The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 132 - Hidup Adalah Tentang Apa Yang Kau Pilih


__ADS_3

"Aku memilih lenyap bersama dengan sihir hitam."


Grein terkejut, matanya membulat sempurna. Gadis di depannya ini membuat pilihan yang sangat berani. Bahkan saat Lyserith memutuskan untuk membantunya, masih tersirat rasa takut dalam tatapannya. Namun Clara tidak, ia tampak begitu yakin dengan ucapannya.


Meskipun kini fisik Clara sama persis dengan Lyserith. Akan tetapi sifat dan juga sikap mereka berdua sangat  berbeda. Seperti kata Clara, dia adalah dirinya, Clara Scoleths ialah Clara Scoleths dan Lyserith adalah Lyserith. Serta Ivory...


Grein memejamkan matanya, menundukkan kepalanya menatap pantulan wajahnya pada permukaan teh. Lalu ia tersenyum simpul, memikirkan betapa naasnya nasib dari keempat orang yang mempunyai garis takdir bersinggungan. Mereka sejatinya adalah sama, tapi juga tidak bisa dikatakan begitu. Aneh memang, namun itulah faktanya.


"Kau yakin? Tidak mau merubah pilihanmu? Masih ada waktu sebelum aku mewujudkan permintaanmu, loh." Grein membujuk Clara, dia setidaknya ingin mendengarkan pilihannya sekali lagi. Karena sesungguhnya, jauh dalam relung hatinya, dia tidak merelakannya.


"Haish... Aku bilang! Aku akan membersihkan seluruh sihir hitam di benua Herbras. Aku akan menghilang bersama mereka."


Bersama pak tua itu dan Avrim juga...


"...Baiklah." Grein akhirnya pasrah.


Dia tahu persamaan diantara keempat gadis yang mempunyai jiwa serupa ini. Mereka sama - sama keras kepala, dan sulit untuk egois. Pilihan mereka selalu berakhir bahagia untuk orang lain saja, tetapi mereka tersiksa. Lihatlah, bahkan setelah tiga kelahiran kembali sekalipun mereka tetap sama dan berakhir mengenaskan.


"Oh, aku ada satu permintaan untukmu." Tukas Clara.


"Apa itu?"


"Bisakah kau memberi pesan kepada Mirye lewat surat. Simpan saja di samping aku yang sedang koma. Dengan begitu, aku bisa tenang." Ucap Clara, seulas senyum terpatri di bibirnya.


Grein mengangguk samar.


"Aku selalu kepikiran, kalau semisal aku tidak menawarkan Lyserith membantuku untuk mengumpulkan sihir hitam. Apakah kau akan berada di depanku saat ini? Tidak. Lebih jauh dari itu. Mungkin saja aku masih hidup dan sedang menjelajah tak karuan."


Grein bangkit dari kursinya, ia berjalan mendekati Clara yang tengah berdiri tegap. Bersiap menerima resiko serta efek samping dari penyerapan sihir hitam dalam skala besar. Sejujurnya Clara merasa gugup dan takut. Namun setelah melihat betapa indahnya dunia ini, apalagi dengan tanpa kehadiran sihir hitam.


Pasti tempat ini akan disebut sebagai dunia impian.


Grein berhenti melangkah, dia menatap wajah Clara dengan seksama. Hanya karena gadis ini telah berubah warna rambutnya, dia langsung terlihat seperti Lyserith.


"Kalau kita bertemu lagi di lain waktu, apakah kau akan mengenaliku? Bukan sebagai Zavius maupun Grein. Tapi sebagai diriku sendiri kala itu."


Mendadak suasana melankolis di sekitarnya membuat Clara tak tahan untuk tidak menangis. Adegan bau bawang akhir - akhir ini menyerangnya secara bertubi - tubi. Dia tidak tahan, namun sepertinya ini terakhir kali ia akan bertemu dengan Grein.


"Kalaupun tidak kenal. Kita bisa kenalan kok." Clara tersenyum lebar, mengangkat kedua jarinya tanda peace.


"Iya juga... kalau begitu, sampai jumpa lagi."


"Semoga bisa bertemu denganmu lagi." Clara mengangguk dengan semangat, masih berusaha menyembunyikan raut wajah sedihnya.


...❀...


Angin bertiup sangat pelan. Deburan ombak tersapu dengan tenang menimbulkan riak air dengan suara mengagumkan. Sore ini langit nampak kosong, tidak ada satupun burung yang terbang melintasi cakrawala.

__ADS_1


Di dekat garis pantai, ada dua orang yang tengah berbaring bersebelahan menatap langit senja. Mereka berdua terlihat larut dalam pikiran masing - masing. Bahkan reruntuhan di sekitar mereka pun tak dihiraukan.


Kaisar menggenggam erat tangan Clara, dia sangat takut jika gadis itu bisa hilang dalam sekejap mata jika dia berpaling. Meskipun kesadarannya perlahan mulai sirna, dia takkan membiarkan Clara pergi darinya.


Sedangkan Clara tidak membalas genggaman tangan Kaisar. Dia sibuk memikirkan tentang percakapannya bersama Grein. Semua itu kemudian diakhiri dengan keputusan mengharukan sekaligus menyedihkan darinya.


Sungguh ironi hidupku. Dimanapun aku... Lilia tetaplah diriku. Nasibku tetap sama. Tidak bisa tukar tambah dengan orang beruntung.


Dalam keheningan itu, Clara mendengar Meiger yang menyenandungkan sebuah lagu. Lagu yang sangat familiar bagi Clara. Meski dia bukan dari seni musik, tapi tetap saja. Seni tetaplah seni.


Sonata pathetique? Kenapa...?


Clara menengok ke arah kirinya, dimana disana Meiger tengah menutup matanya sambil bersenandung kecil. Pria itu terlihat sangat kelelahan, seluruh tenaganya dia gunakan untuk menggenggam tangan Clara.


"Yang Mulia. Bagaimana bisa Yang Mulia tahu lagu itu?"


"Aku sering mendengarmu bersenandung dengan ini sekitar sebelas tahun lalu saat kau masih berdiam di perpustakaan. Tak sengaja saja aku hapal."


"Begitu."


Bagaimana mungkin Clara bisa tahu hal itu? Ah... sebelum hari eksekusinya, Grein pasti mengajarkan banyak hal pada Clara.


Clara kembali menghadap kearah langit. Senja bukan hanya tentang keindahan sebagai spot foto. Tapi waktu yang sangat mengharukan untuk dijadikan momen perpisahan.


Siapa saja, aku mau menangis bawang disini.


Mata Clara yang mulai menghitam karena timbunan sihir hitam, mulai mengelurkan air mata yang selalu menetes setiap kali dia kehilangan. Padahal Clara tidak biasanya seperti ini, karena pada dasarnya dia tidak mempunyai seseorang yang sebegitu berharganya hingga ia tangisi kematiannya.


Clara merasakan jika genggaman tangan Meiger semakin mengendur.


"Clara."


"Apa?"


"Sepertinya aku agak kelelahan."


"Tentu saja Yang Mulia. Yang Mulia memiliki banyak luka di sekujur tubuh."


"Kau juga sama."


"Aku mengantuk, ingin tidur." Sambung Meiger dengan suara pelannya.


Kemudian terdengah tawa kecil dari Clara, "Kalau mau tidur ya tidur saja Yang Mulia. Kenapa harus mengatakannya kepada hamba?"


"Karena aku takut."


"Hm?"

__ADS_1


"Aku sangat takut, saat aku terlelap dalam waktu yang lama. Dan ketika aku bangun, tidak ada kau di sisiku. Kau menghilang seperti janjimu padanya. Kumohon Clara..."


Lagi - lagi Clara tertawa, kali ini tawanya lebih kencang. Tersirat kepiluan dalam suaranya. Baru kali ini dirinya merasa enggan untuk mengikuti takdir. Ayolah, warna matanya sudah hitam sekarang, bukan putih seperti pearl lagi.


"Aku mencintaimu, Clara."


Heh?


Tawa kencang Clara kini berhenti mendadak. Suaranya serasa tertahan setelah mendengar kalimat terakhir dari Meiger sebelum pria itu kehilangan kesadarannya.


Sekarang, setelah Meiger sudah tak bisa mendengarnya lagi. Clara bebas menangis sekencang apapun. Memaki - maki takdir yang tidak pernah bisa pro padanya. Dunia ini tidak berjalan untuknya, tapi hanya untuk orang - orang selain dirinya. Mengenaskan sekali.


Clara segera merubah posisinya menjadi duduk. Melirik ke kirinya dimana ada Meiger yang sudah tertidur pulas dalam mimpinya. Entah kapan pria itu akan bangun, tapi yang pasti Clara ketahui. Meiger akan bangun tanpa ada sosok dirinya menemaninya.


Clara mengulurkan tangannya pada kening Meiger, mengusap poni rambutnya. Wajah Meiger memang sempurna kalau dilihat lebih dekat lagi. Tidak peduli jika ada banyak luka yang menodai wajahnya saat ini. Dia tetap tampan maksimal mau bagaimanapun keadaan wajahnya.


Aku tidak bisa melawak di saat seperti ini. Kemampuan melawakku mendadak hilang. Yah, sejak awal aku cuma amatiran.


Clara tersenyum getir.


Perlahan, Clara mendekatkan bibirnya pada kening Meiger. Mengecupnya selama beberapa waktu. Saat Clara melepaskan kecupannya. Dia memandangi wajah Meiger sambil terus mengalirkan air mata, tetesan air matanya mengenai pipi Meiger. Sungguh, Clara tak bisa meninggalkan pria ini sendirian.


"Meiger Westhley..."


Clara menjauhkan wajahnya dari wajah Meiger. Berbisik pelan, lebih pelan dari suara deburan ombak yang terdengar samar di telinga. Itu karena Clara tak begitu berani memanggil Meiger langsung dengan namanya.


Dia mengusap air matanya di pipi Meiger. Lalu tersenyum pada sosok yang tengah terlelap. Senyumannya begitu lebar, menampilkan deretan giginya. Namun, kembali ia tak bisa menahan air mata yang terus menetes.


"...Aku juga mencintaimu."


Tubuh Clara perlahan - lahan berubah menjadi kelopak mawar putih. Kemudian setiap kelopak dari mawar putih tersebut beterbangan mengikuti arah angin. Bunyi deburan ombak semakin keras terdengar, lalu menyisakan kesunyian di tepi pantai. Tersisa Meiger seorang yang tangannya menggenggam udara kosong.


Gadis itu t'lah menghilang bersama angin.


...❀...


Di sebuah tempat dengan nuansa putih sepenuhnya. Terlihat ada seorang pria bersurai hazel tengah menggenggam tangan gadis di sebelahnya. Namun tatapannya tertuju pada pemandangan serba putih yang tak terbatas itu.


Gadis itu lalu menengok kearahnya dan menatapnya dengan senyum simpul terpatri di wajahnya, mata safirnya nampak bercahaya ketika dia berbahagia.


Dia mengangkat tangan yang digenggam si pria, meletakkan sebuah benda ke dalamnya sebelum kembali menutup genggamannya. Ia mengatakan sesuatu yang tak bisa didengar oleh si pria.


Gadis tersebut lalu melepaskan tangannya. Saat si pria membuka genggaman tangannya, dia terkejut dengan benda yang diberikan gadis itu kepadanya. Namun sedetik kemudian, gadis itu hilang dan meninggalkan si pria sendirian saja.


"Ini... jepit giok yang kuberikan padamu."


TBC

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ^-^


So, see you in the next chapter~


__ADS_2