The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 71 - Senjata Freesia IV


__ADS_3

Di malam hari sebelumnya.


Clara mencoret - coret lembaran kertas yang kosong. Hanya meniru apa yang sering dilakukan oleh George ketika Clara ada di sampingnya. Namun tulisan Clara terkesan absurd dan tidak ada gunanya jadi hanya bisa berakhir di tempat sampah.


Karena kesal, Clara membanting penanya keatas meja. Menyangga dagunya dengan wajah cemberut khas cewek yang dicuekin pacarnya. Pipinya menggembung karena kekesalan yang tak tertahankan.


Beberapa kali juga Clara membuat ekspresi aneh, mendecakkan lidahnya dan memutari seisi kamar sambil bernyanyi atau bersenandung. Itu semua dirinya lakukan demi menghalau rasa geram akan sikap George yang makin lama makin dingin padanya.


Oke, dari atas sampai bawah ini semua memanglah salah Clara. Karena gadis itu yang duluan meracau dan merusuh pada George. Tapi tidak seharusnya balasan yang Clara dapatkan sebegitu buruknya, bahkan Hendrick pun yang terkenal dengan sikap garamnya masih bisa sabar terhadap Clara.


"Dia sudah keterlaluan karena mengabaikan gadis cantik sepertiku!"


Clara semakin memanyunkan bibirnya, wajahnya semakin jelek saja mungkin itu yang akan menjadi komentar Hendrick jika dia ada disini. Akhir - akhir ini juga Clara semakin terlihat sifat antagonis nya.


"Hm?"


Clara sedikit teralihkan dari kekesalannya, ini sudah memasuki musim dingin. Itu berarti pergantian posisi Duke sudah dilakukan bahkan sejak seminggu yang lalu. Hari dimana Clara belum menginjakkan kakinya di istana silver ini.


"Bagaimana keadaan Tuan Hendrick? Aku tidak bisa memanggil merpati, jadi aku tak bisa mengirim surat ke kediaman Wayne. Ketika aku sudah pulang ke Hortensia, aku akan langsung menulis surat untuk mereka!" Tekad Clara.


Sekejap dia melupakan rasa jengkel di hatinya. Dia juga telah berhenti memperbuat kelakuan kocak yang aneh seperti sebelumnya. Yah, Clara sudah agak tenang. Berterima kasihlah pada Hendrick karena ketika Clara mengingatnya dia tak marah lagi pada George.


Kau berhutang pada Hendrick, George.


KRESEK


"...? Suara apa itu?"


Clara menoleh pada luar jendela dimana pemandangan disamping istana silver adalah hutan belantara. Tak ayal jika Clara pernah beberapa kali minta ditemani pelayan sampai dirinya tertidur nyenyak. Karena suara jangkrik di tengah kesunyian adalah buruk untuk Clara.


Dan parahnya, barusan ada suara yang muncul dari semak belukar. Namun Clara tidak melihat ada siapapun disana. Tentu sajalah, orang Clara hanya memeriksa keluar dari jarak yang jauh.


Ini adalah antisipasi kalau semisal ada jump scare.


KRESEK


"Plis lah, siapa yang berani sekali menakutiku?!" Geram Clara.


Clara akhirnya memberanikan diri untuk mendekat kearah jendela untuk memeriksa. Ia berharap kalau penyebab suara - suara horor itu adalah tupai atau paling tidak ular. Pokoknya yang masih menapak di tanah.


Clara mengambil langkah pertama menuju jendela.


TOK TOK TOK


Jendela diketuk dari luar.


"ARGH!!!!" Sontak Clara berteriak histeris.


Tidak ada genre horor di novel ini! Tidak ada sama sekali!!!!


Tiba - tiba muncul bayangan hitam mendekati jendela, bahkan bayangan tersebut berusaha memanjat dinding yang tujuannya adalah untuk memasuki kamar Clara.


Tubuh Clara mendadak kaku, kakinya tak bisa digerakkan untuk kabur. Ketakutan terbesarnya adalah dikagetkan oleh makhluk halus apalagi yang fisiknya tidak utuh. Itu saja sudah cukup untuk membuat Clara mogok makan selama seminggu penuh. Dan sekarang hantu mulai muncul, apa Freesia se-ghaib itu?


Jangan jump scare. Jangan jump scare. Jangan jump scare. Jangan jump scare. Jangan jump scare... teriakan seram juga tidak boleh! Berbisik pun dilarang! Lalu hapus saja sound effect yang seram itu... hiks...


Dalam hatinya Clara semakin gencar melafalkan berbagai macam mantra ampuh yang pernah diberikan oleh Nero. Karena ternyata ibu Nero adalah tetua sekte hitam yang tugas utamanya adalah mengusir roh halus, kemungkinannya besar kalau mantra pengusiran ini akan sukses.


BRAK!


Jendela dibuka paksa dari luar, dan si bayangan hitam masuk dengan santainya. Dia berjalan mendekati Clara sambil menjulurkan tangannya, berusaha menggapai Clara. Refleks Clara memejamkan matanya karena takut.


Jangan makan aku...!


.


.


.

__ADS_1


"Nona."


Tubuh Clara yang kaku menjadi lemas, kakinya yang tak bisa digerakkan berasa tak bertulang lagi. Kemudian Clara jatuh terduduk, kedua matanya yang kini terbuka lebar telah dihiasi oleh air mata di pelupuknya.


"Jangan makan aku... hiks..." Isak Clara.


Jean mengernyit heran.


Yap, Jean lah yang datang mengendap - endap seperti bayangan barusan. Kalau saja mental Clara lebih lemah daripada ini, maka sudah dipastikan Jean akan menjadi tabib mendadak karena ada yang pingsan.


Jean segera menyingkirkan tudung kepalanya, dan kali ini wajahnya bisa terlihat jelas oleh Clara. Sebenarnya sejak Jean mengatakan 'nona' barusan, Clara sudah tahu bahwa yang datang adalah Jean. Alasan Clara menjadi lemas dan jatuh karena dia bersyukur yang datang bukanlah makhluk halus. Ternyata menghafal mantra pengusir tidak terlalu berguna juga, setidaknya di Freesia ini.


"Saya tidak akan memakan Nona kok, tenang saja." Jean berupaya menenangkan Clara.


Dia berjongkok di hadapan Clara, "Saya tidak mempunyai banyak waktu Nona. Karena ini adalah Istana Freesia, bahaya kalau saya ketahuan menyusup ke dalamnya."


"Dan bagaimana kau bisa menyusup?"


"Saya punya seseorang yang bisa dimanfaatkan."


Clara mengernyit.


"Sudahlah Nona, yang terpenting sekarang adalah berita yang saya sampaikan ini. Jadi Nona tolong dengarkan baik - baik, hidup dan mati Nona tergantung pemahaman Nona dalam menyerap informasi." Jean menghilangkan kecurigaan Clara, sebab yang paling penting saat ini bukanlah itu.


"Saya akan datang kembali 2 minggu dari sekarang untuk menjemput Nona pulang." Ucap Jean dengan serius.


Sontak Clara terkejut mendengarnya.


"Dua minggu? Tapi bukankah itu berarti kita masih punya waktu seminggu lagi sebelum jangka sebulan yang diberikan Yang Mulia habis? Kalau seperti itu kita hanya akan membuang - buang waktu donk. Terlebih lagi belum tentu aku bisa meyakinkan George hanya dalam kurun waktu 2 minggu." Papar Clara.


"Tetapi Nona, itu sudah paling mentok. Masalah utamanya adalah Freesia akan menggerakkan pasukan elitnya untuk menyerang Ranunculus secara diam - diam. Kalau Nona tetap ingin menunggu sampai tenggat waktu sebulan habis, maka Nona lah yang akan habis." Tutur Jean, raut wajahnya sangat serius.


Clara menelan salivanya berat, mulai khawatir pada perkataan Jean. "Darimana kau mengetahui itu, Jean?"


"Sudah saya bilang saya mempunyai orang yang bisa dimanfaatkan. Dan lagi koneksinya dengan Freesia kebetulan sedang kuat - kuatnya. Jadi Nona tidak perlu meragukan kebenaran dan keakuratan informasi saya. Karena info ini 100% benar."


"Tetapi-"


TOK TOK TOK


Di tengah percakapannya dengan Jean, Clara dikejutkan dengan teriakan seseorang dari luar. Dia menanyakan keadaan Clara, berarti identitas sang pengetuk pintu adalah pelayan disini. Dari nada suaranya dia kedengaran begitu khawatir.


Clara memberikan kode kepada Jean untuk bersembunyi di balik pintu saja, dimana pun asalkan yang menjadi titik buta dari pintu itu sudah cukup. Jean mengangguk patuh dan mencari tempat untuk bersembunyi, sekiranya yang tidak bakal terlihat oleh orang dari pintu.


Setelah Jean mendapatkan posisi bagus untuk menyembunyikan dirinya. Lalu Clara menghembuskan nafasnya, membukakan pintu perlahan. Terlihatlah sang pelayan dengan ekspresi paniknya.


"Nona baik - baik saja 'kan? Soalnya saya mendengar Nona berteriak kencang sekali. Saya lalu bergegas kesini untuk memeriksa keadaan Nona." Kata si pelayan.


"Ti-tidak ada apa - apa kok. Cuma ada tikus lewat saja. Hehehe..." Clara tertawa garing sambil menggaruk pipinya dengan canggung.


Sang pelayan lalu menghela napasnya lega, "Syukurlah kalau Nona tidak kenapa - napa. Kalau begitu maafkan saya telah mengganggu Nona dengan semua teriakan itu."


"Tidak masalah, terima kasih juga telah mengkhawatirkanku." Kemudian Clara tersenyum simpul.


"Saya pamit dulu Nona, permisi." Pelayan itu membungkukkan badannya dan pergi dari depan kamar Clara.


Clara bisa kembali bernafas lega, dia menutup pintunya dan membiarkan Jean keluar dari tempat persembunyian nya. "Baguslah kalau dia tak menyadari keberadaanmu, Jean."


"Sudahlah Nona jangan bahas lagi, saya tidak punya banyak waktu untuk berbasa - basi."


"Okelah, tapi kau punya tidak saran untukku bagaimana cara mendekati George agar dia mau pergi dari Freesia? Soalnya dia bersikeras ketika aku mengajaknya. Mungkin kalau aku tahu sesuatu tentang dirinya maka takkan sesulit ini." Keluh Clara.


"Apa mau Nona ketahui tentangnya?"


"Apa saja, eits! Tapi aku sudah tahu yah kalau dia masih takut untuk membunuh orang."


"Yang Mulia bahkan sudah memberitahu saya tentang itu."


"Baiklah Jean. Mungkin saja kau tahu tentang hubungan macam apa yang ada diantara George dan Raja Willem."

__ADS_1


Jean terhenyak sesaat, dia berdehem pelan sebelum menjawab pertanyaan Clara. "Persoalan yang sensitif sebenarnya ini itu..."


"Kalau kau ragu endingnya aku tak bisa mendekati George!" Geram Clara.


"Oke - oke. Sebenarnya George Northern adalah anak haram dari Raja Willem."


Heh? Sedekat itukah hubungan mereka...?


"Lalu?" Desak Clara.


"Ibu George adalah seorang pelayan saja disini. Tapi Raja tertarik kepadanya karena fisik Ibu George cenderung lebih cantik daripada pelayan lainnya. Raja kemudian memanggilnya ke kamarnya ketika malam - malam dan mereka ber'itu', Nona tahulah." Jelas Jean, dia agak ragu untuk membongkar aib orang lain.


Pipi Clara sempat memanas, wajahnya bersemu karena mungkin saja dia berfantasi mengenai malam panas antara Ibu George dan Raja Willem. Ini berdosa sekali.


"Lalu? Lalu?"


"Ibu George langsung hamil karenanya, dan dia malu untuk mempublikasikan kehamilannya sebab pelayan di sekitarnya mengetahui bahwa dia belum menikah. Lalu Ibu George berhenti menjadi pelayan disini dan memilih membesarkan kandungannya di kampung halamannya. Raja Willem mengetahui itu, namun dia menghormati keputusan selingkuhannya."


Oke, sejauh ini aku paham betul.


"Nah setelah Ibu George melahirkan Georgo karena fisiknya yang lemah Ibu George meninggal tak lama setelah melahirkan. Raja Willem yang mengetahuinya bersedih dan mengambil George untuk diadopsi."


Eh? Sejauh ini normal...


"Namun semua kebahagiaan itu musnah ketika Frederick Wayne menculik Nona. Raja Willem yang tidak waras malah menjadikan anaknya sendiri senjata agar posisi Nona tidak kosong."


Pak tua itu memang suka sekali menyebabkan masalah. Huft... sekarang yang penting aku sudah mendapatkan info mengenai George, semoga saja bisa kugunakan besok.


...❀...


"Beritahu aku George, mengapa dia tidak memperlakukan dirimu selayaknya dia memperlakukan anak - anaknya? Kau anaknya bukan?"


".....!"


George terdiam seribu kata, pernyataan Clara tidaklah bisa ia bantah. Namun sebenarnya ini bukan kebenaran yang perlu diketahui Clara. George berusaha untuk membelokkan fakta.


"Otakmu miring ya? Tidak mungkin aku adalah anak dari Yang Mulia Raja!" George membantah dengan keras.


"Apakah benar jika yang kau inginkan hanyalah cinta dari keluargamu saja?"


Clara tak menghiraukan pengelakan George sebelumnya. Dia mlah menghujani George dengan pertanyaan lainnya. Karena kelakuan menyebalkan Clara inilah yang memantik kemarahan George.


"Sudah cukup! Kau selalu mengajakku kabur dari Freesia. Aku katakan kepadamu sekali lagi kalau Freesia adalah rumahku! Dan sekarang kau mulai tidak waras dengan menyebutku sebagai anak dari Yang Mulia Raja, jangan buat aku kesal Clara Scoleths."


"Tapi itu benarkan!? Dia sudah stres karena membuatmu menjadi penggantiku. Harusnya kau tidak pasrah begitu saja, kau punya hidup dan impianmu sendiri. Berhentilah menguburnya dalam - dalam."


"Ini adalah sumber kebahagiaanku! Bagaimana kau bisa menyebut kalau aku punya impian lain huh?!" Tantang George.


Clara menatapnya tak kalah, dia menghampiri kasur George dimana diatasnya terdapat buku yang selama ini selalu dipegang oleh George. Melihat Clara mengambil bukunya, George menjadi panik setengah mati. Dia berusaha mengambilnya kembali namun Clara menghindar dan menjauh sesegera mungkin.


Kemudian Clara mengangkat buku tersebut tinggi - tinggi.


"Kau menuliskan impianmu, disini!" Tegas Clara.


Mata George membulat sempurna, mustahil Clara bisa mengetahui isi bukunya. Sebab setiap Clara mengintip isi nya, George langsung menutupnya agar Clara tak tahu.


"Itu tidak benar..." George masih berusaha mengelak.


"George, mengapa kau mengharapkan kasih sayangnya yang belum tentu sedangkan ada aku disini untukmu."


Bahu George tersentak pelan, matanya berkaca - kaca ketika mendengar pernyataan Clara. Terselip perasaan bahagia ketika Clara mengatakannya. Aneh memang, tapi George tidak sepenuhnya jengkel ketika Clara mendatangi kamarnya setiap hari.


Secara tidak sadar Clara membuat dirinya tidak kesepian lagi.


"Kau memang sudah tidak waras..."


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2