
Di kediaman Wayne, terlihat para prajurit sedang sibuk hilir mudik. Para pelayan pun sama, seolah mereka mencari sesuatu yang jika hilang akan membahayakan. Dan itu tidak sepenuhnya salah, sebab yang hilang adalah tuan muda mereka.
"Ack! Sial, mereka ada dimana - mana."
Seorang anak lelaki berusia 9 tahun sedang bersembunyi di balik semak - semak. Sejak tadi dia berniat mencuri kesempatan untuk kabur, namun semakin lama para prajurit dan pelayan yang mencarinya di tempatnya berlatih pedang semakin banyak.
"Tuan Muda Frederick?"
Suara - suara panggilan itu terus memenuhi udara. Anak lelaki itu, Frederick bersyukur bahwa dia tidak latah. Atau dia akan langsung ketahuan jika menjawab panggilan para pelayan itu.
Apa tidak ada cara lain?!
Frederick menatap dinding tinggi yang menjadi batasan kediaman Wayne dengan wilayah luar. Kalau dia bisa keluar dari sana dan ternyata tidak dijaga dari luar, maka Frederick bisa dengan mudah menyusup keluar kediaman Wayne.
"Baiklah, hanya itu satu - satunya cara..."
Frederick mengendap - endap mendekati dinding pembatas wilayah. Dia sempat memperhatikan apakah para pelayan atau prajurit menyadari keberadaannya. Setelah dirasa aman, Frederick mulai memanjat dinding.
Karena dinding ini ditutupi oleh pohon - pohon yang tinggi, membuatnya tidak terlalu terlihat walaupun sudah berada di puncak dinding. Frederick melongok ke bawahnya, disana memang benar tidak ada penjagaan apapun.
Frederick tersenyum ceria.
"Ini hari keberuntunganku!"
"Hee~ Apa yang sekiranya sedang dilakukan oleh Tuan Muda Wayne di atas sana? Sedang berusaha menghindari sesuatu 'kah?"
Saat Frederick ingin melompat ke bawah, dia terkejut dengan kehadiran seseorang. Suaranya menggapai pendengaran Frederick, nyaris saja dirinya terpeleset.
Frederick mendelik, dia menatap seorang dengan jubah hitam tebalnya. Dari tinggi dan postur tubuhnya, Frederick meyakini bahwa orang itu adalah pria meskipun suaranya lumayan lembut.
Bisa Frederick lihat setengah wajahnya, dan dia memiliki sesuatu yang spesial. Sesuatu yang tidak pernah dilihat olehnya, mungkin ini kali pertama Frederick melihat ada warna mata sespesial itu. Sebuah warna yang langka, ruby.
Bahkan bangsawan pun tak memilikinya...
Melihat Frederick yang termangu, orang dengan jubah hitam itu hanya tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Orang itu malah membuka tudung kepalanya, memperlihatkan seluruh aspek di wajahnya yang patut dikagumi. Dia sengaja melakukannya agar Frederick tahu.
"Bagaimana bisa kau...!"
Tentu saja Frederick kaget. Pria itu dari segi rupa tidaklah terkalahkan, bahkan sejauh yang ia ingat, sahabatnya Lraight yang tampan itu akan kalah jauh apabila bersaing dengan pria ini.
Surainya yang seputih salju dan kedua iris ruby yang mengkilat. Kulitnya putih, bahunya tegap, dan dia memiliki semua yang diimpikan para pria. Pokoknya sempurna fisiknya. Hanya saja Frederick tetap waspada karena dia ini adalah asing.
"Ada apa Tuan Muda Frederick?" Tanya pria itu, wajahnya tak luput dari senyum lebar penuh keramahan itu. "Terkejut dengan rupaku?"
"Yeah... karena sebelumnya aku tak pernah tahu ada seseorang yang punya fisik semencolok itu. Aku sedikit mengerti mengapa kau mengenakan jubah." Ucap Frederick, perlahan - lahan dia memijakkan kakinya untuk turun karena barusan gagal melompat.
Mendengar ucapan Frederick, ekspresi pria itu menjadi sedikit rumit. "Benarkah...?" Gumamnya.
Frederick menapakkan kakinya ke permukaan tanah setelah dia berhasil turun. Sekarang sudah saatnya dia kabur. Tak peduli kemana, yang penting dia bisa jauh - jauh dari rumah penuh siksaan itu.
"Kenapa kau kabur dari kediamanmu?" Tanya pria itu.
__ADS_1
"Aku orang yang bebas, dan rumah itu adalah neraka bagi pecinta kebebasan sepertiku." Jawab Frederick asal.
Walau tidak sepenuhnya salah, sebab alasannya kabur adalah ayahnya itu. Dia harus disiplin, berlatih pedang dengan guru ternama dan bahkan dia nyaris bertunangan dengan orang yang tak dikenalnya, ayahnya sangat suka jika itu memperkuat koneksi keluarganya. Padahal keluarga Wayne itu adalah salah satu yang berpengaruh di Kerajaan Ranunculus ini. Memang pada dasarnya saja dia pria yang tamak.
Frederick bukanlah pewaris yang ambisius. Dia melakukan sesuatu karena keinginannya serta meninggalkan sesuatu bila dia enggan. Frederick juga bukan tipe bermuka dua yang di depan manis padahal di baliknya seorang yang serakah. Ia hanya suka berbicara apa adanya, walau terkadang dia mengatakannya secara tidak langsung alias menyindir.
Pemberontakan Frederick ini sedikit bisa diatasi setelah dirinya bertemu dengan seorang ahli pedang yang adalah calon Raja Ranunculus. Pria itu lebih tua sepuluh tahun darinya, tapi dia selalu bisa mengajak bicara Frederick yang sulit diatur. Hanya Lraight yang bisa mengerti dirinya, begitulah pemikiran Frederick.
"Ah, apa kau sedang dalam masanya?" Pria itu asal menebak.
Frederick mendelik kesal, namun berusaha tak menggubrisnya sebab kabur adalah yang utama. Tidak masalah kalau saat pulang dia dimarahi ayahnya, yang penting Frederick sudah melewati masa indahnya dengan jalan - jalan ke kota.
"Kenapa mengikuti?!"
Frederick menoleh pada pria muda itu dengan sejuta senyuman itu. Sejak di dinding pembatas, Frederick merasa jika pria itu terus saja mengikuti dirinya. Ia jadi curiga bahwa pria itu adalah prajuritnya atau seseorang yang akan membawanya kembali ke kediaman Wayne sebelum dirinya sempat bersenang - senang.
"Aku takkan melakukan itu, kok." Pria itu berujar santai, mengangkat kedua bahunya dengan acuh.
Frederick terkejut, "Apa kau bisa membaca pikiranku?"
"Semua itu tertulis di wajahmu. Pokoknya kau jangan khawatir. Aku ini hanya sekedar pengembara yang berkelana mengelilingi dunia tanpa tujuan jelas. Orang sepertiku tak memiliki koneksi dengan dunia kalian para bangsawan."
Frederick hanya ber'oh ria. Dia kembali berjalan menuju pusat kota, dia sudah tidak peduli pada pria itu yang mengikutinya. Mungkin saja dia memang bertujuan akan ke pusat kota.
"Pedang itu..."
"Hm?"
"Terbuat dari apa itu?" Tanya Frederick.
"Terbuat dari apa? Uhm... tanaman berduri?"
"Apa - apaan itu? Malah bertanya balik." Ujar Frederick dengan wajah ketus. "Lagipula mana ada pedang terbuat dari tanaman berduri."
Pria itu kembali tertawa kecil. Sebab sejatinya pedang ini tidak benar - benar ada. Pedang ini baru muncul ketika seseorang meninggalkan ribuan mawar biru dan hitam dan menitipkannya pada dirinya.
"Tetapi warnanya hitam." Celetuk Frederick, dia melangkahkan kakinya lebih lebar berniat meninggalkan pria itu di belakangnya.
"Hitam..."
Pria itu menatap punggung kecil Frederick yang mulai menjauh. Kakinya serasa berat untuk melanjutkan langkahnya. Ekspresinya menggelap, dadanya terasa sesak. Pria itu sudah kehilangan banyak hal selama perjalanan terkutuk ini.
"Lyz..."
...❀...
"Eh? Kenapa aku berjalan ke tempat seperti ini?"
Saat asyik menendangi batu kerikil sembari berjalan. Frederick baru sadar bahwa dia sedang berada di tengah - tengah hutan. Karena ini masih pagi, sehingga dia masih bisa menemukan cahaya pagi menembus kegelapan hutan ini.
"Semoga saja tidak ada bandit atau orang jahat lainnya." Frederick menggerutu kesal.
__ADS_1
Dia mengambil langkah kembali, sesuai yang dia ambil saat akan kemari. Itu mengesalkan baginya sebab tersesat dan tak tahu apakah ada orang yang bisa dia mintai pertolongan atau paling tidak petunjuk untuk keluar dari hutan.
KRESEK
Ugh... jangan - jangan ada orang selain diriku disini? Kalau dia baik aku bersyukur, kalau jahat...
Frederick menatap sinis pada sekumpulan orang - orang dengan pakaian hitam mereka. Frederick mencengkeram pedangnya. Bersiap untuk melakukan pertahanan diri. Karena dari luar saja orang - orang berpakaian hitam itu terlihat sangat menyebalkan dan mengerikan. Intinya, mereka menginginkan sesuatu dari Frederick.
Frederick semakin mengumpat kesal dalam hatinya karena pakaian yang dia kenakan masih seperti seorang bangsawan, apalagi simbol di dadanya. Bagus! Dengan begini orang - orang itu akan semakin mengincar dirinya.
Ah... inilah kenapa aku benci bangsawan. Mereka punya segudang konflik yang timbul entah dari sikap atau status mereka. Sialan, mana aku selalu malas - malasan di latihan berpedang. Sungguh malang nasibku.
Orang - orang bertubuh gempal dengan pakaian hitam itu mulai membentuk formasi, mereka mengelilingi Frederick supaya dia tidak bisa kabur dengan mudahnya.
Ini pertarungan 1 lawan 6 dan mereka masih menunjukkan wajah bangga itu? Cih pengecut! Beraninya main keroyokan, sama anak kecil lagi. Penjahat seperti ini pasti ada di level terendah.
"Wah! Lihatlah apa yang ada disini. 1 lawan 6? Curang sekali. Yang solo anak kecil lagi."
Suara ini?!
Frederick dan orang - orang berpakaian hitam itu mendongak mencari sumber suara. Mereka menemukan seorang pria dengan jubah hitam yang sedang bertengger di dahan pohon sambil tersenyum sinis. Entahlah, Frederick mungkin akan berterima kasih kepadanya kalau dia diselamatkan saat ini. Persetan dengan harga diri seorang pria, yang dia inginkan hanyalah hidup.
'Selamatkan aku dari bajing*n ini'
Frederick membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu tanpa suara. Pria itu bisa langsung menangkap apa yang ingin dikatakan olehnya. Dia semakin melebarkan senyumnya saat orang - orang berpakaian hitam itu sudah memegang berbagai macam senjata di tangan mereka.
"10 detik." Ucap pria itu dengan angkuh. "Beri aku sepuluh detik untuk mengalahkan kalian."
Selanjutnya, Frederick tidak bisa melihat apa - apa karena asap tebal yang mengepul akibat dari pertarungan. Setelah sepuluh detik kemudian, seperti perkataan pria itu dia berhasil mengalahkan mereka semua. Asap sudah mulai menipis karena pertarungan telah selesai. Frederick sempat memekik karena melihat enam orang yang berusaha mencelakainya sudah terkukai lemas di atas tanah.
Sedangkan pria itu nampak baik - baik saja dan tanpa luka. Pedangnya pun terlihat tak tersentuh, sepertinya pria itu melakukan pertarungan fisik dengan mereka sementara mereka menggunakan senjata. Ditambah 10 detik itu, bukankah pria ini adalah monster?
Terlepas dari payah atau tidaknya orang - orang itu bertarung. Tapi senjata yang mereka bawa semuanya tajam dan sulit untuk menghindar dari serangan benda tajam sambil memberikan pukulan atau tendangan kepada mereka.
"Aku tidak membunuh mereka, mereka hanya pingsan. Sebentar lagi juga bangun."
Suara pria itu kembali menyapa pendengaran Frederick. Wajahnya yang tidak kusam akibat pertarungan penuh debu itu membuat Frederick merasa iri. Pria ini memiliki segalanya dan dia nyaris sempurna. Frederick yakin bahwa pria ini akan menyita perhatian banyak gadis dengan segala kelebihannya.
"Bisakah kau mengajariku bermain pedang dan pertarungan fisik? Kemampuanmu membuatku kagum." Ujar Frederick dengan berbisik, dia sebenarnya malas memuji pria itu. Tapi di sisi lain Frederick membutuhkan kemampuan seperti pria itu.
"Boleh."
Frederick tersenyum senang saat pria itu menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak telah menerimaku sebagai murid... um..."
"Namaku Zavius."
"Baiklah, Guru Zavius." Frederick tersenyum tipis.
TBC
Aneh ya, yang baca banyak tapi yang like sedikit. Bahkan yang komen pun hampir tidak ada, hadeuh...
__ADS_1