The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 125 - Puncak Kemarahan


__ADS_3

Crater berjalan kembali ke sisi wilayah Lavoisiér. Anehnya, disana hanya ada suasana yang sangat sunyi dan sepi. Bahkan serangga malam yang biasanya bising tak terdengar sama sekali.


Memang di malam - malam sebelumya, tidak aneh jika tempat ini sepi. Tapi malam ini Crater merasa sangat janggal. Ini terlalu sepi.


SRAK


Saat melangkah masuk ke dalam kastil. Ia menginjak sesuatu yang sedikit basah dan berbau amis. Membuat dirinya semakin menduga - duga, pikiran buruknya mulai bergerilya.


Jantungnya berdegup sangat kencang setelah melihat dengan jelas apa yang barusan ia injak. Itu mayat. Tubuh kaku seseorang yang sangat ia kenali. Dia adalah bibi yang selalu menebar senyuman manis kepada semua orang.


Crater mulai merasa ketakutan. Pandangannya mengarah ke depan. Crater memicingkan matanya supaya bisa melihat dengan lebih jelas. Namun usahanya membuatnya menyesal, sejauh mata memandang yang dilihatnya hanya mayat - mayat yang tergeletak mengenaskan.


Tidak. Ini tidak mungkin terjadi. Ini adalah mimpi buruk!


Perlahan - lahan, para mayat itupun berubah wujudnya menjadi kelopak bunga yang bermacam - macam. Sehingga membuat langit malam seolah dipenuhi pemandangan indah.


Tapi melihat apa yang menjadi penyebab langit ini indah. Semuanya terasa mengerikan untuk dinikmati oleh penglihatan.


Ayah dan Kakak ada dimana?!


Berusaha mengesampingkan ketakutannya. Crater berlari sambil menerobos mayat - mayat yang bergelimpangan di dalam kastil. Semua orang itu dia kenal, mereka adalah Lavoisiér yang dibenci semua orang.


Meskipun ada beberapa orang dengan pakaian ninja hitam yang juga tidak kalah banyak dari jumlah mayat keluarganya. Cara mereka mati tak kalah mengenaskan juga.


Ini adalah pembantaian!


Pikiran itu terus menghantui Crater. Tubuhnya berkeringat dingin, tangannya gemetar hebat. Baru kali ini ia merasa ketakutan sedemikian rupa. Haruskah sejak awal dia tidak nekat keluar dari wilayah bagian?


Tidak. Bahkan tanpa situasi itupun. Orang yang membenci Lavoisiér tetap banyak dan mereka akan merencanakan apa saja supaya kematian dan kehancuran Lavoisiér lebih cepat terjadi.


Tragedi mengerikan ini terjadi hanya dalam semalam.


"Kakak! Ayah! Dimana kalian?! Siapa saja yang bisa mendengarku, tolong jawablah aku!"


Percuma. Hanya ada kata percuma. Bahkan setelah ia naik ke lantai dua. Yang ia temui hanyalah mayat dan mayat. Tidak ada tanda - tanda yang masih hidup. Sebab Crater menyempatkan diri untuk memeriksa satu persatu Lavoisiér yang ia temukan.


Ini yang terburuk. Aku mau keluar dari situasi ini!


Crater membuka setiap pintu yang ada di depan matanya. Dan sekali lagi, hanya ada kata percuma. Yang dia temukan selalu mayat dan mayat. Sekarang ia hampir kehilangan harapan akan masih hidupnya seseorang disini.


"Kemana mereka semua?"


"CRATER!"


"....!"


Mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Crater langsung berhambur ke pelukan kakaknya. Keadaan Zavius tidak kalah kacau. Bercak darah dan luka di sekujur tubuhnya yang mulai mengering.


Sudah berapa lama pembantaian ini terjadi?


"Kak, katakan apa yang terjadi disini?!"

__ADS_1


Zavius terdiam sejenak. Dia membuang pandangannya kearah lain.


"Kau bisa menebaknya sendiri. Seseorang mengirim puluhan pembunuh bayaran untuk melenyapkan Lavoisiér."


"Bagaimana dengan Ayah? Ibu?"


Zavius menggelengkan kepalanya pelan. Hal ini semakin memperbuat suasana hati Crater buruk. Ia kehilangan keseimbangan tubuhnya. Crater terhuyung dan terduduk di lantai yang telah dikotori oleh noda darah.


Crater mengacak rambutnya dengan frustrasi dan mulai berteriak histeris. Zavius tidak bisa berbuat apa - apa disini, sebab dia juga merasa kehilangan. Bukan hanya keluarganya, namun seluruh Lavoisiér telah terbantai habis.


Ini bukan akhirnya...


...****...


Ivory memasukkan sebelah kakinya ke dalam sungai. Karena arusnya yang tidak deras, Ivory berani melakukannya. Wanita itu bermain - main dengan air, ekspresi bahagia terpancar dari wajah cantiknya.


"Bisa bicara sebentar?"


Ivory menoleh ke sumber suara. Itu adalah Lavoisiér yang ditemuinya kemarin malam.


"Boleh." Ucap Ivory lembut.


Crater duduk di sebelah Ivory lumayan jauh. Sepanjang hidupnya, baru kali ini dia merasa terguncang hebat. Ia tidak ingin melakukan pengkhianatan ini, akan tetapi perasaan sucinya kalah oleh dendam dalam hatinya.


"Semalam kau berbicara tentang sihir yang kau miliki, bukan?" Tanya Crater dengan raut wajah datar.


Yah, sebenarnya wanita inilah yang membuat situasi di wilayah bagian Lavoisiér sangat buruk. Dialah yang merubah pola pikir orang - orang terhadap Lavoisiér. Mereka menganggap seluruh Lavoisiér punya sihir sementara yang memiliki sihir hanya satu orang ini saja.


"Apakah kau bisa menggunakan sihirmu untuk menghentikan perang dingin ini? Dan membuat keempat wilayah lainnya untuk menyetujui surat perjanjian yang ditawarkan Hortensia."


Ivory tersentak. Ia menatap dengan seksama Crater yang malah memandangnya balik dengan datar, tidak ada ekspresi sama sekali di wajahnya. Yang terlihat disana hanya keseriusannya.


Keseriusan Crater membuat Ivory sedikit gugup. Lagipula, tidak ada yang pernah bertanya atau memintanya melakukan sesuatu semacam itu. Tidak, bahkan lebih jauh lagi. Tak ada siapapun yang mengetahui sihirnya selain pria ini.


"Mungkin, aku bisa mencobanya."


Sudut bibir Crater sedikit tertarik, dia hanya bisa menampilkan senyum tipisnya. "Terima kasih banyak."


...****...


Setelah pertemuan itu. Crater sedikit dikejutkan dengan berita dari kakaknya. Yang dikatakan jika lima wilayah besar di Benua Herbras sudah menyetujui mengakhiri perang dingin dan mulai membangun perdamaian sedikit demi sedikit.


Zavius lumayan senang dengan perubahan baik ini. Tapi tidak dengan Crater, dia tidak tampak senang sama sekali.


"Crater, apa kau tidak senang dengan perubahan ini? Ini lebih baik daripada terus dalam situasi perang dingin." Ujar Zavius.


"Kak."


"Ya?"


"Apa kau tidak merasa sedih? Ini baru seminggu sejak pembantaian Lavoisiér. Mengapa sekarang kau kelihatan baik - baik saja?" Tanya Crater dengan suara dingin.

__ADS_1


Zavius terdiam sejenak, kemudian dia menarik sudut bibirnya ke atas.


"Dendam itu hanya akan menimbulkan dendam lain. Maka, lebih baik untuk memulainya dari awal."


"Memulai dari awal?"


"Ya..."


"MEMULAI DARI AWAL KATAMU, KAK?!"


Zavius terperangah melihat adiknya meledak. Baru sekarang Crater kehilangan kesabarannya. Crater menggrebak meja makan. Dia muak dengan ketenangan kakaknya. Tidak ada dendam sama sekali terlihat dari matanya.


Zavius memang bukanlah tipe yang menyimpan dendam terhadap seseorang bahkan jika orang itu membuatnya kehilangan. Tapi sekarang benar - benar tidak masuk akal, dia kehilangan hampir seluruh keluarganya dan tidak ada perubahan dalam kesehariannya. Satupun tidak ada.


Apa orang ini sudah kehilangan emosi sedihnya?!


"Persetan. Aku mau pergi saja darisini!"


Crater beranjak dari tempat duduknya dan keluar dengan langkah berat. Sementara Zavius ditinggalkan dalam keadaan yang membuatnya bimbang. Dia punya prinsipnya sendiri.


Satu dendam hanya akan menimbulkan dendam lain.


...****...


Crater memilih berjalan ke jalanan Hortensia. Bermodalkan jubah hitam yang menutupi sebagian dari dirinya. Dia hanya berjalan tak tentu arah.


BRUK


Seseorang tak sengaja menabrak dirinya. Crater yang jatuh terduduk hanya diam saja meskipun sekarang jubah yang menutupi kepalanya telah terbuka memperlihatkan fisiknya secara utuh.


Orang - orang melihatnya dengan wajah terkejut sampai berteriak ketakutan. Ada juga yang mengutuknya dengan segala macam kalimat kasar. Orang yang menabraknya pun segera berlari menjauh darinya.


Sekarang Crater sedikit paham mengapa ayahnya begitu melarangnya keluar dari wilayah bagian Lavoisiér. Sebab itu hanya akan menyakiti mental diri mereka sendiri.


Seorang prajurit menarik kerah jubahnya dengan kasar.


"Kenapa kau memasuki wilayah kami, dasar pembawa sial!" Ujar orang yang berada tidak jauh dari posisi Crater.


Para penduduk yang lain pun mulai melontarkan ujaran kebencian padanya. Beberapa malah melemparinya dengan batu kerikil hingga yang berukuran sedang. Namun Crater terlalu mati rasa untuk merasakan sakitnya semua luka tersebut.


Prajurit tersebut membawanya menuju Istana Kekaisaran dan Crater yang pasrah hanya bisa mengikuti langkah prajurit tersebut. Sepanjang jalan, yang Crater dengar hanyalah hinaan dan kutukan yang ditujukan pada Lavoisiér.


Crater tersenyum miris.


Menjadi Lavoisiér itu sesulit inikah? Kuharap, jika ada kehidupan selanjutnya. Aku bukanlah sosok yang tidak diinginkan. Yang kuinginkan hanyalah hidup tenang bersama keluargaku.


Bersembunyi diantara kerumunan yang ada. Zavius terus diam membatu, "Apakah ini yang kau inginkan Crater?"


TBC


Lanjutannya ada pada Chapter : Penyihir Pria di Masa Lampau. Hari eksekusi bagi Crater de'Lavoisiér. Lalu dilanjut lagi di Chapter 121, adegan setelah pengeksekusian Crater.

__ADS_1


So, see you in the next chapter ~


__ADS_2