The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 110 - Payung Hitam di Bawah Rintik Hujan


__ADS_3

"Kenapa firasatku buruk begini?"


Eleanor menatap sendu rintik hujan yang terus mengguyur dengan derasnya. Tangan kanannya memegang payung untuk melindunginya dari air hujan. Entah karena apa, mendadak dia ingin keluar dari kediaman Wayne. Dan yang bisa dilihatnya sekarang hanyalah awan mendung yang memenuhi langit.


"Lea? Ayo masuk. Udara dingin ini menusuk, aku tak mau kau sampai sakit."


Eleanor memandang seorang wanita dengan mata sebiru samudera miliknya. Permata indah itu menurun pada satu - satunya anaknya yang sekarang menjadi pangeran yang diidamkan banyak gadis bangsawan.


"Nike? Sejak kapan kau ada disana?" Tanya Eleanor pada Ratu Ranunculus yang berdiri di pintu masuk kediaman Wayne.


"Sejak kau melamun menatap hujan."


Eleanor menurut pada Nike. Dia melangkah perlahan - lahan sambil menginjak genangan yang dibuat hujan. Nike geleng - geleng kepala melihat kelakuan Eleanor yang masih kekanakkan.


Ketika Eleanor sudah berdiri di dekatnya, Nike menyelimuti Eleanor dengan kain wol tebal. Karena Eleanor sejak tadi diluar, jadi Nike melakukannya supaya bisa menghangatkan tubuh Eleanor.


JGERR!


Eleanor dan Nike terkejut mendengar gemuruh petir yang memekakkan telinga. Nike bahkan menutup kedua telinganya karena kencangnya suara, sementara kedua matanya terpejam.


Berbeda dari Nike, Eleanor malah diam saja menatap kilat yang menyambar. Tatapannya terpaku pada bekas dimana kilat tersebut terlihat. Dia tak bergeming sedikitpun.


Nike membuka matanya perlahan, menatap heran pada Eleanor yang bergeming memandangi langit hitam. Rintik hujan belum mereda diselingi petir yang menyambar tanpa bisa diprediksi.


"Ada apa, Lea?"


Eleanor tak bergeming, Nike semakin dibuat heran. Kedua mata Eleanor melebar seiring kilat petir memenuhi pandangannya. Tanpa sadar, setetes kristal bening mengalir dari pelupuk matanya.


"Lea?!"


Nike menghampiri Eleanor dan memeluknya. Anehnya, lagi - lagi kelakuan Eleanor membuat Nike merasa kebingungan. Dalam pelukannya, Eleanor mendadak menangis histeris dan menyebut nama suaminya berkali - kali.


"Nike, pertemukan aku dengan Edrick!"


Nike tercengung, dahinya mengernyit. Dia tidak tahu dimana keberadaan Frederick, bagaimana mau mencarinya. Tapi yang Nike dengar dari suaminya, Frederick pergi ke perbatasan bersama Count Cheltics dan sampai sekarang belum kembali.


"Kenapa mendadak begini? Suamimu sedang melakukan sesuatu di perbatasan. Dia bersama Count Cheltics, jadi jangan khawatir."


Nike memeluk dan mengusap pelan punggung Eleanor supaya bisa menenangkan dirinya dari kecemasan berlebihan. Ia tidak tahu bagaimana Frederick sebelum orang itu menuju ke perbatasan. Nike harap, pria itu memberikan salam perpisahan dengan baik lalu kembali tak lama kemudian.


"Ibu?"


Eleanor tercengung, dia mengintip dari celah pundak Nike. Putranya sedang berdiri disana sendirian, membiarkan dirinya diguyur hujan. Penampilannya juga berantakan sekali dengan pakaian tak beraturan serta rambut yang kusut. Ekspresinya yang lebih memprihatinkan.


Apakah sesuatu sedang terjadi?


Eleanor melepaskan pelukan Nike perlahan. Dia melangkah kemudian berlari kecil menghampiri Hendrick yang berdiri diterpa hujan. Eleanor langsung memeluknya dan menangis dalam pelukan anaknya. Karena tinggi badan anaknya yang jauh di atasnya, membuat Eleanor perlu mengangkat wajahnya supaya bisa berkontak langsung.


"Erick..."


Hendrick dengan lembut mengusap air mata yang ibunya yang menyatu dengan hujan. "Iya Ibu? Kenapa Ibu menangis? Apa kepulanganku tidak diinginkan Ibu?"


Eleanor menggeleng dengan cepat.


"Bukan begitu. Tiba - tiba saja... perasaan dalam diri Ibu berkecamuk. Ibu tidak tahu kenapa rasa khawatir ini tak bisa dikendalikan."


Hendrick tetap diam dan mendengarkan.

__ADS_1


"Erick, dimana Ayahmu?"


Hendrick tersentak, namun seulas senyum tipis terbit di wajahnya. Tanpa menghiraukan kebingungan ibunya saat ini, dengan perlahan Hendrick menutur ibunya kembali ke dalam kediaman Wayne.


"Ibu bisa sakit kalau kehujanan."


"Dimana Ayahmu?"


Hendrick tak bergeming, dia tetap menuturkan langkah Eleanor menuju ke dalam kediaman. Nike juga membantunya dengan menopang Eleanor agar tak kehilangan keseimbangannya.


"Ayah... bersama Clara."


Eleanor terhenyak. Pandangannya menjadi kosong. Jika Frederick sedang bersama dengan Clara saat ini. Ia tahu bahwa situasinya tidak baik - baik saja, tidak ada yang tahu bagaimana jadinya mereka nanti.


Eleanor sangat tahu. Jika Frederick pergi ke medan perang hanya dengan Clara, bahkan tanpa rival terbaiknya Gerald. Itu berarti satu tujuan yang pasti. Untuk mengalahkan Willem.


Dengan bantuan Hendrick, Nike mendudukkan Eleanor ke sofa di ruang tamu. Wanita paruh baya itu tampak sudah kehilangan tenaganya, dia kelihatan lemas dan tidak berdaya. Ini kondisi yang memprihatinkan, mengingat ibunya sangat ceria dan penyemangat orang - orang di sekitarnya. Jika Eleanor sudah begini, rasanya ada yang tidak benar.


"Yang Mulia Ratu, hamba harus mengambil air dahulu."


Nike mengangguk pelan. Dia terus mengusap pundak Eleanor, memintanya untuk tetap dan secara tidak langsung mengatakan bahwa dia tidak sendirian. Nike menjadi gelisah mendadak saat Eleanor hilang ketenangannya. Dia mulai berfikir keadaan macam apa yang terjadi diluar sana.


Nike diminta oleh suaminya untuk ke kediaman Wayne. Sebab Istana bukanlah tempat yang aman baginya. Istana adalah lokasi paling rawan terciptanya peperangan. Jadi sebisa mungkin Raja menjauhkan Nike dari Istana. Awalnya Raja tidak mengirim Nike ke kediaman Wayne karena status Wayne sangat buruk di hadapan Freesia, bisa saja ada penyusup. Namun Nike meyakinkan bahwa dia akan baik - baik saja disana karena Nike juga bisa beladiri.


"Lea, semua akan baik - baik saja." Bisik Nike.


Hanya itu saja yang bisa diucapkannya sekarang.


Di dapur kediaman Wayne. Terlihat Hendrick sedang menuangkan air ke dalam cangkir. Kedua matanya nampak sayu. Mungkin lelah karena terlalu banyak hal yang terjadi hari ini.


Mulai dari dirinya yang membangunkan Clara di Istana Agapanthus. Penyerangan dadakan yang dilakukan Freesia terhadap sekutu Ranunculus. Identitas asli Clara sebagai reinkarnasi dari Gadis Mawar Putih. Serta tindakan tidak terduga dari dirinya terhadap Clara.


Kalau Hendrick mau jujur. Dia sebenarnya masih malu dengan kejadian itu. Dia tidak sadar telah melakukannya karena saat itu yang dipikirkan Hendrick hanya merasa kesal atas kebodohan yang Clara lakukan. Dalam hatinya dia selalu bertanya - tanya. Apakah Clara benar - benar harus menjalani kehidupannya yang sekarang sama persis seperti yang Gadis Mawar Putih lalui?


Melakukan tugas karena janjinya pada seseorang yang bahkan tidak terlalu dikenalinya, setidaknya di kehidupannya yang sekarang.


Hendrick tidak pernah berfikir bahwa reinkarnasi itu benar - benar ada. Walaupun ada legenda yang bercerita tentang reinkarnasi seseorang, Hendrick menepis kebenarannya. Reinkarnasi bukanlah realitas kehidupan yang normal yang bisa dengan mudah diwajarkan.


Namun, sihir yang melekat erat dalam kehidupan Clara membuat pendirian Hendrick berkaitan dengan reinkarnasi agak goyah. Ciri - ciri Clara yang begitu mirip dengan Gadis Mawar Putih menjadikan Hendrick sedikit memercayai adanya kemungkinan reinkarnasi itu.


Dan meski ada, legenda yang mengatakan jika kehidupan lain itu ada tidak terlalu banyak. Satu - satunya yang bisa ditemukan Hendrick hanyalah legenda reinkarnasi gadis bernama Ivory. Mungkin sekarang buku itu telah hilang.


Hendrick mengerjap pelan. Dengan segera dia kembali ke ruang tamu, ibunya membutuhkan perhatian lebih. Seandainya Eleanor tak egois, tak akan ada cerita menyedihkan seperti ini.


Yah, setelah semua yang terjadi dan itu tidak sesuai dengan ekspetasi. Maka kata 'andai' akan terbesit dalam benak seseorang.


...❀...


"Hei nak. Kemampuan pedang dan bertarung tangan kosong milikmu tidak terlalu buruk. Mungkin itu seeedikit di atas rata - rata. Jadi nak, apakah kau mau menjadi satu - satunya muridku?"


Raģe mendengus samar mengingat perkataan seseorang yang menyebalkan. Ketika dia sedang berlatih sendirian di tengah hutan dan terpergok oleh seorang Duke. Namanya cukup tersohor di Ranunculus, jadi Raģe merasa tidak enak menolaknya.


Setelah cukup lama berlatih dengan Duke Wayne saat itu, Raģe merasa senang karena dia tidak menolaknya. Sebab kemampuan guru barunya itu luar biasa dan Raģe belajar banyak darinya. Raģe tumbuh menjadi ksatria hebat di Ranunculus, walaupun belum bisa menyamai kehebatan anak dari gurunya.


"Bagaimana keadaan Ranunculus sekarang? Ayah baik - baik saja 'kan? Lalu Ibu...?"


Raģe sekarang hanya bisa menduga - duga. Keadaan di Agapanthus juga tidak sebaik itu, karena akibat dari ledakan besar membuat hutan terbakar. Beruntung bisa dengan cepat dipadamkan karena datangnya hujan, walau hutan itu telah seperempat habis dilahap api.

__ADS_1


Saat ini Raģe tengah melihat keadaan hutan yang terbakar bersama Raja Agapanthus dan beberapa prajurit elit. Sejujurnya ini bukanlah tugas Raģe, ia hanya memaksa untuk ikut karena tak ingin duduk diam saja.


SREK


"Hm? Kertas...?"


Raģe menatap bingung pada lembar kertas yang dipijaknya. Kertas itu digulung dan diikat dengan sebuah pita pendek berwarna keemasan. Warna hitam memenuhi kertas tersebut, sebagian besar isinya tidak terbaca karena sudah hangus.


"Dari bentuknya... ini sebuah surat. Tapi kenapa dibakar bersamaan dengan hutan ini? Apa ada seseorang yang sengaja membuangnya saat api di hutan mulai menyebar?"


Raģe mengambil surat yang masih tersisa. Surat itu benar - benar hangus dimakan api, namun Raģe bisa membaca di sudut paling bawah surat yang tersisa. Sebuah nama dituliskan dengan indah. Nama yang Raģe tahu betul siapa.


'Clara Scoleths'.


Dengan ini, bisa Raģe simpulkan bahwa penulis surat ini adalah Clara. Atau opsi kedua, surat ini ditujukan pada Clara Scoleths. Walaupun kurang meyakinkan karena namanya ditulis di sudut bawah kanan surat, biasanya disana tertulis nama penulisnya.


"Siapa yang Clara kirimi surat?"


"Raģe? Apa kau menemukan sesuatu yang mencurigakan?"


Raģe tersentak. Dia refleks memasukkan sisa surat ke dalam kantung jubahnya. Raja Agapanthus melangkah menghampirinya, tidak ada raut wajah bersahabat seperti yang sering pamannya tujukan padanya. Karena situasi sekarang yang sedang tidak baik.


"Tidak ada." Jawab Raģe singkat.


Lagipula surat dari Clara itu sepertinya tidak mempunyai hubungan dengan penyerangan yang dilakukan Freesia. Jadi Raģe takkan menyerahkan surat tersebut kepada pamannya. Mungkin surat ini cuma surat biasa sebagai komunikasi jarak jauh dengan seseorang.


"Huft... Paman harap Celosia baik - baik saja." Raja Agapanthus menggumam pasrah.


Raģe mengernyit tidak senang. Itu karena dia juga sedang mengkhawatirkan kondisi ibunya. Sementara dia tidak bisa keluar dari Agapanthus karena beberapa alasan. Meski Duke Wayne dan Pangeran Mahkota Ranunculus telah kembali ke wilayah Tengah, Raģe tetap merasa gelisah.


Ranunculus adalah tempat yang paling tidak aman. Itu tidak mengherankan karena Freesia menganggap Ranunculus sebagai musuh besar setelah apa yang terjadi di masa lalu dan diperparah dengan penculikan Frederick terhadap putri Freesia dan senjata mereka.


"Paman harap juga Ayahmu tidak terluka. Karena dia yang paling dekat dengan Frederick Wayne. Adik iparku itu agak rawan dijadikan sasaran."


Raģe membenarkan dalam hati. Dia tahu sejarah panjang pertemanan dan pertandingan diantara ayahnya dan Frederick Wayne. Gurunya itu seringkali menceritakan masa mudanya pada Raģe.


Raģe memandang kakinya yang terjerembab dalam kubangan lumpur. Karena hujan yang deras menerjang dalam beberapa jam, tanah menjadi basah dan lembek.


Di dekat kubangan lumpur itu juga terdapat genangan air. Wajah Raģe memantul di permukaan genangan seolah dia sedang bercermin. Lama Raģe menatap wajahnya di permukaan air.


Sehelai kelopak dari bunga berwarna putih menyentuh genangan air tersebut. Raģe memicingkan matanya demi mengetahui jenis bunga apa itu. Bola matanya melebar kala ia tahu jenis bunga itu.


Krisan putih.


Kejujuran dan kesetiaan.


Entah karena apa, melihat kelopak krisan putih ini mengingatkan Raģe kepada seseorang.


Ck! Dia itu pembohong ulung! Darimananya dia seorang yang jujur. Bahkan dia bungkam atas kebenaran yang selama ini dia ketahui. Tetapi, dia memang orang yang setia...


Pandangan Raģe menjadi sayu. Dia membungkuk untuk mengambil kelopak krisan putih yang hanya sebesar ibu jarinya itu. Raja Agapanthus menatapnya heran serta penasaran. Rasanya aneh saat ekspresi keponakannya berubah hanya karena melihat kelopak bunga.


Raģe menarik sudut bibirnya.


"Setia 'kah?" Gumam Raģe.


TBC

__ADS_1


Like + Komen


__ADS_2