
Clara saat ini sedang fokus memotong sayur - sayuran yang akan digunakan untuk bahan makanan siang ini. Jean dan Nero yang baru pertama kalinya melihat Clara masak terkagum - kagum pada kemampuannya.
"Ini sangatlah mudah jika memotongnya seperti ini Nona."
Nero mengambil pisau lainnya dan memperagakan cara yang benar. Kemudian dengan cepat Clara mempelajarinya dan kembali memotong semua sayuran itu.
"Apakah Nona sedang banyak pikiran?"
"Hng? Yah... tidak juga sih..."
"Yang mana yang benar?"
"Aku juga tidak tahu, tapi saat ini aku tidak mau berpikiran terlalu jauh. Lebih baik menikmati hidupku saja dahulu. Karena hidup itu di jalankan bukan dipikirkan."
Mereka kembali melanjutkan memasak, Jean juga diam - diam memperhatikan bagaimana Clara saat ini. Yang ia dengar dari Kaisar, Clara sendiri adalah senjata milik Freesia namun dicuri begitu saja oleh Duke Wayne.
Clara berakhir tinggal bersama dengan keluarga Wayne. Dan karena rumor buruk tentangnya beredar di Ranunculus yang juga mengancam hidupnya. Sekarang disinilah Clara, tinggal di Hortensia bersama Kaisar, dirinya, Nero, beberapa pelayan dan prajurit.
"Nona."
"Ada apa, Jean?"
"Menurut Nona, lebih menyenangkan tinggal dimana? Kediaman Wayne atau istana kekaisaran Hortensia?"
Clara terdiam sejenak, "Menurutku kedua - duanya terasa sangat menyenangkan. Tapi tentu saja ada kelebihan dan kekurangannya di setiap tempat. Walaupun begitu, dimana pun aku berada asalkan tempat itu bisa membuat hatiku damai. Maka aku akan memilihnya..."
"Tempat seperti itu sulit untuk dicari loh, Nona."
"Aku tahu."
Kalau dipikir - pikir, setelah insiden pembakaran buku aku belum mampir ke perpustakaan lagi. Mungkin setelah aku dan Jean pulang dari pasar malam aku akan kesana.
"Jean, kapan musim gugur selesai?"
"Sekitar 15 hari dari sekarang Nona. Dan di minggu pertama musim dingin setahu saya akan ada pergantian jabatan Duke di Ranunculus."
"Eh? Musim dingin?!"
"Mungkinkah Nona tidak mendapatkan berita apapun?" Nero bertanya heran.
Clara menggeleng samar.
"Ah... begitu rupanya. Mari makan siang dan buat kue kering untuk camilan saat di pasar malam nanti, Nona." Ajak Jean.
"Baiklah!"
...❀...
Malam harinya, Clara yang membawa camilan dan Jean pergi ke pasar malam. Sedangkan Nero akan berdiam diri di istana saja. Lagipula sejak awal istana kekaisaran Hortensia tidak diisi oleh banyak orang sehingga rasanya selalu sepi.
Karena ini malam, Clara berfikir tidak perlu menggunakan kain penutup atau sejenisnya. Terlebih lagi ini adalah Hortensia bukannya Ranunculus. Di wilayah ini dia bukanlah buronan.
__ADS_1
Dengan berbekal kue kering buatannya dan Nero. Clara dan Jean berkeliling pasar malam. Daripada pasar malam, Clara pikir ini lebih mirip seperti festival.
Karena pasar malam di dunianya dan di dunia ini sangatlah berbeda. Disini hanya ada teater, penjual makanan maupun yang bukan makanan.
"Aku sudah membawa banyak cemilan. Haruskah kita menonton teater saja, Jean?"
"Baiklah, sesuai permintaan Nona."
Clara melirik pada Jean, ini baru beberapa hari dia datang ke Hortensia. Namun dia dan Jean sudah mulai dekat dan semakin akrab. Mungkin karena ketidakhadiran Avrim serta Meiger yang memang telah mengkhususkan Jean melayani semua kebutuhan Clara. Hal ini bisa tercipta.
Satu hal lagi yang masih Clara curigai dari Jean. Jean kemungkinan mempunyai kemampuan yang sama seperti Avrim. Sebab ketika Clara bertanya hal tersebut padanya, Jean terlihat ragu dan seolah sengaja menyembunyikannya.
Tapi biarlah, Jean berhak untuk memiliki privasi.
Clara juga, dia memiliki banyak rahasia dalam dirinya yang bahkan dia sendiri tidak tahu apa saja yang menjadi rahasia dari Clara Scoleths ini.
Ah... aku malas mencari tahu tapi aku juga penasaran.
"Jean." Panggil Clara.
"Ya, Nona?"
"Sejak kapan kau mulai mengabdikan dirimu pada Yang Mulia Kaisar?"
"Hng? Itu... kalau saya tidak salah ingat, itu terjadi saat saya sekitar berumur sepuluh tahun."
"Masih muda sekali! Dan sekarang berapa umurmu?"
"Hee... dan kau masih lajang?"
"Eh? Mm... seperti yang Nona tahu. Saya terlalu fokus pada pengabdian diri saya pada Kaisar Hortensia. Saya tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal semacam itu."
"Tapi kau harus memikirkan hal itu loh, Jean. Apa kau tidak mau membuat sebuah keluarga? Keluargamu sendiri yang terdiri atas kau, istrimu dan anak - anakmu."
"Tidak perlu Nona, disini juga saya merasa seperti sudah berkeluarga dengan mereka semua." Jean berkata lirih.
"Jean, apa alasanmu bisa setia sekali pada Kaisar Hortensia?"
Jean memilih bungkam.
Clara pun berhenti mengomentari Jean, mereka memasuki sebuah tenda yang tidak terlalu besar dengan panggung sebagai sorotan utamanya. Jean lah yang membeli tiket masuknya, tentunya dengan uang saku pemberian Meiger khusus untuk Clara Scoleths.
"Ayo Nona silahkan masuk. Ah, jangan lupa untuk tidak berisik ketika memakan camilannya."
"Oke."
Clara dan Jean mendapatkan kursi penonton di bagian tengah. Karena sorot utama adalah panggung, penerangan selain disana semuanya dimatikan.
Teater pun dimulai.
Dari yang Clara bisa ambil, kisah yang diceritakan adalah mengenai seorang anak yang selalu ditindas oleh orang tuanya namun ternyata memiliki potensi sebagai orang hebat. Bahkan anak itu menguasai sihir hitam yang sebenarnya adalah tabu.
__ADS_1
Karena itulah anak tersebut selalu menyembunyikan sihirnya agar dia tidak berakhir seperti penyihir hitam dalam legenda.
Tapi di suatu hari, kakak dari anak dengan sihir itu mendadak membunuh kedua orang tuanya karena tidak kuat melihat adiknya selalu dipukuli. Dia juga mengakhiri hidupnya setelah membunuh mereka. Si adik yang melihat itu pun berakhir bunuh diri.
Itu menyedihkan sekali kalau benar terjadi dalam kehidupan nyata. Tapi untuk sebuah teater menyajikan cerita seperti ini, bukankah agak ampas...?
Pertunjukkan teater selesai.
"Jean, teater nya sudah selesai. Ayo pergi."
"Ng? Jean?"
Clara menatap heran pada Jean yang tak bergeming ketika ia panggil. Padahal teater sudah selesai dan kebanyakan penonton sudah mulai membubarkan diri dari tempat.
"Jean!" Panggil Clara lebih kencang.
"Huh? Pertunjukannya sudah selesai ternyata! Maaf Nona, saya terlalu terlarut dalam ceritanya."
"Oh... oke..."
Memang hanya sekilas saja, tapi Clara melihat bahwa yang tadi diam saja seperti bukan Jean. Seolah - olah pikirannya melalang buana, tatapan Jean saat itu juga sangatlah kosong.
"Jean, jika kau merasa tak enak badan tidak seharusnya kau ikut. Aku bisa mengajak Nero supaya kau bisa beristirahat." Ucap Clara dengan nada khawatir.
"Tidak kok Nona, saya baik - baik saja. Tadi hanya melamun saja."
"....."
Aku tidak percaya itu. Kau pembohong yang buruk.
Akhirnya, Clara dan Jean keluar dari tenda teater. Clara sudah menghabiskan camilannya saat teater baru memasuki pertengahan cerita. Memang, Clara sangatlah rakus kalau sudah menonton, ia perlu ditemani oleh camilan.
Ini juga sudah agak larut, setelah sampai di istana kekaisaran. Clara segera membasuh diri dan tidur dengan cepat.
Di kamarnya, Jean belum mengantuk sama sekali sehingga dia membaca buku. Hanya saja, meski matanya tertuju pada buku, pikirannya malah teringat pada teater barusan.
Jean meletakkan buku itu di atas mejanya. Dan mulai membaringkan dirinya supaya bisa tetap tidur.
"Jean, apa alasanmu bisa setia sekali pada Kaisar Hortensia?"
"Mengapa Nona mendadak bertanya begitu?"
Jean menatap lengannya, luka lebam yang dahulu sudah hilang entah kenapa bisa kembali lagi dengan cepat. Padahal seharusnya kalau sudah disembuhkan tidak mungkin muncul lagi.
"Saat itu aku berfikir bahwa semuanya sudah berakhir."
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1