
Ruangan besar itu mendadak sepi setelah orang terakhir mengucapkan sesuatu. Di depan Duke Wayne duduklah Clara. Pembunuh gila yang berkedok gadis muda nan cantik.
Sekiranya pembicaraan pagi ini telah selesai, Clara bangkit dari kursinya. Semua orang sontak menatap ke arahnya tanpa terkecuali.
"Karena pembicaraan tentang rumor saya sudah selesai. Saya akan pamit menuju kamar saya." Clara sedikit membungkukkan badannya pada Duke dan Duchess Wayne.
Ketika Clara mengambil langkah keluar, di luar ruangan terlihat jika Avrim menunggu disana selama mereka membahas rumor.
Namun sebelum benar - benar pergi, Clara berbalikー tatapannya terfokus pada satu orang, Hellen Wayne.
"Asalkan anda tahu Nona Hellen, alasan saya mengacuhkan anda di masa lalu itu karena saya punya kepribadian lebih dari satu. Seorang senjata juga perlu mempunyai topeng."
Hellen membeku. Matanya tidak lepas dari punggung Clara yang semakin lama semakin menjauh diikuti Avrim di belakangnya.
"Apa - apaan itu tadi? Kepribadian lebih dari satu?"
Setelah memastikan bahwa Clara benar - benar telah naik ke lantai atas. Hellen menengok ke sebelahnya, dimana ada Duke Wayne yang sudah siap menerima pertanyaan dari anaknya ini.
"Ayah, apa maksudnya itu?"
"Seperti yang kau dengar darinya, dia memang punya banyak kepribadian. Astaga bocah itu selalu saja menyusahkanku."
"Jadi kejadian tiga tahun lalu dan beberapa bulan lalu adalah efek dari semua itu? Efek dari dia punya lebih dari satu kepribadian."
Duke Wayne menggeleng samar, "Kalau yang itu Ayah kurang tahu. Ayah tidak tahu kalau sindrom itu bisa digunakan seperti itu. Namun, mungkin memang benar itu dua pribadi yang berbeda."
GREP
Hellen menggenggam tangan kanan ayahnya, matanya nampak berkaca - kaca. Bahkan tangannya saat ini bergetar hebat menahan sesuatu.
Hendrick yang tahu kemana arah pembicaraan ini hanya berusaha tetap tenang. Memang, kalau Hendrick mengatakan dia tidak penasaran dengan masa lalu Clara itu pasti adalah kebohongan.
Ia hanya menunggu waktu yang tepat.
"Tapi... mengapa Clara yang satu ini tidak mirip sama sekali dengan satu - satunya sahabatku itu? Katakan kepadaku Ayah... hiks... mengapa...?"
Duke Wayne hanya diam, dia tidak berani menjawab karena jawabannya belum tentu benar. Karena selama ini ia masih bingung alasan sikap Clara bisa berubah - ubah setiap periode tertentu.
"Mungkin kau harus tanyakan ini langsung padanya."
...****...
"Apa yang sebenarnya kau lakukan disana? Masuk saja dan tanyakan padanya." Ucap seorang pria muda dengan nada ketus.
Gadis yang berdiri jauh di depannya langsung menengok ke arahnya dan memberikan tatapan tajam.
"Aku sedang berusaha disini, mengapa Kakak tidak menyemangatiku? Malah mengejekku jauh dari sana." Gadis itu berkata dengan suara sangat pelan.
Hellen berdiri dengan canggung di depan sebuah pintu antik. Ia yakin setelah masalah tig tahun lalu dirinya baru datang kesini sekali namun tidak bertemu dengan pemilik kamar.
Hendrick sendiri yang tidak terlalu punya kaitan dengan masalah itu hanya bisa menyemangati Hellen dari jauhー itulah hal yang seharusnya terjadi. Sampai ia kesal sendiri karena Hellen tak kunjung mengetuk pintu di depannya.
"Bukankah kau sudah sering melakukannya dulu? Tidak ada bedanya dengan yang sekarang. Kau ini hanya terlalu payah untuk menghadapi masalahmu."
"Huu!... sebagai Kakak aku yakin kalau Kakak tidak pernah bertindak layaknya seorang Kakak."
"Kakakmu terlalu banyak! Cepat ketuk atau aku akan segera turun sekarang!" Ancam Hendrick.
__ADS_1
"Iya - iya baiklah, pasti akan kuketuk kok!"
Dengan gemetar, kepalan tangan Hellen mengangkat untuk mengetuk pintu.
TOK TOK TOK
Ada rasa lega setelah Hellen berhasil mengetuknya.
CKLEK
Setelah beberapa lama pintu pun terbuka, Clara membuka pintunya perlahan agar tidak ada sinar matahari yang menerobos tiba - tiba.
Clara yang sudah menduga kedatangan Hellen lalu berkata, "Masuklah."
...****...
Clara membiarkan Hellen duduk dimanapun sesukanya. Sedangkan Clara menyeduh teh untuk Hellen dan dirinya sendiri, miliknya ada tambahan es batu. Setelah selesai, ia menghampiri Hellen yang sudah duduk tegak.
"Anda tidak perlu secanggung itu hanya karena ingin menanyakan sesuatu. Nona Hellen bisa bertanya apapun pada saya."
Sambil menuang teh pada cangkir di depan Hellen, Clara memulai percakapan. Dengan Hellen yang duduk dengan tegak sudah menegaskan kalau saat ini ia masihlah gugup untuk berucap bahkan untuk sekedar sepatah kata.
"Kau... kau pasti tahu bahwa aku akan datang."
Akhirnya setelah ia membuang waktu empat menit untuk diam. Hellen membuka suaranya, menatap Clara yang duduk di hadapannya.
Clara sendiri mendengar itu hanya bersikap santai, "Jika Nona Hellen mau membicarakan masalah kepribadian ganda yang saya miliki. Saya akan menjawabnya sebisa mungkin."
"B..bagus kalau begitu."
"Sebenarnya orang yang Nona Hellen pertama kali temui adalah saya. Dan setelah tiga tahun kemudian, itu adalah pribadi lainnya."
Hellen mendongak, "Bagaimana dengan dirimu yang ini?"
Clara hanya tersenyum simpul.
"Mungkin Nona mau menjawab nya?"
"Urg..."
"Berarti kau yang tiba - tiba menjauhiku itu karena adanya peralihan kesadaran?"
Clara mengangguk samar, "Nona bisa menyebutnya begitu. Karena saya tidak tahu pasti jawabannya."
"Apakah kalian tidak berbagi ingatan?"
"Apa yang Nona harapkan dari saya? Kami bahkan tidak pernah berkomunikasi satu sama lain. Jadi jangan terlalu berekspetasi tinggi terhadap kami."
Sorot mata Hellen berubah kecewa, dia berharap jika Clara yang ini adalah Clara yang selama tiga tahun menjadi sahabat terbaiknya. Sambil menelan pil pahit atas kenyataan menyedihkan ini, wajah Hellen terus menghadap ke bawah.
SRET
"Hah?"
Wajah Hellen terangkat ketika dirinya merasa ada sebuah tepukan pelan di kepalanya.
Saat itu, ia bertemu dengan wajah Clara.
__ADS_1
Wajah yang selama tiga tahun ke belakang ini selalu menunjukkan ekspresi dingin dan benci. Kali ini memancarkan kehangatan yang tiada tara, senyum hangat di wajah dinginnya membuat Hellen merasakan perasaan yang sama seperti saat dia baru pertama kali bertemu sahabatnya, 'Rara'.
"Kau tahu? Meski aku sudah melupakannya, hari dimana aku setiap hari selalu bersenang - senang denganmu. Akan tetapi, hati ini... aku akan selalu menyimpan semua kenangan itu disini. Jadi, mulai saat ini kita akan bersahabat lagi, benarkan? Allen."
Clara menyentuh tempat dimana hatinya berada.
TES
Setetes cairan bening melewati pipinya. Kedua tangan Hellen yang gemetaran mengambil tangan Clara di pucuk kepalanya. Membawanya menuju pipi kirinya, dimana tempat itu sudah dibanjiri oleh air matanya.
Clara sendiri masih mempertahankan senyuman hangat miliknya. Meski tempat ini gelap dan hanya bermodalkan cahaya minim dari lilin. Tapi dirinya tahu jika saat ini Hellen menangis. Selain karena tangannya yang dibasahi air mata Hellen, mata Clara yang terbiasa dalam gelap juga menjadi alasannya.
"Kau sangat curang... Rara... hiks..."
HUG
Dengan lembut Clara membawa Hellen ke dalam pelukannya. Hellen sendiri dengan senang hati memeluk balik Clara. Saat ini dirinya adalah orang yang paling bahagia sedunia.
Semua kesalahpahaman diantara mereka dulu kini sudah diluruskan.
Hellen menangis tersedu - sedu dalam pelukan Clara. Hatinya memanglah rapuh kalau sudah berurusan dengan persoalan ini.
Orang yang ia sayangi dan cintai, Clara sebagai satu - satunya sahabatnya. Yang dahulu mereka sempat bersitegang, saat ini semua sudah kembali seperti semula.
"Aku minta maaf Rara..."
"Hm? Untuk apa?"
"Itu... karena aku sudah salah paham kepadamu. Karena aku sendiri baru tahu kalau kau punya kondisi khusus semacam itu."
"Tidak masalah. Selama ini juga aku tidak pernah memberitahukan apapun kepadamu, Allen."
Saat ini, aku hanya perlu bersandiwara sebagai Rara yang hilang. Apakah ini benar? Bolehkah aku melakukannya? Membohongi Hellen Wayne...
"Ayah sendiri pernah menafsirkan masalah 'kondisi khusus'mu. Ayah berkata jika kau hanya akan seperti itu jika merasa terganggu. Apakah... tiga tahun yang lalu ada sesuatu yang membuatmu merasa terganggu?"
Pak tua bodoh itu....! Dia memang mau kena olehku yah? belum kutebas sih! Kalau sudah kutebas baru tahu rasa dia. Memang tua - tua keladi!
"Aku... melupakannya... alasanku merasa terganggu..."
"Huh? Kau benar - benar seorang yang pelupa sekali, Rara!" Ejek Hellen.
"Hehe.. maaf - maaf."
Di luar, Hendrick yang sedang bersandar di pintu kamar Clara hanya tersenyum tipis mendengar percakapan absurd antara senjata dan adiknya yang lagi - lagi sumbernya adalah Clara.
Hendrick berdiri tegak, berjalan menuju tangga untuk turun ke lantai bawah.
"Setidaknya, satu masalah telah terselesaikan."
TBC
Mm... hanya sekedar info bagi yang lupa kapan Duke Wayne mengatakan itu pada Hellen ada di 'Chapter 7. Kacau Sudah!'
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1