The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 102 - Duo


__ADS_3

Clara dan Frederick sedang berjalan menelusuri hutan. Mereka menerka - nerka jalan mana yang bisa membuat mereka langsung sampai ke perbatasan. Perjalanan mereka hanya ditemani kesunyian, semua itu karena tidak ada yang banyak bicara diantara mereka.


Melihat Clara yang hanya diam. Frederick menyeringai. Tentu saja dia tahu penyebab gadis ini hanya diam dan tidak mengajaknya berdebat seperti biasa.


"Hari ini kau banyak diam." Celetuk Frederick, dia tak tahan dengan keheningan yang menyelimuti.


Clara melirik saja, dia tidak menjawabnya.


"Biarkan aku menebak alasanmu hanya diam." Suara Frederick terdengar jahil.


Clara mendelik kesal. Dia tahu ada yang salah dengan pak tua ini. Clara semakin mengeratkan genggamannya pada pedang pemberian Duke Wayne itu.


"Jangan bercanda di saat seperti ini." Ketus Clara.


"Haha! Ini semua karena anakku itu bukan? Dia memberikanmu sebuah 'hadiah' tidak terduga. Bahkan dia melakukannya ketika kalian tidak berdua saja. Pria yang berani." Frederick bersiul kagum.


Saat mendengar Frederick yang menekankan kata hadiah. Sontak wajah pucat Clara bersemu. Mendadak rasa kesal dan malunya kembali muncul. Seharusnya Duke Wayne tidak terlalu berani untuk melakukan itu, bukan?


"Berhentilah bicara omong kosong, pak tua!"


"Wow, kau marah. Berarti tebakanku benar. Hah... dasar anak muda. Sudah ditawarkan menikah sok bilang tidak mau. Sekarang saja malah merasa rindu. Marah karena akan ditinggalkan. Perasaannya berubah begitu cepat." Ucap Frederick setengah mengejek.


"Tidak ada yang bisa mengendalikan perasaan seseorang."


Mendengar ucapan Clara, Frederick yang awalnya tertawa sekarang terdiam. Ia ingat bagaimana perasaannya pada Eleanor juga berubah sangat cepat. Awalnya dia hanya merasa perlu melindunginya karena Eleanor adalah seorang putri kerajaan walaupun dari kerajaan tetangga. Namun semua itu mendadak berubah saat dirinya mendengar Eleanor yang akan menikah dengan pangeran dari benua tetangga.


Frederick tersenyum tipis, "Kau benar."


Clara menautkan alisnya saat mendengar Frederick yang bergumam. Nada suaranya agak menyiratkan kesedihan. Clara jadi ragu dengan pria tua ini, seakan Frederick dan Duke Wayne sebelum Hendrick adalah dua orang berbeda.


"Ada apa? Sedih tidak cocok dengan anda."


Frederick mendengus kesal, baru saja dia ingin bernostalgia atas pertemuan pertamanya dengan istrinya di masa lalu. Namun Clara langsung menghancurkan nostalgianya.


"Aku tidak sedang bersedih. Hanya berfikir saja jika salam perpisahan yang kuberikan kepada istiku kurang bagus." Jawab Frederick ngawur.


"Kalau begitu jangan mati."


Mendengar perkataan Clara yang cenderung seperti sebuah permintaan, membuat Frederick ingat bagaimana salam perpisahan yang dia berikan pada Eleanor. Wanita itu juga mengatakan hal yang tidak jauh berbeda dengan Clara.


"Sayangnya, kali ini aku tidak berjanji akan pulang pada Lea." Ujar Frederick santai.


"Anda benar - benar sudah meniatkan diri untuk mati, yah..."


STAB!


Clara dan Frederick yang lengah merasa terkejut dengan sebuah pedang yang lewat diantara mereka dengan kecepatan tinggi, lalu menancap pada batang pohon yang ada di belakang mereka.


Frederick memicingkan matanya, berusaha melihat ke kegelapan di depannya. Seseorang dengan zirah besi menutupi sebagian tubuhnya. Dia memegang erat pedang yang cukup besar. Clara yang melihatnya juga mendadak rindu pada pedang miliknya sendiri.


Apa ada pada Yang Mulia, yah?


"Heh! Setelah sekian lama kau baru menampakkan diri lagi, Willem." Frederick berujar sinis pada seseorang yang datang dari kegelapan.


"Cih! Jangan panggil aku dengan akrab, dasar penculik gadis muda!" Balas Raja Willem tak kalah ketusnya.


Clara yang berada diantara perdebatan kekanakkan kedua pria dewasa itu merasa jengah dan ingin segera pergi dari sini jika ia tidak ingat bahwa kehadirannya disini adalah untuk mengalahkan Raja Willem. Entahlah, apabila tidak bisa sekedar dikalahkan, maka membunuh adalah jalan terakhir.


Diam - diam Clara mengaitkan jarinya pada gagang pedang. Menatap dengan kewaspadaan tinggi pada Raja Willem. Raja Willem menyadari kehadiran seorang lainnya selain Frederick.


"Kau sudah menipuku... dua kali." Raja Willem menekankan setiap kata - kata yang ia ucapkan ketika melihat eksistensi Clara yang disinari cahaya bulan.


"Lalu kau juga telah berani menculik anakku." Sambung Raja Willem.


Frederick menatap penasaran pada Clara. Aneh saja kalau Clara menculik salah satu dari putri kerajaan Freesia seperti halnya dirinya di masa lalu.

__ADS_1


Menangkap tatapan penasaran dari Frederick. Clara membuka suara, "George Northern." Ucapnya singkat.


Mata Frederick melebar, dia paham dengan konteks nya sekarang. Berbeda dari Frederick yang mengangguk paham. Wajah Raja Willem nampak menggelap dari sebelumnya. Dua orang di depannya ini sudah menghancurkan apa yang dia miliki. Raja Willem takkan melepaskan mereka semudah itu


Melihat reaksi Raja Willem, Clara merasa ada yang tidak beres. Dia ingat kembali pada cerita singkat Jean mengenai George. Dalam cerita itu Raja Willem dikatakan sangat mencintai ibu George, sampai George sendiri dibuatkan istana khusus untuknya walau jauh dari istana utama.


Apakah dia benar - benar menyayangi George? Kalau benar... Raja Willem takkan menjadikan George sebagai senjata, bukan?


SRING


Frederick mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang. Mengarahkan mata pedang pada sosok bersurai silver yang berdiri di kegelapan malam dengan tatapan penuh dendam dan kebencian.


"Maaf Willem. Telah merenggut kebahagiaanmu serta kakakmu darimu." Lirih Frederick, nadanya menyiratkan penyesalan mendalam.


Raja Willem tak memperlihatkan dinamika emosi apapun. Dia juga mengarahkan pedangnya pada Frederick yang berada jauh di depannya. Kedua matanya memicing, timbul kerutan di dahinya.


"Itu saja tidak akan cukup. Hukum sebab-akibat akan tetap berlaku. Akan kubunuh kau, Frederick Wayne."


Frederick mengambil posisi kuda - kuda bersiap untuk menyerang. Seringai kecil hadir di wajah nya yang sudah menua. Meski begitu, Frederick tampak tetap terlalu muda untuk usianya.


"Setelah aku membunuhmu, aku akan meminta maaf kepadamu lagi dengan cara yang lebih baik. Willem Northern."


...❀...


"Gantikan aku untuk pergi ke Ranunculus, James."


James terdiam menatap tidak percaya pada keputusan kakak sepupunya. James tahu betul bahwa Raģe tidak bisa meninggalkan Agapanthus, namun James tidak menyangka kalau Raģe akan mengirim James sebagai pengganti dirinya.


"Baiklah, Kak."


Menurut James, menolak permintaan kakak sepupunya saat ini bukanlah hal bagus. Raģe pasti akan sengsara karena dia tidak bisa ikut serta menuju Ranunculus. Setidaknya, dia ingin mengutus James meski hanya sebagai pengamat.


"Terima kasih."


James terpaku saat melihat senyuman tulus Raģe. Karena sejauh ini, dia hanya bisa melihat senyum Raģe yang dibuat - buat, palsu, dan penuh kebohongan. Mungkin kehadiran seseorang sedikit memperbaiki dirinya.


"Jemmy!"


Sebelum naik keatas kudanya, terdengar suara seorang perempuan memanggil namanya. Itu adalah nama kecil James yang hanya digunakan oleh satu orang. Walau orang itu tidak selalu menggunakan nama panggilan itu untuknya.


"Valentina?"


Valentina yang berlari kearahnya, nampak terengah - engah. Dengan wajah penuh keringatnya, Valentina berkata. "Bawa aku bersamamu!"


James diam mematung.


"Huh? HUHH?!"


...❀...


SRING TRANG


Clara mengiris pelan saat sadar dirinya terpukul mundur ketika menahan serangan Raja Willem terhadap Frederick. Mungkin kemampuan membunuh Clara juga didasarkan oleh pedang yang ia gunakan.


Dengan kedua kakinya yang membuat garis panjang di tanah, membuat semua tahu bahwa serangan Raja Willem sangatlah kuat. Clara jadi tersadar jika dendam Raja Willem terhadap Frederick sebegitu dalam dan besarnya.


"Jika saya tidak menahannya, anda akan mati karena dendam yang ditujukan pada anda." Cibir Clara pada Frederick yang terduduk menahan kesakitan akibat luka dalam di lengan kirinya.


Sepertinya sihir hitam membuat dendam seseorang semakin dalam. Dan itu membuatnya menjadi orang yang kuat dan sukar dikalahkan. Haruskah aku langsung membunuhnya?


"Dia tidak bisa diajak berbicara, bunuh saja."


Clara melirik ke belakangnya, Frederick masih terduduk sambil melilitkan kain panjang untuk menahan lukanya. Frederick yakin kemampuan Raja Willem bertambah pesat karena sihir hitam. Frederick saja kewalahan dibuatnya.


"Hei kau. Jangan membuatku menertawakanmu yang seorang senjata. Rasanya kau belum mengeluarkan segenap kekuatanmu? Atau kau cuma pemanasan dari tadi?"

__ADS_1


Clara merotasikan bola matanya jengah. Dari tadi Clara memang belum menunjukkan jati dirinya yang asli. Dia belum bisa menyerang dengan kekuatan penuh. Clara masih mencari celah dari Raja Willem supaya makin cepat pula dia terbunuh.


Namun rasanya sulit untuk mencari celah Raja Willem. Dia begitu sempurna dengan dendam dan sihir hitam di sekitarnya sebagai taringnya.


Dendam dan sihir hitam. Sekarang aku paham dengan perkataan Yang Mulia.


Clara melangkah maju lalu berlari sambil mengambil ancang - ancang untuk menghunuskan pedangnya pada target. Tidak peduli statusnya apa, karena target adalah target.


Kedua mata safir Clara memancarkan niat membunuh. Tatapan tajamnya hanya tertuju ke satu arah, targetnya. Clara cukup terkejut dengan niatnya dan bagaimana dirinya bisa mengambil langkah dengan berani.


Apakah ini karena pengaruhmu, Claire?


[Tentu saja Master. Kalau tidak ada pengaruh dariku, Master takkan seberani sekarang. Aku tahu kesadaran yang sekarang bukanlah milik Master yang tumbuh bersamaku.]


Huh...!? Kau tahu?!


[Master fokus saja ke depan.]


Clara menghujam Raja Willem dengan banyak serangan yang kecepatannya luar biasa. Namun setiap serangan yang Clara berikan, bisa ditepis oleh Raja Willem tanpa memperlihatkan kesusahan.


Clara mengernyit. Meski wajah Raja Willem sangat datar dan tanpa ekspresi. Clara tahu bahwa Raja Willem menyimpan dendam begitu besar pada Frederick dan dirinya karena telah mengambil George dari sisinya.


"Kembalikan kakak dan anakku." Raja Willem mendesis kesal.


"Boleh saja. Itupun kalau anda berjanji untuk menyayangi George dengan cara normal." Sindir Clara.


Pedang Clara dan Raja Willem saling beradu dan menimbulkan percikan api karena gesekan. Clara menggunakan kedua tangannya untuk menahan dorongan pedang dari Raja Willem. Sementara Raja Willem hanya menggunakan tangan kanannya saja.


Dengan sembunyi - sembunyi Raja Willem mengambil pisau kecil dari balik zirahnya. Frederick terperanjat, dia mulai panik apalagi melihat Clara yang nampaknya tidak sadar dengan gerakan kecil dari Raja Willem.


"Sial." Umpat Frederick.


Raja Willem mengerahkan pisaunya ke mata kiri Clara. Iris safir Clara melebar menyadari telatnya dia mengetahui serangan dadakan Raja Willem.


Frederick berteriak kencang sambil berlari kearah Clara.


"CLARA!"


CRASH!


...❀...


"Huh?"


Seorang pria muda dengan surai silvernya mendadak menoleh ke belakangnya. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk sedang terjadi. Dia hanya bisa menatap wilayah Ranunculus yang tidak nampak dari tempatnya berdiri sekarang.


"Tuan George? Kenapa diam saja?"


George menatap kembali ke depan, disana ada Jean yang menunggunya untuk masuk. Mereka bisa sampai dengan cepat ke Hortensia karena Jean yang memacu kudanya dengan kecepatan tinggi.


Awalnya pengawal pribadi Kaisar Hortensia ini datang ke Agapanthus setelah ledakan terjadi. Jean menghantarkan pesan dari Kaisar Hortensia agar George diperkenankan untuk pergi ke Hortensia di tengah krisis sebelum peperangan terjadi.


Saat George ikut bersama Jean. Edmond juga tiba - tiba pulang bersama mereka, hanya saja Edmond mengambil jalan berbeda di tengah perjalanan karena tujuannya adalah Vinca. Karena bagaimanapun Vinca adalah pasukan sekutu Freesia. George mendapatkan informasi tersebut dari Jean saat di perjalanan kemari.


"Tidak ada." George menggeleng pelan.


"Kalau begitu, tolong ikuti saya."


George mengangguk samar, sementara Jean di depannya sudah memasuki gerbang utama istana kekaisaran Hortensia. Sebelum melangkah ke depan, George kembali menoleh ke belakang. Pandangannya menjadi sayu serta menyiratkan kerinduan mendalam.


Cahaya senja sudah hampir habis. Menyisakan langit malam tanpa bintang yang menyinari. Namun rembulan yang bulat sempurna sudah muncul menemani langit malam dengan sinarnya yang lembut.


"Clara..."


TBC

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen.


So, see you in the next chapter~


__ADS_2