The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 130 - Kehancuran Herbras


__ADS_3

Hellen tengah berdiri memandang keluar. Tidak ada hal luar biasa yang terjadi padanya. Walau sebenarnya barusan dia melihat pasukan Agapanthus bersama san Raja dan Raģe Cheltics berangkat menuju Ranunculus. Doa Hellen menyertai mereka.


Sebelumnya James juga pergi ke Ranunculus lebih dulu, sementara dia tidak bisa menemukan keberadaan Valentina hingga saat ini. Mungkin saja, Valentina khawatir terhadap keadaan ayahnya dan memutuskan ikut dengan James.


Sekarang Hellen hanya sendirian di Agapanthus. Meski masih ada beberapa pelayan yang menemani dirinya, ini agak sedikit berbeda. Yang Hellen inginkan adalah kehadiran Clara ataupun kakaknya. Dia juga mulai merindukan ayah dan ibunya.


"Bagaimana keadaan mereka semua? Kuharap, mereka tidak kenapa - napa. Semoga saja kita bisa berkumpul lagi seperti dahulu..."


Hellen mengepalkan kedua tangan di depan dadanya. Memejamkan matanya, ia terisak - isak. Terus menggumamkan nama - nama orang yang dikenalinya.


Tanpa ia ketahui, kalung permata safir itu bersinar temaram. Namun hanya sekejap mata permata itu kembali seperti semula.


KRAK!


".....!"


Hellen terkejut bukan main dengan pemandangan yang disajikan diluar jendela. Beberapa pelayan yang bersamanya pun ikutan terkejut, bahkan ada dari mereka yang menjerit histeris.


Perlahan permukaan tanah diluar retak yang menciptakan celah. Bukan celah sempit, karena celahnya terus melebar. Bahkan bunga lavender yang ditanam James pun bisa dilahap.


Langit hitam semakin pekat warnanya. Hellen bahkan keheranan dan mulai mencari setitik cahaya dari bintang yang belum lama ini muncul. Cahayanya terus meredup dan menghilang tertutupi awan.


Tanah yang retak tidak hanya sampai disitu saja. Melainkan menyebar ke segala arah dalam waktu singkat. Hellen semakin takut melihatnya, dia melangkah mundur sejauh mungkin. Khawatirnya retakan itu mendekati bagian istana.


"Baru saja gempa bumi dan sekarang tanahnya pun telah retak. Belum lagi pagi tak kunjung datang. Apa ini kiamat?!" Teriak salah seorang pelayan.


Kumohon selamatkan kami, Tuhan.


...****...


Retakan di Agapanthus sendiri berasal dari Ranunculus. Retaknya tanah tidak hanya menyebar ke Agapanthus melainkan wilayah - wilayah lainnya yang masih dalam lingkup Benua Herbras. Saking dahsyatnya, Hortensia bahkan nyaris ditimpa tsunami karena sebagian kecil daratannya berada di garis pantai.


Karena ketakutan, Cattleya mencari keberadaan ayahnya yang mendadak menghilang. Saat dia membuka setiap pintu yang ada, selalu saja nihil hasilnya. Cattleya mulai menangis karena merasa ditinggal oleh ayahnya.


Saat beberapa prajurit mengatakan untuk mengevakuasi dirinya. Tapi Cattleya enggan melakukannya sebelum dia menemukan Duke Nielsen. Namun usahanya terus mengalami kegagalan, tidak ada seorangpun lagi di rumah Nielsen selain dirinya yang belum dievakuasi.


"Ayah... dimana Ayah berada sekarang?"


...****...

__ADS_1


"Berdirilah di belakangku. Pria ini tetaplah seorang musuh karena ini medan perang."


Rovers memasang perisai tangan untuk menghalangi Valentina dari tangan Edmond. Sebab pria ini berada di pihak oposisi dan masih ada kemungkinan membahayakan bagi Valentina.


Baru saja Rovers ingin membawa Valentina lebih jauh. Namun retakan yang muncul di permukaan tanah menyebabkan gerakan mereka terbatasi. Retakan itu lurus membelah pihak Edmond dengan Rovers dan Valentina.


"Apa ini?" Edmond bertanya - tanya. Meski begitu, tatapannya tidak dilepas dari Valentina.


"Sihir hitam sudah kembali pada pemiliknya." Gumam Rovers.


Rovers menoleh pada sisi istana sebaliknya. Dimana ada Hendrick, Vester dan Count Cheltics disana. Dari sana pulalah, dia bisa melihat asap hitam pekat yang telah memenuhi udara.


Seseorang menyerap sihir hitam seperti yang dilakukan Clara Scoleths?


"Edmond Southbayern! Tolong perhatikan Nona Harold sebentar. Aku harus memeriksa apa yang terjadi di sisi seberang."


Setelah mengatakannya, Rovers bergegas berlari menuju tempat dimana Hendrick seharusnya berada. Dengan cakap dia berhasil melewati tanah bercelah yang kedalamannya belum bisa dipastikan.


Sepeninggal Rovers. Edmond menuruni kudanya dan melompati celah besar yang membentang diantara dirinya dan Valentina.


"Kau baik - baik saja?" Tanya Edmond.


...****...


"Pangeran James!"


Rovers berteriak pada James yang berada tidak jauh darinya. Pria itu masih dalam kepungan musuh, segera saja Rovers membantunya dan mampu melumpuhkan sebagian besarnya.


Ketika dirasa sudah aman, James langsung terkulai lemas dan jatuh terduduk. Tangannya gemetaran karena sudah lama tidak digunakan olehnya dalam jangka waktu lama. Dalam pelatihan pun biasanya dia hanya mengayunkan pedangnya selama sepuluh menit, setelah itu ada jeda.


Tapi dalam kondisi perang, tangannya tidak mendapatkan istirahat sama sekali. Beruntung Rovers datang sebelum dia sempat tumbang.


"Terima kasih banyak."


"Tidak masalah." Pandangan Rovers menyapu sekitar. "Dimana Duke Wayne? Atau kau melihat Clara Scoleths?"


James hanya bisa menggeleng. Dia jujur disini. Memang beberapa saat lalu dia masih bisa menemukan sosok Clara yang tengah bicara dengan Hendrick. Namun dia telah kehilangan jejak mereka cukup lama.


James belum bisa mencari mereka sebab dia sendiri pun masih disibukkan oleh pihak musuh yang seolah tidak terkendali, jumlah mereka juga tak ada habis - habisnya. Membuat James nyaris membanting pedangnya sendiri karena kesal dengan perang yang belum berakhir ini.

__ADS_1


Ditambah ada gempa bumi dadakan dan sekarang tanah terbelah - belah dengan kedalaman yang mengerikan. Karena dia sempat membuang banyak musuh ke dalam sana dan sekarang celahnya belum juga terpenuhi mayat.


Semuanya terasa mengerikan. Dalam lima belas tahun hidupnya, ia merasa baru sekarang dia begitu sengsara. Bahkan belum memasuki usia dewasanya dan dia sudah mengalami dan mengikuti peperangan.


Benar - benar tidak terduga.


Masih untung mentalnya sehat - sehat saja.


Tidak tahu apa yang akan terjadi setelah dirinya naik status menjadi seorang raja. Berharap saja tidak akan ada perang semacam ini lagi dan hidupnya bisa lebih tenang.


"Kalau begitu aku harus mencarinyaー"


Belum selangkah pun Rovers berjalan, Vester berlari kearah mereka berdua dengan tergesa - gesa. Dia bahkan membawa seorang gadis dalam pelukannya. Baru sekarang ini Rovers melihatnya dekat dengan lawan jenis.


Tetapi saat melihat fisiknya yang begitu familiar di mata Rovers dan James. Entah karena apa, rasa lelah James mendadak hilang ditelan bumi dan bergegas menghampiri Vester secepat yang dirinya bisa. Meninggalkan Rovers dalam keterkejutannya.


"Kak Rara! Kak Rara!"


Vester berlutut, dia mulai kewalahan menahan rasa sakit di tubuhnya. Dia lelah dan sekarang masih harus mengangkat beban.


James menghampirinya sambil terus berteriak penuh kekhawatiran. Dirinya memangku kepala Clara, mulut gadis itu telah dipenuhi darah akibat muntahan. Dan di bagian dadanya ada lubang besar yang terus mengalirkan darah.


Tangan James semakin gemetar, dan mulai berkeringat dingin. Tidak ada yang lebih menakutkan lagi selain ini. Padahal belum lama James membalut luka Clara bekas pertarungan dengan Raja Willem. Sekarang luka itu malah kembali terbuka dengan lebih lebar.


"Kak Rara...?"


...****...


"Apa yang kau lakukan sekarang adalah kegilaan! Menyerap sihir hitam dengan dendam? Tidak akan ada akhir yang baik untuk itu."


Hendrick yang geram mulai membuang semua keformalan. Persetan dengan status lawannya yang adalah seorang kaisar. Pria ini sudah sinting hingga ke urat sarafnya.


Namun Meiger memang bukan orang yang gila hormat sehingga dia tidak dengan mudahnya tersinggung. Meiger terus menyerang ke setiap titik lemah yang dilihatnya dari Hendrick.


Sejak tadi Hendrick memang tidak fokus sama sekali. Pikirannya tak berada disini. Sementara pedang emas Meiger tak berhenti menyerap sihir hitam.


Dia semakin ditelan kegelapan.


TBC

__ADS_1


Like + Komen jangan lupa. See you in the next chapter ~


__ADS_2