The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 122 - Maafkan Aku T'lah Ingkar


__ADS_3

Clara dan James terlihat berjalan keluar dari hutan. Di punggung James, dia menggendong Duke Nielsen yang entah kenapa hingga saat ini kesadarannya belum kembali.


Tentunya Clara dibuat keheranan. Mungkin memang karena sihir hitam. Tapi, jika Duke Nielsen saja keadaannya seperti ini, apakah itu berarti Raja Willem juga dalam keadaan yang sama? Dia masih belum siuman juga.


Rasanya sedikit mustahil. Kalau dia belum siuman, siapa yang menggerakkan pasukan Freesia dan Vinca?


Akibat dari sihir hitam bisa fatal dan mengancam nyawa. Namun sebisa mungkin Clara memisahkan sihir hitam dan tubuh seseorang tanpa membunuhnya. Dan akibat tersebut berbalik padanya, sekarang dia malah kehilangan Claire.


Ada bayaran yang mahal untuk setiap hal.


"James, apa kau merasa berat?"


"Tidak juga. Ini lebih ringan daripada yang biasanya kupikul di Agapanthus. Latihan Kak Raģe lumayan berguna juga bagiku."


Clara hanya menampilkan senyum tipisnya. Terlalu banyak hal yang terjadi malam ini. Sudah berapa kali dia kehilangan, dan itu semua karena ulahnya.


Bagaimana aku bisa menemui Tuan Hendrick dan mengatakan kebenaran pahit ini?


...****...


Pasukan besar Agapanthus bergerak menuju Ranunculus. Mereka dipimpin oleh Raja sendiri dan di sebelahnya ada Raģe. Sejak tadi dirinya sibuk memikirkan apa yang terjadi dengan kabut hitam itu. Sebab sekarang kabut hitam telah hilang sepenuhnya.


Betapa terkejutnya mereka saat melihat seonggok manusia terlempar dari belakang mereka dan terjerembap tepat di depan Raģe.


Pria itu memiliki surai perak, dan Raģe tahu seseorang yang punya ciri fisik semacam itu.


Dengan cepat Raģe turun dari kudanya, Raja sendiri menunggangi kudanya mendekat pada Raģe.


"Dia sekarat?"


Raģe terdiam. Bagaimana mungkin seorang yang mempunyai luka dalam tidak mati, paling tidak ia sudah di ujung kehidupannya. Namun Raģe masih merasakan denyut jantungnya yang berdetak sangat kencang.


"Tuan George?"


George mengerang kesakitan dan terus mencengkeram bagian lukanya yang ternganga. Akan berbahaya jika tidak dibalut secepatnya, dia akan kehilangan darah semakin banyak.


"Bukankah dia yang pernah ke Agapanthus bersama Pewaris Vinca?" Tanya Raja.


"Yah. Tolong panggilkan tabib dan obati lukanya! Aku akan menghentikan pendarahan pada lukanya terlebih dahulu."


Raģe merobek jubahnya dan melilitkannya pada luka George, upaya untuk menghentikan pendarahan berlanjut. Jika lukanya dibiarkan, pria ini akan mati kehabisan darah.


Seorang tabib berlari menuju Raģe dengan tergopoh - gopoh. Dia kemudian duduk di samping George, di sisi berseberangan dengan Raģe. Sementara Raja Agapanthus masih memikirkan kronologi yang terjadi. Pasalnya, manusia tidak mungkin terbang, kemungkinan besar adalah seseorang telah melemparnya.


"Wah, rival yang saling tolong menolong membuatku terharu."


Suara seseorang terdengar memenuhi langit. Entah sejak kapan, semua orang yang berada disana termasuk Raja Agapanthus dan Raģe mulai memegang senjata mereka.


"Hehe~ Ternyata anak ini lumayan juga bisa menghentikanku selama beberapa jam. Dan sekarang dia berhasil kutumbangkan, memang benar 'kunci sihir hitam' adalah yang paling merepotkan."


Seorang pria dengan jubah hitam berdiri tepat di belakang pasukan. Kedua mata ruby miliknya berkilat tajam. Sejak awal karena dia bukanlah pemilik asli sihir hitam, makanya sulit baginya untuk menaklukan orang terpilih yang satu ini. Padahal George belum lama ini menjadi senjata seutuhnya.


Raja Agapanthus melebarkan matanya, sesuatu yang dilihatnya saat ini begitu mengejutkan. Ia pikir pernah melihat siluet wajahnya diantara para terlarang, alias para kriminal dengan label Lavoisiér.


"Crater de'Lavoisiér... kau masih hidup?" Raja Agapanthus berdesis sengit.


Pria itu, Crater menatap menelisik pria tua yang menjadi pemimpin Agapanthus. Crater seketika tertawa kencang saat ia mengetahui identitas pria tersebut.


"Aku mengenalmu! Kau mewarisi fisik yang tidak jauh berbeda dengan Raja Agapanthus pertama. Apakah kalian semua menceritakan dosa Lavoisiér secara turun temurun?" Crater tertawa ringkih sambil menunjuk Raja Agapanthus.


Pasukan yang berada di garis depan tidak membiarkan Crater untuk lewat. Sebab ada Raja Agapanthus dan Raģe yang harus mereka lindungi.

__ADS_1


"Padahal keempat wilayah selain kalian memilih untuk menutup rapat - rapat sejarah itu. Lavoisiér terlalu kotor untuk diucapkan." Crater kemudian menunjukkan wajah jijiknya.


"Yah, aku sendiri tidak tahu apa dosamu yang sebenarnya. Tapi, aku merasa ada yang janggal dari cerita yang kudengar."


Memang tepat sasaran apa yang dikatakan Crater. Cerita tentang dosa - dosa para Lavoisiér diceritakan secara turun temurun dalam Istana Kerajaan. Sementara para bangsawan biasa tidak pernah mengetahuinya. Sebab sudah ada perjanjian para pihak tua untuk menutup rapat - rapat masa lalu kelam tersebut.


"Kau kembali untuk membunuh semua orang atau mengambil kembali milikmu? Asal kau tahu saja, orang - orang yang menjadi saksi atas eksekusimu telah tutup usia sejak lama."


Crater mengulas sebuah senyum, "Karena itulah aku kembali untuk opsi kedua. Disini aku datang untuknya."


"Nya?" Raja Agapanthus mengerutkan keningnya penasaran.


Crater hanya bisa tersenyum miris.


Gadis yang ia cintai ternyata sudah bersuami. Anehnya dia bisa menjadi anggota kekaisaran padahal latar belakangnya adalah seorang Lavoisiér. Dan ketika gadis itu tidak bisa mengendalikan sihir miliknya, Crater dengan bodoh mengorbankan dirinya meski dia tahu bahwa gadis itu takkan bersamanya.


Tapi berkat kakaknya, Grein memberitahukan secara tidak langsung kepadanya bahwa akhir dari gadis itu adalah dibunuh setelah berhasil melahirkan bayinya dengan sehat. Sayangnya, hingga kini sihir hitam miliknya malah tersebar dan terus berkembang. Tidak ikut hilang bersama nyawa gadis itu.


"Kalian para manusia memang makhluk bodoh dan serakah!"


"Kau juga manusia, kau lupa?" Raja mendelik kesal.


"Heh! Kalian lupa jika Lavoisiér sendiri sudah tidak dianggap golongan manusia? Apa aku harus menceritakan cerita lama itu pada kalian disini?"


"Kami tak punya banyak waktu."


"Aku bisa menyebarkan kebencian pada pasukanmu dan mengendalikan pikiran mereka untuk membunuhmu." Tantang Crater sengit.


Mungkin ini sama dengan yang dilakukannya pada pasukan Vinca dan Freesia. Mereka tidak bergerak berdasarkan perintah Willem yang saat ini bahkan belum siuman, melainkan Crater menanamkan sihir hitam dalam pikiran mereka dan terjadilah perang di Ranunculus.


Raja Agapanthus sendiri berusaha mengulur waktu agar tabib bisa menyembuhkan George dan dia akan memerintahkan Raģe untuk maju.


"Kau sudah bisa bangun? Kalau belum berbaring saja." Saran Raģe.


Sedangkan George yang merasa sudah lebih baik mengambil posisi duduk. Walaupun masih terasa sakit dan perih dimana dia memiliki lubang menganga.


Raģe berdiri dan berusaha melihat Crater de'Lavoisiér yang dihadapi pamannya.


"Asing dan familiar di saat bersamaan. Dan... aura miliknya telah dicampur adukkan dengan sesuatu atau seseorang?" Telisik Raģe.


Kesan pertamanya melihat Crater secara langsung. Pria itu memiliki aura dominan yang cukup membekas di lidahnya. Itu pedas, pahit dan begitu menyengat.


Memang hanya sekilas saja, namun Raģe adalah tipe orang yang tidak akan melupakan sesuatu jika sudah mengingatnya sekali. Aura yang telah dicampur adukkan ini pernah dia lihat pada dua orang yang berbeda. Hanya mereka berdua.


"Bagaimana bisa..."


...****...


"Lindungi aku dulu sebentar."


Hendrick memerintahkan Vester untuk berdiri di depannya sambil melibas orang - orang yang berusaha menyerang mereka. Count Cheltics sendiri masih bertahan sendirian. Lraight dan beberapa peleton pasukan telah memukul mundur pasukan musuh.


Barusan Hendrick mendapatkan luka yang begitu dalam di sekitar punggungnya. Dan dia sedang berusaha untuk membalut lukanya sendiri tanpa mau dibantu oleh Vester. Ia juga sempat berfikir tentang keberadaan pasukan Ranunculus yang lainnya. Mungkin Raja membawa mereka ke tempat lain yang juga ada pihak musuh.


"Perang itu menyebalkan. Tidak ada untungnya sama sekali. Mengapa orang - orang ada yang gila perang sih?! Otaknya memang butuh perbaikan."


Vester hanya diam dan mendengarkan. Adalah biasa baginya mendengar kata - kata indah dari Hendrick. Ia sering mendengarnya saat bersama Rovers yang kebetulan atau sengaja bertemu Hendrick. Dari sanalah dia mulai mempelajari cara menjadi kebal mendengar celetukan Hendrick yang menyakitkan.


Karena Hendrick jugalah dirinya dilabeli 'kacung Pangeran Mahkota' oleh banyak orang. Hingga saat ini teknik mengelus dada masih ampuh untuk menyabarkan diri sendiri.


"Kudengar tuanmu sudah datang bersama Valentina Harold. Katakan padanya untuk tidak genit pada wanita lain atau pernikahannya dengan Hellen akan dibatalkan." Sinis Hendrick.

__ADS_1


"Baik, Duke Wayne."


"Sejujurnya aku tidak rela kalau Hellen punya suami dari anggota kerajaan. Tapi apa boleh buat, nasibku memang selalu buruk dan sial."


"Apakah perang ini takkan berakhir?" Tanya Vester, tatapannya tertuju pada sekumpulan prajurit bersenjata yang saling membunuh tanpa ampun.


"Membunuh Willem itu pun takkan membuat perang ini selesai. Aku punya firasat buruk tentang perang ini."


"Jadi, apa peradaban manusia akan berakhir sampai sini saja?"


"Jangan lebay. Ratusan tahun lalu perang juga ada dan buktinya ada yang masih hidup sampai melahirkan kita semua disini."


"Begitu...ー!"


Melihat Vester yang malah menegang, membuat Hendrick penasaran.


"Duke Wayne."


"Apa?"


"Clara Scoleths, dia kembali! Lihatlah, dia tengah bertarung bersama James Eastvillia."


Hendrick segera mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Clara dan James. Dan ia menemukannya, mereka disana tengah berhadapan dengan banyak pasukan seperti yang dihadapi Hendrick dan Vester.


Namun, satu hal yang membuat Hendrick membisu. Kehadiran seorang lainnya yang sejak tadi juga ia harapkan. Orang itu tidak ada disana dengan Clara Scoleths.


"Dimana pak tua brengs*k itu?"


...****...


"Kak Rara, cepat lewat sana! Ada celah untuk menghampiri Duke Wayne. Urusan Duke Nielsen akan menjadi tanggung jawabku."


Clara menganggukkan kepalanya.


Segera ia menyelinap dan menyerang musuh yang menghalangi dirinya. Ini tidak mudah karena dia telah kehabisan banyak tenaga, meski sekarang Clara telah mendapatkan mata baru.


"Tuan Hendrick!"


Di seberang sana bersama Vester, Hendrick menatapnya dengan sedikit nanar. Entahlah, mungkin apa yang mereka pikirkan saat ini adalah sama.


Dengan cepat Clara berlari kearahnya dan menghambur ke pelukannya. Hendrick makin membatu. Setidaknya, jangan menangis di depannya seperti itu. Ini membuat Hendrick berpikir yang tidak - tidak atas tindakan Clara.


"Hentikan. Jangan menangis begitu." Ucap Hendrick dengan suara parau.


Tangan Hendrick gemetar hebat, sampai dia tidak sanggup membalas pelukan Clara. Ayolah, jangan hanya diam membisu dan membuatnya semakin penasaran.


"Katakan sesuatu padaku..." Bisik Hendrick.


Clara melepaskan pelukannya, menatap Hendrick yang terus gemetar tak karuan. Ia bahkan tidak sempat menanyakan kenapa iris mata Clara yang kiri berubah menjadi merah sementara yang kanan malah berwarna lapis lazuli.


Clara tersenyum pedih. Memang susah bagi seseorang tersenyum di kala hatinya perih.


"Maaf."


Hendrick melebarkan pandangannya.


Dan, satu kata yang paling tak diinginkan oleh Hendrick telah dilontarkan Clara.


TBC


Like + KOMEN Kawan

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2