The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 101 - Tugas Seorang Senjata


__ADS_3

"Ada yang bisa beritahu aku kenapa kita bisa berpindah tempat?"


Semua pandangan mendadak tertuju pada Rovers. Clara dan Duke Wayne yang semula saling sindir dengan Frederick menatapnya. Mereka juga tidak tahu harus menjawab apa.


Karena setelah sihir hitam mengelilingi Clara, Duke Wayne dan Rovers. Mereka tiba - tiba berada di dalam ruangan kosong yang sudah lama tidak ditempati. Lalu ada kubah hitam yang juga muncul yang didalamnya terdapat Frederick dan Count Cheltics.


"He? Itu karena sihir hitam, kau tahu? Apa ayahmu tak pernah mengatakan apapun padamu tentang kehebatan sihir hitam?" Frederick mengerutkan keningnya.


"Kupikir sihir hitam tak bisa digunakan untuk berpindah tempat seperti ini." Jujur Rovers.


Rovers menoleh pada Duke Wayne yang masih memapah Clara. Gadis itu masih kehilangan kemampuannya untuk berdiri. Rovers sempat merasa bingung karena Duke Wayne berkata yang aneh - aneh, sesuatu yang sama sekali tak ia ketahui apa itu.


Tentang sihir hitam, gadis yang ditanyakan Clara kepada Duke Wayne dan yang lainnya. Juga wadah selanjutnya...


"Duke Wayne, mengapa anda berkata bahwa dia adalah wadah selanjutnya? Apa maksudnya itu?"


Duke Wayne tersentak, wajahnya tertunduk enggan menatap Clara yang juga memandang kearahnya. Frederick menatap tajam Duke Wayne, anaknya itu ternyata bisa keceplosan. Dia pikir hanya Hellen saja yang ceroboh. Tapi yah, setiap orang bisa berbuat salah, jadi Frederick takkan memperumitnya.


"Apa Yang Mulia pernah mendengar legenda gadis mawar putih?" Tanya Frederick, dia mulai berbicara formal.


"Tahu. Lukisan gadis itu ada dalam salah satu buku sejarahku. Namun wajahnya diburamkan karena beberapa alasan. Dia adalah gadis yang menjelajah seluruh benua Herbras bersama seorang pria yang tak diketahui identitasnya. Gadis itu dijuluki Gadis Mawar Putih karena setiap perjalanannya dia selalu membawa mawar putih. Alasannya hanya diketahui olehnya dan pria yang menjelajah bersamanya." Papar Rovers.


"Benar sekali. Dan setiap dia berkunjung ke suatu tempat, dia tak pernah melewatkan satu mawar putih pun. Anehnya, mawar - mawar yang ia bawa selalu hilang dan berganti menjadi mawar biru." Sambung Frederick, dia mengangguk membenarkan cerita singkat Rovers.


"Itu tidak salah. Kira - kira kenapa itu bisa menghilang dan berganti?" Count Cheltics bertanya - tanya.


Frederick menggelengkan kepalanya, "Mawar putih itu tidak hilang. Melainkan berganti warna menjadi biru. Semua itu karena Gadis Mawar Putih menjadikan setiap mawar putih sebagai wadah dari sihir hitam yang diserap olehnya."


Mata safir Clara membesar, seolah menemukan kepingan lainnya. Benang merah yang selama ini mati - matian dicari olehnya. Ternyata Frederick mengetahui sesuatu mengenai masalah yang ada di benua Herbras ini. Clara yakin yang diketahui Frederick jauh lebih banyak dari ini.


"Kenapa? Kenapa dia menyerap sihir hitam di satu benua ini?" Rovers kembali bertanya.


Wajah Frederick terlihat ragu. "Kalau itu... aku tidak tahu."


"Bagaimana anda bisa tahu?"


Suara lirih yang terselip rasa sakit terdengar. Frederick menengok pada Clara yang semakin kencang mencengkeram dadanya, rasa sakit yang tak hilang - hilang membuat Clara tersiksa.


"Bagaimana anda bisa mengetahui semua itu?" Clara menekankan suaranya.


"Aku tahu cerita itu dari guruku-"


"Itu bukan sekedar cerita! Itu adalah kebenaran dunia ini. Dan yang dikatakan Duke Wayne jika saya adalah wadah itu tidak sepenuhnya salah. Saya sebenarnya... sebenarnya adalah..."


"Sebenarnya apa?"


Clara menatap Frederick, Count Cheltics dan Rovers bergantian. Lalu Duke Wayne yang sudah sedari tadi menunggu jawabannya.


"Saya adalah reinkarnasi gadis itu."


Semua yang ada disana terkejut dengan pernyataan Clara. Reinkarnasi bukanlah sebuah kemustahilan, namun hal itu jarang ditemukan di belahan dunia manapun.


Karenanya, setelah mendengar pernyataan Clara bahwa dia adalah reinkarnasi dari Gadis Mawar Putih membuat semua yang ada disana terdiam. Mereka terhanyut dalam pikiran masing - masing dalam waktu lama, termasuk Clara sendiri.


"Gadis itu sudah berjanji kepada teman prianya. Dia akan menyerap seluruh sihir hitam yang ada di benua Herbras ini. Sayangnya, gadis itu meninggal sebelum tujuannya tercapai. Saya sebagai reinkarnasi nya berniat melanjutkan tugasnya." Ujar Clara lagi, mematahkan keheningan dalam ruangan kosong tersebut.

__ADS_1


Aku bahkan sudah mengutarakan niatku kepada Yang Mulia. Padahal awalnya aku mau menolak permintaan Grein--!


Clara tersentak. Satu - satunya orang yang tahu jika dirinya adalah reinkarnasi Lyserith, bahkan dialah yang memberitahu Clara. Jika Grein tahu sampai sejauh itu, kemungkinan besar Grein juga tahu sejarah benua Herbras ini saat perang.


Aku ingin bertemu dengannya. Tapi bagaimana caranya?


"Mengapa kau malah mau melanjutkan tugasnya?!"


Clara mendongak menatap wajah Duke Wayne yang memerah, dari suaranya juga Clara sadar bahwa Duke Wayne menentang keputusan Clara yang ingin melanjutkan tugas Gadis Mawar Putih.


"Sihir hitam sudah merajalela, saya tak bisa terus diam sambil menutup mata."


"Apa yang salah dengan itu!?"


"Bukankah sihir hitam bukanlah sesuatu yang baik untuk dibiarkan?" Clara bertanya retoris, membuat Duke Wayne tak berkutik.


"Lupakan tentang kau yang adalah reinkarnasi dari Gadis Mawar Putih. Sekarang adalah saatnya untukmu membayar enam tahun yang kau habiskan di kediamanku. Tugasmu sebagai seorang senjata... kau takkan melindungi Hendrick disini. Melainkan melawan Willem bersamaku."


Huh?


"Tsk. Apa yang kau bicarakan pak tua! Walaupun dia senjata yang kau culik dari Freesia sekalipun aku takkan membiarkan dia kembali menemui orang itu!" Tegas Duke Wayne, dia menggenggam erat jemari ramping Clara.


"Kau tidak bisa menjadi egois di situasi pelik seperti sekarang, Hendrick." Frederick berkata dengan nada dingin.


"Aku tahu itu! Tetapi--"


SRET


"Clara? Kenapa kau...?"


Clara melepaskan genggaman Duke Wayne. Dia berusaha untuk berdiri sendiri sambil membawa pedang yang diberikan oleh Duke Wayne beberapa saat lalu. Dia tersenyum simpul pada Duke Wayne.


Rovers mengangguk paham. Sementara Count Cheltics hanya bisa terdiam memandang Frederick. Musuh dari rivalnya semakin banyak, dan sekarang dia baru memulai untuk mengurangi mereka. Count Cheltics melangkah menghampiri Frederick dan menepuk pundaknya.


"Aku akan menunggu kepulanganmu, jadi jangan mati oke?" Ucap Count Cheltics, senyuman lebar yang jarang terlihat kini terpatri di wajah angkuh nya.


"Siapa yang mau mati?" Tanggap Frederick sinis.


Clara tersenyum tipis melihat interaksi kedua pria berumur itu. Hubungan diantara pertemanan dan rival milik mereka begitu harmonis dan awet hingga hari ini.


Namun perhatian Clara teralihkan saat menyadari Duke Wayne yang tiba - tiba bangkit berdiri. Wajahnya masih menunduk, surai hazelnya terjatuh menutupi ekspresinya.


"Mengapa yang kau pikirkan hanyalah tugas dan tugas? Dasar budak takdir."


Terdengar cemooh dari mulut pedas Duke Wayne. Seketika tawa kecil lolos dari bibir Clara. Duke Wayne mendongak, menatap bingung Clara yang mendadak tertawa. Begitu pula dengan Frederick, Rovers dan Count Cheltics.


"Kenapa kau tertawa?"


Clara mengusap air mata di sudut matanya, "Tidak ada. Hanya saja saya baru merasa bahwa anda yang seperti ini akan saya rindukan."


"Cih! Kau seperti akan menemui bendera kematianmu saja." Duke Wayne berdecih kesal.


Clara kembali tertawa kecil. Pandangan Duke Wayne seakan meredup, dia kembali menunduk lalu bergumam pelan.


"Tidak bisakah kau membiarkanku untuk ikut?"

__ADS_1


Tawa Clara mendadak menghilang, dia menatap Duke Wayne yang masih menunduk. Clara menghela napasnya. Dia tidak masalah kalau Duke Wayne akan kesal kepadanya. Tapi Clara hanya ingin menjaganya dan melindunginya, seperti janjinya kepada Frederick waktu itu. Sekarang 'kan Hendrick telah menjadi seorang Duke.


"Itu berbahaya Tuan Hendrick, saya benar - benar tak ingin melibatkan anda dalam masalah saya." Ekspresi Clara menyiratkan kepiluan mendalam, itu tak luput dari pandangan Rovers.


Menyadari arti tatapan Clara. Rovers mendadak merasakan sesak di dadanya, dia membuang pandangannya kearah lain. Jika saja posisi antara Clara dan Hellen ditukar. Rovers bisa merasa perasaan campur aduk dalam diri Duke Wayne saat ini.


Duke Wayne menggertakkan giginya. Dia mengepal erat kedua tangannya, tubuhnya bergetar menahan amarah dan kekesalan.


Bukan pertemuan seperti ini yang diharapkan olehnya ketika mereka kembali bertemu!


"Jika kau tahu itu berbahaya. Mengapa kau juga tidak mundur saja? Apa salahnya hidup normal? Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Jangan mau diperbudak takdir hanya karena kau adalah reinkarnasi Gadis Mawar Putih!"


Clara terkejut. Duke Wayne yang biasanya acuh dan tenang bila di hadapan Clara, sekarang berubah drastis. Dia marah dan memaki - maki Clara. Dia nampak kehilangan kesabarannya.


Eh? Hendrick dia... menangis?


Clara, Rovers, Frederick dan Count Cheltics menjadi semakin terdiam saat menyadari bulir - bulir air mata mengalir dari sudut mata Duke Wayne. Frederick yang paling terkejut, selama ini dia tidak pernah melihat anaknya menangis bahkan saat dia masih anak - anak. Tak peduli luka macam apa yang dia dapatkan dari latihan pedangnya. Hendrick tidak pernah mengeluh kesakitan dan selalu mengobati lukanya tanpa bantuan siapapun.


Sekarang melihat anaknya yang menangis karena akan ditinggal oleh seorang perempuan membuat Frederick semakin disadarkan oleh satu fakta. Betapa besar Hendrick mencintai gadis senjata ini.


Ekspresi Frederick melunak. Apa seharusnya aku memang tak menyeret Clara dalam konflik antara aku dengan Willem? Tapi aku benar - benar membutuhkan dia untuk mengalahkannya. Seperti yang Lraight lakukan 7 tahun silam.


"Ck! Kau memang budak takdir."


Duke Wayne berdecak kesal. Dia menghapus air matanya dengan kasar dengan tangan kirinya yang masih mengepal di depan dadanya. Dia melangkah sedikit cepat mendekati Clara. Clara yang tidak paham hanya bisa diam di posisinya. Menatap dengan bingung Duke Wayne yang semakin dekat kepadanya.


Dengan cepat Duke Wayne menangkup kedua pipi Clara. Kedua tangannya memeluk leher Clara. Karena perbedaan tinggi yang ada, mudah saja bagi Duke Wayne melakukannya. Duke Wayne semakin mendekatkan wajahnya pada Clara.


CUP


"Nn...!"


Duke Wayne menautkan bibirnya pada bibir Clara, menciumnya dengan sedikit dorongan. Dia bahkan tidak membiarkan Clara memberontak. Rovers, Frederick dan Count Cheltics yang tidak siap dengan perubahan kondisi hanya diam mematung. Tak merubah posisi mereka berdiri saat ini.


Dalam 5 detik, Duke Wayne melepas ciumannya. Dia menatap wajah bengong Clara dengan wajah bersemu. Secepat kilat Duke Wayne mengalihkan perhatiannya dari Clara karena terlalu malu. Duke Wayne juga melepaskan pelukan tangannya pada leher Clara.


"Jangan tanyakan alasanku melakukan itu kepadamu. Karena aku sendiri pun tidak tahu." Suara ketus Duke Wayne kembali terdengar, kini suaranya agak malu - malu.


Tersadarkan kembali, Clara segera menutupi bibirnya dengan punggung tangan kanannya. Baru saja mau bertanya, tapi langsung diperingatkan Duke Wayne. Tentu saja Clara menjadi segan bertanya.


Duke Wayne menatap tajam ayahnya yang masih diam tak bersuara. Mungkin terkejut dengan tindakan tiba - tiba anaknya. Yang awalnya tidak suka dekat dengan wanita menjadi agresif karena gadis senjata itu ingin pergi meninggalkannya.


"Kuharap kau mau berjanji untuk melindunginya."


Frederick tersenyum sinis kepada anaknya itu. "Yah... karena kau begitu mencintainya, kupikir seharusnya aku bisa lebih meningkatkan kemampuanku untuk mengalahkannya sendirian."


Duke Wayne mengerling, dia tidak terlalu mempercayai perkataan pria tua itu. Lagipula mengapa bisa dia memicu peperangan saat dia sendiri hampir menemui ajalnya. Membuat orang lain sengsara saja.


Frederick mendorong Clara untuk berjalan lebih dulu. Diluar ruangan kosong itu, Frederick melambaikan tangannya pada anaknya yang sedang dimabuk asmara. Frederick harus bisa melindungi Clara agar dia tetap baik - baik saja. Ini janjinya terhadap Hendrick.


Sebelum benar - benar pergi, Clara kembali menoleh kepada Duke Wayne. Tatapan penuh kepercayaan diri dia perlihatkan. Duke Wayne sedikit terkejut, namun dia membalasnya dengan senyuman simpul.


"Semoga beruntung." Lirih Duke Wayne.


TBC

__ADS_1


Rasanya ada kapal yang oleng -_-. Pokoknya jangan bosan untuk meninggalkan jejak kalian dengan cara like dan komen.


So, see you in the next chapter~


__ADS_2