
"George?"
Pintu terbuka, memperlihatkan sebuah kamar biasa yang dominan diisi oleh barang - barang berwarna silver. Dari gorden hingga kasurnya, sebagian besar tidak ada warna lain selain silver. Pemiliknya pasti menyukai warna itu.
Clara cukup lama terpaku pada isi kamar yang padahal tidak ada istimewanya sama sekali. Itu adalah kamar yang biasa ditemukan dimana saja, bahkan penampakan kamar di penginapan pun seperti ini. Lantas apa yang membuatnya begitu menarik perhatian Clara?
"Siapa kau?"
Pertanyaan itu datang dari seorang pria yang mungkin lebih muda dari Clara. Surai dan matanya berwarna silver, tak jauh berbeda dari kamar ini. Sepertinya Clara benar mengenai alasan mengapa kamar ini dominan berwarna silver. Pengaruh dari pemiliknya.
Clara tak menjawabnya, dia lebih fokus pada sang pemilik kamar sekaligus senjata baru yang belum tega membunuh ini.
Sesuai informasi yang dia dapatkan dari Kaisar tempo hari. George ini adalah senjata yang tidak setega dirinya maupun Kaisar dalam membunuh target. Parahnya, ini adalah alasan kenapa Raja Willem mengasingkannya. Senjata ini perlu beradaptasi sehingga sanggup membunuh tanpa merasa tega.
Raja Willem merasa kalau 'ketegaan' senjatanya inilah yang membuat semua misinya terhambat. Tidak seperti ketika Clara Scoleths enam tahun lalu yang setiap diberi misi pembunuhan selalu bisa menyelesaikannya.
George membuat setiap kemajuan yang seharusnya didapatkan Raja Willem menjadi musnah. George mungkin sampai saat ini masih tidak tegaan, makanya Raja Willem belum mengeluarkannya dari istana pengasingan ini.
Dan tujuan Raja Willem menempatkan Clara di istana yang sama dengan senjata belum sempurna ini. Tampaknya dia berharap pada Clara untuk mengubah George menjadi seperti dirinya.
Atau kemungkinan terburuk, Raja Willem menempatkannya disini supaya Clara bisa menyingkirkan George perlahan - lahan.
"Aku tanya sekali lagi, siapa kau?!"
Nampaknya George telah kehabisan kesabaran, pemuda itu sekali lagi bertanya namun kali ini dengan nada tinggi. Clara terperanjat dan fokusnya mulai buyar. Dia menatap senjata penggantinya dengan seksama.
"Sa..saya Clara Scoleths." Jawab Clara, tanpa sadar dia juga meninggikan suaranya.
George lambat merespon, dia mendengus samar dan memperhatikan Clara yang masih berdiri di ambang pintu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali seseorang mengunjungi kamarnya.
"Aku tidak bertanya siapa namamu, yang kutanyakan adalah siapa kau!?"
Hey... apa dia langsung curiga tentang identitasku? Konspirasi macam apa ini?!
"Um... saya adalah senjata sebelum kamu. Apakah kamu ada masalah dengan itu?"
Clara masih memegang kenop pintu. Jaga - jaga jika George mulai melemparinya karena kesal, Clara akan segera menutup pintunya kembali.
Sebab dari kesan pertama Clara pada pria ini, semua sudah menunjukkan segalanya. Pria ini terkesan masih labil dan punya kontrol emosi yang cenderung buruk. Mungkin karena usianya masihlah muda, Clara menduga saja kalau George lebih muda darinya, aslinya dia tidak begitu tahu.
Serta fakta bahwa George adalah senjata pengganti dengan reputasi buruk di mata Raja Willem. Yang membuatnya diasingkan dan jarang mendapatkan misi pembunuhan atau sekedar mengeksekusi penjahat yang telah ditangkap sebelumnya.
Jika saja George adalah pria yang tidak segan untuk membunuh, maka dia takkan berada di istana ini, yang letaknya jauh dari istana utama.
"Kenapa kau kembali sekarang? Mau mengejekku huh?!"
Dia ini tipe yang selalu ngegas deh. Aku harus ekstra sabar kalau mau membuatnya kabur dari sini dengan senang hati.
__ADS_1
"Tidak. Saya sebenarnya datang kemari untuk membawa kamu kabur dari sini." Ucap Clara setengah berbisik, menghindari telinga - telinga yang berpotensi mendengar percakapan sensitif nya dengan George.
"Bercanda apa kau? Kabur dari sini? Jangan mengigau meski ini sudah malam."
George berjalan menjauhi pintu, dan menghampiri kasurnya yang besar itu. Diatas kasurnya, ada banyak sekali jenis buku yang ia baca. Wawasannya sepertinya luas, sayang sekali emosinya yang lebih cepat berjalan dibandingkan logikanya.
"Apa kamu menyukai tempat ini?" Tanya Clara, dia masih tak bergeming dari ambang pintu.
"Tentu saja, ini rumahku."
George duduk diatas kasur, memunggungi Clara. Dia mengambil salah satu buku yang tergeletak dan membuka lembar demi lembar. Menuliskan beberapa kata dengan pena pada buku tersebut.
Clara tidak berani untuk masuk, saat ini biarlah sampai sini saja. Mungkin di esok hari dia akan membuat kemajuan lain. Pelan - pelan saja, hati seorang senjata itu sulit digoyahkan, namun bukan berarti sulit untuk diubah.
Kalau Clara tetap memaksa masuk, maka kemungkinan George terbuka padanya akan semakin kecil. Atau bahkan malah tidak ada sama sekali. Karena sudah dikatakan oleh Clara, George punya sikap yang labil dan mudah emosian. Ingatan buruknya menyangkut Clara pasti sudah membekas di ingatannya kalau George seorang pendendam.
Sebab itulah, mari tinggalkan pemuda ini untuk saat ini.
Dan lanjutkan perjuangan untuk mendapatkan hatinya di lain waktu.
Karena musim dingin baru saja dimulai.
Clara menutup pintu kamar George perlahan. Sejujurnya ada yang masih mengganjal di hatinya. Mengenai kalimat terakhir dari George sebelum Clara memutuskan keluar dan mengunjunginya di lain hari.
'Tentu saja, ini rumahku'.
Memang tidak ada yang salah dengan itu. Apalagi George adalah senjata yang digerakkan langsung oleh Raja Willem dari awal dia disini. Pastinya George dilatih langsung oleh Raja Willem setelah insiden penculikan Clara yang didalangi oleh Frederick Wayne dan kakek dari Rovers.
Clara berfikir jika ada unsur 'dipaksa' disini saat Raja Willem memutuskan menjadikan George senjata kedua Freesia. Namun anehnya, George menerima profesi barunya sebagai mesin pembunuh tanpa merasa dipaksa. Dan parahnya, pria itu menganggap Istana Freesia adalah rumahnya.
Itu aneh bukan, ketika seseorang menyebut tempat yang seharusnya disebut neraka sebagai rumahnya? Masalahnya adalah, pria tua kejam itu membuatnya menjadi senjata padahal George tak mampu membunuh secuil manusia pun. Mengapa senjata itu malah tidak memberontak?
Clara terus melangkah diantara lorong dan tak sampai 30 detik. Dia langsung mencapai kamarnya, tentu saja cepat karena kamarnya berada di sebelah kamar George.
Dia sudah menyelesaikan makan malam, dan Clara juga berada disini bukan sebagai tamu. Melainkan tahanan tak langsung yang masih diberikan kebebasan meskipun bersyarat.
Clara membuka pintu kamarnya.
Sebuah kamar yang sederhana.
Tidak sebagus kamarnya yang ada di Ranunculus ataupun Hortensia. Namun setidaknya kamar ini layak untuk ditempati seorang manusia.
Ini lebih seperti kamar di penginapan.
Clara juga menyadari sepertinya para prajurit tidak berjaga di dalam istana, mereka hanya berada diluar. Hanya ada beberapa pelayan yang setia di dalam dan melayani George dan dirinya.
Aku harus mengakrabkan diri dengan George secepatnya. Tidak ada jaminan kalau sebulan akan terasa lama.
__ADS_1
...❀...
Malam berganti menjadi pagi, posisi bulan telah tergantikan oleh matahari. Sinar mentari menjadi tidak berguna di awal - awal musim dingin ini, sebab rasa dinginnya masihlah menusuk.
Clara telah duduk manis di meja makan, tidak ada tanda - tanda jika George akan sarapan bersamanya. Bukan hanya itu, sebenarnya George juga tidak makan malam. Mungkin saja ada pelayan yang membawakan bagiannya langsung ke kamarnya.
Ruang makan terasa begitu sunyi dan sepi. Clara merasa sangat kesepian, karena tidak ada Jean dan Kaisar yang biasanya selalu makan bersamanya di istana kekaisaran Hortensia. Dan ketika di Ranunculus juga ada Avrim yang menemaninya.
Tempat ini sangatlah sepi.
Belum lama Clara melahap sarapannya, seorang prajurit dengan senjata di tangannya menghampiri Clara. Mendadak salad yang dipegang Clara macet di tengah - tengah.
"Nona senjata, maaf mengganggu sarapan anda."
Clara mengerutkan keningnya, merasa terganggu dengan panggilan tersebut. Ini sudah kedua kalinya sejak ia kemari, pertama pelayan itu dan sekarang si prajurit.
"Namaku Clara, kau bisa memanggilku begitu."
Clara meletakkan garpu kembali ke piring.
"Baik Nona Clara."
"Jadi, ada apa?"
"Yang Mulia Raja memanggil anda dan Tuan George untuk menghadap."
Huh? Aku baru sehari disini, tidak lucu kalau sudah dibebankan misi bukan?
"Oke, aku akan ikut denganmu. Bagaimana dengan Tuan George?"
Clara bangkit berdiri, bertanya pada prajurit tersebut.
"Tuan George sudah menunggu di depan istana silver."
"Oh..."
Clara berjalan keluar istana dipimpin oleh si prajurit. Dan benar saja, George sudah berada di depan istana dengan wajah muramnya. Seperti yang dibayangkan Clara tentangnya, George selalu punya suasana hati yang buruk.
Mereka akhirnya ke istana utama, tepatnya menuju aula dimana ada singgasana yang selalu diduduki oleh Raja Willem setiap harinya. Sampai di hadapan Raja Willem, mereka dua mengambil posisi berlutut.
Dengan angkuhnya Raja Willem semakin meninggikan pandangannya. "Aku memiliki misi untuk kalian berdua."
Tubuh Clara menegang, hanya dengan satu kalimat dari Raja Willem. Itu sudah cukup untuk membuat Clara agak goyah. Dia melirik pada George, Clara tak bisa melihat ekspresinya dengan jelas.
Heh? Firasat burukku... sungguh menyebalkan!
TBC
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~