
Clara menghempaskan tubuhnya keatas kasur. Rasanya karena terlalu kebanyakan duduk hingga semalaman, tubuhnya nyaris tidak bisa digerakkan lagi.
Dia melamun cukup lama, mengabaikan Jean yang sedang meletakkan sarapannya di meja. Clara berfikir mengenai banyak hal. Entah itu keadaan keluarga Wayne, seseorang yang memanggilnya Master ataupun perasaan baru dalam hatinya.
"Aku ingin tahu bagaimana keadaan Allen sekarang? Juga Tuan Hendrick. Avrim juga belum kembali..."
"Nona, kalau Nona merasa kesepian disini. Bagaimana jika malam ini ikut saya belanja di pasar? Malam ini di pusat kota akan ramai."
Clara mendadak mengisi kembali semangatnya dan duduk menghadap Jean dengan mata berbinar.
"Benarkah? Benarkah? Ada pasar malam di pusat kota? Aku akan ikut denganmu Jean!"
"Syukurlah kalau Nona mau."
"Jean."
"Ya Nona?"
"Apa benar yang kau katakan dahulu? Bahwa Yang Mulia tidak akan membuat harem di istananya? Aku pikir hanya Agapanthus yang bisa melakukan itu." Celetuk Clara.
"Itu benar Nona. Hanya satu dari banyaknya gadis bangsawan yang ada di Hortensia ini." Ucap Jean dengan santai sambil menuangkan teh ke cangkir milik Clara.
"Ba..bangsawan! Harus bangsawan?!"
Kalau begitu kesempatanku nyaris menghilang donk...
"Eh? Itu tidak diragukan lagi Nona. Juga, kaisar - kaisar sebelum Yang Mulia pun memilih istri mereka dari kalangan bangsawan. Kalau tidak berjalan seperti itu, asal muasal sang gadis perlu dipertanyakan. Bisa - bisa gadis itu disebut sebagai penyihir. Masih bagus kalau hanya dikucilkan, ada kemungkinan dia dibakar hidup - hidup seperti legenda yang beredar bukan? Meski bukan gadis." Jean mengecilkan volume suaranya diakhir kalimat.
"Apa salahnya dengan itu?"
"Menggunakan sihir untuk menarik perhatian lawan jenis adalah larangan di Hortensia ini bahkan saya pikir sampai seluruh Herbras."
"Apakah memang ada yang sampai mendapatkan hukuman sekejam itu?"
"Dulu karena ada yang menggunakan sihir dengan semena - mena sehingga dia dibakar hidup - hidup. Memang bukan karena dia menggunakan pelet cinta. Tapi tetap saja, menyalah-gunakan sihir itu bukanlah perbuatan baik."
"Intinya, jangan menyalah-gunakan sihir yang kau miliki maka kau akan baik - baik saja. Begitu bukan?" Tanya Clara.
"Itu benar Nona. Bahkan Bibi Avrim juga memilikinya, Nona mengetahuinya kan?"
Clara mengangguk, "Saat pelarian, lengan dan bahuku terluka. Aku merasa lukaku sembuh terlalu cepat, dan ternyata Avrim lah yang melakukannya."
"Apakah Jean juga memilikinya? Kemampuan penyembuhan super cepat itu...?" Tanya Clara.
Jean jadi gelagapan, tidak tahu harus menjawab apa. "Ah Nona! Apakah Nona tak mau bersiap - siap? Malam ini kita akan menjajah seisi pasar malam bukan?"
"Benar juga sih. Tapi kan masih malam nanti, aku baru saja memakan sarapanku."
Jean jadi bertingkah aneh, jangan - jangan dia juga punya?
__ADS_1
...❀...
Di tempat yang penuh dengan kegelapan, banyak orang datang beramai - ramai membawa obor di tangan mereka. Mereka juga bersamaan melempar semua obor itu kepada satu tempat.
Dimana ada seseorang yang diikat di kayu besar nan tinggi. Entah karena alasan apa, kayu itu terbakar lebih lambat dibandingkan seseorang yang diikat padanya. Orang - orang yang melemparkan obor pada pria muda itu. Mulai mengumpat, memaki, menghina hingga memberi pria itu semua doa yang tidak baik.
Sayangnya, walaupun orang - orang membencinya. Namun pria muda itu tidak menghiraukannya sama sekali. Dia lebih memilih tertawa terbahak - bahak menyerupai orang gila. Membuat orang - orang itu semakin membencinya.
"Ahahaha! Bodoh sekali! Kalian terlalu bodoh untuk mengerti apa yang diinginkan oleh dunia ini! Dasar manusia tamak!" Pria muda itu mencaci lautan manusia di bawahya.
Dari sekian banyak orang yang membenci pria muda itu. Hanya ada satu orang yang memberinya tatapan penuh khawatir dan kasihan. Seorang gadis yang berfikir jika pria muda itu adalah sahabat terbaiknya.
Dirinya ingin menangis, tapi situasi saat ini tidak akan membuat orang - orang bersimpati padanya dan menghentikan ritual pembakaran ini.
"Hentikan..." Isaknya, pandangannya terus terpaku pada pria muda itu.
Sejak awal tidak ada yang bagus pada keadaan ini.
Tidak ada siapapun yang diuntungkan.
Memang benar apa yang dikatakan pria muda itu. Manusia hanyalah segelintir makhluk bodoh yang berjuang untuk memenuhi nafsunya belaka. Rasa tamak dalam diri mereka perlahan tapi pasti akan menelan mereka dalam keadaan yang lebih buruk dibandingkan dirinya yang sekarang.
"Sungguh menyedihkan....! Membakarku hidup - hidup hanya demi kepuasan kalian... damai? Alasan yang lucu! Kalian sedang melawak 'kah? Tak mungkin kalian akan mendapatkan hasil tanpa adanya pengorbanan. Memang benar jika aku memberi cap 'tamak' pada kalian semua. Hehe..."
Meski pria itu berteriak tak karuan, orang - orang yang berhasrat untuk membakarnya tak mendengar ocehan kecil itu. Mereka terus menerus melemparkan segala macam bahan untuk membuat api lebih besar.
Pria itu menatap sang gadis yang menetaskan air mata untuknya. Lalu dia tersenyum tipis dan bergumam pelan.
"Sampai jumpa lagi di lain hari. Kita akan bertemu sebagai orang yang berbeda, Nona Muda."
...❀...
"Ah..." Clara ditarik kembali kesadarannya, dia melamun cukup lama.
"Ada apa Nona?" Jean yang masih setia di sampingnya pun bertanya.
"Tidak ada, hanya ingin tahu saja kapan Yang Mulia akan pulang?"
"Nona, Yang Mulia baru saja pergi tadi pagi dan ini bahkan belum waktunya makan siang. Nona tahu bukan kalau Yang Mulia akan kembali besok siang?"
Clara merenggut kesal. Dia bangun dari kursinya dengan kasar dan menarik tangan Jean. "Kalau begitu sekarang saja!"
"Heh? Apanya Nona?"
Dengan tatapan mantap tertuju pada Jean, Clara berkata. "Kita akan memasak makan siang untuk kita sendiri. Dan makan bersama dimana saja setelahnya. Dan akhirnya menggosipkan Yang Mulia sampai pasar malam dimulai. Ide yang bagus bukan?"
"Yah... kecuali ide menggosipkan Yang Mulia. Saya kurang yakin dengan itu..."
"Halah! Tidak perlu memikirkan perasaan Yang Mulia. Yang Mulia saja tidak memikirkan perasaan kita."
__ADS_1
"Nona..." Jean melengos mendengarnya.
Sesampainya mereka di dapur istana, sang koki menatap kehadiran mereka penuh rasa penasaran. "Mm, Jean dan Nona Scoleths. Ada apa tiba - tiba datang ke dapur belakang?"
"Kita mau membantumu memasak!" Jawab Clara energik.
"Maaf...?"
"Maafkan kami, Nero. Nona mendadak mau memasak sendiri. Tidak apa - apa 'kan?" Tawar Jean.
Koki tersebut, Nero mengangguk sambil tersenyum lebar. "Begitu rupanya, baiklah Nona Scoleths mau memasak apa? Biar saya bantu ambilkan bahan - bahannya."
"Aku mau membuat kue kering yang banyak sekali. Untuk cemilan sekaligus nanti kubawa ke pasar malam bersama Jean. Tanpa camilan hidupku terasa hampa, benarkan Nero?"
"A... iya Nona!"
"Lalu untuk makan siangnya?" Tanya Jean.
"Buat saja yang seperti biasa. Kita buat untuk yang makan siang dulu. Nanti sehabis makan siang selesai barulah membuat kue keringnya." Ujar Clara, semangatnya masih tetap sama.
"Baiklah Nona."
Clara merasa senang karena diperbolehkan memasak (mengacau) di dapur istana. Sementara Jean hanya mengikuti Clara saja.
Karena menurutnya rambutnya akan menghalangi, Clara mengikat rambunya. Dia juga memakai celemek putih polos serta satu atau dua jepit rambut untuk anak rambutnya yang lolos dari ikatannya. Dia menyimpan jepit giok berbentuk bunga ranunculus di kantung celemeknya agar tidak kotor. Ia juga melipat lengan bajunya.
"Nona benar - benar akan ikutan, eh? Apa Nona bisa memasak?" Tanya Nero.
"Jangan remehkan aku! Meskipun aku kelihatan seperti gadis rumahan yang hobinya mengurung diri. Tapi aku adalah sosok istri idaman."
Nona percaya diri sekali.
Nona Scoleths dipenuhi banyak energi yah.
"Jadi Nero, apa yang akan kita buat???"
Jean mengerutkan keningnya. "Kita?"
"Itu benar Jean. Kita itu bertiga! Aku, Nero dan Jean."
Jean dengan panik menatap Nero, sayangnya Nero malah tidak memperdulikannya, saat ini ia sedang mempersiapkan alat dan bahan untuk memasak makan siang. Seolah mengatakan 'jangan libatkan aku' di dalam matanya.
Jean melirik lagi ke arah Clara, mata berharap Clara benar - benar membuat Jean kewalahan. Dan akhirnya dia membantu Clara serta Nero memasak di dapur.
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1