
"TUAN FREDERICK!!!"
Claire berlari kearah tubuh Frederick yang bersimbah darah. Mengabaikan tatapan sinis dari Raja Willem. Meski mendekat, Claire agak riskan untuk menyentuh Frederick. Iris lapis lazuli Claire menatap tajam seseorang yang masih bersorak ria dalam hati karena berhasil membunuh musuhnya.
"Apakah sekarang anda bahagia?" Tanya Claire dengan nada tajam dan penuh penekanan.
Raja Willem mengernyit, bukannya menjawab pertanyaan Claire, dia malah memegangi kening nya yang sempat berbenturan tadi hingga berdarah. Raja Willem berdecak kesal, mendelik pada Frederick yang sudah kehilangan kesadarannya.
"Tch. Dia berhasil melukaiku."
Seberapa besar sihir hitam dapat mempengaruhi hati? Apa dia sudah tenggelam terlalu dalam?
Claire berdiri dengan tegap menghadap Raja Willem. Dengan kedua tangannya, Claire mengarahkan mata pedangnya pada leher Raja Willem dari kejauhan.
Ekspresi datar Raja Willem semakin menghilang, tergantikan dengan wajah iblisnya. Raja Willem mengambil pedang lain yang tersampir di pinggangnya. Sebab dia enggan menggunakan pedang yang berlumuran darah Frederick, dia sudah membuangnya jauh - jauh.
"Sekarang apa? Kau mau membunuhku atas ganti kematiannya, senjata...?" Raja Willem menaikkan sebelah alisnya, menunggu aksi selanjutnya Claire.
Claire memejamkam matanya, melepaskan kain yang Clara gunakan sebagai penutup luka. Tampak mata kirinya yang terluka parah seolah kembali seperti semula, hanya saja iris matanya berwarna hitam pekat.
Itu karena Claire menggunakan sihir hitam yang ia serap untuk membentuk sebuah organ mata, setidaknya sampai dia berhasil membunuh pria tua itu. Karena hanya dengan satu mata saja membuat 20% penglihatannya menghilang.
Membutuhkan sihir hitam yang banyak untuk menciptakan replika satu bola mata saja. Saat ini Claire menahan tubuhnya yang nyaris hancur karena dia semakin menambah jumlah sihir hitam yang ditimbun raga ini.
Aku tidak boleh mati, tidak sampai Willem juga mati.
Mata Claire memicing, dia mengambil ancang - ancang untuk berlari menuju posisi musuh. Kakinya menolak tanah hingga terbentuk cekungan dalam. Claire berlari menembus angin malam, mata lapis lazuli dan hitam itu terfokus pada satu titik, sang target.
"Mati kau, Willem!"
Claire menusukkan pedangnya mengarah pada wajah Raja Willem. Tetapi gerakan Raja Willem juga tidak kalah cepat. Dia mencengkeram pergelangan tangan Claire dan menendangnya menggunakan lututnya hingga Claire terlempar jauh.
Beruntung Claire bisa menyeimbangkan berat badannya dengan baik, membuat dirinya tidak jatuh karena tendangan barusan.
Sejak tadi dia pasif dan takkan memulai serangan sebelum lawan bertarungnya. Kalau begitu rencanamu...
Claire mengacungkan pedangnya tinggi - tinggi, membuat Raja Willem menatapnya aneh, namun Claire mengacuhkannya saja. Tak berselang lama, kumpulan kabut hitam yang sangat pekat mengelilingi pedang yang Claire pegang. Benar, dia sedang menyerap sihir hitam dan menjadikan pedang itu sebagai wadahnya. Karena ini bukanlah pedang mawar biru, intensitas sihir hitam yang tertimbun tidak bisa sebanyak pedang mawar biru. Sehingga Claire mengorbankan tubuhnya sebagai wadah cadangan.
Raja Willem menahan napasnya, matanya melebar sempurna. Dia mengetahui rencana Claire. Gadis ini memang berbahaya. Dia lagi - lagi menggunakan teknik iblis itu untuk menyelesaikan pertarungannya. Bukankah teknik ini akan membebani penggunanya sebagai efek samping?
Raja Willem melebarkan jari - jari tangan kirinya, menjulurkannya ke depan, bisa dia lihat sosok Claire diantara celah jarinya. Raja Willem memundurkan kaki kanannya cukup lebar. Pedangnya yang sudah terasah dengan baik seolah membidik kepala gadis itu.
Saat Claire membuka matanya, cairan merah kental mengalir dari mata kirinya. Beban dari penggunaan sihir hitam ini sangat merusak dirinya dari luar maupun dalam. Iris hitam itu terus saja menggelap, cahayanya pun t'lah pudar.
Pedang besi yang Claire pegang lama kelamaan pun menghitam. Kabut - kabut di sekitarnya semakin pekat dan banyak.
__ADS_1
Raja Willem menelan salivanya berat. Ini jauh lebih besar daripada enam tahun lalu, sepertinya usia mempengaruhi besarnya sihir hitam yang mampu ditampung olehnya dan pedangnya. Tetapi karena ini bukanlah pedang mawar biru, sebisa mungkin Raja Willem tetap optimis akan kemenangannya.
Wajah Claire menggelap, tatapannya menajam. Genggamannya pada pedang itu semakin kuat. Setelah merasa sihir hitamnya terkumpul banyak, Claire menghunuskan pedangnya pada udara kosong, mengibaskan seluruh sihir hitam untuk menjadi pisau transparan miliknya.
Sihir hitam dengan kecepatan tinggi mengepung Raja Willem. Pria paruh baya itu menahan napasnya, tubuhnya menegang tak mampu mempertahankan posisinya. Seolah terjangan hampa dari sihir hitam membuatnya kehilangan kemampuan untuk bergerak.
"Mengapa hanya diam saja? Sukar bergerak?"
Raja Willem tersentak saat melihat Claire yang sudah berada di depannya. Claire menerjang tubuhnya dengan beberapa pukulan dan diakhiri sebuah tendangan.
BRUK
Tubuh Raja Willem menabrak batang pohon di belakangnya. Ia melihat zirah besi yang dipakainya terdapat retakan di tempat bekas pukulan dan tendangan Claire. Raja Willem mendecih, dia melepaskan zirah yang hanya menutupi bagian dadanya lalu melemparkannya ke sembarang arah.
Raja Willem terbatuk dan membuang darah dalam mulutnya. "Tidak kusangka kau berubah menjadi brutal dalam sekejap mata. Ini mirip seperti enam tahun yang lalu."
"Jangan bawa - bawa enam tahun lalu, itu cuma cerita lama." Claire mengibaskan pedangnya ke bawah.
Claire kembali memasang kuda - kuda menyerang, kakinya berlari dengan sangat cepat. Raja Willem yang baru merasakan kembali dirinya terkejut, matanya terbelalak.
".....!"
Claire bisa merasakan hangatnya darah yang mengenai bahunya. Sebuah pedang menembus raga Raja Willem hingga darahnya tercecer kemana - mana. Kabut hitam tebal yang keluar dari Raja Willem langsung terserap ke dalam raga Claire.
Claire menarik pedangnya yang tertancap pada targetnya. Tubuh Raja Willem limbung dan jatuh ke permukaan tanah dengan keras. Dengan iris lapis lazuli dan hitamnya, Claire menatap tajam Raja Willem yang nampak kaku.
Claire menahan napasnya, waktunya sebentar lagi akan habis. Pertukaran singkat ini tidak mengakibatkan yang lebih buruk dari tragedi enam tahun lalu.
Tubuh Claire terjatuh begitu saja, dahinya telah mencium permukaan tanah. Tetapi tak lama, kepalanya mendongak, memperlihatkan iris lapis lazuli miliknya. Sedangkan mata kirinya tertutup sempurna karena cacat. Pandangannya menjadi sendu ketika menatap seseorang yang memiliki luka tusuk memanjang tergeletak lumayan jauh dari posisinya.
"Tuan Tua Frederick Wayne."
Dengan sisa - sisa tenaganya, Clara yang telah mengambil alih kesadarannya kembali, berjalan lunglai menuju tubuh Frederick yang tergeletak.
Langkah demi langkah Clara menghampiri Frederick. Dari dekat pria itu nampak memejam kan kedua matanya erat - erat. Seolah terinfeksi debu, mata Clara menitikkan air mata.
BRUK
Clara menjatuhkan lututnya, dan terduduk dekat kepala Frederick. Saat Clara merunduk, kini bisa ia lihat wajah Frederick yang mulai memucat. Tanda - tanda kehidupannya semakin menipis. Clara mengepal erat kedua tangannya.
"Pak tua..." Suara serak Clara terdengar lagi.
Kelopak mata Frederick tampak mengerjap, dia membuka kedua matanya perlahan - lahan. Yang pertama kali ia lihat adalah wajah menangis seorang senjata yang menumpang di kediaman nya selama enam tahun.
"Kalau bukan pada Lea, aku malas sekali mengucap selamat tinggal..."
__ADS_1
Clara merasa senang bercampur haru saat dia masih bisa mendengar suara ketus Frederick, walau suaranya bergetar dan sangat parau seolah tenggorokannya tidak pernah disiram air.
"Nyonya Eleanor juga tidak mau mendengarnya dari anda." Sindir Clara.
"Wanita itu sampai sekarang masihlah pengecut."
Clara melotot pada Frederick. Bisa - bisanya Frederick menyebut istrinya 'wanita itu', lalu apa tadi dia bilang? Pengecut? Jika Eleanor mendengarnya sudah pasti Frederick mendapat tamparan maut dari istrinya.
"Clara..."
Frederick memanggil Clara, dia kembali memejamkan matanya. Sesungguhnya ini membuat Clara agak khawatir. Seandainya sihir hitam bisa menyembuhkan luka, bukan hanya menciptakannya saja. Maka Frederick takkan berakhir semengenaskan ini. Jauh dalam lubuk hatinya, Clara tidak menginginkan kematian Frederick. Masih ada Hellen serta Hendrick yang membutuhkan ayahnya.
"Katakan pesanku ini pada Lea."
Suara Frederick semakin samar. Saat pria tua itu menggerakkan mulutnya, Clara tahu dia sedang mengatakan sesuatu. Namun Clara sama sekali tidak mendengar ucapan Frederick.
Apa yang dia ucapkan?
Tubuh Frederick terlihat mulai berubah samar. Kelopak - kelopak bunga krisan putih memenuhi sekitar Clara. Clara menjadikan kedua tangannya sebagai perisai ketika setiap kelopak krisan terbang dibawa angin dengan cepat.
Clara hanya bisa memandangi kelopak bunga krisan yang terbang melintasi langit malam. Frederick telah berubah sepenuhnya menjadi krisan putih.
"Aku mencintaimu, Lea."
...❀...
Di dunia mimpi. Dimana tidak ada siang dan malam. Langit tak berujung itu tetap apik menampilkan warna biru yang membuat siapa saja berdecak kagum. Hamparan rumput pendek yang sedikit bergoyang saat seseorang menginjaknya.
Langkah kaki orang itu berhenti saat sebuah kelopak bunga krisan putih terjatuh dengan lembut di dekat pijakannya. Dia membungkuk kemudian mengambil kelopak krisan tersebut.
Dia tidak tahu bagaimana bisa ada sesuatu yang datang tanpa kehendaknya, karena bagaimanapun dia adalah penghuni sekaligus penggerak dunia mimpi itu. Krisan itu pasti menerobos masuk ke dalam dunia mimpi.
"Ah, kau bersungguh - sungguh dengan ucapanmu yang satu itu." Senyum tipis tersampir di bibirnya. "Terima kasih karena telah mengunjungiku, muridku."
Mata ruby milik Grein memandang cakrawala. Dunia mimpi ini terlalu realistis sampai ia kadang lupa bahwa dirinya sudah tiada di dunia nyata. Eksistensinya yang satu ini hanya sekedar kepingan jiwa yang terpisah.
Senyuman Grein semakin menipis, tidak ada yang tahu apa yang dipikirkannya. Menjadi orang yang selalu diselimuti oleh rasa kesepian dan kesendirian selama ratusan tahun membuatnya mengerti mengapa adiknya bisa mengatakan bahwa manusia lebih kejam daripada iblis.
Sayangnya Grein telat menyadari itu dan sekarang dia telah kehilangan adik dan seorang yang dia cintai. Namun Grein tidak menyesali keputusannya. Karena semua ini sama persis seperti keinginannya, sebentar lagi dan semuanya akan selesai.
"Frederick, terima kasih telah memenuhi permintaanku."
TBC
Next eps adalah flashback Frederick Wayne.
__ADS_1
So, see you in the next chapter~