
Saat ini, mereka berempat telah duduk di dalam ruangan yang menjadi tujuan awal mereka. Duke Nielsen dan Cattleya bersebelahan sementara di seberang mereka Meiger dan Clara juga duduk bersama.
Karena suasana hati Clara sedang buruk, sejak tadi dia hanya diam saja. Tidak ada waktu baginya ikut berbincang, ia lebih fokus pada pemikirannya sendiri.
Alhasil Clara melewatkan segala macam perbincangan karena sibuk melamun. Dia sadar kembali ketika Meiger bangkit dari kursinya. Dan Duke Nielsen serta Cattleya memberikan hormat perpisahan pada mereka.
Di luar kediaman Nielsen.
"Kita akan kemana sekarang Yang Mulia?"
"Menuju penginapan." Jawab Meiger singkat. Wajah penuh ekspresi miliknya sudah hilang entah kemana.
"Huh? Untuk apa? Mengapa tidak langsung pulang?"
"Apa kau melupakannya lagi?" Dengan wajah gusar Meiger menatap Clara. Ini sudah kedua kalinya hari ini, dan lama - kelamaan juga Meiger kesal karenanya.
"Hamba bukannya melupakannya!" Clara cemberut.
Sejak pertemuan Meiger dengan Cattleya tak mau banyak bicara. Dia merasa kesal dan tak sudi ketika melihat keakraban antara mereka berdua terus berlanjut.
"Lalu?"
"Mengapa tidak batalkan saja? Yang Mulia bisa pergi bersama dengannya. Hamba 'kan tidak tahu menahu tentang jalan dan lokasi setempat. Yang Mulia bisa meminta dia saja untuk menemani anda."
"Ada apa denganmu? Bukankah semuanya baik - baik saja saat kita baru datang kesini? Mengapa kau tiba - tiba jadi sensitif sekarang? Apa ini tanggal merahmu?"
"Bukan." Clara mengaitkan jari - jarinya. "Hamba hanya tidak menyukainya saja. Ketika Yang Mulia dekat - dekat dengan gadis selain Hamba. Hamba tahu ini terkesan egois, tapi ini adalah kebenarannya." Cicit Clara.
Hening seketika. Meiger baru saja ingin merespon, tapi Clara segera mengganti topik pembicaraan dan masuk ke kereta kuda.
"Baiklah, saatnya mencari penginapan. Tidak bagus untuk berlama - lama berdiam diri. Atau Yang Mulia mau hamba tinggal?"
Dengan ekspresi rumit, Meiger menuruti saja alur yang ada. Entahlah, mungkin dia hanya menghargai perasaan seorang gadis muda disini. Tak ayal, bahkan dirinya sedang tak ingin membahas tentang itu sekarang.
Mereka berdua bersama dengan sang kusir dapat menemukan penginapan dengan cepat. Karena saat ini kaisar sudah melepas statusnya. Ia berpakaian layaknya rakyat biasa dan berkomunikasi dengan mereka seolah dia sederajat.
Clara yang melihatnya hanya bisa diam, entah kenapa sejak pagi tadi dia begitu tak bisa mengendalikan detak jantungnya. Clara selalu berdebar ketika Meiger tersenyum meski itu bukan untuknya.
"Ada apa denganku sebenarnya? Jika aku memang mencintainya. Ini sangat tidak adil bagiku."
Clara diingatkan lagi pembicaraannya dengan Jean. Tentang dia dan Meiger yang kencan. Namun Clara segera menepis pernyataan itu dengan mudah karena saat itu dia belum merasakan perasaan apapun pada Meiger.
"Aku yakin aku mencintainya dalam artian romantis. Tapi bagaimana bisa secepat ini? Padahal aku sendiri tidak percaya yang namanya cinta pada pandangan pertama. Membuatku gelisah saja."
"Clara, apa kau mau sekamar dengan kusir?"
"Uhuk! Apa maksudnya itu Yang Mulia? Hamba tak paham."
"Yeah, aku hanya mau memperkecil bayaran penginapan saja."
"Huh? Yang Mulia adalah Kaisar bukan? Otomatis dompet anda lebih tebal dari siapapun. Mengapa pula harus pelit?"
"Aku hanya bercanda, jangan diambil hati. Atau kau mau sekamar denganku?"
Hah?! Bagaimana pria dengab kharisma luar biasa ini bisa - bisanya menggoda gadis muda yang masih perawan sepertiku dengan mudahnya?!
"Yang Mulia sepertinya sakit, bagaimana jika batalkan saja rencana untuk esok hari? Hamba hanya khawatir dengan kesehatan mental anda."
"Clara, tadi itu hanya candaan."
__ADS_1
"Hm, oh."
Saat mereka mau ke kamar masing - masing. Clara yang penasaran kemudian bertanya pada Meiger. "Yang Mulia, mengapa anda begitu ekspresif ketika di luar istana kekaisaran? Dan malas berkspresi saat di istana kekaisaran? Jadi, yang mana yang asli?"
"Tentu saja ketika aku di istana kekaisaran."
"Lalu, Yang Mulia mau mengatakan kalau semua ini hanyalah topeng saja?"
"Tidak bisa dikatakan topeng juga. Hanya saja ini untuk kepentingan mereka."
Clara tak bertanya lagi. Dia melangkah memasuki kamar pengingapannya. Pikirannya melalang buana menjelajah liar sampai dirinya merasa lelah untuk berfikir.
Ia membaringkan tubuhnya dengan kasar di atas kasur penginapan. Memang tidak selembut yang di istana kekaisaran ataupun kediaman Wayne. Tapi setidaknya ini lebih baik dibandingkan kasurnya daluhu sebelum dirinya masuk ke dunia novel.
"Kehidupanku disini memang rasanya lebih santai dibanding di duniaku. Tapi aku selalu merasa terkekang dan terbebani tanpa alasan."
"Aku pikir, dimana pun aku berada. Tidak ada waktunya untukku berleha - leha. Bahkan di masa lalu." Ucap Clara tanpa sadar.
Jendela yang ditutupi gorden serta suasana sejuk khas Hortensia. Membuat Clara terlelap lebih cepat. Dia bahkan tak sempat untuk sekedar melepaskan jubah dan cadarnya.
Cattleya itu... sangat menawan ya...
...❀...
Clara membuka kelopak matanya perlahan - lahan. Melenguh pelan sambil melirik ke sekelilingnya. Dia pun terduduk masih depan rasa kantuk yang begitu besar.
"Sepertinya diluar gelap, apakah sudah malam...?" Igaunya.
Gasp!
"Huh? Jangan - jangan aku ketiduran hingga malam?! Bagaimana ini? Aku melewatkan makan siang hingga makan malam. Jangan sampai Yang Mulia curiga jika aku kesal padanya, eh..."
Tidak disangka, malam - malam begini masih ada satu orang yang masih terjaga. Dan itu adalah Meiger. Lantas Clara pun menghampirinya karena penasaran.
"Yang Mulia, anda tidak tidur? Jangan begadang atau jam tidur anda akan kacau." Bisik Clara, dia tak mau penghuni penginapan lain akan terganggu tidurnya karena suaranya.
Meiger menghadap Clara, "Apa kau mau jalan - jalan keluar? Malam ini rasanya sangat indah."
"He? Bukankah itu akan dilakukan besok? Hamba sudah lelah mengingat dan Yang Mulia menyepelekannya begitu saja."
"Yah, ada tugas mendadak. Besok pagi - pagi sekali aku harus berangkat ke Vinca. Ini urusan politik. Kalau aku tidak datang, maka kedamaian di benua ini akan terkikis sedikit demi sedikit."
"Oh? Benarkah..." Tersirat rasa kecewa pada nada suara Clara. Sebenarnya dia sudah menantikan hari esok, tapi nyatanya takdir berkata lain.
TUK
"Ng?"
Clara mendongakkan kepalanya ketika merasakan kehangatan di pucuk kepalanya. Meiger yang menepuk pelan kepalanya, tersenyum lembut sambil memandang Clara.
Menurut Meiger, Clara paling indah ketika dia dilatari oleh malam. Karena itulah Meiger mengambil alternatif lain yang menguntungkan dirinya dan juga Clara.
"Bagaimana kalau kita mengelilingi wilayah Nielsen di malam hari?"
"Heh?" Meski Clara terkejut, tapi faktanya dia merasa bahagia saat Meiger mengusulkannya. "Baiklah Yang Mulia, hamba akan bersiap duluー"
SRET
Saat Clara hendak kembali ke penginapan, Meiger menahannya. Lalu pria bernetra ruby itu menggeleng samar.
__ADS_1
"Kalau kau bersiap - siap dulu, lalu kapan kita bisa bersantai?"
"Ayo." Ucap Meiger.
Meiger menarik tangan Clara dengan lembut. Karena Clara juga tidak memberontak dan tanpa keterpaksaan mengikuti langkah Meiger.
Mereka mengunjungi tempat dimana bunga paling banyak mekar saat ini. Karena ini musim gugur, mayoritas bunga telah gugur. Namun ada sekitar lima jenis bunga disini yang tak gugur oleh masa.
"Indahnya..." Clara berdecak kagum.
Ia mengamati kunang - kunang yang terbang mengitari bunga tanpa kelelahan. Senyuman penuh kelembutan tergambar jelas di wajah Clara.
"Benar bukan? Tanah Hortensia sangatlah subur. Kau bahkan bisa melihat bunga bermekaran bahkan di musim gugur."
"Rasanya masih aneh..." Komentar Clara.
"Clara, meskipun aku membenci nama belakangmu itu. Tapi aku akui bahwa nama 'Clara' sangatlah indah. Aku cukup suka."
DEG
Lagi - lagi Clara terkena demam cinta. Jantungnya berdebar sangat kencang, apalagi ketika Meiger mengatakan 'suka' walau itu tertuju untuk namanya bukan dirinya.
Wajah pucat Clara memerah, dia bisa merasakan kalau wajahnya memanas. Lalu dengan malu - malu dia menangkup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Jadi aku benar - benar mencintainya kah?
Mereka menghabiskan waktu di taman bunga itu serta menikmati keheningan malam yang tercipta. Meiger memang bukanlah orang yang banyak bicara. Sementara Clara sendiri masih terlalu gugup untuk mengucap sepatah dua patah kata di saat dirinya sedang tersipu malu.
"Eh? Yang Mulia ada disini? Dan... siapa dia?"
Suara seorang gadis muda memecah keheningan yang ada. Reflek Clara dan Meiger menengok kearah suara. Ketika sudah melihat pelakunya, Meiger hanya tersenyum kaku. Dia agak terganggu dengan kehadiran orang lain di saat dirinya sedang bersantai.
Sementara Clara sendiri menatap tak suka pada gadis muda itu. Secantik apapun dia, Clara tak akan pernah berteman dengannya. Mungkin ia merasa bahwa pertemanannya dengan Hellen dan Jean saja sudahlah cukup. Bahkan Clara secara membabi buta mendecakkan lidahnya tanpa ada seorang pun yang sadar akan itu.
"Nona Nielsen, saya hanya berjalan - jalan disini bersama dia. Mohon untuk tidak bertanya lagi." Tentu saja Meiger menjawabnya, meski nadanya terdengar kaku.
Ketika Meiger mengucap 'dia', pandangan Cattleya langsung tertuju pada Clara yang sedang berjongkok di samping Meiger.
Karena sebelumnya Clara menggunakan jubah dan cadar sehingga Cattleya tidak mengenali penampilan Clara yang sekarang.
"Baiklah Yang Mulia, saya paham. Saya mohon undur diri."
Setelah Cattleya sudah jauh, Meiger membuka suaranya.
"Ini sudah larut, waktunya tidur. Aku tak mau telat untuk perjalanan besok."
"Ah... baiklah..."
Walau dilanda perasaan kecewa, Clara bisa apa? Memang seharusnya dia tidak menyimpan rasa apalagi harapan pada kaisar muda ini.
Padahal aku baru jatuh cinta lagi, namun sudah dipaksa untuk mundur.
TBC
Yah, Meiger akan banyak berekspresi diluar ruangan. Tapi pas di istana kekaisaran pasti bakalan datar dan tak memiliki dinamika emosi. Jadi jangan kaget kalau Meiger di chapter ini sama chapter 40 (awal arc 3) berbeda banget.
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1