The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 98 - Pihak Netral


__ADS_3

"Nona..."


Karena tadi Clara hampir saja terjatuh, Jean membawanya duduk bersandar ke pohon. Kaisar pun sudah turun dari kereta kuda, memandang kondisi menyedihkan Clara.


"Jean. Pergilah kembali ke Agapanthus. Bawa George bersamamu menuju Hortensia. Terserah pada Edmond mau kemana dia, konflik ini tidak ada hubungannya dengan Hortensia." Titah Kaisar.


Jean sedikit terkejut dengan keputusan Kaisar, namun ia hanya bisa menurutinya saja. Jean sedikit tergambarkan apa yang akan dilakukan Kaisar ketika bertemu dengan George di situasi ini.


Jean mengambil salah satu kuda yang dipakai untuk menarik kereta. Dan melaju pergi meninggalkan keduanya. Clara yang sudah lemas tidak bisa berkomentar apapun.


"Yang Mulia, hamba--"


"Aku tahu ada sesuatu yang mau kau sampaikan kepadaku. Dan ini adalah saat yang tepat bagimu. Tapi apa benar itu adalah keputusan terakhirmu? Pikirkan dahulu matang - matang jika kau ingin melakukannya."


Kalimat Clara digantung begitu saja karena Kaisar yang terlanjur memotongnya. Clara cukup terkejut saat mengetahui Kaisar yang sadar akan dirinya. Clara memang berniat menyampaikan keputusannya kepada Kaisar, apa yang ia pilih untuk masa depannya.


"Hamba sudah memikirkannya matang - matang, sudah sejak lama. Dan ini adalah hasilnya." Lirih Clara, tubuhnya masih lemas untuk digerakkan.


"Apa pilihanmu, Clara?"


"Hamba akan meneruskan tugas Lyserith. Karena kata 'orang itu', hamba sudah berjanji untuk melakukannya walaupun harus bereinkarnasi berapa kali pun."


Kaisar mengerutkan keningnya, "Orang itu?"


Clara mengangguk lemah. "Orang yang saat ini menghuni dunia mimpi yang telah Yang Mulia ciptakan."


Langsung saja Kaisar membuang pandangannya ke sisi lain. Dia tahu betul siapa yang dibicarakan Clara. Gadis ini nampaknya mengigau sampai - sampai berani membawa topik sensitif, Lavoisiér.


Kedua mata ruby Kaisar sempat mengkilat setelah mendengar dunia mimpinya. Rupanya Clara sudah pernah kesana. Orang itu memang berani. Padahal Kaisar sendiri belum pernah kesana. Tapi dia tak ada niatan untuk menghancurkan dunia mimpi itu hingga saat ini.


"Jadi, apa yang mau kau lakukan pertama kali? Setelah memutuskan untuk menjadi pengemban tugas yang sama dengannya."


"Hamba mau ke Agapanthus dan menjemput Duke Wayne dan Pangeran Mahkota Ranunculus. Sebab sepertinya mereka amat dibutuhkan oleh Ranunculus sekarang ini. Tidak mungkin Raģe Cheltics, dia sendiri belum boleh kembali."


"Tapi dengan situasi sekarang, Raģe Cheltics akan memaksa kembali. Masalahnya adalah pertahanan di sekeliling Ranunculus menutup akses jalan masuk dan keluar."


"Yang Mulia, bisa antarkan hamba kembali ke Agapanthus?"


"Tidak masalah."


Kaisar menghampiri kuda yang satunya lagi dan melepaskan tali yang mengikatnya dengan kereta. Kaisar juga menaikkan Clara keatas kuda dan duduk di depannya. Kalau dia yang masih lemas ini ditaruh di belakang, sudah dipastikan akan jatuh dari kuda.


"Tahu gitu, aku akan memintamu ikut bersama Jean."

__ADS_1


Kaisar menggerutu, beberapa saat yang lalu Kaisar mengirimkan Jean untuk menjemput George dan menempatkannya di wilayah netral sementara waktu, yaitu Hortensia. Kalau Clara juga ingin kesana, apa boleh buat. Kaisar harus kerja dua kali.


Karena tubuhnya yang masih lemas, Kaisar menempatkan Clara di depannya. Seperti saat mereka yang akan menuju Freesia tempo hari. Kali ini keadaan Clara begitu menyedihkan, dan dia malah mengambil keputusan yang besar dalam hidupnya.


"Kenapa mendadak begini?"


Clara yang awalnya berniat memejamkan matanya dan tidur selama perjalanan. Namun merasa bahwa Kaisar tidak mau sekedar menjadi sopir. Clara mengerjapkan matanya beberapa kali dan menatap asap hitam yang masih mengepul memenuhi langit Agapanthus.


"Sebenarnya hamba sudah mendapatkan jawaban ketika di Agapanthus. Karena hamba dan Raģe Cheltics mempunyai kondisi yang tak jauh berbeda. Ketika Raģe Cheltics membuat keputusan besar dalam hidupnya. Hamba jadi terpikirkan lagi mengenai Lyserith Scoleths."


Kaisar meletakkan dagunya di puncak kepala Clara. Merasa sedikit tidak rela dengan keputusan Clara yang menurutnya tergesa - gesa. Kaisar ingat dengan pembicaraannya bersama Edmond beberapa hari lalu.


Saat itu Kaisar kesal karena Edmond terus mendesaknya. Kaisar juga tidaklah bohong saat menjawab alasannya belum bergerak maju sama sekali. Bukannya tidak mau, hanya saja dia tidak bisa. Keadaan memaksanya memilih jalan ini, jalan yang tidak diinginkannya.


Ia hanya ingin menyelesaikan sesuatu lalu pergi.


"Apakah Yang Mulia tidak bisa membantu hamba?"


Suara serak Clara kembali terdengar, dia tidak menangis hanya saja tenggorokannya terasa kering. Pandangan matanya tetap tertuju pada wilayah Agapanthus yang diserang. Kalau Agapanthus saja separah ini, apalagi Ranunculus yang menjadi musuh utama dari Freesia. Tidak, musuh Raja Willem sendiri ialah Frederick Wayne.


Duke Wayne pastinya akan kewalahan dengan ambisi Raja Willem untuk membunuh ayahnya, walau kesal tapi Duke Wayne tak setega itu dan melemparkan ayahnya ke kandang singa. Ah, padahal mereka ini saudara ipar.


Meski begitu, Tuan Hendrick pasti akan tetap melindunginya bukan? Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi, sudah cukup Avrim. Masuk ke dunia novel ini bukannya beruntung malah buntung! Yah... aku ini antagonis sih...


Clara mengerutkan keningnya. Jawaban aneh macam apa itu? Hortensia itu yang paling kuat dari wilayah manapun di tanah Herbras. Sekalinya mereka turun tangan, musuh akan dibantai habis dan peperangan akan selesai lebih cepat. Dari sisi mana Kaisar bisa menjawab seperti itu? Mungkin sudut pandang mereka berdua memang berbeda.


"Kalau begitu mengapa tidak mengirimkan pasukan untuk menghentikannya?"


Kaisar mendengus, heran dengan isi kepala Clara yang selalu menjangkau ide yang paling mustahil untuk diwujudkan. Lagipula perang ini bukan hanya melibatkan dua wilayah saja. Namun satu Herbras. Hanya saja Hortensia memilih untuk tidak ikut campur.


Setidaknya, sampai situasi yang memang mengharuskan mereka untuk turun tangan.


Tapi karena malas, Kaisar hanya membiarkan Clara mengeluarkan ide - ide absurd yang tak bisa dijadikan kenyataan. Biarkan gadis ini lebih banyak berfantasi, setelah itu menghadapi kenyataan yang ada.


Kuda yang dinaiki Clara dan Kaisar terus melaju menembus angin terbuka. Tidak ada penduduk yang tinggal di wilayah netral, karena mereka akan terbengkalai jika tidak dinaungi kerajaan atau kekaisaran.


Cukup lama waktu berjalan, dan akhirnya Clara bisa melihat gerbang utama memasuki Agapanthus. Para prajurit yang menjaga agak terkejut saat melihat Kaisar Hortensia kembali lagi ke Agapanthus. Mereka buru - buru membukakan gerbang. Clara yang melihat itu bersiul kagum, kekuasaan Kaisar Hortensia memang tak main - main.


Aku jadi merasa hebat karena selama ini tak pernah menundukkan kepalaku di hadapan Yang Mulia. Kalau seperti ini, apa mungkin kepalaku akan digantung di gerbang perbatasan Hortensia?


Clara langsung mengusir pemikiran semacam itu. Dia jadi bingung sendiri, kemana dirinya yang tadi hampir pingsan karena melihat penyerangan yang ditujukan kepada Agapanthus?


Mendekati gerbang istana Agapanthus, Clara dan Kaisar bisa melihat ada seorang pria dengan surai hazelnya memegang pengekang kuda berjalan beriringan dengan seorang gadis yang garis wajahnya serupa dengannya. Lalu di belakang mereka ada pria muda lainnya dengan surai emas dan mata sebiru samudera.

__ADS_1


Mereka bertiga begitu dikenali oleh Clara. Di belakang mereka bertiga juga ada remaja 15 tahun dan gadis yang punya panggilan Nona Cinta dari si buaya Vinca.


Tapi disana Clara tidak menemukan keberadaan George dan Edmond. Mungkin George sudah dijemput oleh Jean dan ke Hortensia lewat jalur belakang. Lalu Edmond yang mendadak juga ikut pulang dan akan berpisah di persimpangan, mungkin saja begitu karena Clara tidak melihat mereka berdua.


Bukan hanya Edmond dan George, Clara juga tak melihat keberadaan Raģe Cheltics. Sepertinya setelah penyerangan di hutan selatan Agapanthus, Raģe segera menuju kesana untuk memeriksakan keadaan lebih lanjut. Karena Raģe sendiri belum bisa pulang ke Ranunculus. Jadi dia memilih membantu pamannya disini.


"Tuan Hendrick!"


Spontan Clara memanggil nama Duke Wayne yang hendak menaiki kudanya. Tentu saja saat ini perhatian ada pada Clara. Hellen, Rovers, dan James terkejut saat Clara kembali bersama Kaisar yang mengendarai kuda.


Clara sangat berani.


Saat itu hanya ini saja yang ada dipikiran keempat orang yang berdiri di gerbang istana. Ini pertama kalinya mereka melihat seorang Kaisar yang berani menerima permintaan dari gadis kecil. Mungkin mereka harus menjaga suasana hati dari Clara. Karena salah sedikit bisa - bisa mengadu pada Kaisar.


Clara dibantu turun oleh Kaisar, lagi - lagi orang disana hanya ternganga. Sebenarnya seberapa besar pengaruh Clara bagi Hortensia? Tidak ada yang tahu.


"Allen." Panggil Clara dengan suara pelan, dia langsung menghampiri Hellen dan kakaknya diikuti Kaisar di belakangnya.


Rovers memberikan penghormatannya kepada Kaisar. Dia masih memiliki kesadaran untuk bertahan hidup. Berbeda dari Clara yang insting bertahan hidupnya sudah hilang.


Melihat kedatangan Clara, Hellen yang sudah berhentu menangis malah lagi - lagi tak bisa menahan air mata yang merembes. Dia memeluk Clara dan menangis sambil menyembunyikan wajahnya diantara lekukan leher Clara.


"Rara... hiks..."


Clara mengusap punggung Hellen yang bergetar. "Semuanya pasti baik - baik saja. Allen harus bisa bertahan untuk semua orang."


Sebagai protagonis wanita, kau harus bisa melakukannya. Walaupun dalam epilog cerita, aku malah membunuhmu.


Dari balik pelukan Hellen. Clara memandang keempat pria yang juga balik menatapnya. Tiga diantara mereka adalah protagonis pria. Sedang yang satunya hanya sekedar figuran, bahkan nyaris seperti cameo karena kemunculannya yang sangat sangat jarang.


Keadaan sebelum perang dalam novel sangat berbeda dengan yang ada di hadapan Clara sekarang. Seharusnya dia masih berada dalam sangkar emas lalu keluar sebagai antagonis dengan memukau. Membunuh satu demi satu protagonis pria kecuali Rovers dan Kaisar.


Sampai sekarang Clara merasa cukup bingung. Tapi dalam beberapa detik setelah ledakan dan insiden kebakaran, tujuan hidup Clara kini terlihat lebih jelas.


Ikigai-ku semakin terlihat. Sudah kuputuskan.


Dengan memilih jalan yang sama dengan Lyserith. Entah yang dia dapatkan happy ending atau bad ending. Setidaknya Clara sudah punya tujuan hidupnya, apa yang ingin dia lakukan.


Aku akan memenuhi janji yang Lyserith buat.


TBC


Jangan lupa letakkan like dan komen, atau mampir ke ceritaku yang lainnya.

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2