
"Lagi - lagi mawar biru? Bahkan jumlahnya lebih banyak daripada yang ada di kediaman Wayne. Aku heran. Apakah mawar biru adalah kesukaan orang - orang di benua Herbras?"
Clara menatap aneh pada taman di sekitarnya. Meskipun dia mengatakan 'bosan'. Tapi karena latar belakangnya adalah malam, taman ini tampak menakjubkan dilihat dari sisi manapun sehingga Clara menjadi tak bosan untuk melihatnya, walau bunganya sudah layu.
"Tidak tahu Nona, tapi mayoritas bunga di berbagai wilayah adalah mawar biru. Sehingga jangan heran jika Nona mengunjungi wilayah lain dan menemukan bunga ini disana."
Jean, yang berdiri di belakang Clara berkomentar. Selama ini Jean sudah berkeliling berbagai wilayah, jadi perkataannya barusan bisa dipercaya.
Ditambah lagi, walaupun nama wilayah barat adalah Hortensia. Tetapi sebenarnya bunga mawar adalah jenis yang paling banyak ditemukan disini. Dengan berbagai jenis dan warna.
"Tapi Jean, sebanyak apapun aku mengelilingi taman ini. Aku tidak bisa menemukan mawar putih, apakah memang tak ada?" Clara meneliti lagi semua bunga dan mengabsen mereka satu persatu.
Mendengar itu, Jean memiringkan kepalanya karena merasa bingung. "Mawar putih? Memangnya ada jenis mawar yang warnanya putih ya? Saya baru dengar, Nona."
"Eh? Jadi mawar putih itu tak ada di Hortensia?"
"Apa maksud Nona? Bahkan di seluruh Herbras pun tidak ada yang namanya mawar putih. Apa Nona hanya mengigau dengan bertanya eksistensi bunga tersebut? Itu tidak ada Nona."
"O..oh... benarkah?"
Ini aneh sekali, padahal di duniaku sebelumnya justru mawar biru lah yang tidak ada karenanya para manusia jenius me-rekayasa keberadaan mawar biru supaya ada dengan menggunakan berbagai macam metode. Sangat aneh.
Karena tak mau pusing, Clara segera bangkit dari tanah lalu membersihkan pakaiannya. Ia dan Jean memasuki istana untuk makan malam. Ini adalah hari pertama Clara di Hortensia, jika dia macam - macam maka tamatlah riwayatnya.
Saat ini, suasana di meja makan agak sepi. Padahal jika mengingat saat sarapan maupun makan siang, suara Clara yang cempreng akan mendominasi dan bergema di dalam ruangan.
Meiger juga tidak tampak begitu ingin mengeluarkan suara emasnya. Ataupun Jean yang memang sangat loyal luar dalam, tak mungkin untuknya mengganggu Meiger atau Nona barunya, Clara.
"Um, Yang Mulia." Panggil Clara dengan takut.
"Hm?"
"Apakah Yang Mulia akan mengizinkan Hamba untuk memasuki perpustakaan?"
"Kau bisa memasukinya kapanpun kau mau. Kalau tidak tahu dimana letaknya, kau tinggal meminta Jean untuk menunjukkan jalannya."
*Ak*an kujajah seisi perpustakaan untuk menguras rasa gabutku. Sekaligus rasa penasaranku, muehehehe...!
"Terima kasih, Yang Mulia." Ucap Clara, kali ini ada nada senang dalam kalimatnya.
"Hm."
Makan malam selesai tak lama setelah Clara meminta izin kepada Meiger untuk pergi ke perpustakaan. Karena Jean adalah penunjuk jalan, kali ini ia berjalan di depan Clara sambil membawa penerangan berupa lilin.
"Jean - Jean, apakah di perpustakaan nanti akan sama seperti disini?"
"Maksudnya?"
"Maksudku minim cahaya, aku heran sekali mengapa kalian begitu suka tempat gelap."
"Itu kesukaan Yang Mulia, beliau benci jika ada banyak cahaya. Tapi tenang saja Nona, karena perpustakaan adalah tempat untuk membaca. Tempat itu memiliki penerangan yang cukup."
"Begitu." Clara mengangguk paham.
Sesampainya di perpustakaan. Clara ditinggalkan sendiri oleh Jean, karena Jean harus membantu Meiger dalam mengerjakan dokumen yang sudah mendekati tenggat waktunya.
"Buku disini mempunyai lebih banyak jenis dibandingkan di kediaman Wayne. Tentu saja! Ini kan istana kekaisaran."
__ADS_1
Sambil berbicara dengan dirinya sendiri, Clara menjelajahi setiap sudut dari perpustakaan. Ia mengambil beberapa buku yang menurutnya memiliki judul menarik.
Ia juga bersenandung pelan, pandangannya tak luput dari kertas - kertas kuno yang masih disimpan dengan baik di rak. Begitu pula dengan buku yang sampulnya sudah rusak, ataupun judulnya tak bisa terbaca lagi.
Beberapa bacaan yang Clara ambil juga isinya mirip seperti novel. Namun disini orang - orang masih menyebutnya sebagai karya sastra, belum terlalu spesifik.
Karena merasa kalau tumpukan buku di tangannya sudah mencapai kapasitas maksimal. Clara segera menuju tempat khusus untuk membaca. Menaruh buku lainnya diatas meja sementara ia membaca satu buku.
"Sejarah singkat Lavoisiér...?"
Saat itu juga, Clara diingatkan oleh salah satu pemeran yang numpang lewat dalam novel Flower's Girl. Seseorang yang mempunyai kekuatan OP serta wajah rupawan.
Itu agak aneh ketika dia tidak termasuk dalam harem milik Hellen. Padahal kan dia lebih hebat menurutku dibandingkan Rovers sendiri. Aku akan menanyakan keberadaannya pada Yang Mulia nanti, mungkin saja dia tahu.
"Lavoisiér sendiri adalah nama sebuah keluarga yang mempunyai kondisi khusus pada darah murni mereka. Sesuatu yang menyangkut sihir hitam adalah ciri khas mereka. Dan mata ruby adalah ciri fisik dari darah murni Lavoisiér."
Eh? Bukankah Yang Mulia juga bermata ruby?
Clara membalikkan ke halaman selanjutnya.
"Namun karena kondisi khusus mereka inilah yang membuat para keluarga terkemuka lainnya merasa ketakutan pada Lavoisiér. Sehingga di malam itu, mereka membantai para darah murni Lavoisiér hingga hanya tersisa dua dari mereka."
"Malam penuh darah itu lalu berakhir, namun tak menyisakan luka pada siapapun. Karena pada dasarnya kehadiran Lavoisiér tidak diterima. Dua Lavoisiér yang tersisa adalah Crater de'Lavoisiér dan-"
"Nona! Ini sudah malam. Saya diperintahkan Yang Mulia mengingatkan Nona untuk segera tidur. Tidur yang terjaga akan membuat kulit Nona jadi sehat juga."
Kegiatan membaca Clara berakhir begitu saja. Tapi Jean menyimpan buku - buku yang belum sempat Clara baca di tempat khusus agar besok bisa langsung dibaca kembali.
Sumpah, Jean dan Avrim tidak memiliki perbedaan 'kah?
Dia mendekati tempat dimana buku - buku yang belum Clara baca disimpan. Ia melihat pada judul buku yang paling atas, dan memegangnya.
Pegangannya pada buku itu semakin menguat, apalagi setelah ia mengetahui judulnya.
"Sejarah singkat Lavoisiér? Seharusnya buku tidak ada di tempat ini."
BURST
Orang itu mengeluarkan api dari tangan yang sedang memegang buku tersebut. Dan dalam sekejap mata, ia sudah membakar bukunya hingga yang tersisa hanya abu saja. Namun abu tersebut tertiup oleh hembusan angin dan menjadi benar - benar menghilang.
"Pasti 'orang itu' yang menulisnya dan menaruhnya disini. Benar - benar orang yang merepotkan. Jika dia masih hidup..."
Orang itu berjalan keluar dari perpustakaan. Menginjak abu yang tidak terbawa oleh angin malam.
"...Maka hancur sudah rencana awalku."
...****...
Keesokkan paginya, seperti di hari kemarin Clara sarapan bersama Meiger ditemani oleh Jean yang kerjanya hanya mengawasi mereka berdua makan.
"Clara, aku mencium aroma pembakaran di perpustakaan. Apakah itu ulahmu?"
Di tengah - tengah kegiatan sarapan, Meiger bertanya pada Clara. Masalahnya semalam ia mencium bau abu bekas pembakaran. Dan asalnya adalah dari perpustakaan. Clara adalah pelaku terakhir yang meninggalkan tempat itu. Sudah pasti Clara adalah orang pertama yang ia curigai.
"Saya tidak tahu apa - apa tentang itu. Lagipula untuk apa saya bakar - bakaran di perpustakaan. Padahal diluar juga bisa kok. Benarkan, Jean?"
"E..eh? Benar Nona. Tapi Yang Mulia, saya adalah orang yang menutup pintu perpustakaan. Dan saat itu saya tidak mencium bau asap atau semacamnya. Namun memang benar kalau pagi ini ada bekas abu dari pembakaran. Sepertinya yang dibakar adalah..."
__ADS_1
"Buku." Jawab Meiger dengan cepat.
Clara dan Jean setuju dengan Meiger. Tapi Clara sendiri belum melihat kondisi di perpustakaan bagaimana, sehingga ia lebih memilih tidak berkomentar lebih jauh.
Setelah kegiatan sarapan selesai, Clara segera bangkit dan bergegas menuju perpustakaan. Karena tahu apa yang akan Clara lakukan, Jean berakhir mengikutinya.
"Nona, apakah Nona sebegitu inginnya melihat keadaan perpustakaan?"
"Iya, aku kan menyimpan begutu banyak buku yang belum kubaca disana. Bahkan Yang Mulia tidak memberitahu kita berapa jumlah buku yang telah terbakar." Ucap Clara setengah menangis.
Lalu Clara menengok ke belakangnya, dimana ada Jean disana. "Mengapa Yang Mulia tidak terlihat khawatir kalau semisal ada buku penting yang juga terbakar."
"Hng? Yah... itu karena Yang Mulia sudah membaca semua buku disana dari sudut ke sudut. Bahkan semuanya sudah tertulis jelas di kepala Yang Mulia."
"Di..diingat semuanya?!"
Jean mengangguk.
Pantas saja dia mengatakan kalau kapasitas otakku terlalu kecil. Ternyata ruang penyimpanan miliknya sangat besar toh. Itu agak mengerikan sebenarnya.
Clara serta Jean berdiri di pintu masuk perpustakaan. Saat Jean membukanya, Clara bisa mencium bekas aroma pembakaran meski hanya samar - samar.
"Ini pasti dilakukan di malam hari sehingga nyaris tak tercium lagi."
"Benar. Dan kalau perpustakaan ini ada di ruang terbuka maka sudah tak tercium lagi." Tambah Clara.
Ketika sampai di tempat Clara menyimpan buku - buku semalam. Dia langsung memeriksanya dan mengabsen setiap buku sejauh yang ia ingat.
"Eh? Jean ada yang hilang satu!? Apakah buku yang dibakar adalah itu?" Clara, dengan panik bertanya pada Jean.
"Saya tidak tahu Nona. Lagipula buku apa yang hilang?"
"Um... kalau tidak salah ingat judulnya 'Sejarah Singkat Lavoisiér'... yah! Yang itu!"
"Heh? Saya baru tahu kalau buku semacam itu ada disini."
"Kau pasti tidak menjelajah perpustakaan dengan benar."
"Tidak Nona, sepanjang saya bekerja untuk Yang Mulia. Saya baru tahu ada buku seperti itu, dan lagi saya tahu dari Nona sendiri. Meskipun saya tidak mengingat isinya seperti Yang Mulia. Tapi saya ingat betul setiap judul buku yang ada di perpustakaan kekaisaran."
Lalu bagaimana dengan eksistensi dari buku yang kubaca semalam? Apakah itu hanya khayalanku atau aku sebenarnya membaca buku lain?
Itu tidak mungkin! Aku membacanya sendiri dan ingatanku tentang itu masih segar. Setiap baitnya telah tercetak jelas di dalam kepalaku. Lantas darimana buku itu?
"Aku akan bertanya kepada Yang Mulia untuk memastikan sesuatu." Clara dengan setengah berlari keluar dari perpustakaan.
Jean juga demi bisa menyamakan langkahnya dengan Clara sampai setengah berlari. Dia menutup pintu perpustakaan cepat - cepat dan menyusul Clara yang sudah berada di depannya.
Keberadaannya sangat penting, aku harus bertanya pada Yang Mulia dimana dia berada. Jika Meiger Westhley bermata ruby dan ruby adalah simbol Lavoisiér. Maka ada kemungkinan Yang Mulia mengetahuinya. Tentang orang itu...
Clara bergumam, "Grein de'Lavoisiér."
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1