The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 91 - Warna Dari Cinta


__ADS_3

"Clara! Clara! Bisakah kau membantuku menyelesaikan ini? Mendadak Meiger datang kepadaku dan memintaku menyelesaikan ini. Kan menyebalkan!"


Edmond menarik tangan Clara yang sejak tadi hanya mengunyah kue cokelat bertaburan gula halus. Clara mengerjap pelan sebelum kesadarannya kembali. Dia yang terkejut malah tersedak kue di mulutnya.


"Uhuk! Uhuk! ....Air...." Lirih Clara dengan suara parau.


Dengan segera, Edmond mengambilkan segelas air putih untuk Clara. Kalau anak ini mati karena kecerobohannya, Edmond bisa mati dicekik oleh Kaisar.


Sekarang ini hari sudah menjelang sore, dan Edmond baru mendapatkan berita kedatangan Kaisar siang ini. Dan saat ingin memberitahukan Clara, gadis itu tengah tidur lelap.


Edmond memberikan segelas air pada Clara, "Kau tidak akan mati 'kan...?"


Clara meneguk isi gelas hingga tandas. Dia menatap menyalang pada Edmond. Yang ditatap tentu saja bingung, ada salah apa dia pada Clara?


"Yang Mulia ada disini?!"


"Iya."


"Sejak kapan?" Clara semakin panik saja.


"Sebelum makan siang-"


"Kenapa saya tidak diberitahu?!"


"Kau sedang tidur." Edmond menunjuk Clara dengan tatapan datarnya.


Clara menjambak rambutnya sendiri, merutuki kesalahannya. Itu karena dia lelah dan ketika menyentuh kasur yang empuk malah langsung tepar.


Apa dia melihatku bersama Raģe? Mamp*s aku kalau Yang Mulia memergokiku. Argh! Kenapa aku jadi istri - istri takut suami sih?! Eh?


Wajah Clara malah nampak bersemu, ada sesuatu yang berdesir dalam hatinya. Clara mengaitkan jarinya yang mendadak panas dingin karena mengkhayal terlalu jauh.


Edmond menautkan alisnya, bocah di depannya ini pastilah sedang memikirkan hal yang iya - tidak. Kaisar itu memang menyebalkan. Sudah dicintai oleh gadis yang dicintainya, tapi malah belum melakukan pergerakan apapun. Pokoknya tak ada kemajuan sama sekali.


Kalau kekasih belum sahmu kabur jangan salahkan aku! Batin Edmond kesal.


"Lalu dimana Kaisar sekarang?"


"Tidak tahu. Tapi kemungkinan besar sedang bersama dengan Raja Agapanthus. Kenapa? Mau menyusulnya?"


"Nanti saja." Clara melambaikan tangannya acuh. "Sekarang mau saya bantu apa? Sebelum saya berubah pikiran, nih."

__ADS_1


Edmond berdecak dengan keras, supaya gadis di depannya mendengarnya. Tapi naas, meskipun didengar tapi Clara mengabaikannya seperti dan langsung menyambar tumpukan kertas yang barusan dibawa olehnya.


Meskipun dia kesal pada Clara, tapi karena gadis ini mau membantunya jadi dia takkan keberatan. Lagipula Clara tak sebodoh itu dan sudah berpengalaman dalam mengerjakan dokumen semacam ini. Karena Edmond tahu dari Kaisar jika Clara pernah membantu Hendrick dalam memeriksa dokumen - dokumen tersebut. Jadi Edmond takkan menjelaskan secara detail apa yang perlu dilakukan Clara.


Edmond menarik kursi dan duduk diatasnya. Untung dia membawa pena cadangan, sehingga mereka bisa bekerja masing - masing mulai dari sekarang. Kalau harus mengambil pena lain kan bisa membuang - buang waktu. Dia tak bisa berkencan dengan Valentina kalau terlalu lamban.


Sebenarnya Edmond sudah berhasil mengajak Valentina untuk jalan - jalan sore bersamanya di pusat kota. Dan sejam dari sekarang mereka akan berangkat. Namun teman sialannya malah memberikannya tugas yang seharusnya bukan tanggung jawab Edmond.


Kalau saja Edmond tidak bersalah, dia pasti akan menghempaskan kembali lembaran kertas ini pada Kaisar. Tapi sayangnya dia melakukan kesalahan fatal karena mengingkari janjinya. Iya, janji untuk mengawasi Clara agar tidak dekat dengan pria lain.


Dan mana Edmond tahu bahwa Kaisar akan datang secepat ini. Masalah ini makin runyam saat Kaisar memergoki Clara berduaan dengan Raģe, dan setelahnya menemukan Edmond serta Valentina tengah berjalan beriringan. Sial.


Edmond sedikit mensyukuri saat Kaisar tidak berniat memberikan kepalanya pada algojo.


"Mestinya dia sedang dalam mode sadis." Desis Edmond.


"Anda pergi saja darisini." Kata Clara sambil terus menggores penanya diatas dokumen.


"Huh? Kenapa?"


"Bukankah anda ada janji dengan Nona Valentina? Lagipula ini adalah tujuan utama kita kemari, mendapatkan hati Nona Valentina. Pergilah saja."


Aku juga sekalian mau berbincang dengan Yang Mulia. Bakal malu sekali jika aku merendahkan diriku pada Yang Mulia saat kau masih ada. Jadi pergilah bersama Valen!


Clara tertegun. Benar juga yang dikatakan Edmond. Maka jangan berani untuk melawan atau mengubah perintah Kaisar jika masih ingin menikmati udara segar hingga esok hari.


"Itu tidaklah salah..."


"Tuan Edmond?"


Tubuh Clara dan Edmond mendadak menegang mendengar suara halus nan lembut yang menyapu pendengaran mereka. Sial, seharusnya Edmond membawa jam saku supaya tidak lewat waktunya. Namun... nasi telah menjadi bubur.


"Apakah kita takkan ke pusat kota?" Valentina menatap lembaran kertas yang menumpuk yang tengah dikerjakan Edmond dan Clara.


"Um... sepertinya tidak." Edmond menjawab dengan ragu.


Valentina kemudian mengambil tempat diantara Clara dan Edmond. Dia memperhatikan isi dari dokumen yang dikerjakan dua manusia ini. Mata Valentina melebar saat membaca apa yang tertulis disana.


"Hortensia...?"


Valentina menatap bingung pada Clara. Namun Clara malah mengalihkan pandangannya kearah lain, memilih untuk tidak mengatakan apapun. Karena itu, Valentina meminta kepastian dari Edmond.

__ADS_1


"Aku melanggar janjiku... jadi Meiger- maksudku Kaisar Hortensia memberikanku semua ini." Jawab Edmond dengan nada pasrah.


"Begitu."


Valentina menghembuskan nafasnya, dia cukup antusias untuk mengelilingi pusat kota Agapanthus setelah sekian lama. Tapi karena Edmond melanggar janjinya yang entah apa. Valentina jadi gagal berkeliling.


"Kalau begitu saya akan membantu." Putus Valentina.


Edmond makin merasa bersalah ketika Valentina memutuskan untuk membantu mereka. Untung tak ada pena lain yang dibawa oleh Edmond. Sehingga Valentina tidak bisa membantunya kecuali Clara memutuskan pergi. Saat Valentina hanya diam memperhatikan Edmond yang menyelesaikan pekerjaannya.


Saat serius menyaksikan Edmond sambil sesekali merapikan anak rambut yang tergerai ke belakang telinganya. Hal itu tak luput dari perhatian Clara. Lalu Clara dengan santainya memberikan pena di tangannya kepada Valentina. Tentu saja Clara mendapatkan tatapan aneh dari Valentina.


"Sepertinya Valen harus mengganti kencan ke pusat kota menjadi mengerjakan berkas. Sampai jumpa nanti malam, semoga beruntung." Clara mengacungkan jempolnya pada kedua sejoli itu sambil berjalan menjauh.


Setelah ditinggalkan oleh Clara. Edmond dan Valentina saling memandang sekejap sebelum saling membuang pandangan masing - masing dengan wajah merah mereka.


Walaupun Edmond nampak malu - malu. Namun tak ayal dia bersorak girang dalam hatinya. Memberikan Clara segala doa yang terbaik karena kehadirannya tidak sia - sia disini.


Kerja bagus, Clara! Nanti kutraktir setelah aku mendapatkan anggukan dari Valentina. Tak sia - sia juga aku membawamu kemari.


...❀...


"Selamat sore, Clara Scoleths."


Hee? Sejak kapan dia jadi akrab denganku? Semoga saja Yang Mulia tidak melihat kami, yang kena semprot kan pasti aku bukannya Raģe!


"Selamat sore, Tuan Muda Cheltics."


Clara menatap Raģe sambil menyunggingkan senyuman manisnya. Baru pagi ini mereka bertemu dan sekarang Clara kembali menghadap pria ini.


"Apa anda membutuhkan sesuatu dari saya?"


Raģe mengangguk samar. "Temani aku menikmati teh sore. Yah, hitung - hitung bersantai sebelum menjadi Penasihat Kerajaan Ranunculus."


Oh, janjiku tempo hari. Aku sudah berjanji sih.


"Tidak masalah. Lagipula saya sudah mengatakan janji kepada anda."


TBC


Ish Clara, kalau kau ketahuan bukan salahku.

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2