The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Extra Part 2 - Akhir yang Lebih Baik


__ADS_3

"Na..na...na...."


Laura tengah melukis sesuatu. Sejujurnya, setelah pertemuan kedua mereka kemarin. Tak ada angin maupun hujan, mereka mendadak menjadi sepasang kekasih.


Dan sampai hari ini pun, mereka berdua sama sekali belum paham mengapa semuanya bisa terjadi. Mereka berdua tak mempermasalahkan itu dan tetap melanjutkan hubungan mereka.


Saat ini Laura tengah menunggu kedatangan Michael ke taman. Mereka ada janji kencan hari ini. Karena sekarang akhir pekan, dan tidak ada kerja kelompok yang membebani.


"Yo."


"Siapa?"


Laura memandang heran serta penasaran seseorang yang menyapanya. Dia tampak seperti siswa seusianya. Pria itu melambai ke arahnya sambil tersenyum layaknya ikemen.


"Aku Jack." Jawabnya dengan cepat. Langsung mengintip pada lukisan Laura.


"Jack?"


Sepertinya aku pernah mendengar nama ini...


"Aku Laura."


"Sudah tahu, kok."


"...?"


Jack duduk di bangku taman. Tepatnya di belakang posisi Laura saat ini.


"Michael tahu namamu juga dariku."


Apa sih yang manusia ini bicarakan? Kenapa tiba - tiba membicarakan Michael?


"Lalu?"


"Aku ini satu - satunya sahabat Michael. Aku sangat senang mendengar dia mempunyai pacar. Benar - benar berita tak terduga. Siswa populer satu sekolahan pacaran dengan siswi penggila dua dimensi."


Laura menatap datar Jack. Bagaimana bisa Michael mempunyai teman semenyebalkan ini? Ah, mungkin Michael tidak punya teman dan anak ini mendadak mendekatinya karena selalu terlihat sendirian.


"Apakah kalian sedang kencan?"


"Apakah pertanyaanmu itu perlu kujawab?" Laura bertanya balik pada Jack.


Jack mengangkat kedua bahunya dengan acuh. Rupanya Laura bukanlah gadis yang ramah atau mudah didekati oleh spesies macam dirinya. Yah, setidaknya Jack merasa tenang terhadap pacar Michael ini. Laura tidak akan ramah pada pria yang mencoba mendekatinya.


Kemudian tatapan Jack terkunci pada lukisan yang sedang dibuat Laura. Gadis ini benar - benar pandai melukis, berbanding terbalik dengan Michael yang lukisannya selevel anak SD. Lukisan Laura tampak seperti buatan ahli.


"Eh? Kau melukis seseorang? Siapa itu? Pria ini tampak seperti Michael, tidak... tapi sepertinya aku kenal dengan wajah ini." Jack berkomentar.


Laura tersentak pelan, dia memandang dengan seksama lukisannya. Ia tidak sadar kalau sejak tadi yang dilukisnya adalah seorang pria. Bukan Michael, karena tidak mirip seperti kata Jack.


"Dia ini bukan Michael 'kan?"


"Aku rasa bukan..."


Laura mengabaikan tatapan heran Jack. Dia lebih memfokuskan pandangannya pada lukisan di depannya, sudah jadi. Saat Laura mendongak, dia melihat seorang pria yang mirip sekali seperti lukisannya sedang memegang buku.



Mata Laura melebar, dia yakin tidak mematok lukisannya kali ini. Alias dia melukis sesuai imajinasinya saja, bukan sekedar melihat lalu dilukiskan diatas kanvas.

__ADS_1


Lalu kenapa bisa sangat mirip? Pria di lukisanku dengan dia...


"Kakak!"


Laura yang termenung sedikit terkejut. Ketika ada seorang pria lainnya yang mendekat pada pria yang mirip dengan lukisannya. Laura kenal dengan pria itu.


"Michael?"


Bukan. Itu bukan Laura. Melainkan Jack yang berada di belakang Laura. Dan memang benar pria yang menyahut 'kakak' itu adalah Michael, kekasih Laura.


"Michael punya kakak?" Tanya Laura pada dirinya sendiri.


"Dia punya kok." Jawab Jack spontan.


Kemudian Michael menangkap sosok Laura dan Jack yang sedang berdiri bersebelahan, lengkap dengan kanvas yang masih basah. Michael melangkah menghampiri kedua orang yang masih menatap dirinya dan kakaknya.


"Laura? Maaf aku datang telat." Ujar Michael tanpa memperdulikan keberadaan Jack.


Di belakang Michael, pria yang mirip dengan yang ada di lukisan Laura, yang kata Jack adalah kakak Michel, juga menghampiri mereka. Dia tersenyum lembut kepada kedua teman adiknya.


"Halo."


"Ha-halo..." Laura menjawab sapaan kakak Michael dengan ragu - ragu.


"Yo, Kak Axell. Sudah lama tidak bertemu denganmu." Sapa Jack.


"Iya... kau yang sudah lama tidak ke rumah. Sepertinya Mika mengusirmu terus, ya?" Axell semakin melebarkan senyumannya.


Mika?


"Itu benar, Kak. Adikmu itu selalu mengusirku tanpa alasan jelas. Padahal aku 'kan tidak mengganggunya sama sekali. Kasihan sekali aku ini."


Michael mendelik, "Itu tidak benar. Dia tak pernah mengunjungimu karena manusia ini sudah punya pacar, Kak."


"Bukan, Kak!" Michael berkata dengan ketus.


"Ahaha! Dia ini calon adik iparmu, Kak Axell."


Wajah Michael bersemu karena tersipu. Jack sangatlah menyebalkan, dia sama sekali tidak bisa menjaga ucapannya. Kalau tidak ada kakaknya, bisa dipastikan Jack mendapatkan tamparan maut darinya.


"Ah... dia pacarmu, Mika?" Axell beralih bertanya pada adiknya.


"Hm..." Michael berdehem masih dengan wajah merahnya.


Jadi Michael dipanggil Mika oleh kakaknya. Kenapa malah seperti nama perempuan bagiku.


Axell tersenyum tipis melihat Michael yang salah tingkah. Baru kali ini adiknya bertingkah malu - malu, karena wanita lagi. Axell mungkin akan memberitahukan berita membahagiakan ini kepada ibu mereka.


"Karena kalian sudah berkumpul, bagaimana kalau kutraktir?" Tawar Axell.


"Yahoo! Ditraktir Kak Axell. Aku ikut saja, deh." Jack hanya nyengir kuda.


Jack langsung mendorong Michael menuju kafe terdekat. Diikuti oleh Laura dari belakang mereka. Langkah Axell terhenti ketika dia melihat sebuah kanvas yang terlukiskan dirinya.


Axell ingat kalau Michael itu payah dalam melukis. Jack juga tidak mungkin menghasilkan lukisan sebagus ini. Kemungkinan terbesar adalah gadis yang berstatus sebagai kekasih adiknya.


"Um... kau..."


Merasa terpanggil, Laura membalikkan badannya menghadap Axell. Dia melupakan kanvas lukisnya yang masih tergeletak di bangku. Bisa - bisa lukisannya tidak kering.

__ADS_1


Laura segera mendekat pada lukisannya dan mengambilnya. Dia memeriksa apakah ada yang luntur atau tidak cat nya.


"Itu lukisanmu?"


Laura mengangguk pelan.


"Kau melukis diriku?"


Kali ini Laura menggelengkan kepalanya. Dia mana tahu dengan rupa Axell. Lagipula Laura punya kebiasaan melukis secara acak sehingga wajah Axell yang terlukis barusan adalah kebetulan.


"Ternyata aku terlalu percaya diri." Axell menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Oh ya, aku belum tahu siapa namamu, jadi boleh berkenalan?"


Laura kembali mengangguk.


Axell menjulurkan tangannya pada Laura, "Sekali lagi, namaku adalah Axell, kakaknya Mika. Oh... kau mungkin menyebutnya Michael."


Laura membalas jabatan tangan Axell dengan senyum tipis terpatri di bibirnya, "Laura."


"Senang bertemu denganmu lagi, ya. Laura."


Axell melepaskan jabatan tangan mereka, memandang Laura yang sepertinya agak aneh dan heran kepadanya. Seakan kalimat Axell barusan ada yang salah.


"Um... senang bertemu denganmu juga, Kak Axell."


"Laura!"


Laura menatap jengkel Jack yang meneriakkan namanya. Itu adalah sesuatu yang memalukan, apalagi ini di tempat umum. Jack jika melakukan hal memalukan memang tidak kenal tempat.


Jack melambaikan tangannya, memanggil Laura agar berjalan lebih cepat. Dia juga memanggil nama Axell setelahnya.


Dengan langkah cepat Laura mensejajarkan dirinya dengan Michael dan Jack. Dia takut kalau Jack akan berteriak tidak karuan lagi dan berakhir membuatnya malu.


"Hh...?"


Laura memandang tangannya yang tiba - tiba digenggam oleh Michael. Mendapati tatapan bingung dari Laura, Michael malah acuh dan hanya terus jalan ke depan menuju tujuan mereka yaitu kafe.


Jack yang berdiri di sebelah Michael meliriknya sinis. Sepertinya ini yang dirasakan oleh Michael selama ini. Soalnya Jack sering umbar momen mesra bersama pacarnya pada Michael. Saat ini posisi mereka terbalik. Jangan bilang jika sekarang Michael sedang balas dendam pada Jack atas apa yang dilakukannya selama ini?


"Hei, kalian berdua. Setidaknya jangan menaburkan garam ke atas lukaku!" Geram Jack.


"Berisik. Aku yang setiap hari melihatmu pacaran juga biasa saja."


"Itu..."


Laura tersenyum melihat kelakuan dua sahabat ini. Tanpa disadari, Laura menggenggam balik tangan Michael. Kali ini dia berani melakukannya.


Eh? Kali ini?...Sudahlah.


Laura menghempaskan segala macam pikiran buruk yang menerpanya. Atau beberapa hal yang sebenarnya cukup kompleks. Ia rasa, ada pemicu yang membuat dirinya dan Michael bisa berpacaran dalam pertemuan kedua mereka.


Tapi biarlah, Laura tidak akan peduli tentang alasannya. Karena sekarang, dia adalah gadis yang paling bahagia di dunia.


Di belakang mereka bertiga, Axell melihat bagaimana interaksi diantara adiknya dan kekasihnya. Hubungan yang normal dan manis. Axell senang jika Michael juga senang.


Senyum tipis tersungging di wajah Axell.


"Syukurlah kalian bahagia. Aku juga bahagia atas kalian berdua."


Kali ini, ada akhir yang lebih bahagia untuk mereka berdua.

__ADS_1


..._FIN_...



__ADS_2