
"Ehehe... kalian semua sebenarnya tahu tidak kalau aku ini adalah senjata pertama kalian?" Tanya Clara dengan senyuman terpaksa.
"Aku ini sangat berguna loh bagi kalian, apalagi aku punya ribuan informasi menyangkut Ranunculus. Bagaimana?"
Dia melakukan penawaran bagus pada ratusan prajurit itu, lebih tepatnya ini tawaran yang menguntungkan bagi Clara. Walaupun dia dengan berani menjual diri ke Freesia, tapi setidaknya untuk saat ini dia harus melepaskan diri dari mereka yang jumlahnya sangatlah membebani untuk Clara seorang.
"Kau pasti berbohong! Senjata pertama itu sudah diculik oleh wilayah Tengah, dan mereka tidak mungkin melepaskanmu begitu saja pada kami kembali!" Ujar salah satu dari para prajurit.
Clara mendengus samar.
Mereka mengusirku terang - terangan, itu pun berita baiknya. Berita buruknya adalah akhir hidupku adalah dipenggal di depan seluruh penduduk.
"Mengapa kalian sama sekali tidak percaya kepadaku! Aku ini tidak berbohong, kalau masih ragu juga bawa saja aku ke hadapan Raja kalian. Dia pasti akan mengenaliku!" Pancing Clara.
Demi bisa masuk ke istana-sebab kemungkinan besar George disekap disana- Clara melakukan penjualan diri untuk mendapatkan hasil yang lebih memuaskan karena tingkat keberhasilannya bisa sangat tinggi.
Senjata Freesia yang diandalkan oleh Raja mereka pastinya akan menjadi alat untuk menyerang Ranunculus, kalau semua itu terjadi. Maka perang akan pecah seperti dalam novel, meski ada sedikit perbedaan karena seharusnya Clara lah yang menjadi penyebabnya.
Mari lupakan itu.
Karena itu hanyalah alur novel saja, yang mana sekarang kenyataannya alurnya telah berubah bahkan sebelum Clara terlempar kesini dan menjadi antagonis. Entahlah kenapa semuanya bisa berubah, Clara tak peduli lagi.
Yang penting Clara bisa menghindari ending hitam itu, Clara tak mau memusingkan hal lain.
Mendengar pernyataan Clara yang berani, para prajurit mulai penasaran dengan identitas Clara. Ditambah gadis ini punya fisik yang tidak beda jauh dengan anak kecil yang diculik oleh wilayah Tengah.
Selagi mereka mendiskusikan apakah perlu membawa Clara ke hadapan Raja atau tidak. Clara menundukkan dirinya, menggambar diatas tanah menggunakan ranting yang ia pungut sebelumnya.
Meski banyak dari prajurit berdiskusi, sisanya setia mengawasi gerak - gerik Clara yang aneh. Seharusnya gadis ini mengambil kesempatan untuk kabur bukan? Mengapa malah main tanah tak karuan?
Sudahlah, biarkan saja.
Clara memutuskan memberitahu Jean letak keberadaannya kalau Jean tak sempat datang sampai Clara dibawa (itu pun jika para prajurit setuju).
Clara menggambar rumah yang di tengah - tengahnya ada bunga freesia. Jelas baginya itu disebut Istana Freesia. Tapi kalau dari bentuk, orang bodoh akan mendeskripsikan gambar itu sebagai 'rumah bunga'. Karena bunga freesia buatannya sangatlah jelek dan nyaria abstrak.
Agar Jean dapat melihat gambarnya, Clara sengaja menancapkan pedang berharganya ke dalam tanah.
TAK!
Clara berdiri dan menepuk - nepuk tangannya yang dikotori oleh tanah. Juga gaun dan jubahnya yang berdebu. Dia harus melakukannya sendiri sebab seseorang yang biasa melakukannya sudah tiada.
"Hey Nona."
"Iya?"
"Kami memutuskan untuk membawamu, jika kau berbohong kepalamu adalah bayarannya."
GLEK!
Clara menelan salivanya dengan risau, kata - katanya tidaklah dusta jadi seharusnya dia tak takut akan apapun. Tapi apalah daya, bagaimana pun jika secara tidak langsung Freesia adalah kampung halamannya.
Tempat dimana Clara dahulu 'lembur kerja' setiap harinya.
Yah, tahu dari novel terkadang tidak bagus juga.
__ADS_1
Jadi seharusnya aku membaca ensiklopedia saja nih?
Clara membungkukkan sedikit badannya, menirukan pose memberi hormat ala gadis bangsawan. Ia juga menambahkan senyuman manis di wajah dinginnya.
"Terima kasih banyak telah menerima penawarannya, aku bersumpah tidak akan membohongi kalian. Tapi jika aku benar, maka kalian jangan mengusikku lagi." Ancam Clara.
...❀...
Dan ternyata mereka benar - benar membawa Clara ke istana Freesia untuk membuktikan apakah dirinya adalah senjata pertama mereka atau bukan.
Mereka sangat serius, eh...?
Clara menurut saja ketika dia dibawa ke sebuah ruangan yang lebih luas dari pada lorong yang ia lewati barusan. Semakin dekat, dia melihat ada seorang berwibawa yang duduk diatas singgasana.
Sudah pasti dia adalah Raja Freesia, tak diragukan lagi.
BRUK
Clara didudukkan ke lantai dengan kejamnya oleh para prajurit yang menyeretnya. Terdengar decakan keluar dari mulut Clara, beruntung tidak ada yang mendengarnya.
"Tunggu dulu, sepertinya aku mengenalmu gadis kecil." Suara rendah menggema di ruang singgasana, membuat banyak orang menjadi tunduk pada pemilik suara. Bahkan Clara bisa merasakan tekanan besar darinya.
"Oh... aku ingat." Sambung sang Raja.
Clara jadi ketakutan, keringat dingin menjalar di seluruh tubuhnya. Kedua tangannya pun sudah bergetar hebat. Ternyata Clara sudah meremehkan pria yang menjabat sebagai Raja ini. Aura gelap memenuhi ruangan, apakah Clara telah membuat seorang Raja marah?
Mendadak Clara terpaksa mengingat bagaimana perlakuan Raja Freesia pada Clara Scoleths. Dia memaksa Clara Scoleths bekerja siang dan malam membunuh para penjahat dengan senjata besar yang saat ini ia tinggalkan di hutan dekat bukit.
Bagaimana jika dirinya diperlakukan dengan lebih buruk sekembalinya ia? Mengerikan sekali bahkan hanya untuk diimajinasikan.
"Kau adalah senjata yang diculik oleh Wayne. Cih! Pria yang juga menculik Kakakku itu." Sang Raja mendecih kesal saat mengingat Frederick kembali.
Ekspresi Clara menjadi rumit, timbul kerutan di keningnya. Senjata yang rajin berfikir namun tak sampai - sampai otaknya, sungguh menyedihkan. Lain kali Clara harus mengonsumsi ikan yang lebih banyak.
*Jean juga tak ada disini, aku 'kan jadi tak bisa bertanya. Huhu... sangat disayangkan kalau aku tak punya sekutu.
"Kau kembali lagi yah...? Di saat kami sudah memiliki senjata baru. Mungkinkah kau kabur dari Ranunculus atau diusir oleh mereka?" Tanya Raja Freesia, Willem Northern.
Sebenarnya dua - duanya sih, tapi yang benar aku diusir dulu baru kabur.
"Itu tidaklah penting sekarang, yang terpenting kau telah kembali. Kekuatan tempur kita semakin kuat. Prajurit! Bawa gadis ini ke istana tempat dia merenung. Mereka berdua itu sama, tidak perlu dibedakan tempatnya." Perintah Willem yang langsung dilakukan oleh para prajurit.
Sama? Apa Raja mau menempatkan aku di tempat yang sama dengan sanjata baru mereka? Baguslah kalau begitu! Hehe... semuanya menjadi lebih mudah.
Para prajurit segera menyeret Clara dengan kejam (lagi) dan membawanya ke istana dimana seharusnya senjata baru mereka juga tinggal. Ini adalah sebuah kebetulan yang menguntungkan bagi Clara. Ternyata semudah ini untuk mencapai tempat target penculikannya. Tahu gini Clara tak perlu repot - repot membuat rencana penyerangan dengan Jean selama hampir setengah hari. Membuang - buang waktu saja.
Karena sikap Clara yang cenderung tenang dan malah lebih mengarah ke bahagia membuar para prajurit memandang Clara aneh. Seharusnya senjata ini punya sikap yang dingin dan tak kenal ampun terhadap lawan ataupun musuhnya.
Apa Ranunculus membuatnya menjadi sedikit 'cerah'?
Tidak penting bagi mereka.
Di penglihatannya, Clara melihat sebuah istana sederhana berwarna silver. Pembawaan aura di sekitarnya juga tenang, mungkin karena ada pohon - pohon besar mengelilingi istana meski sudah tak berdaun lagi. Pohon itu juga hanya dihinggapi salju.
Pemandangan yang tenang, tapi di sisi lain membuat gelisah. Rasanya agak aneh.
__ADS_1
"Aku akan tinggal disini mulai sekarang?" Tanya Clara pada kumpulan prajurit.
Salah satu diantara mereka mengangguk. "Kau mungkin akan menerima beberapa hukuman karena telah membunuh kepala prajurit. Tentu saja itu akan terjadi setelah kami melaporkannya." Prajurit itu menatap Clara tajam.
"Oke, kutunggu." Clara tak menghiraukannya dan segera masuk ke dalam istana yang dominan berwarna silver itu.
"Nona tidak mau melihat kamar dahulu?"
"Tidak."
"Bagaimana dengan makan malamnya?"
"Nanti saja!"
Clara sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan targetnya. Jadi dia menjelajahi istana silver dengan sungguh - sungguh. Mengabaikan panggilan para pelayan yang sudah menyuguhkan makan malam di meja makan.
Abaikan makan malam! Cari dulu George, baru makan!
GRUK!
Berbeda dengan tekad di hatinya, perut Clara sudah tak bisa menahan lapar lagi. Sebab sejak kemarin malam perutnya tak diisi apa - apa selain buah liar yang tidak sengaja ditemukannya sewaktu perjalanan melalui hutan.
"Tapi aku agak tidak enak meninggalkan Jean sendirian. Padahal dia baru saja berduka karena kehilangan Avrim."
Clara tak sadar kalau langkahnya berbelok ke meja makan. Merasa dikalahkan tekad hatinya, Clara langsung mengambil tempat duduk dan melahap lauk pauk di atas meja. Karena ada pelayan disini, Clara memutuskan untuk bertanya. Siapa tahu mereka akan membocorkan kamar pemuda George itu 'kan?
"Um... anu... permisi, bolehkah aku bertanya sesuatu pada kalian?"
"Apa itu Nona senjata?"
"Ugh... panggil saja aku Clara."
"Baiklah, apa itu Nona Clara?"
"Dimana kamar senjata lainnya, kau tahu 'kan?"
"Oh itu." Sang pelayan mengangguk - angguk samar. "Nona Clara hanya perlu berjalan lurus saja dari sini dan di kamar kedua sebelah kiri itu adalah kamarnya Tuan George."
Clara menghentikan aktivitas makannya, merasa ada yang janggal.
Eh? Rute itu 'kan...
BAM
Clara menatap kesal pintu kamar yang berada di sebelah kamarnya. Nyata - nyatanya, kamar target berada di sebelah kamar yang disediakan untuknya. Clara sudah diberitahukan dimana kamarnya, hanya saja dia terlalu bersemangat untuk menemui George. Jadi dia malah berputar - putar dan melupakan kamar di sebelahnya ini.
Yang lebih membuat Clara sebal lagi adalah, rupanya kamar ini adalah kamar pertama yang ditemuinya kalau dihitung dari pintu masuk. Mendadak Clara mau meninju apa saja yang tidak dikenai biaya denda perusakan properti.
Clara memegang kenop pintu dan memutarnya, mungkin ini adalah hari keberuntungan baginya. Kemujuran Clara belum berakhir setelah ia mendapat istana yang sama dengan targetnya.
Daun pintu bisa diputar, itu berarti kamarnya tidak terkunci dari dalam. Clara mendorong pintu ke dalam, mengintip dalam kamar dari celah pintu.
"George...?"
TBC
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~