The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 127 - Reinkarnasi Adalah Rantai Pengekang


__ADS_3

"Zavius, apa di keluargamu ada yang bisa merepresentasikan emosi seseorang ke dalam warna?"


Zavius melirik Lyserith malas. Mana ada kekuatan semacam itu dalam keluarganya. Lagipula dia niat sekali sampai memikirkan sihir jenis apa yang mereka punyai.


"Tidak ada yang seperti itu di keluargaku."


Lyserith seolah mengabaikannya. Gadis itu sibuk dengan tanah gembur serta menanam sesuatu di dalamnya. Saat Zavius mengintip, terjawablah rasa pemasarannya. Yang gadis itu tanam adalah mawar biru yang berisi sihir hitam.


"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Zavius.


"Di Benua Herbras tidak ada mawar biru. Jadi aku menanam bunga ini saja supaya bisa menghasilkan mawar biru yang banyak sekali."


"Jangan lakukan itu." Zavius mengerutkan alisnya. "Bagaimanapun juga mawar biru adalah mawar putih yang telah menyerap sihir hitam. Jika kau menanamnya dan ada banyak yang tumbuh, bagaimana jika sihir hitam juga semakin berkembang?"


"Benarkah?" Lyserith bertanya acuh.


"Tidak tahu. Tapi mungkin saja."


"Mungkin 'kan?"


Melihat Lyserith yang kepala batu membuat Zavius jengkel. Dia merotasikan bola matanya malas. Berharap masih ada kesabaran dalam menghadapi orang tidak waras ini.


"Zavius."


"Hm?"


Zavius menyandarkan tubuhnya pada batang pohon beringin. Tidak ada yang bisa mereka lakukan sekarang selain menunggu kapan bisa pergi ke wilayah lain. Sebab sepertinya mereka telah selesai dengan Hortensia.


Zavius tidak menyangka bahwa tempat ini benar - benar dipenuhi oleh sihir hitam. Mungkin itu disebabkan karena sejak awal orang yang menyebarkannya berasal dari Hortensia sendiri.


"Apa mawar biru bila menyerap sihir hitam lebih banyak akan menjadi hitam?" Tanya Lyserith yang memunggungi Zavius.


"Yah... mungkin."


Dari belakang, Zavius melihat Lyserith yang menarik sudut bibirnya sedikit ke atas. Gadis itu malah melanjutkan kegiatan menanamnya padahal tahu bahwa dalam mawar biru itu ada sihir hitamnya.


"Satu desa membenciku, kau tahu?" Ujar Lyserith dengan suara lirih.


Suara gadis itu menyiratkan kesedihan. Namun ia berusaha tetap tegar dengan tidak menangis. Tetapi jika Lyserith membawa topik tersebut, bukankah itu artinya dia mulai muak menyimpannya sendiri. Yah, Zavius adalah satu - satunya orang yang dia miliki sejauh ini. Tidak tahu dengan Zavius sendiri.

__ADS_1


Meski gadis itu tahu jika Zavius berasal dari keluarga bangsawan yang dibenci semua orang. Tak bisa dipungkiri jika sebelumnya dia mempunyai orang - orang yang mengelilinginya dengan kasih sayang, mereka adalah Lavoisiér.


Berbeda dari Zavius. Lyserith terlahir dari pria yang identitasnya tidak jelas. Gadis ini memiliki ibu yang bekerja di tempat hiburan sebagai wanita malam. Ibunya sendiri tidak pernah melihat kearahnya sebagaimana sosok ibu pada umumnya.


Dia memang berbeda. Bahkan kemampuan aneh inipun telah jelas memperlihatkan perbedaan antara dirinya dan ibunya.


"Jangan - jangan Ayahku seorang Lavoisiér." Lyserith menduga - duga.


"Mustahil. Pertama, satu - satunya Lavoisiér yang tersisa adalah aku. Kedua, aku tidak pernah dan tidak akan pernah ke tempat hiburan malam. Dan ketiga, aku sudah tahu bagaimana caramu mendapatkan kemampuan aneh ini."


Lyserith menengok pada Zavius. Gadis itu bergegas duduk di samping Zavius, ia sudah menekuk lututnya. Posisi terbaik dalam mendengarkan cerita, seperti dulu saat ibu panti mendongeng pada semua anak panti.


"Kenapa kau ini?" Zavius mengangkat sebelah alisnya.


"Mendengarkan ceritamu itu. Alasan kenapa aku bisa mempunyai kemapuan aneh ini."


"Malas. Lagipula aku tidak mau membagikannya denganmu."


"Huu! Peliiiiiiit!"


Lyserith beranjak bangun, dia sempat - sempatnya menjulurkan lidahnya pada Zavius. Dan membalikkan ibu jarinya ke arah bawah. Melihat Zavius yang mulai dongkol, Lyserith malah bergegas lari menjauh sebelum dapat balasan yang lebih mengerikan.


"Sampai jumpa besok!" Teriaknya setelah lumayan jauh berlari.


Tidak tahu. Dia hanya merasa menyesal telah mendorong Lyserith dalam misi ini. Bagaimana jika pada akhirnya dia malah kehilangan lagi?


Sejak awal dia mencari orang istimewa seperti Lyserith tanpa memikirkan konsekuensi yang akan terjadi. Sekarang, dia benar - benar sangat amat menyesali segalanya. Sayang sekali, Lyserith bukanlah tipe orang yang berhenti di tengah jalan. Dia akan menyelesaikan tugasnya, bahkan jika itu harus dilakukan di kehidupan selanjutnya.


Mata Zavius melebar sempurna.


Gadis itu pernah membuat janji mengerikan itu.


Zavius berdiri dan berjalan masuk ke dalam desa. Seperti biasa, dia akan merubah penampilan fisiknya. Rambutnya menjadi hitam seluruhnya, bola mata ruby pun berubah menyerupai obsidian.


Zavius juga mengangkat tas berisi puluhan mawar putih milik Lyserith. Seharusnya gadis itu membawanya pulang, tapi dia malah melupakannya. Langkahnya tidak terburu - buru seperti Lyserith barusan.


Masuk ke dalam desa, tempat itu sangat ramai seperti Pusat Kota. Zavius pernah beberapa kali ke Pusat Kota untuk membeli barang - barang yang tak ditemukannya disini. Namanya juga Pusat Kota, pasti tempatnya lebih memadai daripada desa.


Di desa mungkin lebih banyak orang yang berprofesi sebagai petani sayuran dan peternak. Yang dijual pun tak jauh dari sayuran dan berbagai macam protein hewani.

__ADS_1


Terus menelusuri jalan setapak dan Zavius sampai ke rumah Lyserith. Rumah itu bahkan versi lebih sederhana daripada rumah desa yang bahkan juga sudah sederhana dibanding rumah - rumah di kota. Tidak ada penerangan yang menyokong selain lilin yang menampakkan sinar temaram.


Zavius bergerak untuk mengetuk pintu tersebut. Namun dia berhenti sejenak, sebab hidungnya menangkap bau yang begitu menyengat. Bau yang pernah diciumnya sebelumnya, perasaan sesak yang membuatnya mengingat masa lalu yang kelam dan suram itu.


Aku tidak mengharapkan ini terjadi!


Zavius mendorong pintu dan mendobraknya berkali - kali hingga pintunya jebol. Meskipun rumah ini terlampau sederhana, tapi kekuatan pertahanan dari pintunya tidak main - main.


Saat pintu terbuka lebar. Disanalah terlihat ada seseorang yang tergeletak dengan lubang besar di perutnya yang menganga. Terus dan terus mengalirkan darah yang amis dan hangat.


Mustahil. Dia baru saja meninggalkanku dengan senyuman itu beberapa menit yang lalu. Tapi kenapa...?


Zavius dengan tubuh membatu melangkah mendekat pada Lyserith. Gadis itu hanya tertidur, begitulah bagaimana pikirannya meracuninya.


"Lyserith? Lyserith! LYSERITH?!"


"AKKHH!!!"


Seorang anak lelaki tengah berbaring di kasurnya. Wajahnya begitu tegang, dia juga berkeringat dingin karena mimpinya semalam. Dia bermimpi sangat panjang dan itu semua tertuju pada satu nama.


Lavoisiér.


Meiger mengambil posisi duduk. Namun pikirannya tetap melayang, memikirkan betapa anehnya mimpinya semalam. Biasanya, dia akan langsung lupa tentang mimpinya. Tapi malam ini, dia bahkan bisa ingat dari awal sampai akhir tanpa melewatkan satu detail pun.


Meiger mengusap keningnya yang terdapat keringat. Sejenak dia ingin melupakan segala kejadian yang diputar dalam mimpinya. Tapi usahanya sia - sia. Mimpi itu terus berputar dan berputar dalam memorinya.


Meiger mengangkat tangan kanannya dan menatap dengan seksama telapak tangannya yang bergetar dengan hebat.


"Ada apa denganku? Kenapa aku ketakutan? Mimpi aneh ini menakutiku..."


...****...


Seorang gadis kecil tersentak pelan saat kepalanya memunculkan kejadian - kejadian aneh yang begitu membekas dalam kepalanya. Entah kenapa dadanya terasa sesak, bahkan itu membuat dia ingin menangis.


Di dalam kereta kuda ini hanya ada dirinya dan pria tua yang menyelamatkannya dari sangkar emas. Seorang pria lainnya yang membantu pria tua ini mereka tinggalkan, ia mengira orang itu telah tewas dibunuh di Freesia.


Gadis kecil tersebut mencengkeram gaun putihnya yang kini sudah bersih dari bercak darah. Yah, dia agak sedikit gila terkhusus di medan perang. Beruntung pria tua ini tetap mau membawanya keluar dari neraka berfisik surga tersebut.


Ivory, Crater, Zavius, dan Lyserith. Siapa mereka?

__ADS_1


TBC


Jangan lupa like + komen, see you in the next chapter ~


__ADS_2