
BUGH
Seonggok manusia terlempar ke dinding dengan keras sehingga suaranya sangat terdengar. Dan dari suaranya saja, orang - orang tahu bahwa itu menyakitkan.
Seorang perempuan yang lebih tua dari manusia yang dilempar itu menghampirinya. Diiringi dengan isakan tangis dia berusaha untuk membantu adiknya. Dia juga sekalian memeriksa apakah luka yang dialami adiknya parah atau tidak, tapi biasanya itu luka yang parah.
"Zeno, bertahanlah Kakak akan menghilangkan rasa sakitnya!"
Sementara itu di hadapan mereka berdiri kedua orang tua mereka. Mereka hanya menatap anak - anak itu dengan rendah seolah Zeno dan kakaknya adalah hina, padahal itu adalah anak mereka sendiri.
"Apa kalian tidak bisa kerja yang benar? Terutama kau!" Ayah mereka menunjuk pada Zeno yang sudah terluka parah akibat dipukuli.
"Ayah hentikan itu!" Ucap kakak Zeno.
"Ayah? Berani sekali kau memanggilku Ayah! Aku bukanlah Ayahmu! Dasar keparat!"
Sang ayah mengambil sebuah kayu besar di belakangnya dan mengambil posisi siap memukul. Kakak Zeno yang tidak siap hanya bisa pasrah menerima pukulan yang datang.
BUGH
"Huh? ZENO?!"
Kakak Zeno terkejut ketika ternyata pukulan itu mendarat pada punggung adiknya. Padahal tadi adiknya terlalu lemas untuk sekedar duduk, tapi sekarang dia melindungi kakaknya.
BUGH BUGH!
"Hentikan..."
BUGH BUGH BUGH
"HENTIKAN!!!"
...❀...
"Shh! Itu sakit Kakak..."
Zeno meringis pelan saat kakaknya mengobati semua luka lebam bekas pukulan dari ayahnya. Setidaknya Zeno mendapatkan lebih dari sepuluh luka lebam di tubuhnya.
"Harusnya kau tidak melindungi Kakak..."
Zeno terdiam sejenak.
"Kakak adalah satu - satunya orang yang aku miliki saat ini. Aku hanya tak mau orang berharga dalam hidupku hilang begitu saja."
Kakak Zeno yang mendengar itu merasa terharu, "Zeno. Di masa depan nanti akan ada seseorang yang menerima kekuranganmu. Saat kau menemukannya, maka jangan lepaskan dia oke?"
Zeno sebenarnya tidak terlalu paham perkataan kakaknya. Tetapi dia tetap mengangguk seolah mengerti.
Kakak Zeno mengusap pelan pucuk kepala Zeno lalu tersenyum lembut. Sedikit meratapi atas nasib buruk mereka. Entah itu selalu dihina atau menjadi samsak tinju ayahnya ketika mereka melakukan kesalahan sepele.
"Kakak, orang seperti apa yang menerima kekuranganku itu?"
"Itu ya... saat kau bertemu dengannya maka kau akan tahu."
"Sudahlah, ini sudah malam. Semua lukanya sudah Kakak olesi obat, saatnya tidur. Atau besok kita takkan memiliki tenaga untuk bekerja."
"Iya."
Zeno tidur lebih dulu. Kakaknya bangkit dari kasur tipis tersebut setelah memastikan bahwa Zeno sudah terlelap. Dia mengambil pisau yang tajam dari dapur dan membawanya ke kamar kedua orang tuanya.
Itu kamar yang sangat bagus, berbanding terbalik dengan kamar mereka yang bahkan agak tidak layak untuk dipakai. Tapi karena Zeno dan kakaknya membutuhkan ruangan itu sehingga mereka tetap menggunakannya.
Kakak Zeno diam - diam mendekati kedua orang tuanya yang sudah terlelap. Ia mengangkat pisau itu dan berkata dengan dingin.
"Kalian memulainya, dan aku akan mengakhiri ini semua."
"Demi Zeno."
STAB
Pisau itu menancap tepat di jantung ayahnya. Tapi kakak Zeno tetap mengulang - ulang menusuk di bagian yang sama agar ayahnya benar - benar mati. Hal serupa dilakukannya pada ibunya.
Darah bersimbah di ruangan itu, bahkan cairan merah yang kental itu juga terciprat mengenai kedua tangannya.
__ADS_1
Setelah ia mengecek kedua orang tuanya apakah telah mati atau belum. Selanjutnya kakak Zeno pergi ke ruangan untuk membasuh diri. Disana bahkan ada kolam besar berisi air untuk berendam.
Pisau yang ia bawa untuk membunuh kedua orang tuanya saat ini masih ia pegang.
Ia mengangkat tangan kirinya, menyayat pergelangan tangannya dengan pisau tadi. Dia menyayat tepat di urat nadinya.
"Maafkan Kakak, Zeno."
BRUK
...❀...
"Huh...? Kakak?"
Zeno yang sudah terbangun mencari - cari kakaknya. Karena biasanya kakaknya akan selalu ada di sebelahnya. Padahal ini masih terlalu awal untuk mereka bekerja.
"Kemana sebenarnya Kakak?"
Zeno akhirnya mencari kakaknya kemana - mana. Sampai ia berdiri tepat di depan pintukamar kedua orang tuanya. Meski ia takut untuk lancang dengan membuka tanpa izin. Namun bau menyengat yang menusuk hidungnya benar - benar membuat Zeno tak tahan lagi.
Zeno pun membuka pintu tersebut.
KREK
"Huh...!"
Mata Zeno membulat sempurna, melihat ada dua mayat manusia bersemayam di kamar itu. Darah yang berceceran pun sudah mengering, Zeno mengira kalau aksi pembunuhan kedua orang tuanya dilakukan di malam hari.
"Gah! Kakak! Dimana Kakak sekarang?!"
Semoga saja Kakak baik - baik saja!
Dalam hati kecilnya, Zeno berdoa supaya kakaknya tidak menjadi korban juga. Persetan dengan mayat ayah dan ibunya, mereka berdua bahkan tidak pernah menganggap Zeno dan kakaknya sebagai manusia. Maka Zeno akan memperlakukan mereka berdua sama saja, tidak akan jauh berbeda.
"Tinggal satu ruangan yang belum kumasuki!"
KREK
DEG
Zeno menghampiri tubuh kakaknya yang sudah tak bernyawa lagi. Melihat bahwa ada pisau di tangannya membuat Zeno yakin kalau kakaknya meninggal dengan cara bunuh diri.
Selain itu, di dekat tangan kakaknya tertulis sebuah kalimat yang ditulis dengan darah dirinya sendiri.
'Maafkan Kakak'
TES
Setetes air mata mengalir deras di pipi Zeno. "Berarti yang membunuh mereka berdua juga adalah... Kakak...?"
"Ini bohong... ini tidak terjadi. Ini bohong... ini tidak terjadi."
Zeno terus menerus melafalkan kalimat yang sama dengan suara lirihnya ditambah dengan isak tangis tak tertahankan. Selama ini dia merasa sengsara, tapi setidaknya dengan keberadaan kakaknya di sampingnya. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hidupnya jadi berarti.
Tapi sekarang? Apa dia mempunyai arti dari kehidupannya...? Haruskah dia mengakhirinya juga? Hidup tanpa tujuannya ini.
Lalu Zeno membaca tulisan lainnya yang lebih kecil, itu juga acak - acakan dan nyaris tidak bisa terbaca lagi. Tapi untungnya Zeno masih bisa membacanya.
'Tetaplah hidup untuk Kakak'
Zeno jadi mengurungkan niatnya untuk bunuh diri juga. Dia mengepal kedua tangannya erat - erat hingga terlihat ada aliran darah yang keluar dari celah - celah jarinya.
"Kalau aku harus hidup, maka Kakak juga harus."
Zeno menyentuh pergelangan tangan kakaknya yang telah tersayat. Cahaya keputihan terpancar setelah Zeno mengucap sesuatu. Luka sayatan yang ia sentuh berangsur - angsur sembuh sampai tak berbekas lagi.
Tetapi anehnya, kakaknya malah terlihat menua setelah disembuhkan. Dengan wajah yang mengeriput serta tanda penuaan lainnya.
"Setelah ini, Kakak bisa hidup lagi..."
...❀...
STAK
__ADS_1
Sebuah anak panah menancap pada leher rusa. Zeno lah yang memanahnya, ia segera mendekat pada rusa yang telah mati.
"Kakak! Lihatlah apa yang aku dapatkan."
"Bagus, dengan ini kita bisa makan enak lagi."
"Iya!"
Zeno menyadari sesuatu, setelah ia membangkitkan kembali kakaknya. Yang sebenarnya terjadi bukanlah kakaknya kembali hidup melainkan ia hanya menggerakkan kakaknya melalui pikirannya. Dan semua yang dilakukan kakaknya hanyalah perintah langsung dari pikiran Zeno.
Pada dasarnya, kakak Zeno telah tiada.
Tapi ini sudah lebih dari cukup untuk Zeno, dia menganggap bahwa kakaknya masihlah hidup. Dari dasar pikirannya, Zeno belum menerima sepenuhnya kalau kakaknya sudah meninggal.
Dan untuk mayat kedua orang tuanya, Zeno memilih untuk mengubur mereka di dekat bukit. Yah, meski tidak niat yang penting jasad mereka dikubur di dalam tanah oleh Zeno.
SREK
"Guh? Siapa disana?!"
Semak belukar di sekitar mereka tiba - tiba bergerak dan menghancurkan kesunyian di hutan ini. Zeno mengambil sikap siaga, begitu juga dengan kakaknya, sesuai jalan pikiran Zeno.
Setelah pertanyaan Zeno, seseorang keluar dari semak - semak, menunjukkan jati dirinya. Dengan surai hitam pekat dan iris berwarna ruby, dia mengeluarkan aura mencekam di sekelilingnya.
Eh? Mata ruby?! Kupikir itu sudah lenyap tapi... makhluk di depanku ini sudah pasti adalah manusia.
"Boleh kutahu siapa namamu?" Tanya Zeno masih dengan memasang sikap waspada.
"Meiger Westhley."
Westhley?! Aku tidak salah dengar 'kan? Jadi dia adalah keluarga kekaisaran?!
BUK
Zeno sontak berlulut di hadapan anak lelaki bernama Meiger. "Maafkan hamba Yang Mulia Pangeran! Hamba sama sekali tidak tahu bahwa itu adalah anda."
"Bangunlah! Aku memaafkanmu. Tadi aku melihatmu berburu, kau sangat cakap untuk anak seusiamu. Siapa namamu?"
"Na...nama hamba..."
Gawat! Aku sangat tidak ingin menyebut namaku lagi karena itu adalah pemberian orang tua keparat itu.
"Nama Hamba Jean, Yang Mulia."
"Begitu. Lalu, siapa maー maksudku wanita di sampingmu itu?"
Zeno menatap kakaknya yang berekspresi begitu datar. Tidak aneh karena memang kakak perempuannya adalah mayat yang telah dibangkitkan.
Kalau kusebut dia adalah kakakku fisiknya terlalu tua bukan?
"Dia adalah bibi hamba, Yang Mulia."
"Sebenarnya aku membutuhkan pengawal pribadi di istana kekaisaran. Apakah kau mau?"
Eh?
"Tentu saja mau Yang Mulia!"
Ini juga demi kelangsungan hidupku dan kakak!
"Baiklah. Jadi ikutlah denganku kesana."
"Ya!"
"Ah, ngomong - ngomong aku belum mengetahui nama bibimu."
Zeno tersenyum simpul.
"Namanya adalah Avrim, Yang Mulia."
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~