
"Kalau dia adalah pembunuh Raja, bukankah lebih baik jika dia dihukum penggal saja?" Count Cheltics bertanya pada seluruh penghuni ruangan.
Duke Wayne langsung menggeram kesal, "Dia masih 16 tahun, Gerald! Lagipula harus berapa kali aku mengatakan ini padamu? Bukan dia pembunuhnya!"
"Lantas siapa yang membunuhnya?!" Count Cheltics menatap tajam pada Duke Wayne.
Meski Duke Wayne sudah memberitahu mereka lebih dulu, tapi nampaknya Raja dan Grand Duke Harold belum sepenuhnya memercayai ucapan Duke Wayne.
Rovers sendiri hanya memperhatikan perdebatan antara kedua kubuー tidak, lebih tepat dikatakan kalau Duke Wayne berada di kubunya sendiri sementara hampir semua bangsawan berada di kubu lainnya.
Ayahnya dan Grand Duke Harold juga tidak mau angkat bicara. Mereka masih duduk di tempat mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Rovers mendadak teringat dengan sosok yang menjadi perdebatan ini. Mereka hanya pernah bertemu sekitar tiga kali. Dan kesan Rovers terhadapnya sangatlah jauh dari kata seorang pembunuh.
Apa gadis itu akan baik - baik saja?
...****...
"Hatchuu...!"
"Waduh, sepertinya ada yang membicarakanku?!" Keluh Clara sambil mengusap hidungnya yang berair karena bersin.
Avrim yang berdiri di belakang Clara hanya bisa diam saja. Dia sudah angkat tangan untuk mengurus gadis muda yang bertingkah tidak seperti gadis ini.
"Nona jangan terlalu percaya diri."
"Baiklah..." Clara merengut pelan.
Avrim tersenyum simpul.
Avrim melangkah ke pintu, ia berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai bawah. Ini agak jauh sebab Nonanya malah berada di lantai paling atas.
Meskipun begitu, ini agak meringankan sebab Avrim hanya diwajibkan memenuhi perintah tuannya, Clara Scoleths. Sedangkan ia diberi hak oleh Duke Wayne untuk menolak perintah dari orang lain ketika ia tidak mau.
Avrim yang sudah masuk ke kamarnya agak terkejut karena merpati pembawa pesan ada di kamarnya.
Kemudian Avrim mendekati merpati tersebut dan mengambil pesannya di kaki merpati. Setelah itu, merpati terbang lagi tak tentu arah.
「Nampaknya dia sudah tidak bisa lagi tinggal di Ranunculus. Segera seret dia ke tempatku, aku tidak menerima penolakan darinya.」
Tubuh Avrim membeku, ia segera membakar surat tersebut dan menaruh abunya di sebuah kotak istimewa. Ia juga memberikan harum bunga bermacam - macam jenis untuk menghilangkan aroma hasil pembakaran.
"Apakah Nona mau untuk diajak kesana?"
...****...
"Ada apa lagi sebenarnya ini? Saya bahkan baru saja menyelesaikan makan siang."
__ADS_1
Clara saat ini berada di ruang pertemuan milik Duke Wayne. Dia memang meminta perpanjangan hari libur pada Hendrick supaya bisa bersantai.
Sayangnya, hari santai miliknya dihancurkan begitu saja oleh Duke Wayne. Pak tua yang punya kedudukan paling tinggi di tempat ia tinggal ini.
Sebenarnya Hellen ada di luar ruangan, Duke Wayne hanya tidak ada niatan untuk mengusir ataupun membiarkan Hellen masuk.
Sejak kemarin hubungan mereka memang mulai membaik. Bahkan Duke Wayne yang tidak ada disini saat itu tahu persis bagaimana keadaan dua gadis yang sebelumnya mengalami perang dingin ini.
"Tempat ini sudah tidak aman lagi untukmu, Clara Scoleths. Aku benci mengatakannya tapi aku kalah dalam perdebatan. Nampaknya kau harus pergi darisini."
Clara diam sejenak, "Apakah ini sebuah pengusiran dengan cara halus?"
"Apa yang kau bicarakan? Kami para bangsawan melakukan pertemuan pagi ini. Dan tanpa kuberitahu pun kau pasti tahu apa yang kami bicarakan."
"Rumor payah itu yah?"
Duke Wayne menatap Clara, dia tidak menyangka jika anak kecil yang ia culik dari Freesia akan tumbuh menjadi gadis yang suka membuat resah banyak orang.
Ia yakin sepenuhnya jika Hendrick, anak tertuanya juga khawatir pada gadis muda ini. Padahal dulu Hendrick sering menolak banyak permintaan pertunangan dari bangsawan lain.
Entah apa yang telah diperbuat senjata ini pada anaknya. Hingga Hendrick secara tidak langsung peduli padanya.
Hellen juga.
Gadis ini telah merubah pemikiran orang - orang tentangnya. Padahal baru sekitar kurang dari dua bulan dia merubah kepribadiannya.
Pak tua ini sangat jeli melihatku, dia mungkin berfikir kalau aku bukanlah 'Clara' yang berteman dengan Hellen.
"Jadi, Duke Wayne akan tetap mengusir saya pergi dari tempat ini?"
"Mengusir kedengarannya agak kasar kau tahu? Aku akan memindahkanmu keluar Ranunculus agar kau lebih aman."
BRAK
Clara memukul meja di depannya dengan kencang, bahkan Duke Wayne yakin kalau Hellen yang berada di luar pun bisa kaget mendengarnya.
"Sa..sampai keluar Ranunculus?! Bukankah itu terlalu jauh? Lagipula bagaimana bisa saya tinggal setelah keluar darisini. Freesia akan mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan senjata mereka kembali."
Clara saat ini berekspresi sangat serius, meski dia tidak begitu mengkhawatirkan akan tinggal dimana karena dia masih bisa menumpang di salah satu rumah penduduk wilayah lain.
Namun satu hal yang menjadi kekhawatiran terbesarnya.
Akan berbahaya bilamana ia ditangkap oleh Freesia. Masalahnya, meskipun Clara Scoleths adalah senjata sempurna. Setiap senjata juga memiliki masa bagus dan tidaknya.
Singkat kata, jika senjata ini dikikis sedikit demi sedikit oleh orang luar. Maka kemungkinan untuk memiliki celah akan semakin besar. Akhir dari semua itu adalah kehancurannya sendiri.
Padahal alasan utamanya menghindari ending hitam itu adalah agar dia bisa hidup.
__ADS_1
Eh? Apakah di dunia asalku, aku sudah mati? Tidak lucu jika di dunia itu aku sudah mati kan?
"Yang penting untuk sekarang, aku ingin kau pergi jauh dari sini. Sejauh - jauhnya. Tapi usahakan agar kau tidak menuju utara. Atau dirimu akan dalam masalah."
Clara mengangguk paham.
"Namun, kemana saya harus pergi? Lebih penting lagi, apa saya akan pergi sendiri?"
"Tentu saja kau akan pergi sendiri. Siapa yang mau menemani seorang buronan negara untuk melarikan diri?"
Clara mendecak pelan, dia diingatkan kembali bahwa meskipun orang tua di depannya ini selalu baik padanya, tapi sikap buruknya yang menutupi perasaan sebenarnya cukup menyebalkan.
Sekarang aku paham darimana sifat tsundere Hendrick dan Hellen berasal. Kukira ibunya, ternyata orang tua beruban ini!
KREK
Baru saja Clara mau izin mengundurkan diri, namun pintu malah terbuka dari arah luar.
Seseorang yang paling tidak disangka masuk dengan lancangnya. Padahal Hellen sendiri yang berstatus sebagai anak Duke Wayne tidak berani selancang itu. Tapi orang ini...
"Maafkan saya telah lancang memasuki ruangan tanpa mengatakan apapun atau pun meminta izin kepada Duke Wayne maupun Nona."
"....."
"....."
Keduanya terdiam dan tetap mendengarkan ucapan orang tersebut. Mereka tidak berniat menginterupsi sedikit pun.
"Sebenarnya hamba memiliki solusi untuk masalah dimana Nona Clara akan tinggal."
Avrim, tanpa ada rasa bersalah karena kelancangannya tetap menampilkan ekspresi tenang. Clara yakin, meski Avrim dieksekusi sekalipun, ia takkan mengucapkan satupun kata 'berhenti'.
"Kau mempunyainya?" Duke Wayne bertanya pada Avrim.
Avrim mengangguk pelan, dia masih mempunyai kesadaran untuk tidak lancang lebih jauh lagi. Lagipula dia mendapatkan perintah langsung dari 'Tuan'nya untuk membawa Clara Scoleths ke tempat 'itu'.
Kesetiannya selama ini bukan untuk Clara Scoleths, melainkan untuk 'dia'.
"Benar Duke, saya mempunyainya."
Duke Wayne yang tertarik kemudian berkata,
"Kalau begitu, mari dengarkan solusi yang kau punya."
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~