The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 90 - Cinta Itu Punya Rasa


__ADS_3

Pikiran Clara mendadak melalang buana setelah Raģe mengatakan kebenaran lainnya mengenai sindrom miliknya. Ternyata sindrom yang Raģe derita memiliki gejala yang lebih kompleks dibadingkan para penderita sinestesia. Meskipun banyak kesamaan antara Raģe dan penderita sindrom sinestesia.


"Bohong 'kan?"


Clara masih berusaha menutupi apa yang dia rasakan sekarang. Sejujurnya, Clara cukup senang kala dia bisa menjadi teman curhat. Karena biasanya Clara lah yang curhat karena dia sendiri punya segudang masalah.


Ditambah, ini adalah pertama kalinya bagi Clara bisa diandalkan oleh orang lain. Jadi rasa bahagia Clara saat ini berlipat ganda. Kalau Raģe tahu, Clara bisa mati karena malu.


Siapa saja, galilah lubang untukku!


"Memangnya kau tidak tahu? Alasan terbesarku mengetahui bahwa pewaris Vinca mengincar Valentina adalah karena kelainanku ini. Saat kulihat Edmond Southbayern menatap Valentina, di sekelilingnya ada warna merah muda dan putih. Dan meskipun aku tak mengatakannya, kau pasti tahu betul kalau warna merah muda selalu melambangkan cinta."


Raģe menjelaskan secara rinci mengenai kelebihan lainnya karena mempunyai kelainan ini. Sedangkan di sisi Clara, dia sudah tidak sanggup menahan rasa malu. Sehingga sejak tadi dia hanya menunduk sambil sesekali mengangguk untuk menanggapi Raģe.


Mendengar dari cerita singkatmu, aku rasa Kaisar Hortensia agak protektif padamu. Lalu Duke Wayne dan pemuda misterius yang selalu bersamamu itu... Mereka semua mempunyai perasaan yang sama kepadamu yaitu cinta. Dan mungkin aku juga... Batin Raģe.


Clara menghembuskan nafas dengan berat. Hari ini berjalan diluar ekspetasinya.


"Baiklah. Saya paham betul dengan kelainan yang dimilik oleh anda, Raģe Cheltics. Tapi..." Clara menggantungkan kalimatnya.


"Hm?"


"Bisakah untuk tidak melihat warna yang saya miliki. Bukannya apa, tapi rasanya itu tidak penting."


"...Itu tidak bisa. Memang sudah dari sananya begini. Aku juga tidak menghendakinya, semua ini terjadi diluar kendaliku. Termasuk mataku yang bisa melihat warna dari emosi dan perasaan kalian."


"Hah... bebanku semakin berat saja." Gumam Clara.


"Tenang saja. Aku juga bukan orang yang suka umbar sana - sini. Semua rahasiamu aman bersamaku. Bukan hanya kau, semua orang yang warnanya sudah kulihat dan kurasakan juga sama."


Tapi entah kenapa aku rasa dia akan memanfaatkan kelemahanku yang satu ini.


"Aku hanya membaca perasaanmu, bukan pikiranmu. Jadi, jangan menjauh dariku oke?"


Itu bukanlah pertanyaan, itu sebuah permintaan dari Raģe. Sejauh ini yang mempercayai kelainan Raģe hanya Clara saja. Kalau gadis ini menjauh darinya, Raģe merasa dia akan kesepian. Jadi dia harap, Clara tetap bersikap kepadanya seperti sebelumnya. Tidak ada perubahan diantara mereka.


"Tidak akan. Anda seharusnya tidak gelisah karenanya. Saya bukan orang yang suka kasih harapan sana-sini lalu meninggalkannya. Saya lebih bertanggung jawab dari itu kok!" Tegas Clara.


Raģe memperhatikan ekspresi Clara yang penuh percaya diri. Lalu ia mengulum senyum tipis. Raģe percaya Clara takkan meninggalkannya, paling hanya menanggalkan perasaannya. Melihat George dan Hendrick sekilas saja, Raģe langsung tahu.

__ADS_1


"Jika anda bisa melihat warna dari perasaan dan emosi. Mungkinkah anda bisa merasakannya juga?" Clara memiringkan kepalanya, penasaran.


"Lewat kulit atau lidah?" Raģe mengangkat sebelah alisnya.


"Tentu saja lewat lidah. Saya ingin tahu rasa dari cinta itu..." Clara mengatakannya sambil tersipu malu, dia menggaruk pipinya.


"Cinta yah... rasa dari cinta itu tidak bisa dideskripsikan."


Huh?


"Bukan berarti rasanya tidak ada. Seperti kataku, itu hanya tidak bisa dideskripsikan saja. Karena rasanya terlalu campur aduk, aku sendiri pun dibuat bingung. Tapi... kalau terasa pun, aku akan tahu kalau itu dari perasaan cinta."


"Ouh... yang saya bingungkan adalah. Jika anda bisa merasakan rasa di lidah anda karena suara dan emosi seseorang. Apakah kedua - duanya juga akan bekerja saat dia berbicara?"


"Tidak. Saat orang itu berbicara. Rasa yang ada di lidahku itu berasal dari suaranya, bukan dari emosi ataupun perasaannya. Selama belasan tahun ini aku sudah mempelajari mengenai kelainanku."


"Itu bukan kelainan. Itu kelebihan!"


Clara menggelengkan kepalanya, menatap Raģe dengan wajah meyakinkan. Seharusnya gadis ini berhenti memancing perasaan orang lain, atau dia sendiri yang akan terkena imbasnya. Jangan lupa jika para pria di sekitarnya tidak pernah berlaku manis padanya.


Raģe tersenyum simpul kearah Clara. Rasa manis yang bergerumul di lidahnya sangatlah penuh dalam mulutnya. Gadis ini tidak berbohong, dia tulus mengatakannya. Ah, andai dia hanyalah gadis desa semata bukannya buronan Ranunculus.


Kemudian Raģe mendekatkan mulutnya pada telinga Clara, dia berbisik dengan nafas yang lembut. Tentu saja itu membuat Clara kaget, telinganya terlalu sensitif.


Apa yang sebenarnya pria ini bicarakan? Yang Mulia juga pernah memperingatkanku untuk tidak terlalu dekat dengan pria lain. Apa Raģe juga satu spesies dengan Yang Mulia?


"Saya tidak pajam, jujur saja." Clara berkata apa adanya.


Raģe menjauhkan wajahnya dari telinga Clara, tertawa kecil menanggapi Clara yang nampak agak lebih naif dibandingkan pertama kali mereka bertemu.


"Berhati - hatilah. Kalau bisa buatlah jarak aman dengan orang lain." Ujar Raģe dengan santai.


Khusus untuk pria. Batin Raģe.


...❀...


"Argh... bagaimana bisa?!"


Edmond menatap memelas dari lorong istana pada dua orang yang sedang duduk di bangku taman lavender. Dia benar - benar menyerah dengan kebebasan Clara yang tidak bisa diberi jarak aman lagi.

__ADS_1


Padahal Kaisar sudah mewanti - wanti dirinya jika Clara punya kebiasaan berbaur dengan lawan jenis. Kemampuannya untuk menarik hati orang lain juga tidaklah rendah. Edmond harus akui, Clara tidak patut diremehkan untuk masalah cinta.


"Sejujurnya aku merasa kalah kalau dibandingkan dengan bocah itu." Geram Edmond.


Bagaimana Edmond tidak merasa begitu? Dirinya saja yang sudah banyak menebar cinta pada gadis - gadis. Selalu merasa kalau mereka tidak pernah mencintainya secara tulus, melainkan karena status dan tampangnya.


Namun Clara Scoleths ini, Edmond perlu menjadikannya guru cinta. Tidak salah saat Edmond membawanya kemari, tapi kenapa sekarang malah terlihat seperti Clara yang mencari cintanya?


Tidak. Edmond tidaklah buta untuk tidak menyadarinya. Gadis itu walaupun tidak mencari cinta ke Agapanthus, dia tetap mendapatkan cinta yang berlimpah dari teman masa kecilnya.


Sayangnya sampai saat ini Kaisar masih payah dalam mengekspresikan perasaannya.


Jadinya kau tertinggal jauh 'kan, bodoh?! Hanya karena kau mendapatkan hatinya, belum tentu kau yang akan menang. Sainganmu itu bukan orang yang cepat putus asa... Persetan!! Setelah ini jangan harap kau kuberikan dukungan lagi. Berusahalah untuk cintamu sendiri.


"Tuan Edmond?"


"Eh?"


Edmond menoleh ke sampingnya, ada Valentina yang memandangnya penasaran. Astaga. Karena kesal setengah mati kepada incaran para pria muda itu, Edmond sendiri lupa kalau dia sedang dalam misinya. Iya, mengambil hati Valentina.


Lalu tatapan Valentina beralih kearah yang sama ditatap Edmond barusan. Yang ia lihat adalah, sepupunya tengah berkencan (mungkin) dengan teman pertamanya.


Sebuah senyuman manis merekah di bibir Valentina. Ini adalah kemajuan yang luar biasa, sepupunya yang cuek dengan wanita mendadak bermesraan dengan lawan jenisnya.


Sebenarnya berita ini juga bagus untuknya. Valentina bisa merebut Clara dari Hellen yang selalu saja memamerkan persahabatan mereka.


Pokoknya aku akan menjadi mak comblang untuk mereka berdua!


...❀...


Sepasang mata ruby menatap datar dua sejoli yang tampak berbincang riang itu. Saat ini posisinya ada di gerbang masuk Istana Agapanthus.


Di depannya ada sang Raja yang menyambut kedatangannya. Sedangkan di belakangnya ada pengawal pribadinya yang setia. Tatapannya juga mengarah pada dua sejoli tersebut.


Mereka sedang berjalan masuk ke istana. Sang Raja menyambut kedatangan mereka dengan senang hati. Karena jarang - jarang bagi Kaisar Hortensia datang ke Agapanthus ini.


Kau sudah kuperingatkan, Clara. Jangan salahkan aku kalau kau tak boleh keluar dari Hortensia setelah ini.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa letakkan like dan komen. Author sengaja up dua chapter karena sudah lebih dari seminggu author gak up, hehe...


So, see you in the next chapter~


__ADS_2