
Hm... aku tidak berfikir bahwa anak ini bisa diajak kerja sama.
Clara memandang punggung George, si pria yang suka emosian. Dia dan George kebetulan langsung mendapat misi di hari pertama. Tidak, setidaknya itu untuknya bukan George.
Saat ini mereka sedang melakukan misi pembunuhan, sebenarnya hanya misi eksekusi. Namun misi ini sangat penting untuk melihat kemampuan George. Apakah dia memang tidak tegaan seperti yang pernah Kaisar katakan.
Mereka sedang menuju ke ruangan eksekusi, dimana seharusnya sudah ada algojo disana. Sayangnya Clara tetap terkena juga, mungkin ini upaya Raja Willem untuk mengubah senjata cacatnya menjadi lebih seganan.
Di ruang eksekusi, hanya ada seorang pria yang akan dieksekusi lengkap dengan berbagai macam senjata yang akan digunakan untuk membunuhnya. Kedua tangan pria itu ditahan dengan borgol, dia begitu lemas namun Clara tahu pria itu masih sadar.
Glek!
Bukan! Itu bukanlah Clara.
Clara melirik George yang kini sudah berada di sampingnya. Masalahnya ada disini rupanya. Alasan kenapa Freesia tidak sebrutal dahulu. Ternyata ketiadaan diri Clara berpengaruh besar pada sebuah wilayah. Pantas Frederick Wayne dibenci oleh Freesia hanya dalam satu penculikan.
Karena Freesia langsung dirugikan.
Senjata yang mereka buat baru juga tidaklah efisien. George cenderung berubah menjadi pengecut ketika dihadapkan dengan semua ini. Entah target pembunuhan atau sekedar target eksekusi saja.
"Apakah kamu baik - baik saja?" Tanya Clara.
George enggan menjawab. Itu saja sudah cukup untuk membuktikan kalau dia malas meladeni pertanyaan yang merendahkan harga dirinya. Apalagi Clara adalah perempuan tidak peduli senjata keberapa dirinya.
"Kamu harus fokus pada misi eksekusi ini jika mau mendapatkan perhatian Raja." Ucap Clara lagi, dan alhasil dia dihadiahi tatapan tajam oleh George.
Ah, benang merah yang samar.
Apakah alasan George mau menjadi senjata tanpa ada rasa dipaksa karena Raja Willem?
Itu patut dipertanyakan.
Tapi saat ini Clara akan fokus pada misi eksekusi. Jujur, dia sebenarnya ketakutan dengan membunuh orang lain saat pertama kalinya dia melakukannya. Tapi karena itu darurat, dia dengan santainya menghunuskan pedang tajamnya ke setiap musuh.
Dan mulai dari sana, Clara membiasakan diri untuk membunuh orang dan melihat cairan kental berwarna merah itu. Perasaan mual karena telah mencabik - cabik musuh masih ada hingga saat ini.
Itu semua karena keadaan yang memaksa, dia terpaksa mengangkat pedangnya dan membiasakan diri terhadap pembunuhan dan sejenisnya. Dan eksekusi adalah salah satu dari banyaknya jenis pembunuhan.
Kita akan membunuhnya dengan senjata yang mana?
Clara mengelilingi ruang eksekusi untuk mencari - cari keberadaan senjata yang akan digunakan untuk mengeksekusi. Senjata disini ada banyak jenisnya, Clara tidak tahu yang mana yang harus dia pakai.
"Hei George, apakah kamu tahu dimana senjata yang akan kita gunakan?" Merasa putus asa dengan banyaknya pilihan, Clara memutuskan bertanya pada George.
Dengan wajah datar karena keengganan berkomunikasi dengan Clara. Telunjuk George terangkat hanya untuk mengarahkan Clara pada pria yang tergantung, menunggu untuk dieksekusi.
"George, aku menanyakan senjatanya bukan targetnya." Kesal Clara.
"Cih! Perhatikan baik - baik bodoh! Aku juga menunjuk senjatanya!" George juga jadi terpantik emosinya.
Sudah dikatakan kalau George itu tipe yang cepat emosi, dan Clara sekarang malah membuatnya kesal. Semoga saja kedua senjata ini akur dan Clara segera pulang ke Hortensia.
Apakah disini aku akan mendapat cokelat panas? Musim dingin begini aku lebih suka di Hortensia karena bisa mendapat apapun tanpa kerja lembur.
Clara sekali lagi melihat sang target, kali ini lebih teliti. Dan benar saja, ada sebuah pedang besar yang besarnya melebihi pedang mawar miliknya. Bahkan mata pedangnya diasah dengan baik sehingga masih tajam.
__ADS_1
Atau memang banyak orang yang dieksekusi sampai pedangnya selalu diasah?
"Ehehe, aku tak melihatnya." Ujar Clara sambil tertawa garing, mengusap tengkuknya karena malu. Dia sudah ngegas dan ternyata dia yang salah, beri tepuk tangan pada alumni senjata ini.
George hanya bersidekap dan mendengus dengan kasar. Mungkin kelakuan Clara membuatnya gerah badan, hati, dan pikiran. Ditambah kemarin malam senior nya itu sempat ke kamarnya dan meracau tidak jelas.
"Aku selalu ingin menanyakan ini kepadamu. Tapi bagaimana kau bisa tahu namaku?" Tanya George di sela - sela misi mereka.
Clara yang sudah memegang pedang besar nan tajam itu terhenti seketika. Dia merasa kaku untuk menjawabnya, terlebih lagi akan aneh jika dirinya menjawab kalau dia tahu semua tentang George dari Kaisar Hortensia.
Sialan! Apa yang harus kujawab ini! Ah! Atau begini saja...
"Para pelayan berbicara tentangmu, saya hanya tidak sengaja mendengar namamu diantara percakapan mereka."
Maafkan aku karena telah mengkambing hitamkan kalian!
"Sigh! Seharusnya mereka lebih banyak bekerja daripada bergosip." George mendengus samar.
Maafkan aku!
Clara berusaha mengalihkan perhatian George, dia mulai mengangkat pedang besar itu tinggi - tinggi. "Kapan kita akan mengeksekusinya? Apakah ada waktunya?"
"Tidak ada. Lakukan saja sesukamu."
"Baiklah."
Clara semakin mengangkat pedangnya tinggi, dia sudah tahu persis tempat mana yang akan dipotong agar pria ini lekas mati. Clara langsung menghunus pedangnya kearah leher sang pria. Kepala pria itu menggelinding ke bawah, masih dengan ekspresi mengerikan karena rasa sakit dari penyiksaan sebelum eksekusi.
Kepalanya menggelinding sampai mendekati kaki George. Pemuda itu nampak pucat pasi karena didekati oleh kepala mayat. Itu adalah masalah yang cukup kompleks untuk ukuran seorang senjata.
George melihat kearah Clara yang baik - baik saja bahkan setelah memotong leher seseorang. Ekspresinya begitu datar, tak terpengaruh dengan cipratan darah yang mengenai dirinya.
Tanpa sadar George mengepalkan tangannya.
"Aku harus segera bersih - bersih saat kembali."
Lamunan George buyar ketika suara seseorang mencapai pendengarannya. Clara sibuk menepuk gaunnya yang telah dikotori darah, bahkan di sekitar pijakan kakinya ada genangan darah disana. George merasa semakin mual hanya dengan melihatnya.
Clara menghampiri George, dia menendang kepala mayat yang sempat menggelinding kearah George dengan santainya. Mau tak mau George menatap horor pada Clara.
Apakah gadis ini adalah seorang gadis? Ada kemungkinan kalau kedok aslinya ialah pak tua yang sadis bukan? Atau dirinya sekedar pria muda yang haus darah seperti Kaisar Hortensia?
Sudahlah. Hentikan sesi tebak - menebak ini.
George menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya masih sepucat barusan. Clara menjadi khawatir dengan kondisi buruk George.
"Apakah kamu menjadi seperti ini karena melihat eksekusi barusan?" Tanyanya.
Dengan cepat George menggeleng. Mana mau dia menjatuhkan harga dirinya di hadapan seorang gadis yang bahkan masih kelihatan kekanakan ini! Sewaktu kiamat menghampiri barulah hal itu akan terealisasikan.
Mendadak Clara merasa kesal karena ketidak jujuran George. Padahal kalau setidaknya pria ini mau jujur, maka sudah bisa dipastikan kalau misi Clara akan semakin lancar dan mereka bisa kabur malam ini ke Hortensia.
Pendirian seorang pria sekuat itukah?
"Apakah kita perlu membersihkannya juga?" Clara sedikit melirik pada korban eksekusi barusan.
__ADS_1
"Tidak perlu, a- maksudku Raja hanya memberikan perintah mengeksekusi bukannya sekaligus membersihkan mayatnya juga." Jawab George masih dengan tangan yang tertempel di mulutnya.
"Oke..." Clara merespon agak ragu.
"Kita harus kembali secepatnya." Ujar George, keluar dari ruang eksekusi dengan terburu - buru.
Apakah dia baik - baik saja?
...❀...
"George, apa sekarang kamu sudah merasa baikan?"
Kepala Clara menyembul dari celah pintu kamar George. Sepertinya George punya kebiasaan buruk dimana dia lupa untuk mengunci kamarnya sendiri. Itu tidak masalah sampai Clara menyerang sih.
George diam tak bergeming, meladeni Clara sama saja dengan bunuh diri. Dia tak mau dekat - dekat dengannya apalagi Clara sepertinya hanya berganti baju dan belum merendam dirinya berjam - jam di kolam pemandian.
Gadis itu masih memiliki bau darah yang pekat.
Karena George tak mereponnya, Clara kali ini memilih masuk ke kamar George meski tanpa permisi sekalipun. Dia memperhatikan setiap gerak - gerik dari George yang sama sekali tidak masuk akal. Clara mengendus pelan mencium aroma yang tak asing di hidungnya.
"Ada apa dengan aroma parfum yang pekat ini?"
"Itu tidak ada hubungannya denganmu bodoh. Cepat keluar dari sini dan berhentilah menyelinap ke kamarku!"
"Tapi kamu sendiri yang membiarkan kamarmu tidak terkunci. Memangnya ini salah siapa?"
"Tch! Aku tidak berniat mengunci kamarku, setidaknya sampai kau datang dan mengacaukan semuanya." George mendecak samar.
"Mungkinkah kamu membenci orang yang menyelinap ke kamarmu?"
"Ya. Termasuk kau!"
"Lain kali saya akan mengucapkan permisi."
"Cih!"
"Kamu mendecakkan lidahmu?"
Kali ini George mendengus kesal.
"Apa tindakanmu memang sekasar ini bahkan untuk seorang gadis. Saya ini hanyalah gadis muda berhati lembut, kamu tahu?"
"Lembut?" Gumam George.
Ingatannya terlempar pada saat dimana Clara dengan tatapan datarnya memotong leher target. Wajahnya juga tak mengalami perubahan signifikan setelah dia memotongnya. Jangan lupa juga tentang dia yang menendang kepala buntung itu dengan santainya.
Apakah definisi gadis berhati lembut memang seperti itu?
"Apapun itu cepatlah pergi dari sini! Dasar pengacau! Dan berhenti menyentuh barang - barangku!"
"Eh?!"
Itu kasar sekali bukan? Untuk ukuran gadis lembut sepertiku...?
TBC
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~