini ketika misi penyelamatan, sementara untuk misi pembunuhan itu akan menjadi tugas individu.
Clara menatap punggung Rovers dalam - dalam.
"Sepertinya anda begitu menghargai satu nyawa." Celetuk Clara.
"...Hellen juga pernah mengatakan hal yang sama. Apakah aku memang orang yang terlalu toleran? Aku tak mau menjadi pemimpin yang naif di masa depan."
"Aku tahu."
Suasana hening kemudian. Rovers sesekali menengok ke belakang lagi - lagi untuk memastikan Clara aman - aman saja.
"Maaf ini agak terlambat tapi... sepertinya kau mempunyai hubungan yang baik dengan Hellen."
"Huh?"
"Dulu, kau ingat? Kau menyebut Nona Hellen, namun sekarang hanya Hellen saja. Nampaknya sesuatu terjadi setelah aku menginap malam itu."
"Ah iya."
Clara tersenyum lembut, dan karena fisiknya itu. Dia benar - benar sangat serasi dengan keindahan malam. Latar belakang bulan lebih cocok untuknya, berbeda dengan Hellen yang senyumannya menyerupai matahari pagi, begitu hangat.
Rovers tertegun sesaat karenanya. Dia sulit melepaskan pandangan dari Clara, akan tetapi dia masihlah dalam batas wajarnya dan sadar bahwa gadis itu adalah asing baginya, sehingga dia segera mengalihkan pandangannya pada semak - semak.
Itu adalah kesan yang 'indah' setelah mereka sempat berkonflik sebelumnya.
"Aku selalu bertemu denganmu di malam hari. Entah itu saat pesta, setelah festival musim gugur, malam ketika aku menginap atau pun sekarang. Aku tidak tahu bagaimana kesanmu jika kita bertemu di siang hari. Akan tetapi, aku berfikir jika kau dan malam tidak bisa dipisahkan. Kalian sangatlah cocok."
Ini akan berbahaya jika Hellen melihatnya. Mengapa dia perlu bertingkah sama terhadap setiap wanitaー
"Kalau begitu, ayo cepat berjalan sebelum fajar menyingsing. Kalau kita tidak melewati perbatasan utama sesegera mungkin itu akan gawat untuk kita. Kau juga, jangan lepaskan genggamanmu pada pedang itu."
Tidak. Dia tidak memperlakukan setiap wanita sama, apalagi gadis bangsawan. Dia akan secara tidak langsung membuat jarak seperti ini ketika wanita itu mempunyai ketertarikan dengannya.
__ADS_1
Dia ini sangat menghindari adanya poligami rupanya. Ah, ini agak mengingatkanku pada Kerajaan Agapanthus.
Yah, setidaknya dia tidak selingkuh di belakang Hellen. Kalau iya, aku akan menebas lehernya sekali sebagai pembalasan dendam. Paling parah mungkin dia hanya mati...
"Apakah orang aneh itu tidak akan mengikuti kita?" Tanya Clara, di tengah - tengah perjalanan.
"Siapa maksudmu? Raģe Cheltics? Kemungkinan besar iya."
"Bagaimana keadaan Duke Wayne, ya?"
Meski Clara bertanya dengan berbisik, Rovers tetap bisa mendengarnya. Bagaimanapun juga seorang pendekar haruslah mempertajam kelima indera mereka.
"Itu tidak akan berakhir dengan adanya pertumpahan darah. Karena Raģe Cheltics sendiri adalah satu - satunya orang yang diangkat sebagai murid oleh Duke Wayne."
"Hm? Apakah Tuan Hendrick tidak diajari apapun oleh Duke Wayne?"
SREK
Rovers kembali memotong semak belukar yang menghalangi menggunakan pedangnya.
"Hee... orang itu ya? Dia mempelajari seni pedang dan senjata lainnya secara otodidak. Hasilnya mengagumkan, kemampuannya bahkan sampai menggemparkan Ranunculus ketika itu. Dia tidak diajar melainkan mengajar, singkatnya begitu."
"Tuan Hendrick mengajari seni pedang? Kepada siapa? Saya selalu melihatnya hampir setiap hari di ruang kerja dengan seluruh tumpukan dokumen itu." Cetus Clara.
"Kalian benar - benar akrab ya." Rovers tertawa kecil. "Sebenarnya dulu dia mengajari pedang untuk anak dari Baron Llamante dan adik - adik Raģe Cheltics."
"Lalu? Mengapa Tuan Hendrick berhenti?"
"Bukankah kau sudah tahu jawabannya?" Dengan bingung Rovers melemparkan pertanyaan lainnya pada Clara.
"Huh?"
"Yah, tentu saja karena dia adalah penerus dari keluarga Wayne. Dia akan menjadi Duke ketika Duke Wayne melepaskan jabatannya. Mungkin sekarang dia sedang dalam masa pelatihannya, kau pasti sadar kalau saat ini dia punya hubungan yang buruk dengan Duke Wayne."
Hm, benar juga. Hendrick memang tak mau mengemban tugas seperti itu bukan...?
"Ouh..."
Setelah berjalan sekian lama, mereka menyadari bahwa tempat di depan mereka ini tampaknya sudah di luar kawasan Ranunculus.
SREK
Semak - semak di sekitar tiba - tiba bergerak dengan kencang. Padahal malam ini angin berhembus sangat pelan. Rovers segera mengambil sikap siaga dan berdiri di depan Clara sebagai bentuk perlindungan untuk gadis muda itu.
"Berdirilah di belakangku." Perintah Rovers.
Clara mengangguk saja, karena sekarang dia dan Rovers berada dalam bahaya, bukan waktunya meninggikan ego sendiri.
Seseorang keluar dari semak - semak tersebut. Semakin dekat dia berjalan, sosoknya yang kabur semakin jelas. Dia memakai pakaian yang sudah kotor oleh tanah.
Apakah Raģe Cheltics itu berhasil mengejar kami? Mustahil sekali! Padahal Rovers mengendarai kuda sementara dia tidak. Apa kami berjalan terlalu lambat? Tidak tunggu dulu! Pakaiannya kotor karena tanah, bukankah Raģe Cheltics tak menyentuh tanah sedikitpun selama sebelum kedatangan Rovers?
Namun sekitar lima meter dari jarak Clara dan Rovers berdiri. Orang itu menghentikan langkah kakinya. Membuka mulutnya dan mengeluarkan bisikan pelan.
"Nona."
TBC
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~