
Duke Wayne datang tiba - tiba dan langsung duduk di meja makan. Tanpa permisi atau menyapa siapapun dia bergegas menghabiskan sarapannya. Bahkan dia mengabaikan tatapan kesal dari anaknya sendiri.
"Ayah baru pulang? Kemana Ayah semalaman ini?" Tanya Hellen untuk mencairkan suasana.
"Yah, Ayah ada urusan di perbatasan. Awalnya Ayah pikir itu cuma sebentar, ternyata lama sekali." Lalu pandangannya terarah pada Hendrick. "Kau tidak perlu mengerjakan semua dokumen itu lagi, Ayah sudah kembali."
"Mengapa tidak dari kemarin saja." Gerutu Hendrick.
Rovers sendiri hanya menyaksikan bagaimana cara keluarga Duke saling berinteraksi satu sama lain. Dia ingat kalau ayahnya pernah mengatakan sesuatu tentang masa lalu Duke dengan kakeknya.
Meskipun ini adalah kesempatan bagus untuk bertanya. Tapi dia sangat menghargai waktu tenang keluarga ini.
Kudengar Duke dipanggil Ayah ke istana. Mungkin aku akan bertanya langsung kepada Ayah.
"Hei anak muda, apakah kau akan pulang hari ini?"
Rovers pun menjawab, "Ya. Saya akan kembali ke istana hari ini."
Setelah kegiatan sarapan selesai, keluarga Wayne mengantarkan Rovers sampai ke gerbang utama.
"Sampai jumpa, Duke Wayne, Duchess Wayne, Tuan Hendrick dan Nona Hellen." Rovers memberikan salam kepada mereka sebelum pulang. "Terima kasih sudah membiarkan saya bermalam disini."
"Itu bukanlah masalah besar." Ucap Duchess Wayne.
Kemudian Rovers menaiki kudanya, serta memacunya dengan kecepatan sedang. Setelah sudah agak lama, Duke Wayne diikuti Hendrick kembali masuk ke kediaman.
BRUK
"Huh... huh... huh... ada berita buruk... Duke..."
Seseorang tiba - tiba datang, dia nampak kelelahan seperti habis berlari untuk datang kesini. Duchess dan Hellen yang masih ada di gerbang utama kemudian mendekatinya.
Duke Wayne yang namanya dipanggil pun lalu mendekati orang tersebut. Sementara Hendrick hanya melihat dari tempatnya berdiri sekarang.
"Ada apa?" Tanya Duke Wayne.
Orang yang datang adalah salah satu pengawal yang berjaga di perbatasan paling luar wilayah Wayne. Dia kemudian memberikan sebuah surat pada Duke.
"Ada sebuah rumor yang mengatakan kalau gadis muda yang diadopsi Tuan Duke adalah orang yang membunuh mendiang Raja terdahulu."
"Apa?!" Pekik Hellen.
"Eh?" Duchess juga sama kagetnya dengan Hellen.
Pengawal barusan kemudian meminta mengundurkan diri. Lalu Duchess menengok pada suaminya yang sudah selesai membaca surat tersebut.
"Apa isinya?" Tanya Duchess Wayne.
"Count Cheltics meminta keterangan kepadaku mengenai rumor yang beredar. Aku benar - benar tak mau melakukan ini."
__ADS_1
Duchess menatap ragu suaminya, "Apakah memang benar kalau Clara Scoleths adalah pembunuhnya?"
"Tentu saja bukan. Kalau hal itu benar, aku pasti tidak akan pernah membawa anak itu pulang ke kediaman kita."
Hendrick yang sedari tadi mendengarkan kemudian mendekat. "Apakah perkataan Ayah bisa dipegang? Mengapa ketika Clara Scoleths pertama kali datang kesini aku bisa mencium bau amis darah dari dirinya?"
"Eh? Bau amis darah?" Hellen mematung mendengar kalimat kakaknya. "Apa itu benar Kakak? Mengapa Kakak tidak pernah mengatakan apapun?"
"Jika itu terjadi kau akan kehilangan temanmu." Ujar Hendrick tanpa berbohong lagi.
Hellen terdiam.
"Ayah, sebenarnya Clara Scoleths itu siapa? Aku ingin tahu jawabannya. Aku ingin tahu ceritanya, bagaimana Ayah bisa membawanya kesini."
Duke Wayne menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Mengapa kalian tidak bertanya saja pada orangnya langsung?"
...****...
"Ada sebuah rumor tentang dirimu. Rumor itu mengatakan kalau anak perempuan yang diadopsi Ayah adalah seseorang yang sudah mengambil nyawa Raja sebelumnya."
Rumor? Siapa yang menciptakan rumor payah semacam ini? Tch! Orang yang menyebarkan rumor ini pasti adalah manusia gabut.
"Dan Nona Hellen mempercayainya begitu saja? Saya memang mampu memegang pedang meski itu tidak sesuai dengan gender saya. Tapi disini saya berdiri untuk mengatakan bahwa apa yang dikatakan rumor adalah salah!"
Clara berkata dengan lantang, menatap berani di balik cadar hitamnya.
"Apa kau bisa membuktikannya?"
"Sigh..."
Karena merasa akan lama untuk membicarakannya, Duke Wayne memutuskan agar seluruh keluarganya termasuk Clara duduk di ruang tamu. Dengan Clara dan Duke Wayne sebagai pusatnya.
"Jadi, sebenarnya saya adalah senjata yang dimiliki oleh Freesia."
"Eh?" Hellen tercengang. "K-kau apa?" Tanya Hellen, tangannya mulai bergetar karena ketakutan.
"Saya adalah senjata yang dimiliki oleh Freesia."
Hellen terdiam.
Di sebelahnya Hendrick hanya memerhatikan saja, dia memang kaget. Akan tetapi untuk saat ini dia tidak akan terlalu mementingkan rasa penasarannya.
Lebih baik untuk tetap mengikuti alur. Kemana pembicaraan ini akan terhenti.
Hellen beralih menengok pada ayahnya.
"Apakah yang Ayah maksud misi di perbatasan adalah misi untuk menculik senjata Freesia?" Hendrick bertanya masih dengan mempertahankan wajah tenang.
Duke Wayne mendengus, tanda bahwa jawabannya adalah benar.
__ADS_1
Sementara itu, di sebelah Duke Wayne. Duchess hanya memandangi Clara Scoleths dengan seksama.
"Apakah kau..."
"Hm?"
"...Apakah kau alasan mengapa Raja terdahulu terbunuh? Lantas kalau bukan, siapa yang membunuhnya?" Duchess Wayne menatap Clara.
Clara menjawab, "Hal itu memang benar, saya adalah alasan kematiannya. Dan soal pembunuh yang sebenarnya..." Clara berucap sambil melirik Duke Wayne.
"Itu adalah Raja Freesia yang sekarang." Tanpa aba - aba apapun Duke Wayne menyerobot Clara yang sedang berbicara. Ia tahu Clara tidak akan begitu berani untuk menyebutnya.
Karena bagaimanapun Clara punya kesan buruk terhadapnya.
Duchess Wayne melihat suaminya dengan tak percaya, "Benarkah?"
"Apa kau tidak percaya kepadaku?"
"Bukannya begitu... tetapi hal ini aku sendiri tidak mengetahuinya."
"Awalnya aku juga tidak mau memberi tahu kalian. Tetapi rumor payah ini datang mendadak ke seluruh penjuru Ranunculus. Aku terpaksa mengatakannya kepada kalian agar tidak timbul kecurigaan."
"Ayah." Hendrick yang sejak tadi diam membuka suaranya.
"Apa?"
"Jadi ini alasan Raja Freesia begitu membenci Ayah?"
"Sebenarnya ada masalah lain sih... tapi kau tidak salah juga. Karena insiden penculikan senjata itu adalah salah satu dari sebab mereka membenci Ayah."
"Lantas, apa alasan Ayah menculik Clara Scoleths?"
Hendrick bertanya lagi, dia berfikir ini adalah saatnya untuk mengorek rahasia milik ayahnya. Tapi sayangnya itu adalah upaya yang tidak berguna. Karena meskipun lidah Duke Wayne sangatlah tajam, itu bukanlah alasan untuk membongkar rahasianya sendiri.
Ini agak sedikit mirip dengan kejadian lama. Dimana saat itu Hendrick juga melakukan hal yang sama kemudian berakhir sia - sia.
"Ada saatnya untuk Ayah membongkar semuanya." Hendrick menatap tajam.
"Tentu. Tapi bukan sekarang."
TBC
Author Time dulu!!!
Mungkin ada yang sadar dan ada juga yang tidak. Alasan mengapa di rumor bukannya 'Clara Scoleths' melainkan 'anak adopsi Duke Wayne' seharusnya kalian ada beberapa yang sadar.
Itu karena orang - orang di Ranunculus tahu kalau Duke Wayne mengadopsi seorang anak perempuan. Namun mereka tidak tahu siapa anak itu karena Clara Scoleths tidak pernah sekalipun keluar dari kediaman Wayne kecuali dengan alasan tertentu.
Kalaupun dia keluar nih ya, Clara tetap akan menggunakan jubah besar plus cadar untuk menutupi dirinya. Jadi yah... sama saja, mereka takkan tahu kalau Clara adalah anak adopsi Duke Wayne.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~