The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 123 - Sang Antagonis


__ADS_3

"Bohong?"


Hendrick menggigit bibir bawahnya sampai menimbulkan luka kecil. Perasaannya campur aduk. Ia ingin marah tapi sulit berteriak, sedih namun tak kunjung menangis. Selama ini dia sudah terlalu sering menekan emosinya. Hingga ia lupa cara mengekspresikan perasaannya sendiri.


"Saya tidak berani melakukannya."


Hendrick terus diam.


Menyadari diamnya si lidah beracun tentu bukan pertanda baik bagi Vester. Pria itu yang selalu memberontak terhadap ayahnya kini tak bisa kembali ke masa itu lagi.


Hendrick menghembuskan napas panjang, sesaat dia berbalik dan melangkah menuju aula kerajaan. Atau dia mungkin ingin membantu Raja Ranunculus di sisi lain kerajaan.


"Tuan Hendrick..."


"Beri aku waktu."


Clara memandang Hendrick dengan nanar. Pria itu semakin jauh dari pandangannya. James di sampingnya juga sedang berusaha bertarung semaksimal mungkin. Sayangnya pasukan ini nampak gila dan lepas kendali.


Saat Clara menatap ribuan pasukan yang belum mereka kalahkan. Dia menggertakkan giginya ketika matanya melihat sesuatu yang asing mengelilingi setiap pasukan musuh. Seolah ada selaput tipis berwarna hitam yang membungkus mereka.


Apa itu? Sihir hitam?


"James berhati - hatilah. Jangan sampai bersentuhan secara langsung dengan mereka. Kalau bisa kau memperlebar jarak dengan musuh."


"Apa? Bukankah akan sulit untuk membunuh mereka? Kak Rara... aku bukan petarung jarak jauh."


Clara menatap pasukan musuh yang diselimuti asap hitam. Ini lebih gelap daripada kabut sialan yang mampir barusan.


"Baiklah. Asalkan jaga dirimu supaya tidak berkontak langsung dengan mereka."


"Baik."


Clara berlari menembus pasukan musuh untuk mencari penyebab selaput tipis berwarna hitam itu ada. Karena ia menyadari bahwa selaput tersebut tidak bergerak kemana - mana, mungkin Clara bisa mengetahui penyebabnya dalam lautan darah ini.


James yang ditinggalkan begitu saja hanya bisa menatap kepergian Clara dari jauh. Membuat ia kehilangan fokus dan nyaris kepalanya terpisah dari badannya. James mengusap lehernya yang terdapat goresan kecil.


"Kau jangan mengendurkan kewaspadaanmu. Benar - benar, deh. Apa ayahmu membiarkanmu tumbuh tanpa pengawasan di samping statusmu sebagai pewaris tahta?"


Lraight yang barusan mendorong James menjauh dari tebasan musuh, membunuhnya dengan mudah. Mendengar sindiran Lraight yang sama saja seperti teman - temannya di akademi membuat ia mendelik kesal.


Meskipun sindiran maut Raģe lebih mampu meluluhlantahkan hatinya yang sangat bersih. Yah, James mempelajari kalimat - kalimat aneh itu dari Raģe yang memang terkenal aneh dan gila.


"Meski anda pernah menjadi penguasa. Namun, setiap penguasa punya cara berbeda untuk memimpin negerinya."

__ADS_1


"Dari cara bicaramu, kau tidak meragukan."


...****...


"Anda... bagaimana bisa?!" Raģe memekik keras.


Sontak saja teriakannya menjadi pusat perhatian semua orang. Bahkan Crater sendiri yang sedang di tengah topik panas dengan Raja Agapanthus.


George juga menatapnya penasaran. Raģe ini orang yang aneh. Apa dia bisa mengenali seseorang hanya dengan melihat mereka?


Berbeda sekali dengan dirinya yang harus menggali ingatan dalam - dalam demi menemukan identitas pria ini sebagai penyihir pria dalam legenda. Itupun ternyata ada konspirasi di dalamnya.


Pria yang diambang kewarasannya ini, Crater mengorbankan dirinya sendiri untuk seorang wanita yang sudah menikah. Crater mungkin sudah kehilangan akal sehatnya semenjak tahu jika wanita yang dicintainya telah bersuami. Bahkan suaminya adalah Kaisar Hortensia pertama.


"Kenapa kau berteriak seperti itu?" George mendelik kesal.


Raģe menoleh padanya dengan tatapan setajam elang, "Kau tidak mengenalinya sama sekali?!"


"Apa? Dia Crater de'Lavoisiér, bukan? Mustahil dia memiliki identitas lain. Kemungkinannya hanyalah 1% saja."


Raģe semakin menajamkan pandangannya. Kemudian menoleh ke arah dimana Crater berdiri dengan santainya sambil menebar senyum ganjil. Ini menyeramkan ketika hanya ia sendiri yang mengetahui kebenarannya.


"Dan 1% itu adalah realita yang harus kau hadapi! Dia bukan Crater de'Lavoisiér! Hanya fisiknya saja yang mirip. Persetan."


"Aku benar 'kan? Pemimpin yang mengkhianati rakyatnya sendiri, Meiger Schubert von Westhley?" Raģe tersenyum sengit.


Semua yang ada disana dilanda keheranan sekaligus terkejut. Begitu juga dengan George yang terdiam membisu, dia memperhatikan setiap gerak gerik dari Crater yang memang lumayan mencurigakan serta familiar di matanya.


Crater tertawa kecil, dia mengangkat poninya. Dan yang membuat orang - orang lebih terkejut lagi adalah saat surai emasnya berganti menjadi hitam pekat. Seperti langit malam ini yang hanya dihiasi satu bintang saja.


"Bingo. Tebakanmu tepat sekali. Sudah sejak lama aku bosan dengan memerankan karakter kaisar yang adil dan bijaksana. Maaf tidak bisa mengurus kalian, aku punya urusan lain yang tak bisa ditunda lagi."


...****...


Clara masih berusaha menembus pertahanan Vinca yang ternyata sulit diterobos jika hanya dia sendiri. Sebab hanya dengan ia lihat dari jauh, Clara bisa tahu betapa siapnya mereka menerima serangan dalam bentuk apapun.


Bagaimana caraku menerobos mereka? Aku kekurangan sihir hitam... tidak. Jika aku nekat menggunakannya, belum tentu juga mampu mengalahkan mereka. Setidaknya, semuanya harus diselesaikan di generasi sekarang. Terasa muak jika aku dengar 'reinkarnasi karena urusan belum selesai'.


Saat Clara sibuk dalam pikirannya. Seseorang dengan gerakannya yang secepat kilat memotong organ setiap pasukan atau menusuk langsung ke bagian otak mereka.


Clara mengalami banyak kejutan. Ketika orang itu mulai mengeluarkan lebih banyak sihir hitam untuk mengendalikan pikiran - pikiran dari anggota musuh.


Gawat. Ini semakin gawat!

__ADS_1


Clara berusaha menahan napasnya sendiri ketika pria itu mulai mencari target lain untuk dia cabik - cabik organnya. Ini aneh. Biasanya dia tidak pernah setakut ini saat menghadapi musuh yang gila.


Merasa bahwa akan beresiko jika tetap memaksa maju, Clara perlahan mengambil langkah mundur. Ia juga sebisa mungkin tidak menimbulkan suara atau menginjak daun kering dan ranting.


"He~ Ada tikus yang mau kabur..."


Clara tersentak sesaat, ia merasa bahwa yang pria itu bicarakan adalah dirinya sendiri. Bulu kuduknya seketika meremang. Langkahnya langsung terhenti padahal belum beberapa langkah dia pergi dari tempat terkutuk ini.


Sial. Tahu begini aku menyeret James bersamaku. Setidaknya aku tidak takut karena sendirian.


Tapi Clara merasa janggal mendengar suara tersebut. Ia pikir pernah mendengar suaranya sebelumnya entah dimana.


SRING TRANG!


Reflek Clara yang lumayan bagus membuatnya bisa merasakan bahwa seseorang menyerangnya dari belakang. Clara menangkis mata pedang yang nyaris mengiris kulitnya.


STAB


"Guah...!"


Namun Clara kalah cepat darinya. Dia berhasil berpindah tempat lalu menembus jantung Clara dari belakang. Mulut Clara mulai mengeluarkan darah yang begitu kental. Apalagi bagian dimana dia ditusuk. Pedang emas yang menjulur ke depannya dilumuri oleh darahnya, bisa terlihat jelas oleh Clara.


Heh?


"Aku awalnya merasa sedih karena kau adalah Ivory. Tetapi, kau mengatakan sendiri jika namamu adalah Clara, bukan? Jadi, aku bisa membunuhmu tanpa merasa sedih."


Suara ini...


Clara melirik sedikit ke belakang. Dia bisa menangkap siluet wajah pria itu yang memiliki surai sepekat langit malam tanpa bintang. Clara tahus persis orang yang punya ciri fisik seperti itu. Jantungnya benar - benar berhenti setelah melihat kilatan ruby.


Mustahil...


"Dengan ini, aku bisa membalaskan kematian Ivory."


"...Yang Mulia...?"


TBC


Masih inget di prolog? Lilia pernah berkata jika Kaisar adalah antagonis sebenarnya di Flower's Girl karena tak bisa dibunuh Dark Clara. Itu adalah clue keras di main story bahwa antagonis utama adalah Kaisar sedang Willem cuma villain sampingan.


Intinya cerita ini sudah memasuki klimakss. Sebentar lagi resolusi dan tamat!


So, see you in the next chapter ~

__ADS_1


__ADS_2