The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 118 - Tak Terkendali


__ADS_3

Langit malam tak berujung menyelimuti benua Herbras. Guncangan bumi menggoyahkan pepohonan hingga ke akarnya. Burung - burung berterbangan dengan liarnya, menciptakan kicauan yang menggema di udara.


"Sial... pertahanan yang tangguh..."


Napas Hendrick tersengal - sengal, matanya menatap menyalang sekumpulan prajurit yang mengacungkan senjata mereka kepadanya. Kedua tangannya menangkup gagang pedang yang tertancap ke dalam tanah.


Pedang miliknya kini sudah dipenuhi bercak darah. Kepala musuhnya telah bertebaran di sekitarnya dengan ekspresi tak terdeskripsi.


Awalnya Hendrick turun langsung menuju medan perang sendirian karena kabut sialan ini yang menghalanginya. Jika dia tetap memakai busur dan panah, formasi musuh akan kacau dan akan semakin sulit pula baginya menghabisi musuh.


Betapa sial dirinya, si pangeran bermuka dua itu telat menyadari tujuan Hendrick yang sebenarnya. Dan setelah dia berjuang selama beberapa menit, belum ada siapapun yang datang memberikannya bantuan.


Saat seorang prajurit musuh berlari kearahnya. Dengan semua kegeramannya, Hendrick sekuat tenaga menendang perutnya. Yang penting makan malamnya tidak keluar lagi saja.


"Inilah kenapa aku sering mengatakan padamu untuk lebih bersosialisasi. Sekarang kau malah berjuang sendirian, kan!"


Hendrick mengumpat dalam hatinya. Dia memang mengharapkan bantuan, tapi bukan dari Count Cheltics dan kacung sejatinya si wajah dua. Yah, apapun itu. Hendrick seharusnya lebih bersyukur atas kedatangan mereka berdua.


"Kenapa Tuan kesayanganmu itu?" Sinis Hendrick saat bertanya pada Vester.


"Pangeran sedang memeriksa bagian hutan. Dengar - dengar pasukan Freesia dan Vinca ada juga yang berjaga disana." Jawab Vester. Nada suaranya begitu tenang dan datar seakan tidak peduli pada ejekan Hendrick.


"Dia menyelinap keluar tanpa mati?"


"Sepertinya begitu."


Hendrick mengangkat sebelah alisnya sebagai bentuk tanda tanya. Dia tidak benar - benar tega sampai mengharapkan manusia itu mati. Rovers tak boleh gugur hingga kemenangan Ranunculus bisa dipastikan. Kalau sekarang, bukan saatnya menyumpahinya mati.


...****...


"James? Sekarang sudah lebih tenang 'kan?" Tanya Clara, dia belum melepaskan pelukannya pada James.


James sendiri entah kenapa suka sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tangannya belum juga melepaskan Clara dari pelukannya. Jika Raģe melihatnya melakukan ini pada Clara, sudah dipastikan akan ada duel berdarah diantara mereka.


"Kak Rara tetaplah kakakku, kan? Mirye juga, mungkin aku bisa menerima kehadiran adikmu yang lain." Suara James terdengar samar karena tertutupi gaun Clara.


"Yah, kau juga bisa tidak menganggapku kakak. Panggil saja aku dengan namaku. Dulu juga kau sempat akrab dengan Allen sebelum ada aku atau Pangeran Mahkota, bukan?" Tanya Clara.

__ADS_1


James hanya mengangguk pelan. Hari - hari dimana dia menjalani cinta monyet, begitulah kata Raģe. Namun James tidak peduli julukan apa yang disematkan Raģe, yang dia tahu saat itu hanyalah rasa bahagia ketika Hellen mengunjungi Agapanthus.


"James juga sempat menyukainya, yah?"


Kini James tak merespon. Dia diam membatu. Hal ini menimbulkan kecurigaan pada Clara. Dan mungkin saja pertanyaan barusan adalah pernyataan yang sifatnya benar.


James melepaskan pelukannya, dia menatap kearah lain karena kesal pada Clara yang tiba - tiba mengingatkannya pada cinta bertepuk sebelah tangan miliknya. Padahal yang lebih sering bertemu dengan Hellen itu adalah dirinya bukan Rovers, namun takdir berkehendak lain. Justru Rovers memenangkan pertarungan sebelum James siap.


"Kita itu sama, James."


James memandang heran Clara. Gadis itu sekarang malah menyamakan dirinya dengan James perkara cinta. Apa Clara juga sedang dalam tahap 'menghilangkan' cintanya?


"Aku tak pernah mengatakan cinta padanya. Akan tetapi dia tahu tanpa perlu kuberitahu. Dia juga menurutku menunjukkan tanda - tanda jika dia mencintaiku. Sayangnya, dia begitu pasif hingga tak berkata apapun tentang status diantara kami. Aku ingin bertanya, namun aku terlalu pengecut untuk mendengar jawabannya."


Penjelasan Clara yang panjang dan ringkas membuat James mengerti betul bagaimana garis besarnya. Clara cinta padanya, dia juga cinta Clara. Namun cintanya tak berkata, hanya bertindak selayaknya perasaan yang ada. Bukan munafik namanya, mereka hanya saling peka namun terlalu takut menghadapi kenyataan.


"Apa Kak Rara melakukan sesuatu saat sadar bahwa Kak Rara mencintainya?"


"Tidak tahu, aku telah melupakan banyak hal. Tetapi aku masih ingat saat aku cemburu pada wanita yang mendekatinya. Hehe... cinta itu sangat menyakitkan dan menyenangkan di saat bersamaan."


"Hanya itu?"


James terkekeh, "Apakah Kak Rara tidak diusir?"


"Dia mungkin terlalu sayang mengusir barang antik sepertiku. Kau 'kan tahu bahwa aku sendiri diincar oleh banyak orang bahkan oleh wilayah - wilayah yang ada di benua Herbras."


Setelah berbincang lama dengan James, Clara baru sadar jika matanya yang cacat sudah dibalut dengan kain putih. Begitu juga luka yang ada di perutnya, ada ikatan dari kain yang sangat kencang disana supaya darah tidak terus mengalir.


Clara meraba sekitar perutnya, serta dadanya yang juga tak luput dari ikatan kain. Lukanya ternyata sebanyak itu. Dan seseorang yang mungkin membuat ikatan ini adalah...


Tatapan Clara mengarah pada James.


"James, kau yang menutupi luka - lukaku?"


James terkejut, kemudian dia mengangguk.


"Aku takut Kak Rara mati kehabisan darah. Jadi, aku melakukannya terlalu terburu - buru sampai ikatannya tidak rapi. Aku mengikatnya dengan berantakan." Ujar James.

__ADS_1


Awalnya James santai saja, namun Clara terus dan terus menatap ke bagian perutnya yang juga telah tertutupi kain. Sontak hal itu membuat wajah James berubah semerah tomat.


"Ja-jangan salah paham Kak Rara! Bukannya aku mengambil kesempatan untuk melihat it-itu... aku hanya ingin membalut luka di perutmu. Tapi a-ada banyak luka juga di bagian lain. Jadinya ya-ya.. seperti itu. Intinya, aku tidak sengaja melihatnya." Kata James dengan panik. Sungguh, wajahnya benar - benar merah.


Aku bahkan tidak bertanya tentang itu. Ya, tentu saja aku juga malu. Tetapi jika dia melakukannya untuk mencegah kematianku, aku tahu betul.


Pipi Clara sedikit merona. Kalau ditanya malu, dia seharusnya lebih malu daripada James disini. Tapi apa boleh buat, menghindari lebih banyak darahnya mengalir hal itu perlu dilakukan.


Maksudku adalah, berhentilah bertingkah malu - malu James. Posisi kita tertukar disini!


Clara kemudian mengalihkan pandangannya pada Duke Nielsen yang tak kunjung membuka matanya. Ini adalah hal mengkhawatirkan, apalagi di Hortensia sana Cattleya pasti menanti kepulangan ayahnya.


James yang sudah mengkondisikan debaran jantungnya serta ekspresi wajahnya juga turut menatap Duke Nielsen. Pria paruh baya itu masih setia dalam mimpinya.


Mimpi? Ah, aku berharap dipertemukan oleh Grein sekali lagi. Masalahnya aku tak tahu cara menghentikan perang ini. Apa seharusnya aku membunuh Raja Willem saja saat itu?


"Kita harus kembali ke istana." Tekad Clara.


...****...


"Sial! Kenapa meraka tak ada habis - habisnya. Padahal sesuai perkiraanku, aku sudah menebas 278 kepala." Geram Hendrick.


"Mereka ada ratusan ribu kepala, kau ingat?" Cetus Count Cheltics.


Sebagai pria yang sudah berusia setengah abad. Dia sendiri juga kewalahan dengan semua prajurit kelas atas ini. Ditambah kawan sialannya hingga saat ini belum menampakkan dirinya.


"Apa dia takkan kembali?" Lirih Count Cheltics.


"Hentikan itu! Mungkin saja dia hanya telat..."


Count Cheltics memandang punggung Hendrick. Dari depan, belakang ataupun samping, pria ini nyaris tidak memiliki perbedaan dengan Frederick. Bahkan dari sifat mereka pun sama.


"Jika kau sendiri tak yakin dia akan kembali. Maka jangan meyakinkan orang lain bahwa ayahmu akan kembali."


Hendrick mengepalkan tangannya, membuat dia memegang gagang pedang menjadi lebih kuat. Awalnya dia juga yakin bahwa ayahnya akan pulang bersama mesin pembunuh itu. Namun, krisan putih sebelumnya...


Aku harap, aku salah mengira.

__ADS_1


TBC


Like + Komen, see you in the next chapter~


__ADS_2