The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 72 - Senjata Freesia V


__ADS_3

TAP


"Huh?"


Tubuh George kaku, dia merasakan sebuah kehangatan di kepalanya. Ada tepukan pelan, lalu tangan itu mengusap pucuk kepala George penuh kelembutan. Awalnya George hanya diam saja, tetapi ketika dia sadar sepenuhnya, George menepis tangan itu.


PLAK


"Ouch!" Pekik Clara.


Dia mengelus tangan nya dan memandang George. "Kau yakin dengan pilihanmu ini? Aku bisa terus ada di sam-"


"DIAM!!"


Tanpa sadar George menjerit keras, dia menutup kedua telinganya agar suara - suara menjengkelkan itu tak ia dengar. Dia membenci Clara karena selalu memaksakan kehendaknya, namun di sisi lain George merasa tawaran gadis ini tak cukup buruk.


Segera George menggelengkan kepalanya, menghapus segala macam pikiran yang menyimpang dari pendirian yang selama ini ia miliki. Baru seminggu lebih dan gadis senjata yang rusuh itu membuat pendiriannya goyah.


Padahal, Clara hanya mendatangi kamar George setiap hari dan menanyakan hal yang sama. Hanya itu saja, tak ada yang lainnya. Namun George akui, tindakan Clara membuat dirinya tak lagi kesepian di istana dingin ini.


Tapi hal itu bukan berarti membuatnya mengangguk begitu saja ketika Clara menanyakannya lagi untuk yang kesekian kalinya. George tak mau termakan kata - katanya sendiri.


"Pergi..." Bisik George.


Clara bisa mendengarnya, dia terkejut melihat perubahan emosi George yang cukup drastis dibandingkan biasanya. Apakah mungkin itu semua karena Clara membawa persoalan sensitif barusan?


Apa memang seharusnya aku tak ikut campur? Aku semena - mena melakukan semua ini hanya untuk kedamaianku saja. Akan tetapi, kalau perang tidak terjadi yang untung bukan hanya aku saja 'kan?


Apa aku terlalu egois dan tidak memikirkan bagaimana perasaannya?


"George..." Bujuk Clara.


"Cepatlah pergi...!"


"Tap-"


"KUBILANG PERGI! BERHENTILAH MENGAJAKKU KABUR! Memangnya kau tahu apa tentang hidupku?!" George berteriak semakin kencang, Clara tak akan kaget jika teriakan itu bisa terdengar sampai keluar istana.


Bahu Clara terlihat gemetar, dia selama ini tak pernah melihat seorang pria membentaknya sampai semarah ini. Bahkan jika pun ada yang pernah melakukan hal ini padanya, tetapi dia sekedar menegur saja.


Bahkan sebelum Clara masuk ke dunia novel, tidak ada yang pernah melakukan itu kepadanya.


Mungkin karena dia selalu diabaikan oleh kedua orang tuanya, jadi tidak ada yang peduli dengan apa yang dia lakukan.


Clara nyaris saja menangis, dia menyadari jika dirinya sudah keterlaluan. Memaksa George selama seminggu lebih ini untuk kabur bersamanya. Padahal motif Clara sendiri tidak jelas di mata George, gadis ini terlihat hanya bermain - main.


Clara mengambil langkah mundur perlahan.


Di hadapannya George mulai kacau, dia tampak tak terkendali emosinya. Dia mengingat bagaimana mirisnya dia karena mengharapkan kasih sayang dari seseorang yang tak waras lagi. Parahnya, Clara membuat George mengingat hal itu. Padahal dia berusaha keras untuk mengabaikan fakta dan seluruh kebenarannya.


Dia hanya tak mau merasakan sakit hati. Tapi ternyata selama ini dia selalu merasakannya, dirinya hanya mampu menahan semua itu.


Sejujurnya dia tidak membenci kehadiran Clara. Karena hadirnya orang lain di sekitarnya tidak membuat George merasa kesepian lagi. Sayangnya gadis ini tak bisa menjaga ucapannya, dia selalu memaksa George kabur dari Freesia tanpa mengatakan tujuan akan kabur kemana. Itu membuat George kesal kepada Clara.


Ditambah lagi saat ini, gadis itu tahu terlalu banyak dan membuka luka hati George dengan mudahnya hanya agar tujuan anehnya yang tak diketahui tercapai.


Gadis yang egois.


George membenci itu dan akibatnya dia memaki Clara sekarang.


Clara sudah mencapai ambang pintu. Sebelum pergi, dia menoleh dan mengatakan sesuatu pada George. "Aku berjanji takkan mengganggumu lagi. Dan maaf atas keegoisanku. Maaf..."


Setelah mengatakannya, Clara menutup pintu kamar George perlahan. Sementara, pemiliki kamar hanya bisa diam dan terus menangis. Dia dipaksa mengingat kenangan pahitnya setelah senjata pertama itu diculik Ranunculus.


George mengacak rambutnya dengan frustasi.


"ARRGGGHHH!!!!"

__ADS_1


...❀...


Diluar kamar George, Clara terdiam. Dia sudah menyakiti hati orang lain hanya untuk keberhasilan misinya. Dia harus berhenti melakukan ini agar tak menyakiti banyak orang. Tidak tahu apakah Clara masih akan mengunjungi George atau tidak.


Tak ada yang mau tahu.


*Misi ini sudah gagal, ini balasan yang terbilang kecil bila dibandingkan kesalahanku kepadanya. Apa aku bisa menebus kesalahan yang kubuat?


Aku muak pada diriku sendiri*.


...❀...


Di esok paginya, tidak ada yang berubah di meja makan. Clara tetap sarapan sendirian tanpa ada yang menemani dirinya. Para pelayan itu sedang keluar tak tahu kemana. Mendadak Clara merindukan suasana di Ranunculus maupun Hortensia.


"Tak apa jika aku harus pulang ke Hortensia tanpa George."


Clara iseng mengintip ke sudut ruangan dimana ada kamarnya yang bersebelahan dengan kamarnya George. Dia mengernyit merasa tak ada kehidupan di dalam sana. Sejak tadi juga tidak ada pelayan yang mengantarkan sarapan ke kamar George.


"Apa dia sudah sarapan?"


Kemudian tatapan Clara teralihkan pada satu piring kosong yang tersedia di depannya. "Bagaimana kalau aku bawakan saja sarapan untuknya? Setidaknya jika aku tidak menyinggung perihal kemarin dia tidak akan mengamuk lagi."


Clara mengambilkan roti dan mengoleskan selai diatasnya. Dia sudah hapal betul dengan jadwal menu makanan di istana ini. Untuk sarapan sejenis gandum dan sereal, makan siang biasanya lauknya itu daging, dan makan malam agak bebas menu nya tapi semuanya tidak terlalu berbobot.


Dengan sedikit perasaan gugup Clara membawakan piring sarapan George ke kamarnya. Clara memegang daun pintu dan memutarnya, seperti biasa, pintu itu terbuka. Dia selalu lupa untuk mengunci pintunya, kebiasaan buruk.


Bagaimana jika ada penjahat dan dia memasuki kamarmu? Kau 'kan masih payah dalam membunuh. Melihat darah saja sudah mual, apalagi jika darah itu terciprat padamu. Hadeh... alamat pingsan deh!


"George?" Clara berbisik memanggil George yang masih meringkuk di kasurnya.


Clara berjalan perlahan supaya tak menimbulkan suara yang akan membangunkan George. Clara menyadari jika George semalaman menangis, matanya kelihatan sembab dan nyaris bengkak. Rasa bersalah Clara semakin besar.


Dia memang tak bisa mengobati luka hati George. Tapi setidaknya dia bisa melakukan sesuatu kepadanya, meski hanya menemani George setiap hari sebelum dia kembali.


Clara sedikit terpana dengan wajah George. Walaupun masih merah karena sehabis menangis. Tapi tak dapat dipungkiri jika George punya wajah yang tampan. Yah, Clara akui itu, tapi menurutnya Kaisar lebih tampan darinya.


Maklumlah, Clara sedang bucin namun juga berusaha mengabaikan rasa cintanya pada Kaisar. Karena seperti yang pernah dikatakan Jean, sejauh ini istri dari kaisar Hortensia itu seluruhnya adalah bangsawan.


"Apa yang kau lakukan bodoh? Meneliti wajahku?"


Sebuah suara mengejutkan Clara. Clara tak sadar jika George sudah bangun dari tidurnya, matanya kemerahan. Clara nyaris melemparkan piring di tangannya kalau dia tidak berhati - hati.


George mendengus. Dia mengambil posisi duduk, dan sedikit melirik Clara yang masih melongo. "Kenapa kau kesini?"


Clara tersadarkan kembali, dia menyodorkan piring di tangannya kepada George sambil nyengir kuda. "Mengantarkan sarapan untukmu, karena kulihat - lihat sejak tadi belum ada yang mengantarkannya ke dalam kamarmu."


"Bukan belum, tapi memang tidak ada." Imbuh George.


Clara terkejut dadakan lagi, "Lalu bagaimana dengan sarapanmu? Kau tidak sarapan? Apakah perutmu sekuat itu menahan rasa lapar?"


"Pertanyaanmu terlalu banyak bodoh. Aku makan sebuah apel juga sudah cukup."


"Kenapa kau tidak pernah sarapan?"


"Aku malas keluar kamarku."


Yang benar? Hanya itu? Para pelayan ketakutan memasuki kamarmu dan alasanmu tak sarapan hanya itu? Bukan maen.


"Kalau begitu makan saja ini, aku sudah sarapan lebih dulu."


George mengambil piring di tangan Clara, memakan roti isi selai sementara piring ia taruh di meja samping kasurnya. George terlalu malas untuk beranjak dari tempat tidurnya, dia hanya akan memerintahkan pelayan membersihkan kasurnya jika remahan roti jatuh.


Diam - diam George memandangi Clara yang menyender di kasurnya. Dia hanya bisa melihat tengkuk dan rambutnya yang terurai ke belakang tanpa diikat. Ini agak membuatnya berdebar, dia seakan lupa jika gadis ini adalah tukang eksekusi yang tak kenal ampun itu.


George juga merasa lebih tenang ketika Clara tidak membawa topik sensitif yang biasa ia bawakan seperti kapan kau mau kabur dan semacamnya. Ini yang diharapkan George sejak lama.


"Clara."

__ADS_1


"Ya?" Clara menoleh pada George.


"Tidak ada, aku merasa ini lebih baik."


Senyum manis terukir di bibir Clara. "Begitu? Baguslah."


"Jika saja semuanya akan tetap begini."


Clara bungkam, dia enggan membicarakannya namun George malah melakukannya lebih dulu. Clara tak mau menjawab, tapi kalau dirinya memberi George harapan lebih yang takkan pernah terealisasikan, maka dia akan merasa lebih berasalah.


"Aku tidak akan selalu berada di sisimu. Tapi aku akan selalu kemari sampai aku tidak bisa melakukannya lagi." Ucap Clara, dia kembali membelakangi George.


"Kau akan pergi?"


Clara mendengar suara George yang parau. Itu normal karena George menangis semalaman bahkan mungkin seharian meski hanya sesenggukan. Tapi entah kenapa Clara malah berfikir ada alasan lain George menjadi sedih.


"Freesia bukanlah rumahku." Jawab Clara singkat.


Mata George membulat. Padahal dia sudah menerima kehadiran Clara yang ini, yang tidak membawa - bawa masa lalu serta persoalan sensitif lainnya. Jika Clara pergi, tak akan ada lagi yang peduli padanya.


Dia bahagia, bahkan ketika dirinya memaki Clara karena geram. George benci sendirian, namun dia sendiri selalu menciptakan kondisi dimana tak ada yang mau berada di sisinya. Clara tahu benar jika George selalu mengisolasi diri dari luar.


"Kumohon jangan pergi, kau bilang akan selalu berada di sampingku." Suara George semakin parau.


"Tetapi, ini bukan tempatku. Sekalipun aku pernah tinggal disini. Rumahku yang sebenarnya adalah Hortensia. Kau tidak bisa ikut denganku, jadi aku juga tak bisa bersama denganmu. Ini impas. Kita hanya perlu menjadi dua orang yang saling tidak kenal seperti pertama kali kita bertemu."


Clara masih tetap memandangi jendela di sisi kanan kamar George. Dia enggan melihat ekspresi George saat ini. Clara hanya bisa membiarkan semuanya berakhir begini, misi penculikan George akan diakhiri dengan tanpa hasil sama sekali.


Demi menghindari perang, Clara ingin merebut George dari tangan Freesia. Tapi caranya salah. Dirinya juga sudah membuat luka yang besar di hati George. Itu tidak mengenakkan jika dia tetap berada disini lebih lama.


Clara berharap waktu bisa berjalan lebih cepat.


[Master benar - benar akan meninggalkannya?]


Eh? Claire?


[Padahal Master sudah bisa menyentuh hatinya. Setidaknya jika Master tak ingin meninggal, cara ini sudah benar untuk dilakukan. Peduli setan dengan apa yang senjata itu pikirkan. Master juga perlu tahu bagaimana akhirnya kalau membiarkan Freesia menyerang.]


Manusiawi itu tidaklah salah, Claire. Aku tidak bisa mempermainkan hatinya hanya untuk akhir yang lebih bahagia untukku. Karena belum tentu dia bahagia dengan akhir yang kuharapkan. Hanya sejauh ini yang bisa kuperbuat.


[Seharusnya Master berhenti berperasaan. Tidak sepatutnya kita berdua memilikinya, bahkan Kaisar Sieg yang membantu Master juga tidak sebaik itu niatnya. Master hanya memiliki aku.]


Meski begitu, menyakiti seseorang bukanlah jawabannya. Ini adalah pilihanku, Claire.


Hanya kesunyian yang ada diantara mereka berdua. Clara pikir dia akan selalu kesini setiap harinya sebelum pergi. Mungkin sebelumnya dia akan mengucapkan selamat tinggal pada George. Yah, itu masih lama jadi Clara akan bersikap seolah tak ada apa - apa saat ini.


"Ah, aku akan menyimpan piring ini di dapur. Jangan lupa siang nanti makan bersamaku oke?" Clara menebar senyuman manisnya.


"Entahlah, aku malas keluar." Jawab George dengan acuh sambil terus melahap rotinya.


"Kalau begitu aku akan membawakan makan siang mu langsung ke kamarmu yah?"


"Terserah kau saja."


Clara mengangguk senang, setidaknya ini tidak seburuk kemarin. Hubungannya menjadi sedikit lebih baik, itu membuat kepergian Clara 2 minggu lagi menjadi tak seberat awalnya. Beban di hatinya tak akan mengusiknya kalau begini.


George terus melihat kearah Clara yang pergi. Kemudian menunduk menatap roti di tangannya. George tak membencinya, dia hanya sekedar kesal kalau Clara mulai melantur. Itu hal biasa yang dilakukan oleh kedua sahabat.


"...Sahabat?"


Keberadaan Clara sudah terlanjur berharga bagi George.


Kalian yang selalu ada untukku, kenapa harus menghilang begitu saja? Aku memang membenci sikapmu, tapi kau tahu? Aku suka saat kau datang dan membuatku merasa tidak sendirian. Hanya kau yang ada di sampingku. Jadi...


"Jangan pergi..."


TBC

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ^-^


So, see you in the next chapter~


__ADS_2