
..."Jika kamu tidak menepati janjimu, berarti kamu adalah orang yang munafik. Aku benar 'kan?"...
...~Grein de'Lavoisiér~...
...----------------...
Ah, aku mulai muak dengan semua ini. Ketika aku menerima dan berlakon seolah aku baik - baik saja tanpa keluargaku. Tidak ada hal baik setelah hari pembantaian Lavoisiér dan pengeksekusian adikku.
Bahkan aku mendengar rumor bahwa Permaisuri akan dihukum oleh Kaisar Hortensia atas dugaan pengkhianatan. Mungkin wanita itu sekarang sudah ketahuan sebagai seorang Lavoisiér.
Intinya, sewaktu - waktu cinta akan kalah dari dendam. Jadi jangan pernah berfikir untuk menggunakan perasaan cintamu sebagai tameng terkuatmu. Itu hanya akan menimbulkan sakit hati mendalam.
...****...
Ratusan tahun berlalu sejak hari - hari terburuk dalam hidupku. Aku mulai menata kehidupanku dari awal lagi, seperti yang pernah kuucapkan pada adikku meski dia mengacuhkannya.
Tidak ada yang kulakukan selama ini selain menjelajah menghindari para manusia yang alergi terhadap Lavoisiér. Entahlah, padahal masa dimana Ivory hidup telah berlalu sejak lama. Namun mereka tetap mewariskan kisah penuh kebohongan kepada anak cucu mereka.
Hidup yang tidak sehat.
Walaupun aku pernah berkata bahwa dendam hanya akan menimbulkan dendam lain. Sesungguhnya aku pun mulai merasa jika hatiku menghitam.
Semuanya semakin diperparah oleh setiap pemandangan yang kusaksikan diluar sana. Keharmonisan mereka nyaris melunturkan kenyataan jika merekalah yang merenggut kebahagiaanku.
Tapi, meski aku kesal dan tidak rela membiarkan mereka bahagia diatas kematian Lavoisiér. Aku tetap mencari cara untuk menghilangkan sihir hitam yang disebar oleh Ivory atas permintaan Crater.
Aku tahu segalanya.
Aku hanya bungkam dan berlagak seakan tidak tahu apapun.
Kejadian dimana Crater meminta perdamaian lewat sihir hitam pada Ivory, aku mengetahuinya secara jelas walaupun bukan dengan melihat mereka langsung.
Pada dasarnya, kedamaian yang ada di dunia ini hanyalah sebuah kedok. Aslinya, berlawanan dari dunia ini yang terang benderang. Di baliknya ada kenyataan pahit yang belum tentu bisa diterima semua orang.
Perdamaian ini adalah palsu.
Untuk membuatnya menjadi asli, aku harus menyerap sihir hitam yang ada di Benua Herbras. Sayangnya, aku belum tahu bagaimana cara melakukannya. Selama ratusan tahun hidupku, tidak ada progres apapun.
"Hm... hm..."
Saat aku duduk di pohon beringin biasa aku datangi yang dikelilingi hamparan mawar putih. Aku mendengar seorang perempuan bersenandung di sisi sebaliknya dari pohon ini. Suaranya begitu merdu dan menghanyutkan. Seakan bisa membuatku terlena dalam mimpi yang indah.
Karena penasaran, aku mengintip ke sisi sebelah pohon ini.
Ada seorang perempuan dengan surai sutra berwarna kamelia bersandar disana. Dia juga mengelus lembut kucing putih yang berada di pangkuannya. Matanya terpejam sambil terus menyenandungkan lagunya.
Tanpa sadar, aku semakin mendekat kearahnya. Dan sampai di titik dimana wajahku dan wajahnya hanya dipisahkan oleh sejengkal jari tangan. Sungguh, aku terlalu dimabukkan oleh pesona dari suaranya.
Kedua kelopak matanya perlahan terangkat. Memperlihatkan permata indah berwarna pearl yang sangat mengkilat di bawah langit sore hari. Aku belum beranjak dari posisiku sama sekali.
"Hm?"
Gadis itu berhenti bersenandung, dia terkejut melihat wajahku yang begitu dekat. Itu imut. Cara dia terkejut seperti kucing yang ada di pangkuannya itu.
Namun aku menyesali semua pujianku terhadapnya ketika aku merasa ada lima jari yang bersentuhan dengan pipiku.
PLAK
"KYAAA! APA YANG KAU LAKUKAN, MESUM?!"
...****...
Aku mengusap - usap pipiku yang berdenyut, seolah berteriak penuh kesakitan. Sementara raut wajahku tidak berubah sedikitpun seakan - akan tamparan barusan hanyalah hal kecil.
Gadia itu sendiri menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sambil menatapku garang. Wow, bahkan matanya itu tetap indah saat dia marah.
Tidak, tunggu.
__ADS_1
Kenapa aku terdengar seperti seorang masokis sekarang? Abaikan sajalah.
"Jangan salah paham nona. Aku hanya tertarik dengan suaramu." Kataku dengan nada suara yang tak kalah kalemnya dari wajahku. Singkat kata, aku masih enggan berekspresi.
"Bajing*n lain juga akan berkata seperti itu!" Teriaknya, masih menghilangkan kedua tangannya di depan dada.
Hei. Itu kasar. Bahkan ketika aku melihat wajahmu yang tidak tergores sedikitpun, tidak ada hal kotor apapun yang kupikirkan. Serius, sejak awal aku hanya tertarik pada suaramu.
Aku memundurkan diri semakin jauh darinya. Tapi belum ada niatan bagiku untuk pergi dari pohon beringin tempatku biasa bersantai. Dialah yang seharusnya pergi karena aku tak menerima orang baru.
Namun sekarang dia yang malah bersikap kurang ajar padaku. Dia menatapku menyelidik, bertingkah seakan aku memang seorang kriminal disini. Aku bukan penjahat kelam*n, oke?! Jadi berhentilah menatapku dengan pandangan merendahkan itu!
"Apa kamu seorang Lavoisiér?"
He? Apa katanya? Lavoisiér?
Tanpa kusadari, aku lupa mengubah warna mataku. Biasanya aku takkan melupakan hal sefatal ini. Sial, dia mengetahu identitasku sebelum aku mengetahui siapa namanya. Situasi yang tidak adil.
"Kau punya masalah dengan itu?" Aku mendelik kesal.
"Kupikir dalam cerita - cerita membosankan itu kalian telah dibantai habis. Bahkan orang terakhir itu dibakar ramai - ramai di wilayah putih." Ucapnya dengan nada polos.
Dia terlalu naif atau apa?
Kutatap dia dengan datar. Jujur saja, jika ada yang mengungkit - ungkit sejarah Lavoisiér yang sangat kelam itu. Biasanya aku terlalu malas untuk meladeninya dan akan meninggalkan dia sendirian sedangkan aku menyelam ke dasar danau untuk menenangkan diri.
Namun untuk sekarang, ada hal yang tidak bisa kulewatkan darinya.
Mata ruby milik Lavoisiér adalah yang paling istimewa dan sempurna diantara bola mata lainnya. Mereka bisa melihat menembus apa saja dan memanipulasi otak seseorang atau lebih.
Dari tadi tubuhnya menyerap asap gelap yang bisa kutebak adalah sihir hitam. Sedangkan gadis itu sekarang benar - benar tidak merasa bahwa dia sedang menyerap sihir hitam.
Hey, akankah perjalananku berakhir setelah menemukannya? Aku bisa menggunakan kemampuan hebatnya itu untuk menyelesaikan tipu daya dunia ini. Dan perdamaian akan tercapai secara nyata.
"Siapa namamu?" Tanyaku dengan spontan.
"Bagaimana denganmu, tuan? Yang kutahu pasti namamu ada Lavoisiér, nya. Hehe~"
"Ya. Namaku Zavius de'Lavoisiér."
Untuk saat ini. Biarkan saja semua berjalan begini.
...****...
Sudah sebulan sejak aku mulai mengenal Lyserith. Ternyata gadis itu sangatlah supel dan begitu ceria. Perlahan - lahan pula aku mulai menjalankan rencanaku untuk melibatkannya dalam misi menghapuskan sihir hitam ini.
Aku bahkan memberitahunya kemampuan spesial yang dia miliki. Tidak tahu bagaimana kelanjutannya, tapi sejauh ini dia selalu datang ke tempat ini. Mungkin dia masih menganggap ceritaku rasional.
Namun sempat pula terbesit dalam pikiranku.
Apa Lyz benar - benar mendengarkanku atau dia hanya memberiku telinga sekedar bentuk menghormatiku saja?
"Zavius? Zavius!"
Uwah. Kau tidak perlu berteriak. Aku bisa mendengar suaramu yang cempreng itu bahkan dari jarak yang jauh sekalipun. Karena dia berisik, lebih baik kuteruskan saja pura - pura tidurnya. Lagipula, jangan memanggilku Zavius dengan suara keras. Bagaimana jika orang lain mendengarnya dan mengeksekusiku juga?
Lyz duduk di sampingku. Aku melirik ke arahnya, dia sedang mengerluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dan itu adalah bunga mawar putih yang barusan dipetiknya.
Berhentilah mencabuti bunga yang tumbuh liar di taman ini. Meski dia memang membutuhkan mawar putih sebagai perantara, sih. Saking rajinnya bahkan tangkai bunganya sudah bersih dari duri.
"Kau benar - benar serius menanggapi perkataanku, eh?"
Lyz menoleh menatapku.
"Kau tahu? Ini kulakukan untuk menyelesaikan masalah di dunia tanpa menyelipkan sebuah kebohongan besar."
Aku sedikit terkesan terhadap keputusannya yang sesuai dengan apa yang telah kurencanakan. Tapi entah kenapa, semakin dekat dengan kebenaran, aku merasa semakin takut. Setidaknya Lyz seperti adikku yang selalu menemaniku setiap waktu.
__ADS_1
Sejak awal gadis ini kerjanya cuma luntang - lantung saja.
"Kukira kau akan menganggapku berbohong."
"Hehe... tidak ada alasan untuk tidak membantumu. Lagipula aku ini hanyalah pengangguran yang suka sekali mengerjakan apapun. Menghabiskan waktuku untuk membantumu bukan hal besar sama sekali."
"Namun..." Aku menggantung ucapanku.
"Hmm?"
"Pekerjaan ini bukanlah hal yang mudah. Aku sudah memperingatkan dirimu tentang ini." Kataku dengan tegas.
Semenjak aku mulai merasa nyaman atas kehadirannya dalam hidupku. Aku ingin mengesampingkan rencana awalku. Sungguh, aku hanya tidak bisa menyia - nyiakan hidupku yang berharga ini saat bersama dengannya.
"Tenang saja, Zavius. Aku akan selalu bersamamu sampai kapanpun kau membutuhkanku. Selama kau tidak mengatakan sesuatu yang bermakna kau membenciku. Aku juga tidak akan meninggalkanmu!"
Aku tersenyum lembut padanya.
"Aku tidak akan pernah mengatakan hal semacam itu kepadamu."
"....Lyserith. Sebenarnya, aku..."
"Yah? Apa yang ingin kau katakan?"
Aku menelan salivaku dengan berat. Ada sesuatu yang menghambat suaraku untuk keluar.
"Bisakah kau berjanji padaku?"
"Tentu. Aku selalu mampu memegang kata - kataku! Jadi, saat aku mengatakan aku akan membantumu. Aku akan melakukannya sampai semuanya benar - benar selesai."
Kembali aku tertegun mendengar dan melihat semua tekadnya. Pohon beringin dan taman mawar ini menjadi saksi bisu atas perjanjian kecil yang kubuat bersamanya.
"Bolehkah aku memberimu sebuah nama?"
"Nama? Aku sudah mempunyainya."
"Maksudku nama belakang."
Lyz mengerutkan keningnya. Mungkin dalam pikirannya dia merasa aneh dengan topik yang kubawa secara tiba - tiba ini. Ditambah dia hanya seorang gadis desa biasa, mustahil baginya memiliki nama belakang. Dia akan ditertawakan karena meniru para bangsawan.
"Untuk apa?"
"Bentuk janjimu." Kataku singkat.
"Huh?"
Aku mengambil kedua tangannya dan menangkupnya dalam genggamanku. Kutekan pelan bagian dimana urat nadinya berada. Kutarik sudut bibirku ke atas.
"Namamu adalah bentuk dari janjimu hari ini. Bukankah kau berjanji untuk membantuku menyelesaikan segalanya hingga benar - benar tuntas?"
Lyz mengangguk pelan.
"Aku berjanji untuk menyerap sihir hitam ini sampai hilang sepenuhnya. Jika aku mati di setengah perjalananku. Dan jika ada kehidupan lain lagi setelah ini. Maka aku akan menyelesaikannya dalam kehidupanku yang selanjutnya." Katanya penuh tekad, dia mengucap janjinya dengan sedikit gugup.
Sebenarnya Lyz agak berlebihan dalam janjinya. Dia sampai membawa - bawa kehidupan selanjutnya, padahal kalau mau pun dia bisa saja tidak perlu terikat dengan tugas dunia ini hanya karena warna matanya adalah pearl.
Dia terikat dalam siklus kehidupan yang menyedihkan.
"Mulai hari ini namamu adalah..."
Semakin kutipiskan senyumku ketika melihat wajahnya yang masih memperlihatkan tekad yang berkobar - kobar.
"...Lyserith Scoleths."
TBC
Like + Komen, see you in the next chapter ~
__ADS_1