The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 134 - Hari Bahagia


__ADS_3

"Valen, apa kau lama menungguku?"


Hellen memasuki kamar Valentina yang telah dihias sedemikian rupa. Sebagai gadis yang akan melepas masa lajangnya, ini termasuk hari yang sakral. Valentina dengan gaun putihnya duduk di depan meja rias begitu anggun.


Valentina tersenyum simpul, menatap pantulan dirinya di cermin. Ia terlihat sangat bahagia sampai tidak bisa menyembunyikan air matanya. Padahal, ia dan calon pengantinnya nyaris tak bisa dipersatukan saat perang sedang berlangsung. Beruntung keadaan berbalik dengan sangat cepat.


Dengan gerakan perlahan, menjaga supaya riasannya tetap terjaga. Valentina menatap Hellen yang tengah mengelus perutnya. Di leher Hellen, terdapat sebuah kalung permata safir yang indah. Pandangan Valentina berubah sayu.


"Jika saja, dia ada disini..." Lirihnya.


"Valen, bagaimana persiapanmu? Ini semua sudah selesai, bukan?" Tanya Hellen yang sibuk memperhatikan dekorasi kamar yang dipenuhi bunga lavender. Bahkan dari luar sudah tercium aromanya.


"Ya. Hanya tinggal menunggu untuk dipanggil oleh ayahku. Oh, mungkin Raģe dan James juga akan menjemputku. Mereka sepupuku yang paling manis. Hehe..." Valentina terkekeh.


Hellen memegang kedua pundak Valentina dari belakang. Valentina meraih salah satunya dan semakin melebarkan senyumnya.


"Selamat atas pernikahanmu, Valen."


"Terima kasih..."


Air mata yang jatuh hari ini, tidak hanya melibatkan emosi bahagia. Itu karena, kehadiran seseorang yang mereka paling harapkan takkan pernah datang di hari yang seharusnya dipenuhi senyuman ini.


...****...


Edmond menatap dirinya di cermin. Pakaian kekaisaran yang ia kenakan terlihat terlalu dewasa. Lebih bagus dipakai oleh orang yang bersikap bijaksana dan punya kharisma.


"Berapa kalipun anda melihat dirimu disana, tidak akan ada yang berubah. Kenapa tidak bergerak sedikit? Saya saja yang hanya melihat merasa pegal."


Edmond memandang pantulan sosok Rovers di cermin. Entah bagaimana, Rovers bisa sedekat ini dengan pria buaya yang terkenal seantero Herbras. Bahkan di samping Rovers, Hendrick berdiri disana dengan tatapan meremehkan.


Karena Hendrick termasuk jajaran pria normal dengan hidup yang juga normal. Mustahil baginya mengakrabkan diri dengan Edmond. Alasan dia datang kesini karena didorong Hellen untuk pergi bersama Rovers.


Edmond menyeringai.


"Duke Wayne yang terhormat. Anda kapan mau menyusul saya?" Ucapnya setengah mengejek.


"Harus memberitahumu 'kah?"


Seringai Edmond menghilang saat niatan bercandanya ditolak mentah - mentah oleh Hendrick. Bahkan pria itu membalasnya dengan suara dingin serta nada enggan. Oke, mari jangan berbicara pada orang sensitif ini.


"Acaranya sebentar lagi dimulai, lebih baik ke aula lebih dulu." Ujar Edmond.


Rovers mengangguk sambil tersenyum. Beda sekali dengan Hendrick yang terus menampilkan wajah masam. Mereka bertiga keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju aula.


Setibanya di aula, semua orang tampak sudah duduk dengan tertib. Tidak ada anak tertua Count Cheltics atau Pewaris Agapanthus. Mereka pasti sedang menjemput calon pengantin wanitanya sekarang.


Semua orang hadir di aula dengan pakaian terbaik mereka. Tentu saja. Sebab yang akan menikah adalah seorang pewaris tahta dari Kekaisaran Vinca.


Meski begitu, ada sosok satu orang yang tidak telihat oleh Edmond.

__ADS_1


Dimana Meiger?


...****...


Upacara pernikahan berlangsung secara khidmat. Grand Duke Harold tidak henti - hentinya menangis karena akan ditinggalkan oleh anak bungsunya. Begitu juga dengan kakak - kakaknya Valentina, mereka terus menggoda adik bungsu mereka. Disana ada juga Hellen yang menemani Valentina.


Rovers, Vester, James dan Raģe juga berkumpul hanya sekedar berbincang santai.


"Kalian bertiga kapan mau menyusul kami?" Tanya Rovers setengah mengejek, dia bahkan mengangkat kedua alisnya.


"Menyusul? Menyusul apa?" James terlihat bingung.


"Sigh... lupakan James. Manusia itu hanya mempermainkanmu saja. Abai adalah sikap yang kau perlukan untuk menghadapinya." Raģe menghela napas panjang.


"Ah, saya belum kepikiran untuk mempunyai pendamping. Saya juga belum punya calonnya. Jadi... mungkin masih lumayan lama." Jawab Vester. Dia yang paling serius menjawab pertanyaan Rovers.


Gerald sendiri berdiri menemani istrinya yang berbincang - bincang dengan Eleanor dan Nike.


"Bagaimana Raģe? Dia sudah tidak memberontak sekarang 'kan?" Tanya Nike setengah tertawa.


Dia ingat bahwa Raģe dulu sangat tidak suka menerima jabatan sebagai Penasihat Kerajaan beberapa tahun lalu. Eleanor mengangguk - angguk, lagipula tingkah Raģe tidak jauh beda dari putranya.


"Yah, dia sudah luluh sekarang. Entah kenapa dia bisa berubah pikiran secepat itu. Aku penasaran dengan apa yang terjadi padanya saat di Agapanthus." Gerald menduga - duga, sedang istrinya menyenggol lengannya pelan.


"Mungkin ada orang yang merubah pandangannya."


Seolah melupakan Meiger yang tidak hadir. Edmond malah terus mengajak George untuk minum. Sementara bangsawan lain silih berganti mendatanginya untuk mengucapkan selamat secara langsung.


George menatapnya dengan datar. Kenapa bisa pria ini menjadi seorang pewaris tahta? Itu selalu menjadi tanda tanya besar di benaknya.


"Lebih baik aku tidak meminumnya sama sekali."


"George?"


Seorang pria tua menghampiri Edmond yang sudah setengah mabuk juga George yang menarik paksa borok minuman dari tangan Edmond. Saat George menoleh kearahnya, dia tersenyum lebar.


"Ayah."


George spontan berdiri dan mengabaikan kondisi George yang semakin buruk.


"Ayah akan pulang sekarang?"


"Yah, ada banyak hal yang perlu kulakukan di Istana. Masih banyak pekerjaanku yang menumpuk." Raja Willem melirik pada Edmond yang mulai pusing. "Sepertinya kau akan telat."


"Ah... iya..."


"Jangan terlalu larut. Baiklah, Ayah pergi duluan."


George mengangguk dan menebar senyuman lebarnya. Rasanya senang bisa mempunyai keluarga yang harmonis. Sihir hitam sudah berakhir berkat seseorang, dan dia merasa hutang budi padanya.

__ADS_1


Terima kasih banyak, aku berhutang padamu.


Seluruh bangsawan dari kelima wilayah besar sekarang berkumpul di satu tempat yaitu Wilayah Selatan. Disana juga terlihat Duke Nielsen dan putri semata wayangnya, Cattleya.


Cattleya hanya berdiam diri di belakang ayahnya. Dia tidak punya banyak kenalan bangsawan, makanya sejak tadi tak ada yang dilakukannya selain mengekor Duke Nielsen.


Ketika ia melihat ayahnya berdiskusi dengan para bangsawan terkenal, Cattleya mengundurkan diri atas inisiatifnya. Agak riskan untuk tetap disana tanpa mengatakan apapun.


Cattleya menghampiri meja yang telah disusun makanan manis di atasnya. Tangannya bergerak mengambil salah satu brownies dengan hiasan buah strawberry dan jeruk.


Sebagai penyuka makanan manis, dia bisa saja menghabiskan semua yang tersaji di meja jika melupakan statusnya sebagai bangsawan.


"Hati - hati nona, pegang garpumu dengan baik."


Cattleya terkejut ketika dia sedang melamun dan tidak sadar jika pegangannya pada garpu mulai mengendur. Untuk seseorang mengingatkannya, atau garpu itu akan terjatuh. Kalau hal itu sampai terjadi, gambarannya sebagai putri yang anggun akan hancur.


"Terima kasih sudah mengingatkan."


Cattleya mengulas senyumannya pada orang tersebut. Ia lumayan terkejut melihat Duke Wayne yang ternyata memperingatkannya barusan. Jujur, ini adalah pertama kalinya bagi Cattleya berbicara pada pria dengan pangkat Duke di Ranunculus.


"Bukan apa - apa."


Hendrick mengambil salah satu dari makanan manis yang tersaji. Tubuhnya terdorong ke depan saat Rovers mendatanginya. Pangeran aneh ini malah tersenyum jahil kepadanya.


"Apa yang kau lakukan? Enyah dan jagalah adikku sekarang. Kau lupa kalau dia sedang hamil anakmu?" Sindir Hendrick tak segan. Ia meninggalkan segala keformalan untuk Rovers.


"Duke Wayne memang sensitif sekali padaku. Tapi tenang saja, sekarang Allen sedang istirahat di kamar tamu. Dia kelelahan dengan semua acara ini." Jawab Rovers santai.


"Kalau begitu temani dia." Kata Hendrick dengan nada tajam.


"Baiklah. Anda benar - benar tidak menyukai kehadiran saya. Semoga beruntung mendapat cinta bangsawan Hortensia di sebelahmu." Rovers berbisik di kalimat terakhirnya.


Hendrick menatap kepergian Rovers dengan wajah jengkelnya. Dia hanya mau makan kue tapi disangka yang tidak - tidak.


Meski Rovers berbisik, Cattleya tetap bisa mendengar ucapannya. Gadis itu bersemu setelah Rovers pergi meninggalkan mereka hanya berdua.


Bajing*n ini memang minta dibunuh olehku!


...****...


Hellen terbaring di sebuah kamar sederhana dengan kesan elegan. Ia memutuskan istirahat sejenak dari kerumunan bangsawan yang ada di aula. Valentina menyediakan kamar ini untuknya.


Sejak tadi Hellen menghela napasnya, ia melakukan itu berkali - kali. Pandangan matanya begitu kosong ke depan. Sendirian disana ditemani oleh lampu temaram dan suara jam berdetak.


Tangan Hellen bergerak menyentuh kalungnya. Satu - satunya kalung yang akan dipakainya hingga ajalnya menjemput. Karena ini, akan mengingatkannya pada kehadiran seseorang yang pernah mewarnai hidupnya.


"Clara... sudah setahun sejak hari itu. Mawar putih milikmu, keharuman dari setiap kelopaknya selalu bisa menggapaiku. Aku merindukanmu."


TBC

__ADS_1


Like dan komennya jangan lupa, see you in the next chapter ~


__ADS_2