The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 100 - Diskusi Kematian


__ADS_3

SRET


Count Cheltics melirik Frederick yang siap melepaskan anak panahnya. Walaupun sekedar pengecoh, tapi mungkin Frederick akan mengenai salah satu prajurit di perbatasan supaya mempermudah sekutu masuk ke Ranunculus.


"Padahal mereka hanya bertiga. Tapi kau sudah langsung menyulut perang. Pantas saja Willem membencimu." Kata Count Cheltics sinis. "Masalah Eleanor pun, Hendrick sudah tahu 'kan? Bagaimana dengan Hellen?"


Frederick yang fokus malah merasa terganggu dengan ocehan yang tidak seharusnya dibicarakan sekarang ini. "Hendrick pasti sudah tahu. Kalau Hellen... entahlah, aku tak yakin."


"Heh! Tapi dia tahu jika kau adalah akar dari semua masalah yang ada."


"Hey, Frederick bodoh." Panggil Count Cheltics. Tidak ada nada ejekan disana, hanya ekspresi serius. "Aku tahu bahwa saat pertemuan di pengadilan waktu itu, kau ingin memberitahu sesuatu."


DEG


Iris mata Frederick melebar. Pertanyaan yang sama ditanyakan oleh orang yang berbeda. Ia fikir jika hanya Raja Ranunculus yang menyadari itu. Namun si rival masa lalunya ini juga tahu banyak hal, terlalu banyak.


Frederick menghela napasnya, menarik kembali anak panah yang sempat melonggar. Benar apa yang dipikirkannya, sekarang bukanlah saatnya untuk dia dan Count Cheltics bergosip, mereka ini sedang dalam krisis peperangan.


"Huft... sebenarnya aku berniat memperkenalkan gadis itu kepada kalian semua para bangsawan." Jawab Frederick, terdengar nada pasrah dari mulutnya. Dia tahu kalau Count Cheltics lebih susah dibohongi daripada Raja Ranunculus.


"Gadis itu?" Count Cheltics mengerutkan keningnya.


"Ya, gadis dalam rumor."


"Eh?"


SRET STAB!


Frederick melepaskan tembakannya pada salah satu prajurit. Sontak saja hal itu menjadi pemicu para pasukan bantuan Vinca meningkatkan kewaspadaan mereka. Prajurit di sekitar si korban mulai memegang pedang mereka dan mencari tahu asal dari anak panah tersebut.


"Kenapa?" Tanya Count Cheltics.


"Itu karena dia adalah senjata yang dibanggakan Freesia. Aku berniat membawanya ke kubu Ranunculus. Namun aku masih ragu. Aku lengah dan mendadak tersebar rumor seperti itu."


"Maksudmu rumor itu isinya cuma omong kosong?"


"Benar." Frederick mengeluarkan pedangnya, menghunusnya pada udara kosong. Bersiap menyerang pasukan pertahanan Vinca. "Pelaku pembunuhan Lraight yang sebenarnya adalah Raja Willem."


Frederick menembus kesunyian malam, berlari menuju pasukan Vinca yang bersiap atas serangannya. Mungkin mereka sudah diberitahu bahwa tua bangka yang mereka lawan adalah Master Pedang dari Ranunculus.


Tsk. Pasti si Willem itu. Ipar macam apa dia!


Count Cheltics yang sudah bersiap dengan pedang di tangannya mendadak terdiam. Perkataan Frederick sebelum dia terjun ke medan perang masih terngiang dalam kepalanya.


Count Cheltics menatap tajam Frederick.


"Jadi, Raja Ranunculus tewas di Freesia? ...Cerita macam apa di balik ini semua?"


...❀...


"Mereka tampak rusuh..."


Clara memicingkan matanya, melalui semak belukar yang menjadi tempat persembunyiannya Clara dapat melihat pasukan di perbatasan yang sedang melawan sesuatu. Mereka tampak tidak teratur. Ini membuat Clara berfikir mereka dapat melewati perbatasan dengan mudah.


"Ada yang menyerang mereka... dari dalam." Bisik Rovers, tatapannya tak sengaja tertuju pada Duke Wayne.


"Hah... itu pasti si tua itu dengan rivalnya."

__ADS_1


"Rival?" Clara bertanya - tanya. Siapa pula yang menjadi rival dari si tua bangka menyebalkan itu. Pasti orang yang sama menyebalkannya juga.


"Count Cheltics." Jawab Rovers setengah tersenyum. Dia menoleh lagi pada Duke Wayne yang fokus mencari sosok pria tua itu. "Mereka tahu kita akan datang dan sengaja memberikan celah. Mari kita terobos saja."


"Bukan mereka. Hanya pak tua itu saja."


Clara meraba kesekitar pinggangnya, namun tak ada apapun disana. Hanya kain dari gaunnya saja. Merasa kehilangan sesuatu, Clara mematung, meratapi nasib sialnya yang belum berhenti bahkan ketika perang sudah di depan mata.


Menyadari diamnya Clara, Duke Wayne menatap gadis itu. "Kenapa? Kau membuat kesalahan apa lagi? Atau kau ceroboh lagi?"


Dengan wajah yang nyaris menangis, Clara menengok ke belakangnya. Meminta bantuan kepada si lidah tajam, Clara enggan kalau harus berbincang lama - lama dengan si muka dua.


"Sepertinya pedang saya tertinggal."


Duke Wayne berkedut kesal, di saat genting seperti ini ada saja yang dilakukan oleh si aneh ini. Walau kesal, namun Duke Wayne tahu kemampuan bertarung Clara dibutuhkan. Jadi Duke Wayne mengambil pedang cadangan miliknya yang digantung di pelana kuda.


"Kau meninggalkannya di Agapanthus?"


"Bukan. Sepertinya antara Vinca dan Hortensia. Entahlah, Tuan Hendrick. Saya melupakannya."


Duke Wayne mendengus. "Kau melupakan terlalu banyak hal. Sial sekali, pak tua itu malah terus bungkam. Memangnya dia pikir siapa dia? Sebatas seonggok pria tua di kediaman Wayne saja bangga."


Clara mengabaikan cibiran Duke Wayne. Setelah bertemu dengan Clara sepertinya kemampuan menyindirnya sudah pulih kembali. Bukan berita bagus tapi Clara akan tetap bersyukur untuknya.


DEG


Ugh...!


BRUK


Mendadak Clara mencengkeram bagian dadanya dan jatuh tersungkur di permukaan tanah. Duke Wayne bergerak cepat dan membantunya menahan tubuh Clara yang terhuyung.


Namun bukannya ikut membantu, Rovers malah diam mematung. Terpaku pada sesuatu yang terus mengalir keluar dari dalam tubuh Clara. Kelihatannya memang transparan, tetapi Rovers tetap bisa mengetahui apa yang keluar. Itu berwarna hitam dan auranya begitu pekat membuat dada sesak.


"Sihir hitam...?" Lirih Rovers.


Duke Wayne tersentak, melihat kearah yang sama dengan Rovers. Saat itulah Duke Wayne bisa melihat aura hitam yang terus menerus mengalir dan berkumpul di sekitar Clara. Tanpa sadar Duke Wayne menjauh dari Clara beberapa langkah.


Rasanya tak kuasa untuk dekat - dekat dengan sihir hitam itu.


"Ini benar - benar sihir hitam 'kan?" Tanya Rovers dengan wajah tercengang ketika kabut hitam di sekitar Clara mulai meninggi dan bertambah tebal.


"...Bocor?"


Rovers menoleh pada Duke Wayne. Pria itu mengerutkan keningnya dan terus memandang kearah yang sama, Clara dengan aliran sihir hitam yang mengelilinginya.


"Jadi dia adalah wadah selanjutnya." Duke Wayne berbisik tak percaya.


Rovers mendadak linglung, kepalanya diterpa rasa sakit yang menusuk. Rovers baru mengetahui jika Clara memiliki sihir hitam sebanyak ini dalam tubuhnya.


Ia tahu bahwa semua orang mempunyai sihir hitam yang tersembunyi dalam diri mereka. Tapi semua itu memiliki batasan. Rovers tentunya terkejut dengan banyaknya sihir hitam dalam diri Clara.


Apa gadis ini menyimpan dendam atau sakit hati mendalam?


Bibir Duke Wayne bergetar tak karuan. Dia mencengkeram erat gagang pedangnya. Iris matanya berkaca - kaca. Ada yang salah disini.


"Jadi, gadis yang pernah kau tanyakan padaku adalah dirimu sendiri...?"

__ADS_1


...❀...


Di jalanan penuh kekosongan. Seseorang tengah menaiki kuda, walau saat ini dia menghentikan laju kudanya karena sesuatu hal.


Mata ruby nya memandang sebuah pedang dengan ukiran mawar yang begitu indah. Seharusnya pemiliknya terus membawanya agar sihir hitam yang diserapnya tanpa sengaja bisa disimpan di pedang ini.


Kalau dia tidak membawanya. Sihir hitam itu akan terserap ke dalam tubuhnya. Jika hal itu terjadi dalam waktu yang lama, tubuhnya tak akan sanggup terus menimbun sihir yang terserap. Dan akhirnya akan meledak.


Bukan tubuh si penyerap, melainkan sihir hitam dalam tubuhnya. Ketika tidak stabil lagi, sihir tersebut akan pecah dan menjadi sesuatu yang cukup tidak bisa ditebak. Semua itu bergantung pada si penyerap.


"Kenapa aku belum mengembalikannya?"


...❀...


"Oy tua bangka. Lihatlah itu...!"


Count Cheltics meringis pelan saat ada sebilah pisau yang mengenai bahunya. Pisau itu melesat dengan cepat, beruntung meleset dan hanya menggoresnya. Tapi ketika melihat sesuatu seperti kabut berwarna hitam membuatnya sedikit lengah dan memberitahu Frederick mengenai apa yang dilihatnya.


"Aku sedang sibuk--!"


ZRRT


Frederick yang ingin protes mendadak terdiam. Saat dirinya dan Count Cheltics diselimuti oleh kabut hitam yang membentuk kubah. Frederick tercengang, dia tahu terbuat dari apa kubah ini.


"Sihir hitam?" Celetuk Count Cheltics.


Beruntungnya yang terjebak dalam kubah sihir hitam ini hanya Frederick dan Count Cheltics. Frederick akan muak kalau dia harus terjebak dengan pasukan musuh juga. Tapi masalah utamanya adalah bagaimana cara mereka bisa keluar dari kubah hitam ini.


Saat Frederick hendak menyentuh dinding kubah. Betapa terkejutnya ia ketika dinding hitam tersebut menipis dan semakin samar. Memperlihatkan pemandangan diluar kubah.


Frederick makin terdiam, Count Cheltics juga sedang dalam situasi yang tidak jauh berbeda dengan mantan Duke itu. Hingga suara ketus yang cenderung terdengar seperti sindiran menyadarkan mereka.


"Hey pak tua, kau nampak seperti orang bodoh sekarang ini."


"Huh?"


Frederick mengernyit saat apa yang ada di depannya membuatnya ingin sekali menangis terharu namun di sisi lain ingin menendang si pemilik suara ketus itu.


Seorang pria bersurai hazel tengah merengkuh gadis muda yang kalau Frederick tak salah ingat sudah menginjak usia 18 tahun di musim dingin yang sudah berlalu. Mereka tampak terduduk karena si gadis yang kesakitan, napasnya juga terengah - engah dengan keringat dingin terus mengalir di dahinya.


Di sisi mereka pula berdiri pria muda yang paling dihormati di Ranunculus ini setelah Raja dan Permaisuri.


Frederick mengabaikan keberadaan orang penting itu. Fokusnya tertuju pada gadis muda yang tengah mencengkeram dadanya menahan rasa sakit yang tak kunjung menghilang.


Walaupun nampak kesakitan. Gadis itu malah tersenyum penuh kemenangan pada Frederick, wajahnya yang selalu konyol terlihat angkuh sekarang.


"Anda berhutang nyawa kepada saya."


Frederick balik tersenyum sinis padanya.


"Itu tidak terhitung karena aku tidak sedang dalam situasi hidup dan mati. Apa kau buta hingga tak melihat bahwa aku tidak terpojokkan oleh musuh?"


Wajah gadis muda itu berkedut kesal. Sudah ditolong tapi masih saja besar kepala. Tidak mau mengucapkan sepatah katapun yang condong kearah terima kasih. Mulutnya memang lebih terlatih untuk menyindir orang daripada memberinya ucapan baik - baik.


Dasar tidak tahu terima kasih!


TBC

__ADS_1


Wkwk, baru masuk ke konflik utama. Jangan sampai lupa untuk meletakkan like dan komen, oke?


So, see you in the next chapter~


__ADS_2